Takhta Sihir Tertinggi

Takhta Sihir Tertinggi
Bab 1 Tiang Bakar yang Membara


__ADS_3

Asap tebal mengepul, hingga setiap kali bernafas saja bisa mengeluarkan suara seperti embusan kasar, seolah-olah tenggorokan dan paru-paru sedang terbakar, dan kesadaran Billy mulai kabur.


"Tidak, tidak boleh sampai tertidur, kalau begini bisa mati."


"Sadar, harus tetap sadar."


Warna merah tua yang tak berujung meredup, terkikis oleh kegelapan yang pekat. Billy bagaikan orang yang sedang tenggelam, berjuang untuk membantu dirinya kembali mengambang ke permukaan dan menyingkirkan kegelapan yang kelam ini.


Tiba-tiba, cahaya merah kecil menyala di depan, seperti matahari terbit di pagi hari.


Dipapar sinar cahaya tersebut, Billy merasa telah mendapatkan kembali sedikit kekuatannya, kemudian mencoba untuk mendekati cahaya merah itu.


Ketika Billy mengambil langkah ini dengan bantuan cahaya, cahaya perlahan menjadi semakin terang, berubah dari merah menjadi putih bersih, menghancurkan lubang gelap dan memudar dalam sekejap.


"Hhhh." Billy tiba-tiba terbangun dalam posisi duduk. Dia terengah-engah. Ternyata dia memimpikan kebakaran yang mengerikan, dan sebelum api menyebar luas, dia pingsan karena menghirup terlalu banyak asap. Dia hanya bisa menunggu dalam putus asa sampai api menyebar luas, sama seperti mimpi buruk yang ia alami sebelumnya. Dia tahu dirinya sedang bermimpi dan dia berusaha untuk membebaskan diri, namun ia seperti tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Ia tidak dapat mengerahkan sedikit pun kekuatan..


Mimpi ini terasa luar biasa nyata hingga membuat Billy memiliki ketakutan yang berkepanjangan. Namun begitu ia sadar itu semua hanya mimpi dan tidak ada kobaran api di sekelilingnya, Billy pun terduduk lesu di atas kasur sambil menutup matanya.


Perlahan-lahan, jantungnya yang berdetak cepat kembali stabil dan ia pun menemukan semangatnya lagi. Dia mengingat kembali bahwa dirinya sedang buru-buru untuk tesis kelulusannya di ruang baca perpustakaan sekolah sepanjang malam, jadi menertawakan dirinya sendiri, "Beberapa hari ini selalu menjalani kehidupan begadang yang tidak teratur, pantesan mimpi buruk."


Tetapi ketika Billy melihat ke depannya dan hendak mengemasi buku referensi dan kembali ke kamar tidur, pemandangan aneh yang tak terbayangkan menghantam pikirannya seperti palu raksasa, membuatnya tiba-tiba terpana.


Tidak ada meja kayu yang indah di perpustakaan, tidak ada buku referensi yang menumpuk berantakan, tidak ada draft kertas yang siap untuk dimasukkan ke dalam komputer, hanya ada selimut gelap compang-camping, dan selimut ini menutupi tubuhnya.


Tempat dirinya duduk bukanlah kursi belakang di perpustakaan, melainkan tempat tidur kayu yang sempit.


"Ini di mana?"


Meskipun Billy sedikit tertutup dan pemalu, serta reaksinya tidak cukup cepat, dia langsung menyadari kalau ada yang tidak beres. Bahkan jika mimpi kebakaran itu adalah kenyataan, dan dia ini sudah di antar ke rumah sakit, tapi tetap saja tempat ini tidak terlihat seperti rumah sakit.


Hatinya menegang, dia buru-buru melihat sekeliling, dan buru-buru berdiri ke samping sesuai refleks.


Begitu menginjak tanah, Billy merasakan tubuhnya yang lemah hingga kakinya pun tak sanggup menopang dirinya. Alhasil, ia tersungkur ke lantai dengan rasa pusing yang ekstrem.


