Takhta Sihir Tertinggi

Takhta Sihir Tertinggi
Bab 12 Koneksi Pertama


__ADS_3

Ditolak oleh tiga toko penjahit yang terlihat agak mewah berturut-turut, Lucien sangat tertekan. Walau langsung menunjukkan cadar hitam begitu masuk, para penjahit masih menolak untuk percaya dan tidak mau memeriksa bahan kain cadar tersebut, selalu penuh kewaspadaan terhadap orang asing seperti Lucian.


Area pasar ini sangat besar, dengan total lebih dari sepuluh jalan, banyak kurcaci, elf, dan bangsa lain yang berlalu lalang, pasar sangat makmur. Lucian dengan cepat menemukan sebuah toko yang elegan dan bersih di ujung jalan.


Di belakang konter ada seorang anak laki-laki pirang berusia 15 sampai 16 tahun dengan senyum malu-malu bertanya, "Pemilik sedang membuat pakaian di belakang, namaku Banster, apa boleh tahu apa yang kamu butuhkan?"


“Boleh bantu periksa cadar hitam ini?” Lucien belajar dari kesalahan sebelumnya, langsung mengeluarkan cadar hitam dan bertanya.


Banster pikir Lucian ingin mencari cadar hitam yang serupa, jadi mengambilnya tanpa ragu, dan menyentuh tekstur cadar dengan jarinya, tapi ekspresinya menjadi semakin terkejut, "Tuan, bahan ini dari burung bulbul hitam Kerajaan Holm. Cadar hitam yang hanya bisa dimiliki oleh bangsawan sejati, dari mana kamu mendapatkannya?"


Seperti penjahit lainnya, dia menunjukkan kewaspadaan dan kecurigaan. Lucian yang mengenakan pakaian linen compang-camping, pasti tidak mampu membeli ini, karena bahkan banyak orang kaya tidak dapat membelinya. Oleh karena itu, asal cadar ini sangat mencurigakan.


Melihat semua orang memiliki reaksi yang sama, Lucian merendahkan suaranya, "Jangan khawatir, ini tidak akan menimbulkan masalah."


“Serius?” Seorang pria berusia tiga puluhan bernama McDowell dengan wajah ramping keluar dari belakang toko. Dia adalah pemilik toko penjahit ini. Karena sebelumnya Banster terkejut dan berkata dengan kuat, jadi dia terganggu dan keluar untuk memeriksa, dia baru saja juga mendengar penjelasan dari Lucien.


Tidak langsung diusir keluar, melihat bahwa akhirnya ada interaksi yang baik, harapan Lucian meningkat dan muncul perasaan gembira, "Aku bersumpah pada Tuhan, bisa kamu lihat juga, cadarnya sudah berlubang, jadi tidak ada nona atau nyonya bangsawan yang akan mempermasalahkan tentang itu. Selama kamu mengubahnya menjadi renda atau pita gaun, tidak ada yang akan tahu bentuk aslinya."


McDowell mengambil cadar hitam dari tangan Banster dan melihatnya dengan teliti. Setelah terdiam beberapa saat, dia dengan tenang berkata, "Kalau begitu berapa?"


Lucien bersemangat di dalam hatinya, mengepalkan tinjunya dengan erat, dan hampir membuka harga. Tapi pengalaman melawan tikus bermata merah sebelumnya membuat Lucien tetap terlihat tenang, memandang McDowell dan tersenyum, "Aku yakin Tuan tidak akan mengecewakanku.”


McDowell menatap mata Lucien selama beberapa detik, melihat bahwa Lucian tidak terburu-buru, dia berkata dengan lembut, "Empat puluh fer tembaga, karena berlubang, jadi tak banyak bagian yang bisa digunakan."


"Satu nar perak, kalau sebuah gaun panjang yang indah dihiasi dengan kain berbahan burung bulbul hitam yang seindah langit malam ini, itu akan lebih sempurna dan lebih cocok untuk nona dan nyonya terhormat." Lucian dengan paksa menahan kegembiraannya, dan tawar-menawar sesuai prinsip.


McDowell menggelengkan kepala dan mengembalikan kain cadar hitam kepada Lucian, "Paling banyak lima puluh fer tembaga, kalau tidak, cari toko lain saja."


