Takdir Yang Ku Pilih

Takdir Yang Ku Pilih
Bab 3


__ADS_3

Setelah pertemuan keluarga waktu itu, hubungan Natali dan Bryan di sekolah tetap sama. Bryan juga nampaknya menepati janjinya untuk tidak memberitahu siapapun tentang indentitas Natali.


"Baiklah anak-anak hari ini kalian akan full mengikuti kegiatan olahraga, ibu harap kalian melakukannya dengan maksimal." ujar sang guru tersebut.


"Baik bu." jawab semua murid di kelas itu.


Setelah mengatakan itu, guru tersebut langsung keluar kelas, dan para murid pun juga langsung menuju lapangan.


****


"Baiklah, ada beberapa cabang olahraga yang akan di lakukan, dan kalian akan di bagi menjadi beberapa tim nantinya." jelas guru olahraga tersebut.


"Beberapa cabang tersebut yaitu Basket, lari estafet dan futsal." lanjut guru tersebut.


"Kalian bisa menyesuaikan dengan kemauan kalian, yang pasti akan ada nilai tambahan untuk setiap cabang yang kalian pilih."


"Mengerti?" tanya guru tersebut.


"Mengerti pak." jawab semua murid serentak.


"Baiklah silahkan kalian pilih cabang yang ingin kalian ikuti." lanjut guru tersebut.


Semua orang terlihat sudah memilih, Natali sendiri memilih untuk ikut cabang lari estafet.


"Nat aku ikut kamu ya." ucap Chia, Natali hanya mengangguk mengiyakannya.


Sementara itu disisi lain terlihat banyak siswi perempuan yang memperlihatkan wajah kesal mereka karena harus panas-panasan.


"Aih menyebalkan sekali, kenapa kita harus melakukan ini." ucap Sandra.


"Iya menyebalkan sekali." ucap Indah yang menyetujui ucapan Sandra.


****


Kegiatan Olahraga pun di mulai, Kegiatan pertama yang di lakukan yaitu lari estafet. Banyak siswi perempuan yang mengikutinya.


"Baik di garis start sudah ada Natali, Sandra dan Bianca."


"Kalian sudah tau bukan peraturannya, tiap 500 meter akan ada pelari yang menggantikan."


"Dan group yang paling duluan sampai, seperti biasa akan mendapatkan point plus. Mengerti?" ucap sang guru.


"Mengerti pak." Ucap mereka.


1...2...3... Prittttt


Pluit di tiup dan semua peserta pun berlari.


Terdengar banyak sekali sorakan menyemangati dari teman satu kelas mereka.


Natali terlihat unggul di antara kedua teman kelasnya yang lain. Setelah sampai ke pelari kedua, Natali langsung menyerahkan tongkat kecilnya dan lanjut ke pelari kedua yang berlari.


Sampai ke babak akhir dan yang terakhir berlari di tim Natali adalah Chia, Chia terlihat sangat lemas entah di sengaja atau bagaimana,

__ADS_1


"Ayo Chia lebih cepat." ucap Natali meneriaki Chia agar mempercepat larinya. Namun sayangnya Chia masih berlari dengan lemas, bahkan sesekali dia mengeluh lelah.


Apa-apaan dia ini. Batin Natali saat melihat Chia yang terlihat sangat sengaja. Dan alhasil membuat tim mereka kalah. Natali menarik nafasnya dengan kesal.


"Baiklah cabang ini di menangkan oleh tim Bianca." ucap pak guru.


****


"Maaf Natali jangan marahi aku." ujar Chia yang seperti memelas. Natali tidak paham dengan maksud Chia, padahal mereka sudah cukup lama berteman, tapi tindakan Chia seperti ini akan menimbulkan perspektif bahwa Natali adalah orang jahat.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Natali yang terlihat sedikit kesal.


"Aku hanya takut kamu marah." ucap Chia yang seperti ketakutan. Tidak mau ambil pusing Natali memilih berjalan meninggalkan lapangan.


Dia berjalan menuju lapangan futsal karena cabang berikutnya adalah Futsal. Saat hendak kelapangan Bryan tiba-tiba berjalan di sampingnya.


"Minum." ucap Bryan sambil memberikan minuman yang tadi dia beli di mesin minuman. Natali langsung mengambil itu, kemudian Bryan kembali berjalan mendahului nya.


Manusia aneh. Batin Natali. Natali kembali berjalan ke lapangan futsal, dia sengaja duduk di belakang, karena dia tidak terlalu tertarik dengan futsal.