Billy lantas mengulurkan tangannya dan menyandarkan dirinya di tempat tidur untuk menstabilkan tubuhnya. Wajahnya pucat dan pikirannya gelisah. Dia telah mengamati sekelilingnya yang amat tidak familiar. Sebuah gubuk yang bobrok dan sempit. Selain tempat tidur kayu di sebelahnya, hanya ada meja kayu yang sewaktu-waktu bisa roboh, dua buah bangku yang masih dalam kondisi cukup baik, serta sebuah peti yang berlubang, dan di sisi lain pintu kayu yang rapuh, ada kompor yang warna aslinya tidak terlihat lagi. Sebuah tempayan tergantung di atas. Kayu bakar di bawah kompor telah lama padam, sehingga suhu ruangan cukup rendah..


Semuanya begitu asing. Billy sama sekali tidak tahu di mana dirinya berada, dan perasaan lemah, tak bertenaga ini membuat Billy sulit untuk berpikir.


"Sebenarnya di mana ini?"


"Seolah tubuhku baru saja sembuh dari penyakit serius, mirip seperti rasa pneumonia yang hilang begitu saja saat aku masih SMA."


Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benaknya, tetapi Billy belum pernah mengalami hal yang sangat aneh seperti ini. Kepribadiannya yang tertutup membuatnya tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya, dan kepanikan yang besar bergejolak dengan cepat.


Satu-satunya hal yang bisa disyukuri adalah tidak ada hal buruk yang muncul, sehingga membuat Billy bisa mengambil napas dalam beberapa kali dan perlahan-lahan menenangkan kepanikannya. Pada saat ini, suara keras tiba-tiba terdengar dari luar gubuk:


"Pembakaran penyihir, gereja Aderan akan membakar penyihir"


"Semuanya ayo kita ikut."


"Kita bakar si penyihir jahat sialan itu."


Dua emosi ketakutan sekaligus kegembiraan yang berlawanan dengan jelas tercampur dapat dirasakan dari suara yang beraksen aneh itu. Namun itu membuat Billy terganggu, panik, sekaligus penasaran, dan bergumam, "Penyihir? Dunia apa ini?"

__ADS_1


Sebagai orang dewasa yang menyukai novel, firasat buruk samar-samar muncul di hati Billy. Tetapi sebelum dia punya waktu untuk merenung, pintu kayu rapuh tiba-tiba diketuk oleh seseorang. Seorang bocah lelaki berusia dua belas sampai tiga belas tahun bergegas masuk.


"Kak Lucian." Bocah berambut cokelat pendek dengan kemeja linen melihat Billy yang berdiri di samping tempat tidur merasa senang sekaligus terkejut, "Kamu sudah bangun ya."


Melihat pakaian yang berbeda dari gaya modern, Billy menganggukkan kepalanya dengan kaku, dan pikiran konyol muncul di benaknya, "Lucian, penyihir, gereja, membakar hidup-hidup, apa jangan-jangan aku melintasi ruang dan waktu ke zaman gelap abad pertengahan Eropa yang memburu penyihir."


Segalanya selalu berjalan ke arah yang buruk, Murphy dengan dingin mengingatkan Billy, warna rambut anak laki-laki itu dan pakaian linen kotor yang dia kenakan semuanya mengkonfirmasi hal yang dipikirkan Billy tadi. Sedangkan bahasa yang diucapkan anak laki-laki itu, tubuh Billy secara naluriah bisa memahami dan sepertinya bisa menggunakannya juga, tapi dirinya yang masih jauh dari ahli bahasa sehingga tidak dapat mengidentifikasi bahasa tersebut.


Seolah tidak heran melihat Billy yang melamun, bocah lelaki dengan beberapa noda hitam dan abu-abu di wajahnya berkata, "Ibu selalu tak percaya padaku, dan diam-diam menangis di tengah malam sampai matanya membengkak. Dia terus menyebut tentang Evans kecil yang malang, sama seperti Kak Lucian yang seolah telah dikuburkan."


"Ayah tak tahan lagi, jadi meminta bocah nakal dari keluarga Simon untuk mengirim surat ke rumah Wayne pagi-pagi, dan meminta kakak mencari cara untuk pulang sekali saja. Dia sudah menjadi ksatria magang, jadi dokter tidak berani membuat harga yang keterlaluan di depannya."


Berbicara tentang kakaknya yang menjadi ksatria magang, anak kecil itu berkata sambil mengangkat dagunya sedikit, seolah sangat bangga.


"Namun, mereka kalah dan aku benar, mana mungkin sesuatu yang buruk terjadi pada Kak Lucian."