"Sayang sekali." Lucian mengambil kembali cadar hitam dengan tenang, berbalik dan berjalan keluar dari toko, tetapi sebenarnya hatinya penuh ketegangan dan dilema, apakah pemilik toko akan menghentikannya dan menaikkan harga? Atau dia akan kehilangan kesempatan ini dan mungkin tidak dapat menemukan siapapun yang mau membeli cadar yang tidak diketahui asalnya ini.


Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, Lucian sudah hampir meninggalkan toko penjahit, dan suara McDowell akhirnya terdengar dari belakang, "Delapan puluh fer tembaga, kalau bukan karena ada gaun panjang yang sangat cocok dengan renda berbahan burung bulbul hitam, aku tidak akan beli dengan harga setinggi itu."


Bagus! Lucian yang membelakangi McDowell dengan bersemangat meletakkan tinju kanannya di depan dada, lalu berbalik dan tersenyum, "Sepakat."


Delapan puluh fer tembaga yang berdentang ditempatkan di saku Lucien, membuat sakunya menggembung dan tidak praktis, tetapi Lucian justru berpikir sekumpulan fer tembaga ini sangat lucu.


Sebelum pergi, McDowell menghentikan Lucian, "Aku tak mengenalmu dan tak mau tahu namamu. Tapi kedepannya kalau punya kain berharga seperti ini dan tidak akan menimbulkan masalah, tolong pertimbangkan ke toko ini lagi."


“Itu kehormatanku.” Lucian sedang dalam suasana hati yang baik, jadi tersenyum dan membungkuk sedikit.


Setelah keluar dari toko penjahit McDowell, Lucian menemukan bahwa langit sangat biru, matahari sangat cerah, udara terasa segar, semuanya begitu indah.


Delapan puluh fer tembaga tidak terlalu banyak juga. Selain membuat tabungan Lucian lebih dekat dengan lima nar perak, itu juga membuktikan bahwa metode Lucian dalam mengumpulkan barang-barang berguna dari sampah untuk menghasilkan uang berhasil, itulah hal terpenting bagi Lucian.


"Kak Lucian, kamu akhirnya pulang juga, kakakku sudah sampai di rumah. Ibu menyuruhku mengundangmu makan malam bersama."

__ADS_1


Begitu Lucian sudah tidak jauh dari rumahnya, terlihat Ivan sedang berdiri di depan rumahnya. Tampaknya Ivan juga melihat Lucian pada waktu yang hampir bersamaan, jadi melambai dan berteriak dengan gembira.


'John, putra tertua dari keluarga Bibi Elisa, adalah seorang pemuda yang telah menjadi ksatria resmi.' Lucian mengingat tentang saudara laki-laki Ivan, kemudian tersenyum pada Ivan, "Bentar, aku lap keringat dulu." Lucian tidak ingin setumpukan fer tembaganya dilihat oleh Ivan, karena takut Ivan membocorkannya. Jika telah mengumpulkan lima nar perak untuk uang sekolah, itu sudah tidak akan jadi masalah lagi, karena Lucian tidak akan melakukan pekerjaan ini selamanya.


Ivan menjawab sambil tersenyum, "Oke, Kak Lucian, ngomong-ngomong, kakakku membawa pulang sepotong daging sapi yang mereka buru di alam liar selama pelatihan ksatria beberapa waktu lalu, dan Tuan Wayne membagi rata secara adil."


"Akhirnya aku bisa makan sup daging sapi dengan kentang, semenjak kakakku dijemput oleh Tuan Wayne dan dibawa pergi untuk berlatih di manor, aku cuma makan daging sapi kurang dari dua puluh kali dalam dua tahun ini."


Wajahnya yang kotor penuh dengan kerinduan dan keserakahan.


Joel adalah salah satu penyanyi jalanan yang tergolong cukup baik. Meskipun pendapatannya naik turun, tapi tetap jauh lebih baik daripada pekerja kuli yang bekerja keras, ditambah lagi, Elisa juga digaji membantu serikat tekstil mencuci pakaian, jadi pendapatan keluarga mereka sebenarnya dekat dengan tingkat rakyat. Tetapi karena untuk mendanai John ikut pelatihan, sehingga mereka menghemat uang makanan. Itu yang membuat kehidupan mereka agak sulit, bahkan kadang-kadang meminta bantuan dari Evans.


