Takhta Sihir Tertinggi

Takhta Sihir Tertinggi
Bab 14 Membulatkan Tekad


__ADS_3

Pembunuh bayaran yang menendang terbang pintu rumah Lucian melihat bahwa tidak ada respon di dalam. Dia bergegas masuk untuk periksa, lalu mundur dan berkata kepada pemimpin dengan penampilan biasa yang tidak mencolok, "Kak Jackson, tidak ada orang di dalam, semua barang-barangnya masih rapi."


Jackson berkata sambil tersenyum ramah, "Butuh banyak waktu untuk menipu Cohen membocorkan informasi tentang bocah itu, kupikir sudah terlambat, hehehe, walau Mark dan Andre itu bodoh dan sampah, tapi setidaknya  masih berguna."


Ketika para preman di sekitarnya mendengarnya menyebut tentang Mark dan Andre, mereka langsung teringat keadaan tragis Mark yang menutupi ************ sambil teriak kesakitan. Tanpa sadar ************ mereka merinding juga, sementara Andre yang berdiri di depan diam-diam merasa bersyukur. Jika bocah itu melarikan diri bersama barang-barang dan uang di rumah, maka dirinya tidak akan berakhir dengan baik, tapi tentu saja tetap jauh lebih baik daripada Mark yang diberitahu oleh dokter harus berbaring di tempat tidur selama seminggu.


"Andre, masuk dan periksa apakah ada hal yang mencurigakan." Perintah Jackson.


Andre yang hendak berkontribusi langsung masuk tanpa ragu sedikit pun.


Setelah beberapa menit, Andre keluar sambil membawa serpihan barang-barang acak dengan ekspresi bingung, "Kak Jackson, ada banyak sampah di peti barang bocah itu."


Lucian menghela nafas dalam hati. Itu adalah barang-barang yang belum sempat ditanganinya. Begitu melihat itu, pasti akan terpikir tentang sampah. Jika dikaitkan dengan informasi tentang Lucian yang menjual barang di area pasar akhir-akhir ini, dengan IQ orang normal saja seharusnya bisa terpikir bagaimana cara Lucian menghasilkan uang.


Karena kerjanya hanya sendirian dan takut ketahuan, jadi setiap kali pulang hanya membawa sedikit, sehingga penghasilan juga sedikit. Tapi akan berbeda jika geng Aaron mengendalikan tempat pembuangan sampah di tepi sungai itu. Dengan jumlah tenaga kerja mereka, serta keakraban dan penguasaan wilayah pasar, mungkin bisa menjadi sumber penghasilan yang sangat besar. Dengan begini mereka pasti tidak akan menyerah, sehingga Lucian sendiri harus mencari cara lain untuk menghasilkan uang.


Jackson melirik sampah yang dipegang Andre dan menggelengkan kepala, "Sepertinya aku tahu dari mana dia mendapatkan tembaganya. Gereja selalu menanganinya setiap tiga hari. Bisa-bisanya tak terpikir olehnya tentang tempat pembuangan sampah di tepi Sungai Belem yang akan tersembunyi harta karun, sampah dari istana, distrik bangsawan, manor di luar kota, asosiasi musisi, guild pandai besi, guild tentara bayaran, dan tempat-tempat lain akan terkumpul di tepi sungai Belem, hehehe, sampah di mata para bangsawan belum tentu adalah sampah beneran.”


Sebenarnya setelah mengetahui dari Andre dan Mark bahwa Lucian pernah mengirim sampah dari Asosiasi Musisi ke luar kota, Jackson sudah memiliki dugaan ini, tetapi sekarang baru mendapat kepastian.


Setelah mengatakan ini, Jackson tersenyum ramah, "Terima kasih kepada Lucian, karena membuat kita mendapat sebuah sumber penghasilan uang yang besar. Jadi ayo kita berterima kasih dengan keramahan kita, masuk dan hancurkan semua barang-barang rumahnya, fer tembaga dan nar perak yang kalian temukan dalam rumahnya akan jadi milik kalian. Kedepannya, siapapun yang menemukannya dan berterima kasih padanya bisa datang padaku untuk menerima hadiah."


