Takdir Yang Ku Pilih

Takdir Yang Ku Pilih
Bab 2


__ADS_3

Sejak awal masuk ke sekolah ini, Natali sudah berpesan kepada kakek dan neneknya untuk tidak menyebutkan identitasnya kepada siapapun, termasuk guru sekolahnya.


Dan alhasil, semuanya berhasil disembunyikan, dan Natali bisa hidup dengan bebas.


"Nata, besok kamu ada kelas sampai jam berapa?" tanya sangat nenek.


"Sepertinya hanya sampai jam 3 sore, ada apa memangnya?" tanya Natali kepada neneknya.


"Besok akan ada tamu yang datang ke rumah, nenek mau kamu juga ikut menyambutnya." jelas sang nenek.


"Heh, kenapa aku?" tanya Natali lagi.


"Nenek dengar dia juga satu sekolah dengan mu, dan sepertinya kalian berada di tahun yang sama." ucap neneknya lagi.


"Hah? Apa? tahun yang sama? tidak aku tidak mau, nanti bisa ketahuan kalau aku cucu dari keluarga ini." jelas Natali lagi.


"Aih kamu ini, memangnya apa salahnya jika kamu berasal dari keluarga ini? Kamu malu?" tanya neneknya lagi.


"Tidak, aku hanya tidak suka." ucap Natali lalu bergegas mengambil tas nya dan berangkat ke sekolah.


"Aih anak itu, apa aku terlalu kasar tadi bicaranya ya." gumam sang nenek yang tidak tega melihat cucunya jadi murung.


****


"Nat, Ayo berangkat bersama." Ajak Chia. Semenjak kejadian dia di bully di sekolah, dan Natali yang membantunya, Chia benar-benar bertekat untuk menjadi teman Natali. Natali yang awalnya menolak, lambat laun pun akhirnya luluh dan mau menjadi temannya.


Natali berhenti dari jalannya, dan segera masuk ke dalam mobil Chia. Walaupun sudah berteman hampir 5 bulan, Chia sama sekali tidak tau tentang keluarga Natali, dia selama ini mengira bahwa Natali adalah anak penjaga kebun di rumah keluarga Wijaya.


"Owh iya Nat, kamu sudah mengerjakan PR yang kemarin belum?" tanya Chia pada Natali.


"Sudah, kenapa memangnya?" tanya Natali.


"Tidak, aku hanya mengingatkan saja, barangkali kamu belum mengerjakannya." ucap Chia.


Jujur kadang Chia merasa aneh dengan sikap Natali ini, dia terlihat seperti seorang berandalan, tapi dia jenius dalam segala bidang di sekolah, bahkan hampir tidak ada celah jika orang ingin menghinanya.


Sesampainya di sekolah, Natali dan Chia langsung berjalan ke arah kelasnya. Api saat berjalan, Natali tidak sengaja menabrak seorang siswa.


"Akh." ucap Natali pelan, karena bahunya tertabrak.


Siswa itu langsung berbalik badan dan meminta maaf kepada Natali.


"Maaf aku tidak sengaja, apa kamu baik-baik saja?" Ucap siswa itu yang terlihat sedikit khawatir.


"Iya." jawab Natali singkat.


"Leon ayo cepat." teriak teman Leon, tersangka yang menabrak Natali barusan.

__ADS_1


"Aku duluan ya, sekali lagi maaf." ucap Leon kemudian pergi meninggalkan Natali dan Chia.


"Woah, mimpi apa kamu Nat, bisa ditabrak orang setampan itu." ucap Chia yang terlihat sumringah karena sedari tadi bisa memandangi Leon.


"Aih otak mu mulai tidak waras." ucap Natali yang kemudian melanjutkan jalannya ke kelas.


"Hei tunggu aku." ucap Chia yang kemudian berjalan mengejar Natali.


****


"Ada pulpen?" tanya Bryan pada Natali, saat ini kegiatan belajar sudah di mulai. Natali yang tidak ingin di ganggu pun langsung meminjamkan pulpennya pada Bryan.


Sejak awal pelajaran di mulai, Bryan memang sudah sibuk sendiri, entah apa yang sedang di buat oleh laki-laki itu, tapi yang pasti dia selalu mengganggu Natali. Hingga akhirnya bel istirahat pun berbunyi.


"Bryan! Apa sebenarnya yang sedang kamu lakukan, kamu sangat mengganggu ku." ucap Natali penuh dengan penekanan.


