
Saat ini Bryan dan Natali sudah berada di rumah Brayan. Awalnya Natali tadi ingin langsung pulang tapi Bryan mencegahnya dengan alasan kakinya sedang sakit dan dia membutuhkan teman untuk mengantarnya pulang.
Sesampainya di rumah Bryan ibu dan neneknya Bryan langsung keluar dari dalam kamar mereka.
"Ya ampun, kenapa kaki mu bisa terluka seperti ini." teriak ibu Bryan yang terlihat sangat khawatir.
"Tidak apa-apa, ini hanya keseleo ringan, nanti juga sembuh." ucap Bryan.
"Aih kamu ini ada-ada saja kelakuannya." ucap sang nenek sambil memukul pelan lengan Bryan.
Natali terlihat tersenyum tipis melihat interaksi keluarga itu.
"Owh Natali." ucap nenek Bryan yang kemudian menghampirinya.
"Iya nek." jawab Natali dengan senyum canggung nya.
"Ayo sini, duduk saja jangan malu-malu." ajak nenek Bryan lagi.
Natali hanya menurut saja dan tidak berani untuk menolak.
"Owh iya kalian pasti belum makan, kita makan dulu ya." ajak ibu Bryan.
Saat ibu dan nenek Bryan sudah berjalan ke ruang makan, Natali pun menyikut perut Bryan.
"Kamu hanya meminta ku untuk mengantar, kenapa sampai makan seperti inu." ucap Natali dengan suara pelan.
"Ya mana ku tau, ibu dan nenek yang mengajak mu." bela Bryan.
"Kamu.." ucap Natali dengan kesal, tapi Bryan tidak menghiraukan nya dan tetap berjalan ke ruang makan.
Mau tidak mau Natali pun mengikutinya dari belakang.
****
"Ayo di makan, jangan di lihat saja." seru ibu Bryan.
"Iya makan lah dulu, nanti nenek suruh supir untuk mengantar mu pulang." ucap nenek Bryan.
"Iya, terimakasih." balas Natali.
Mereka pun akhirnya memulai kegiatan makannya dengan tenang.
"Owh iya, kaki mu itu sudah di urut?" tanya ibu Bryan.
"Sudah tadi bu." jawab Bryan.
"Lain kali lebih hati-hati lagi." lanjut ibu Bryan.
"Iya bu." jawab Bryan yang kemudian kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.
Setelah selesai makan mereka pun kembali duduk di ruang tamu sambil mengobrol.
"Natali bagaimana keadaan nenek mu, sehat kan?" tanya nenek Bryan.
__ADS_1
"Sehat nek." jawab Natali.
"Syukurlah kalau begitu, akhir-akhir ini nenek mu itu sering mngeluh sakit, jadi nenek agak sedikit khawatir." jelas nenek Bryan.
"Iya nek mungkin karna faktor cuaca yang tidak bisa di prediksi saat ini." balas Natali.
"Bryan bilang kamu tidak tau kalau ayah mu akan menikah lagi ya?" tanya ibu Bryan yang sontak membuat Natali terdiam. Lalu sedetik kemudian Natali hanya tersenyum canggung.
Suasana pun juga ikut canggung, sampai akhirnya Natali berpamitan untuk pulang.
"Natali pulang dulu ya nek, tante, terimakasih untuk makan siangnya." ucap Natali dengan sopan.
"Iya sama-sama, Hati-hati di jalan ya." jawab nenek Bryan.
Natali langsung masuk kedalam mobil dan pak supir pun juga langsung melajukan mobilnya.
Saat di jalan natali hanya diam saja,
Ternyata kalian memang tidak pernah peduli terhadap ku, bahkan hal semacam ini aku tidak tau. batin Natali.
Tidak berapa lama akhirnya Natali sampai kerumahnya, dia mengucapkan terimakasih ke pak supir, lalu masuk kedalam rumahnya.
Saat masuk, Natali tidak menyapa kakek dan neneknya, dia langsung masuk ke kamarnya dan menguci diri.