Di mata Jackson, Lucian masih jauh dari titik di mana Jackson perlu waswas dan mengirim orang untuk berjaga-jaga. Sebagai geng yang terorganisir, disiplin, dan asli, dia perlu melakukan banyak hal setiap hari, jadi mana mungkin membuang waktu dan tenaga untuk orang tidak penting seperti Lucian?


Para anggota geng bersorak. Jika bukan karena rumah Lucian terlalu kecil dan jumlah orang yang dapat ditampung terbatas, mereka semua mungkin sudah menerobos masuk sekaligus.


Suara barang-barang yang dibanting terdengar.


Lucian yang bersembunyi tidak jauh, dapat menilai dari suara, 'Panci tempayan pecah, meja hancur, mereka mencari uang yang kusembunyikan.' Lucian mengepalkan tinju dengan erat dan berkata dalam hati dengan gigi terkatup.


Tetapi Lucian juga mengerti bahwa di sana ada lebih dari selusin preman. Jika dia mencoba untuk menghentikan mereka, dia hanya akan dipukuli atau bahkan dibunuh. Oleh karena itu, mau seberapa marah atau emosi, dia harus tetap dengan paksa menahannya.


Tanpa status, tinju, dan kekuatan, tidak ada cara untuk menghadapi penjahat atau preman seperti itu. Sedangkan hukum, dari perilaku arogan mereka dapat ditebak jika dirinya bertindak tetap akan sia-sia.

__ADS_1


'Jika penyihir itu tidak pergi ke kuburan untuk mencuri mayat, dia tidak dibakar hidup-hidup.'


'Karena sihir masih ada, makhluk gelap, bidat, dan lainnya juga masih ada, mungkin ada tempat di mana sihir tidak begitu didiskriminasi dan dikucilkan. Aku hanya perlu berhati-hati saat mempelajari sihir, dan ketika sudah memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi diriku sendiri, aku akan pergi mencari tempat tinggal yang tidak melarang sihir.'


'Bahayanya besar, tapi keuntungannya juga besar. Mana mungkin bisa menikmati hidup kaya dengan damai kalau tidak mengambil resiko sedikit pun? Bahkan berbisnis sekalipun harus menanggung resikonya seperti eksploitasi bangsawan, preman atau geng, dan persaingan yang ketat, sedikit tidak hati-hati bisa berakhir bangkrut atau bahkan mati."


Banyak pikiran yang biasanya dipendam oleh Lucian akhirnya menembus sangkar dan bergema di benaknya bagaikan godaan iblis. Sehingga membuatnya tidak terpikir bahwa kalau memang ada tempat yang aman dan tidak melarang sihir, lalu kenapa penyihir itu datang ke kota Alto.


Pikiran yang tak terhitung jumlahnya, keinginan yang tak terhitung jumlahnya, berkumpul dalam hati Lucian, tetapi sebelum mengambil keputusan, dia tiba-tiba mendengar suara Bibi Elisa, "Apa yang kalian lakukan dasar penjahat sialan?!"


Pakaian yang harus dicuci oleh serikat tekstil hanya dapat diambil pada jam sepuluh. Jadi setelah menyuruh Ivan pergi ke luar kota untuk memetik jamur, Elisa sudah mendengar suara bising dari rumah Lucian.


Sambil memegang dan mengayunkan sendok kayu panjang, dia berjalan menuju geng Aaron, mencoba menghentikan mereka menghancurkan gubuk Lucian.


"Bawa dia ke samping." Jackson menunjuk Elisa.


Kedua preman yang tidak sempat masuk ke rumah Lucian untuk mencari keuntungan bergegas maju, menaikkan lengan baju mereka sambil mendekat dan mencoba menyingkirkan Elisa.


