
Setelah pelajaran usai Bryan memutuskan untuk langsung pulang kerumah, dia mengendarai mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Sesampainya di rumah Bryan langsung mencari ibunya, karena ada hal yang ingin dia tanyakan.
"Bu.." panggil Bryan. karena tidak ada jawaban dari sang ibu, Bryan pun akhirnya naik ke lantai dua rumah mereka, dan ternyata sang ibu sedang duduk di kamar.
"Bryan? Ada apa? kenapa kamu terlihat bergitu tergesa-gesa?" tanya ibu Bryan saat melihat anaknya itu.
"Bu, ibu ingat tidak jika ibu pernah memberi tahu ku kalau ayah Natali akan menikah lagi?" tanya Bryan pada ibu nya.
"Iya, memangnya ada apa?" tanya ibu Bryan lagi.
"Dengan siapa? ibu tau tidak calon istrinya?" tanya Bryan yang terlihat penasaran.
"Tante Melisa, teman ibu yang punya toko bunga itu." jawab ibu Bryan lagi.
"Dan anaknya kalau tidak salah juga sekolah di tempat mu." lanjut ibu Bryan lagi.
"Namanya ibu ingat?" tanya Bryan lagi dan lagi.
"Kalau tidak salah Chia, tapi nama aslinya ibu tidak tau." ucap ibu Bryan.
"Ternyata benar." batin Bryan.
"Hei sebentar, kenapa kamu sangat ingin tau?" tanya ibu Bryan yang tiba-tiba menjadi sangat penasaran dengan sikap anaknya itu.
"Tidak ada, hanya ingin tau saja." jawabnya yang kemudian berjalan keluar dari kamar ibu nya.
"Ada-ada saja anak itu." ucap sang ibu saat Bryan sudah keluar dari kamarnya.
****
"Apa yang sedang dia lakukan saat ini, pasti sangat berat, bahkan dari sesudah pemakaman sampai sekarang dia tidak masuk sekolah." ucap Bryan yang saat ini tengah berbaring di kasurnya sambil memegang ponselnya.
Sedari tadi sebenarnya Bryan sangat ingin menghubungi Natali, tapi dia sadar hubungannya dengan Natali tidak sedekat itu, bahkan untuk mengirim pesan saja dia tidak berani saat ini.
Tiba-tiba Bryan teringat temannya dan mencoba menelfon nya.
"Halo, dimana?" tanya Bryan pada temannya,
"Di rumah, kenapa?"
"Seperti biasa." jawab Bryan. Temannya yang sudah mengerti dan paham betul dengan Bryan pun langsung mengerti apa maksud Bryan.
"Nanti malam ada, di jalan Xxx jam 9 malam." ucap teman Bryan yang memberitahu informasi balap malam ini.
__ADS_1
"Baik."
"Mau aku temani atau tidak?"
"Terserah." ucap Bryan yang kemudian langsung mematikan telfonnya secara sepihak.
"Aih dasar kebisaan buruknya tidak berubah." ucap teman Bryan tersebut.
Setelah mematikan telfon, Bryan langsung pergi ke kamar mandi, rasanya hari ini sangat melelahkan.
****
"Permisi non, tadi tuan mengirim undangan." ucap pelayan yang tadi di titipkan undangan oleh ayahnya Natali.
"Undangan apa?" tanya Natali, tubuhnya terlihat sangat kurus dengan muka yang begitu pucat karena kelelahan.
"Maaf non, saya kurang tahu, karena saya tidak membacanya." jawab pelayanan itu.
"Letakan saja disitu." ujar Natali yang masih tidak bergeming dari tempat tidurnya.
Setelah meletakan undangannya pelayanan itu pun langsung keluar dari kamar Natali.
Awalnya Natali tidak ingin melihat undangan tersebut, tapi dia teringat akan ucapan Bryan waktu itu.
Natali membuka undangan tersebut, dan betapa terkejutnya dia karena yang dikatakan Bryan waktu itu ternyata benar.