Sang nenek yang bingung dengan sikap cucunya itu berniat untuk menyusulnya, tapi kakek Natali mencegahnya.
"Biarkan saja dulu, mungkin dia sedang ada masalah." ujar sang kakek kepada istrinya itu.
"Aku hanya tidak mau dia menanggung semua kesedihan sendiri." balas nenek.
****
Di dalam kamar Natasya hanya duduk melamun di pinggir kasurnya, Tiba-tiba dia teringat akan sang ibu. Natali pun langsung mengambil ponselnya dan mencoba menelfon sang ibu, tidak lama telfon pun di angkat.
"Hallo bu."
"Iya sayang ada apa?"
"Ibu sedang sibuk ya?"
"Lumayan, ada acara liburan keluarga."
"Owh begitu rupanya."
"Kenapa sayang? Ada yang bisa ibu bantu?"
"Ah sebenarnya..."
"Sayang ayo berangkat." suara seorang pria terdengar di ponsel ibunya.
"Sayang ibu harus berangkat sekarang, jika kamu perlu apa-apa kirim saja pesan, nanti ibu baca ya."
"Iya bu."
__ADS_1
"Bye sayang."
Kemudian telfon pun terputus.
"Selalu saja seperti itu." ucap Natali pelan.
Sejak kecil ibu dan ayah Natali sudah bercerai, awalnya Natali ikut ayah nya, hingga saat masuk SMA dia memutuskan untuk tinggal bersama nenek dan kakeknya.
Setelah bercerai Natali sangat jarang bertemu dengan ibunya, awalnya dia ingin sering menemui sang ibu, tapi sepertinya ibunya sudah bahagia dengan keluarga barunya.
Walaupun sudah tinggal bersama sangat lama, hubungan Natali dan ayahnya tidak pernah dekat, selalu saja ada tembok di antara anak dan ayah tersebut.
Hanya nenek dan kakek lah rumah Natali untuk kembali saat ini.
Cukup lama dia terdiam sambil memejamkan matanya, Natali pun memutuskan untuk mandi dan bersih-bersih.
Setelah mandi dia memilih untuk langsung tidur dan melewatkan makan malam.
****
Pagi hari Natali turun ke bawah untuk sarapan,
"Tumben nenek tidak membangunkan." gumamnya.
Saat turun Natali mencari sosok neneknya, biasanya sang nenek jam segini sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan.
Tapi saat dia kedapur dia tidak menemukan neneknya.
"Bi, nenek kemana?" tanya Natali pada salah satu pelayanan di rumah ini.
"Tadi malam kondisi ibu memburuk non, jadi langsung du bawa kerumah sakit." jelas pelayanan itu.
"Rumah sakit? Kenapa tidak ada yang membangunkan ku." ucap Natali dengan kesal.
Dia pun buru-baru kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya, dia langsung menelfon sang kakek.
"Halo kek, kakek dimana? Rumah sakit mana?"
"Rumah sakit XXX, kamar nomor 15a."
Setelah mendapat informasi rumah sakit mana, Natali langsung keluar, dia membawa mobil sendiri tanpa supir, Natali terlihat sangat terburu-buru.
Saat tiba di rumah sakit Natali langsung ke resepsionis untuk mendapatkan informasi letak kamar sang nenek.
Saat dia hendak ke lantai dua, Tiba-tiba dia menabrak seseorang, Natali tidak sempat mengucapkan kata-kata lain selain minta maaf.
"Maaf." ucap Natali yang kemudian melanjutkan jalannya ke ruangan neneknya.
Pria yang du tabrak itu hanya diam,
"Hanya seperti itu, apa dia mengira aku ini patung." ucap orang itu.
"Dok pasiennya sudah menunggu." ucap suster yang berdiri di samping orang itu.
__ADS_1
Orang yang Natali tabrak tadi rupanya adalah seorang dokter di rumah sakit ini.
"Owh iya." ucap dokter itu. Kemudian mereka berjalan ke ruang pasien yang akan di periksa.