Namun, mereka meremehkan kekuatan Bibi Elisa. Tangan yang sekuat serangan cakar beruang mengayunkan sendok kayu, dan beberapa pukulan berat membuat kedua preman itu mundur sambil teriak kesakitan.


Meskipun Elisa tidak lemah, memiliki tubuh yang lebar dan berat, terlihat sangat menakutkan, tapi beberapa preman di sisi yang berlawanan adalah preman yang mencari nafkah dengan tinju. Setelah menghindari beberapa serangan sendok kayu, mereka langsung memukul jatuh sendok kayu di tangan Elisa.


Sebuah pukulan berat tiba-tiba mengenai bahu Elisa. Meski lemaknya mengurangi dampak yang diterima dari pukulan berat itu, tapi tetap saja membuatnya merintih kesakitan. Namun dia masih tidak bergeming, dan terus maju sambil berteriak, "Cepat pergi, petugas akan segera datang."


Lucian yang berada di balik tembok tidak jauh, tidak bisa menahan diri dan memarahi dirinya sendiri setelah melihat Bibi Elisa dipukuli, 'Aku bukanlah laki-laki!'


Walaupun baru kenal beberapa hari, perasaannya juga tidak terlalu kuat terhadap Bibi Elisa dan Paman Joel. Tapi saat ini Bibi Elisa dipukul karena mencegah orang lain menghancurkan gubuknya, sedangkan dia sendiri hanya bersembunyi dan tidak berani keluar. Ini benar-benar sesuatu yang tidak bisa dirinya terima sama sekali.


Karena itu, Lucian mengepalkan tinjunya, melirik ke depan gubuk, menoleh dan marah, "Persetan!"


Kemudian bergegas keluar, menargetkan Jackson yang hanya sendirian.


"Tap tap tap." Lucian yang tidak jauh dari gubuk, bergegas tiba di sekitar Jackson hanya dalam beberapa langkah, dan menerjang maju menghampiri Jackson.

__ADS_1


Pada saat ini, Jackson bereaksi dan menoleh kemari dengan terkejut. Tapi dia sudah tidak sempat untuk melakukan sesuatu, Lucian menabrak dan menjatuhkannya ke tanah, mereka berdua saling berjuang di atas tanah.


Lucian memanfaatkan berat badan dan meremas kuat tangan Jackson dengan tangan kirinya, mencegah Jackson mengeluarkan belati yang mungkin ada di tubuhnya, sementara tangan kanan Lucian berusaha mati-matian untuk mencapai tenggorokan Jackson. Jika berhasil mencapai leher Jackson, maka situasi akan terkendali untuk sementara waktu.


Namun Jackson yang bisa menjadi pemimpin geng Aaron tidak hanya mengandalkan ketajaman dan kekejaman, tapi juga seorang preman sejak lahir, jadi dia sangat berpengalaman. Sambil berusaha berguling agar tidak memberi kesempatan pada Lucian untuk mencekik tenggorokannya, tangannya yang diremas Lucian mulai bergerak perlahan dengan siku, dan menyikut rusuk Lucian berulang kali.


Karena tidak ada ruang yang cukup luas untuk bergerak bebas, jadi sikuan Jackson tidak terlalu bertenaga, tetapi tulang rusuk sendiri memang merupakan area yang relatif sensitif dan rapuh. Jadi setelah disiku berulang kali oleh Jackson, Lucian berteriak kesakitan. Namun Lucian yang sudah pernah diserang oleh Gary mengetahui bahwa dirinya tidak boleh panik saat ini, harus menahan rasa sakit, dan tangan kanannya akhirnya meraih tenggorokan Jackson.


Tepat ketika Lucian hendak meremas tenggorokan Jackson, tulang rusuk kanannya tiba-tiba ditendang, dan seluruh tubuhnya jatuh ke tanah.


Mengandalkan pengalaman bertarung yang kaya, Jackson berhasil bertahan sampai para preman di sekitar tiba dan menendang Lucian ke samping.