Setelah pertandingan futsal selesai, semua murid langsung di suruh ke lapangan basket, karena pertandingan cabang terakhir adalah basket.


****


"Woah kenapa jadi sangat ramai." ucap Chia yang saat ini duduk di samping Natali.


"Tidak tahu." jawab Natali.


Ternyata yang membuat ramai lapangan basket karena ada Bryan disana, Bryan memang cukup terkenal di kalangan siswi SMA ini, apalagi rata-rata yang masuk ke SMA ini dulunya pernah satu SMP dengan Bryan.


"Bryan semagat."


"Woah Bryan sangat tampan."


"Lihat itu dia melihat kearah kitaa Arghhhhh."


Begitulah teriakan para siswi yang ada disana.


"Mereka sangat berisik." gumam Natali.


Diawal permainan basket para murid laki-laki itu terlihat aman-aman saja, sampai akhirnya di menit-menit terakhir terjadi adu sikut di antara mereka, dan Bryan menjadi salah satu korban disana.


Prittttt.


Terdengar sang wasit meniup pluit nya saat Bryan terjatuh. Semua orang terlihat mengerumuninya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya sang guru.


"Sepertinya keseleo pak." jawab Bryan menunjukan pergelangan kakinya yang terasa sakit.


"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja di UKS, nanti bapak panggilkan tukang urut yang khusus untuk keseleo."


"Siswi perempuan satu temani Bryan." ucap pak guru lagi.

__ADS_1


"Chia saja pak, kebetulan Chia juga tidak enak badan." ujar Chia yang mendapat tatapan tajam dari Sandra.


"Ya sudah kamu saja." lanjut pak guru. Setelah itu mereka pun ke UKS.


Pertandingan basket pun di hentikan karena di nilai tidak suportif.


****


Natali kembali ke kelasnya, dan langsung duduk di kursinya, dia mengambil headset dan menyalakan musik di ponselnya.


Tidak lama kemudian ada notif chat masuk di ponselnya.


"Bawakan tas ku nanti saat pulang." begitulah isi pesannya.


Natali sejenak berpikir siapa pengiriman pesan ini.


"Siapa?" balas Natali.


"Bryan." jawabnya singkat yang membuat Natali terpelongo.


Pasti nenek yang memberikan nomor ku. Batin Natali.


Natali langsung menutup ponselnya tanpa membalas pesan dari Bryan tadi.


Awalnya Natali tidak ingin mengiyakan perkataan Bryan, tapi akhirnya dia berada disini, di depan pintu UKS.


Natali menarik nafas panjang sebelum akhirnya masuk kedalam UKS, niat awalnya hendak marah pun jadi tidak jadi karena dia melihat Bryan sedang tertidur.


"Bisa-bisanya dia tertidur di saat sekolah sudah mulai sepi." ucap Natali yang berjalan mendekati Bryan.


"Hei bangun, kamu tidak pulang kah." ucap Natali sambil menggerakan tubuh Bryan.


Bryan menggeliat dan bangun dari tidurnya.


"Ah ku kira kamu tidak datang." ucap Bryan saat sudah terbangun. Natali hanya diam dan melihat kearah pergelangan kaki Bryan yang saat ini sudah membengkak.


"Ayo pulang." ucap Natali, Bryan sejenak menoleh kearah Natali yang saat ini sedang membantunya.


"Ternyata kamu baik juga." ucap Bryan satu Natali membantu menolongnya berjalan.


"Diam atau ku tinggal sendiri." ancam Natali, bukannya takut Bryan malah tertawa pelan.


"Jangan terlalu kasar, aku seorang pasien saat ini." balas Bryan sambil berjalan tertatih-tatih karena kakinya yang bengkak.


Mereka berdua pun berjalan keluar dari ruang UKS menuju ke tempat parkir, kebetulan Bryan sudah menelfon supir untuk menjempunya.


****


Saat Bryan dan Natali sudah keluar, Chia muncul dari samping ruang UKS. sebenarnya dari saat Natali masuk Chia sudah berdiri di depan pintu, hanya saja dia tidak masuk, awalnya dia ingin melihat Bryan mengusir Natali, namun apa yang dia harapkan ternyata tidak terjadi, malah yang terjadi di luar ekspektasinya.


Bryan terlihat sangat baik pada Natali, bahkan Bryan tidak terlihat cuek dengan Natali, Chia yang melihat itupun entah mengapa merasa kesal, bagaimana bisa Natali mendapat perlakuan berbeda dari Bryan.


"Lihat saja, kamu akan menyesal." ucap Chia penuh dengan kebencian.

__ADS_1


__ADS_2