Setelah John berhasil dipilih oleh Tuan Wayne, dan kekhawatiran mereka berdua bisa lega, Elisa mulai merencanakan kehidupan masa depan Ivan lagi. Akan tetapi, ternyata kehidupan mereka menjadi jauh lebih buruk dari sebelumnya.


Mengenai hal ini, Lucian yang tidak tahu banyak tentang dunia ini tidak menganggapnya aneh. Sebaliknya, dia berpikir bahwa tidak buruk bagi keluarga miskin untuk bisa makan daging sapi sebulan sekali.


Setelah menyembunyikan fer tembaga dengan baik dan mengelap keringat dengan santai, Lucian mengikuti Ivan ke rumah Bibi Elisa.


Di luar rumah Bibi Elisa, sekelompok tetangga Lucian yang akrab berkumpul, dan membicarakan John,


"Kudengar John kecil sudah jadi pengawal ksatria resmi Tuan Wayne.


"Elisa yang bilang sendiri, dia tak akan berbohong"


"Kita tidak boleh panggil John kecil lagi nanti, mungkin Tuan John."


"Sekarang masih tak boleh asal panggil, petugas ksatria resmi itu memenuhi syarat untuk menjadi petugas penjaga kota."


"Joel dan Elisa beruntung sekali ya, kehidupan mereka akan membaik di masa depan."


Lucian memandang Ivan dengan curiga. Ivan terus mengangguk dengan ekspresi bangga.


Memasuki rumah, Lucian melihat seorang pemuda dengan rambut pirang dan mata coklat berdiri dari kursi. John mewarisi penampilan tampan seperti Joel waktu muda, tinggi dan tampan, tetapi kesan yang tertangkap di mata Lucian justru temperamen yang tenangnya.


“Aku awalnya khawatir saat dengar sesuatu terjadi padamu, tapi sepertinya itu bukan masalah besar, kalau begitu aku bisa lebih lega.” John tersenyum dan menepuk bahu Lucian, “Jangan terlalu khawatir, hal semacam ini hanya kecelakaan, anggap saja ujian dari Tuhan."


Mengenakan seragam ksatria abu-abu, John terlihat sangat tinggi. Tetapi terhadap Lucian, dia memiliki sikap seorang kakak laki-laki yang dewasa, meskipun hanya satu atau dua tahun lebih tua dari Lucian.


Lucian menjawab sambil tersenyum, "Memang bukan penyakit serius, hanya saja Bibi Elisa terlalu khawatir, jadi sedikit gugup."


Ivan langsung berkata, "Betul tuh, Ibu selalu tidak percaya  padaku."


John tersenyum dan menepuk kepala Ivan, "Cepat cuci mukamu, sudah mau makan malam."


Ketika Ivan pergi, John tersenyum lembut dan memberi isyarat untuk mempersilahkan Lucian duduk, "Kenapa? Cuma karena sudah lama tidak ketemu, rasanya jadi asing? Kita ini teman baik yang tumbuh bersama."

__ADS_1


“Iya, sedikit tidak terbiasa, tak kusangka kamu banyak berubah.” Lucian dengan santai menemukan alasan.


John mengangguk dengan serius, "Pelatihan ksatria tidak hanya pelatihan fisik, tetapi juga perilaku dan mental. Ini sangat sulit tapi manfaatnya sangat besar."


Setelah mengobrol santai tentang pelatihan John di Manor Ksatria Tuan Wayne, Elisa menyapa Lucian untuk makan malam.


Hanya ada semur daging sapi dan ikan bakar di atas meja, tetapi Lucian yang sudah makan roti hitam setiap hari, berpikir ini sangat lezat sekali sampai-sampai hampir memakan lidahnya sendiri. Joel juga mendapat pengecualian dari Elisa karena hari ini adalah hari resmi John menjadi ksatria, jadi diperbolehkan makan daging sapi dan minum-minuman keras sepuasnya.


Sepanjang makan malam, Elisa dengan senang hati mengoceh dan terus berbicara. Joel, Lucian, dan Ivan, yang cuman peduli tentang makanan serta anggur, hanya menanggapinya sesekali, tetapi cukup membuatnya sangat puas, sementara John tetap mengikuti aturan ksatria makan tanpa mengatakan apa-apa.