"Tidak ada, hanya bosan." jawab Bryan singkat. Mendengar hal itu, Natali hanya bisa menarik nafasnya dengan kasar.


****


Sepertinya hari ini memang hari yang cukup sial untuk Natali, ada saja kejadian aneh yang dia alami, terlebih lagi Bryan, dia bahkan tidak membiarkan Natali tenang 1 menit pun.


"Aku pulang." ucap Natali saat sudah tiba di rumah. Seharusnya Natali bisa sampai di rumah pukul 15:30 tadi, tapi dia mampir dulu ke toko buku, dan akhirnya dia pulang pukul 5 sore.


Natali yang saat itu tidak tau bahwa semua orang sudah berkumpul di ruang tamu pun hanya bisa termenung..


"Natali?" ucap Bryan memastikan.


"Eh iya nek, dan lagi Bryan juga baru tau kalau Natali tenyata adalah cucu nenek." ucap Bryan sambil tersenyum canggung.


"Berhenti bersikap sok baik." ucap Natali yang kemudian langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai atas.


"Aih anak itu." keluh sang nenek.


"Tidak apa-apa nek." ucap Bryan memenangkan.


"Kamu tau nak, bahkan tadi dia bilang dia tidak ingin menyambut tamu jika itu dari sekolah yang sama dengannya, hanya karena dia tidak ingin rahasianya terbongkar." jelas nenek Natali pada Bryan.


"Sudahlah, ayok kita lanjutkan lagi kegiatan kita." ucap kakek Natali yang saat itu juga berada disana.


Bryan masih tamoak bingung perkara rahasia apa yang Natali sembunyikan, apakah identitasnya, Bryan trus saja menebak dengan sembarang.


****


"Natali kamu antarkan Bryan untuk berkeliling di kebun belakang dlu." pinta sang nenek pada Natali.


"Nek dia sudah besar, dia bisa berjalan sendiri nek." tolak Natali.

__ADS_1


"Jangan seperti itu, biar bagaimana pun dia adalah tamu disini." bujuk sang nenek lagi.


Akhirnya mau tidak mau Natali menemani Bryan.


****


"Kenapa kamu ingin merahasiakan identitas mu?" tanya Bryan, saat ini mereka berdua sudah berada di taman belakang.


"Ku rasa itu bukan urusan mu." jawab Natali dengan ketus.


"Apa kamu tidak takut kalau aku membocorkan rahasia mu ini?" tanya Bryan lagi.


Natali berhenti sejenak dan menarik nafas.


"Coba saja jika kamu ingin hal buruk terjadi di hidup mu." ancam Natali yang kemudian kembali melanjutkan jalannya.


"Gadis yang menarik." batin Bryan.


"Tenang, aku hanya bercanda." gumam Bryan setelah berhasil mensejajarkan langkah mereka.


Setelah itu tidak ada percakapan lagi di antara mereka, keduanya memilih untuk diam, Baik Natali maupun Bryan.


Saat ini mereka berdua tengah duduk di bangku panjang yang ada di taman belakang.


"Hei, kamu sudah tahu kabar itu?" tanya Bryan yang kembali memulai percakapan mereka.


Natali tidak menjawab, dia hanya mengalihkan pandangannya menatap Bryan.


"Sungguh kamu tidak tahu?" tanya Bryan lagi kembali memastikan.


"Apa?" tanya Natali yang ikut penasaran.


"Ayah mu." ucap Bryan.


"Kenapa dengan ayah ku?" tanya Natali lagi.


"Entah lah ini hanya gosip yang beredar atau apa, tapi yang ku dengar dia akan menikah." jelas Bryan. Bryan sedikit menoleh kearah Natali untuk melihat bagaimana reaksi gadis itu.


Natali hanya terdiam, tidak mengeluarkan kata-kata lagi, entah apa yang saat ini dia pikirkan, bahkan Bryan sampai tidak berani untuk berbicara lagi.


"Menikah? ekhm,, akhirnya saat ini datang juga." ucap nya masih dengan ekspresi datar nya.


Bryan menatap gadis itu dengan bingung, tapi satu yang dia cerna, Natali tidak menyukai kabar itu.


Lama mereka kembali terdiam, hingga..


"Ayo kembali, sudah hampir sore." ucap Natali mengajak Bryan.

__ADS_1


Bryan yang mendengar itu pun hanya menurutinya dan mengikuti langkah Natali dari belakang,


Pundaknya cukup kuat untuk menopang semuanya sendirian. Batin Bryan.


__ADS_2