Natali tidak masalah jika ayahnya itu ingin menikah, tapi kenapa harus sekarang, bahkan mendiang nenek meninggal belum sampai satu bulan.
"Benar-benar tidak tahu malu." ucap Natali dengan penuh kebencian.
Setelah emosinya cukup mereda, Natali teringat dengan sang kakek, dia pun akhirnya keluar kamar untuk neneruksa keadaan kakeknya itu.
Natali berjalan menuju pintu kamar kakeknya, dan membukanya dengan perlahan.
Saat pintu terbuka, Natali dapat melihat sosok kakeknya duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya, sambil menikmati angin sore yang saat ini cukup sejuk.
"Kek." Panggil Natali dengan pelan. Natali berjalan perlahan kearah kakeknya.
"Kakek sedang apa disini?" tanya Natali saat sudah duduk disebelah kakeknya.
"Dulu nenek mu sangat suka suasana seperti ini." jelas kakek Natali.
"Nenek pasti sudah bahagia disana kan Kek."
"Iya, dia sudah tidak menderita lagi seperti dulu." ucap kakek Natali menimpaki ucapan cucunya itu.
__ADS_1
Lalu mereka berdua sama-sama terdiam lagi, Seperti biasa, saat sudah melamun, pandangan Natali terlihat kosong.
"Kamu sudah membuka undangan dari ayah mu?" tanya sang kakek.
Natali menoleh kearah kakeknya dan mengangguk.
"Kamu setuju ayah mu menikah lagi?" tanya kakek Natali lagi.
"Kalaupun aku tidak setuju, memangnya apa yang akan terjadi kek."
"Pendapat ku tidak lah terlalu penting untuk nya." lanjut Natali.
"Tapi identitas mu masih di sembunyikan, saat dia menikah tidak mungkin lagi untuk memberi tahu publik." ujar kakek Natali.
Natali menoleh kearah kakeknya lalu tersenyum.
"Kek, apa Natali pernah terlihat peduli akan hal itu?" tanya Natali sambil tersenyum.
"Natali tidak peduli kek, bagi Natali cukup dengan kakek dan almarhumah nenek saja itu sudah cukup." ujar Natali lagi.
"Kamu tenang saja, kakek tidak akan membiarkan siapapun menindas cucu kesayangan kakek."
"Dan karena saat ini nenek mu sudah tidak ada, jadi semua urusan mu menjadi tanggung jawab kakek." ucap kakek Natali yang terlihat sangat serius.
Natali tersenyum saat melihat kakeknya sudah bisa tersenyum seperti dulu, memang sangat susah rasanya untuk bangkit setelah du tinggal oleh orang yang sangat kita sayangi.
****
"Bu, ibu benar-benar akan menikah dengan Pak Wijaya yang terkenal itu? yang orang kaya?" tanya Chia pada ibu nya.
"Iya sayang, dan sebentar lagi kita tidak perlu tinggal disini dan ibu juga tidak perlu kerja seperti ini lagi." ucap ibu Chia dengan sangat antusias.
"Benarkah? Kalau begitu berarti anak-anak di sekolah tidak akan bisa membully ku lagi." ucap Chia yang juga ikut kegirangan.
"Iya sayang, dan nanti derajat mereka bahkan akan sangat jauh di bawah kita." ucap ibu Chia dengan sangat senang.
"Syukurlah kalau begitu, jadi nanti aku tidak perlu takut lagi untuk mendekati pria yang aku sukai." ucap Chia dengan senyum liciknya.
"Tapi ingat sayang, kita harus tetap terlihat baik, agar tidak ada orang yang akan menilai kita buruk." ucap ibu Chia mengajari anak tunggalnya itu.
"Tenang bu, aku sudah mahir melakukannya." ucap Chia dengan senyuman bangga nya.
"Ya sudah ayo bantu ibu membungkus ini, ada beberapa pesanan yang hrus segera dikirim." ujar ibu Chia yang menyuruh anaknya untuk ikut membantunya.
"Baik bu." ucap Chia.
__ADS_1