Para preman di dalam rumah, preman yang menahan Elisa, semuanya datang.


Tepat ketika Lucian hendak berdiri, tendangan dan tinju menghantamnya bagaikan hujan deras, membuatnya tidak bisa bertahan sama sekali. Hanya bisa menutupi kepalanya, menggulung seperti udang, dan melindungi bagian tubuh yang penting, sedangkan sisanya membiarkan para preman itu mendaratkan pukulan sesuka hati.


Dipukul hingga berguling-guling di tanah, rasa sakit yang menyayat menghantam pikirannya, tetapi Lucian masih mempertahankan ketenangan dan postur tubuh. Jika tidak, akan gawat jika bagian vitalnya terkena serangan seperti Mark.


Pada saat ini, jiwa Lucian serasa hampir melayang dan mual. Semua yang ada di sekitarnya menjadi kabur. Suara yang terdengar menjadi kurang jelas, terasa tidak nyata seperti film, tangisan Bibi Elisa terdengar dari kejauhan seperti berasal dari dunia lain, "Lepaskan dia!"


Keputusan belum sempat dibulatkan tadi, di kondisi yang seperti ini, Lucian akhirnya membulatkan tekad, 'Aku harus menguasai kekuatan besar yang tidak manusiawi dan luar biasa, mau itu sihir sekalipun.'


'Walau harus minjam sekalipun, aku harus mengumpulkan uang untuk belajar huruf dalam waktu singkat.'


Melihat Lucian yang dipukul ke sana kemari, Jackson menggerakkan lengannya yang sedikit sakit karena baru saja diremas dengan kuat, mendekat dan menendang Lucian beberapa kali, lalu berkata kepada para premannya, "Cukup, pelajarannya sudah cukup. Anak ini punya teman ksatria resmi Tuan Wayne, kita tidak perlu membunuhnya."


Jika mereka melakukan pembunuhan untuk suatu masalah yang sepele seperti ini, terlebih lagi korbannya adalah teman baik dari seorang ksatria resmi, geng Aaron pasti sudah membunuh hingga darah memenuhi kota Alto. api pada kenyataannya, alasan geng Aaron selalu bisa mengendalikan area gerbang kota dan beberapa area pasar adalah karena mereka tidak keterlaluan. Jika tidak, pengontrol kota Alto yang sebenarnya, yaitu para bangsawan, uskup, dan pendeta dengan kekuatan menakutkan pasti sudah memusnahkan geng mereka. Sejak awal, terlepas dari rumor yang dikabarkan bahwa seseorang di geng Aaron yang memiliki hubungan yang tak terpisahkan dengan seorang tokoh penting tertentu di kota Alto.


Para preman itu berhenti dan menatap Lucian dengan garang di samping, Jackson dengan senyum menatap Lucian yang hidung dan sudut mulutnya berdarah serta tampak hampir pingsan, "Sebenarnya, aku kagum dengan kecerdasanmu, tapi kau kamu belum cukup dewasa. Mengenai masalah di luar kota, kuharap kau tidak serakah. Jika tidak, kau tidak hanya akan dipukuli, aku yakin Mark akan dengan hati saling berbagi cerita dengan dirimu yang dilanda bencana yang serupa."


Masalah pengendalian tempat pembuangan sampah di tepi sungai merupakan hal yang tidak bisa disembunyikan, sehingga Jackson tidak pernah berpikir untuk membunuh seseorang.


Setelah berbicara, Jackson melihat Lucian yang menatapnya sambil menjawab dengan suara serak serta sederhana dan wajah yang penuh dengan darah, "Oke."

__ADS_1


Ini membuat Jackson merasa sedikit aneh, tetapi dia tidak terlalu memikirkannya, menyuruh para preman untuk membawa pergi barang-barang yang Lucian tidak sempat tangani, serta empat puluh lima fer tembaga yang ditemukan dari tubuh Lucian, dan pergi dengan penuh bangga diri.


__ADS_2