Saat berbicara, dia meraih lengan Billy: "Yuk Kak Lucian, kita ke alun-alun gereja lihat pembakaran penyihir itu. Penyihir jahatlah yang membuatmu ditangkap oleh penjaga gereja dan diinterogasi sepanjang malam."


Pada saat ini, Billy yang ingin merenung tentang perubahan hidupnya, tidak ingin mengikuti anak kecil itu ke gereja. Ditambah membakar hidup-hidup seseorang sampai mati itu benar-benar masih tidak dapat diterima oleh Billy. Karena tidak dapat menghentikannya, maka akan lebih baik tidak menyaksikannya, tetapi kalimat terakhir bocah lelaki itu mengejutkan Billy, yang berarti, "Penyihir ini berhubungan dengan dirinya."


Jadi Billy berubah pikiran. Ia langsung menahan keterkejutannya dan membiarkan anak kecil itu menariknya berlari menuju gereja Aderan.


Di sepanjang jalan, Billy mengambil kesempatan untuk melihat orang-orang yang pergi ke gereja Aderan.


Cuaca lebih hangat, jadi pria umumnya memakai atasan linen dengan lengan pendek dan sempit, celana panjang dengan warna yang sama dan sepatu tanpa hak, sedangkan wanita memakai gaun panjang tunggal dengan saku besar di tengah.


Sebagian besar berambut cokelat dan bermata cokelat, tapi ada juga rambut pirang, rambut merah, rambut hitam, mata biru, pupil merah, dll. Fitur wajah yang bagus dan rasional.


“Apa ini beneran Abad Pertengahan?” Billy memandang dirinya sendiri, jaket linen yang sama, celana panjang yang sama, dan sepatu yang sama juga.


Sudah ada banyak orang di sekitar alun-alun. Anak kecil itu menarik Billy dan berlari sambil menghindari orang-orang yang lalu lalang. Ia terus berusaha untuk mencapai area depan kerumunan hingga membuat banyak orang melihat kemari dengan marah. Tetapi karena ini adalah alun-alun gereja, mereka tidak berani menghajar kedua bajingan kecil ini.


Setelah berusaha untuk waktu yang lama, mata Billy tiba-tiba terbuka, dan ternyata mereka sudah sampai di area paling depan.


Ada sebuah salib kayu di tengah alun-alun, dengan seorang wanita berjubah hitam berparas cantik dan berusia dua puluhan terikat di sana.


Orang-orang di sekitar terus melempar batu, kayu, bahkan meludahi wanita berjubah hitam itu. Suara makian yang bercampuran membuat suasana menjadi sangat ribut.


"Terima ini penyihir sialan."


"Dasar penyihir yang bersembunyi di distrik Aderan kami, kau pasti mencoba mencelakai kami, kan?!"


"Tracy kecilku yang kasihan meninggal beberapa bulan yang lalu, itu pasti ulahmu! Oh Tracy kecilku yang malang."


Walau terus dipukul, wanita berjubah hitam itu dengan erat menutup bibir putih pucatnya yang tipis, dan tidak mengeluarkan suara sama sekali, melainkan hanya memandang orang-orang yang berdiri di tangga gereja seperti patung.


Pemimpinnya adalah seorang pria paruh baya berjubah putih besar dengan hiasan emas, topi putih, dan lencana melingkar dengan salib putih di atasnya. Dia menyaksikan dengan tenang, tidak berbicara, namun terlihat serius. Ada juga beberapa pria dan wanita berjubah putih yang berdiri di sekitarnya terlihat bersih, rapi, dengan wajah kemerahan, yang sangat kontras dengan kemiskinan dan kekotoran di alun-alun.


Di belakang pria berjubah putih ini, berdiri barisan penjaga yang mengenakan chainmail perak abu-abu dan tampak gagah.


Pria paruh baya itu mengeluarkan sesuatu dalam bentuk jam saku dan melihatnya. Karena merasa sudah hampir waktunya, dia maju selangkah dan mengangkat lencana bundar dengan satu tangan.


Segera, orang-orang yang marah, penuh kebencian, dan ribut di alun-alun tiba-tiba menjadi tenang pada saat yang sama.

__ADS_1


Hanya ada suara angin bertiup melalui pakaian di seluruh alun-alun.


Billy sangat terkejut. Bahkan di zaman modern, untuk mencapai tingkat kepatuhan dan pengkondisian ini, diperlukan setidaknya beberapa bulan pelatihan. Namun, orang-orang biasa yang tampaknya miskin ini, bagaimana mereka bisa melakukannya?