"Belch." Ivan bersendawa panjang, dan makan malam sudah selesai.


John menggelengkan kepala sambil tersenyum, "Ivan, makan berlebihan itu tidak baik untuk tubuh, jangan lakukan lagi kedepannya."


Kemudian dia berbalik untuk melihat Lucian, "Lucian, apa kamu pernah berpikir tentang masa depanmu?"


Untuk pertanyaan ini, mau itu Joel ataupun Elisa, mereka semua memandang Lucian dengan serius.


Lucian menjawab dengan hati-hati, "Belum ada tujuan yang pasti, tapi aku tidak ingin seperti ini lagi."


“Bagus, ketidakpuasan dengan kehidupan adalah kekuatan untuk bergerak maju.” John mengangguk puas, “Toko roti dan tempat pembuatan bir di rumah Tuan Wayne baru-baru ini kekurangan tenaga kerja, mereka ingin merekrut beberapa pekerja magang. Tetapi setelah sepuluh tahun magang, pekerja harus tinggal di manor. Lucian, coba pertimbangkan, dan beritahu aku jawabannya saat aku pulang hari senin nanti."


Setelah menjadi ksatria resmi, John memiliki kemampuan untuk mengubah kehidupan keluarga dan teman-temannya, meskipun sedikit, tapi itu sangat penting.


Di dunia ini juga memiliki kepercayaan tertentu yang mirip di dunia asal Lucian, sehingga ibadah diadakan setiap tujuh hari sekali, yaitu seminggu.


"Oke, John." Lucian baru saja mendapatkan koneksi pertama dalam hidupnya. Dia memiliki rencana yang lebih matang dan lebih baik untuk masa depannya sendiri, dia tidak berniat menjual dirinya selama sepuluh tahun. Karena akan terlalu aneh jika menolak secara langsung dengan situasi miskin saat ini, jadi dia berencana untuk menolaknya setelah beberapa hari hingga minggu depan.


John berdiri: "Oke, karena Lucian baik-baik saja, maka aku akan kembali ke rumah Tuan Wayne sebelum gerbang kota ditutup." Kemudian dia memeluk Joel, Elisa, dan Ivan secara bergantian, serta tidak lupa juga memberi Lucian sebuah pelukan besar, "Sayangnya, kamu buta huruf, jika tidak, pengurus rumah manor, namanya Downey, lagi butuh seorang juru tulis untuk membantunya dalam urusan pengadilan desa. Ini sebuah pekerjaan dengan gaji yang layak."


“Aku kebetulan memang mau belajar huruf.” Lucian mengambil kesempatan ini untuk berkata.


John tertegun sejenak, lalu tertawa, "Lucian, kamu sangat ambisius ya. Baik, akan kubantu cari cara dan kesempatan, tapi harapannya tidak besar, atau memakan waktu yang lama, jadi bersiaplah."


“Terima kasih John.” Lucian tidak menggantungkan seluruh harapannya pada John, karena dia cukup percaya diri dengan rencana jalannya sendiri.


Meski selama tiga hari berturut-turut Lucian tidak menemukan sesuatu yang berharga seperti kain dari bahan burung bulbul, tapi tabungan Lucian sudah sebanyak satu nar perak dan enam puluh empat fer tembaga, jadi dia berjalan keluar dari gerbang kota dengan penuh semangat.


Andre melihat Lucian yang berjalan pergi, berkata dengan aneh kepada Mark, "Kenapa anak itu ke luar kota setiap pagi?"


“Andre, apa yang kamu bicarakan?” Sebuah suara ramah datang dari belakang Andre.


Ekspresi Andre menjadi serius, dia berbalik dengan cepat: "Selamat pagi, Kak Jackson."


Leodos Jackson, pemimpin geng Aaron, memiliki wajah yang sangat biasa, terlihat ramah dan rendah hati. Tetapi jika tertipu oleh penampilannya, biasanya akan berakhir sangat menyedihkan. Mau itu licik, jahat atau kejam, Jackson adalah yang terbaik di geng Aaron.

__ADS_1


__ADS_2