Pria paruh baya itu memegang lencana, walau suaranya kecil tetapi menyebar ke seluruh alun-alun, "Pendosa yang malang, kamu sudah dikelabui oleh iblis. Delusi untuk mendapatkan kekuatan jahat, dari tubuh hingga jiwa yang penuh dengan kotoran, hanya cahaya yang bisa menyucikanmu. Ini adalah hukuman Tuhan dan pemberian Tuhan, serta pengampunan Tuhan untuk hambanya yang tersesat."


"Bakar dia sampai mati, bakar dia sampai mati." Orang-orang miskin di sekitar yang tenang, tiba-tiba berteriak serentak.


Adegan tersebut membuat Billy bergidik. Jika seseorang tahu bahwa dirinya ini melintasi ruang dan waktu, korban berikutnya yang akan dibakar hidup-hidup di tiang pancang mungkin adalah Lucian, yang dipercaya jiwanya ditempati oleh iblis jahat.


“Sebelum menyucikanmu, mewakili Tuhan yang maha toleran dan penyayang, izinkan aku bertanya satu hal lagi, apa kamu bersedia untuk bertobat? Pertobatan yang tulus dapat sepenuhnya memurnikan jiwamu dan mengizinkanmu untuk masuk ke kerajaan surga tempat Tuhan tinggal,” Pria paruh baya itu bertanya dengan lembut dan dengan penuh simpati.


Wanita berjubah hitam itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, suaranya melengking dan menusuk: "Aku mengejar kebenaran sihir, bukan dewa kebenaran. Bakar saja aku sampai mati, aku akan melihat kehancuran kerajaan surga yang penuh dosa ini dalam api, dan menyaksikan gereja yang indah ini runtuh."


"Orang gila!"


"Benar-benar jahat!"


"Kebaikan uskup malah ditukar dengan kutukan. Para penyihir yang telah dibutakan oleh iblis ini pantas mati."


"Bakar dia!"


Uskup tidak mengatakan apa-apa, tetapi orang-orang miskin di sekitarnya mulai menggila.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, Billy berada dalam suasana yang fanatik dan tidak masuk akal. Sambil terkejut, dia tidak dapat menahan diri dan berpikir, "Abad Pertengahan Eropa ini berbahaya sekali."


"Tunggu, kalau tak ada tumpukan kayu, gimana bisa bakar penyihir itu?"


Meskipun dia merasa kasihan dan tidak toleran terhadap wanita berjubah hitam itu, Billy tidak berani melakukan apapun, karena kerumunan yang masing-masing melempar satu batu saja mungkin bisa membunuhnya.


Uskup berdoa beberapa patah kata, dan suaranya menjadi semakin keras tanpa emosi sedikitpun, "Pendosa, maka kamu akan ke neraka dalam pemurnian Cahaya Suci."


Lencana salib di tangannya tiba-tiba meledak menjadi cahaya terang yang sangat menyilaukan sekali, sampai-sampai mata Billy tidak bisa melihat apapun.


Uskup itu seolah memegang matahari kecil di tangannya, khusyuk, agung dan suci. Semua orang termasuk anak kecil di samping Billy menundukkan kepala mereka dan berdoa sambil memuji diam-diam.


Cahaya berkumpul dan melesat ke arah langit biru. Ketika mencapai ketinggian kubah, cahaya itu kembali jatuh dan mengenai tiang salib itu.


Api merah setinggi satu orang dewasa menyala, mengelilingi wanita berjubah hitam itu.


Dia tertawa terbahak-bahak dan mengutuk dengan marah,


"Aku akan menyaksikan kerajaan surga yang penuh dosa ini dihancurkan dalam kobaran api."


"Aku akan menyaksikan gereja yang indah ini runtuh dalam kobaran api."


"Aku akan melihat kalian binasa selamanya dalam kobaran api."


Suara sedih itu tidak ada habisnya, dan wanita berjubah hitam beserta tiangnya terbakar menjadi abu.


Billy menjadi linglung sejak lencana itu meledak menjadi cahaya yang menyilaukan.


"Ini bukan abad pertengahan Eropa."

__ADS_1


"Ini dunia dengan sihir nyata."


"Dan namaku Lucian."


__ADS_2