Takhta Sihir Tertinggi

Takhta Sihir Tertinggi
Bab 15 Untuk Keadilan


__ADS_3

Lucian merasa pusing, terbaring di tanah dengan rasa sakit di sekujur tubuh, memandangi matahari yang tidak terik di pagi hari pada langit yang biru. Diam-diam menghirup udara segar, rasa sakit di tubuhnya tidak bisa menyembunyikan perasaan hatinya yang melonjak, perasaan ketabahan dan tekad untuk mencapai tujuan.


Begitu memutuskan untuk belajar sihir, meski Lucian menjadi lebih berhati-hati dan waswas kedepannya, tapi dia merasakan semacam relaksasi yang menyenangkan seolah-olah perasaan sebuah batu besar yang menekan keinginan hatinya sudah menghilang.


“Ini benar-benar aktivitas mental yang aneh, kompleks, dan sesat.” Pengalaman Lucian yang mengalami peristiwa besar beberapa hari ini seolah lebih kaya daripada pengalaman selama dua puluh tahunan Lucian sebelum ke dunia ini. Lucian tampaknya telah menjadi lebih dewasa, mengubur emosi kemarahan dan ketidakberdayaan barusan di dalam hati, serta menertawakan dirinya sendiri, "Mungkin dari awal aku memang ingin belajar sihir, menguasai kekuatan luar biasa, mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dan mendapatkan status yang lebih tinggi. Peristiwa beberapa hari terakhir ini seolah cuma membantuku mengambil keputusan."


Elisa lari ke sisi Lucian dan membantunya berdiri: "Evans kecil, kamu baik-baik saja?"


Lucian mencoba menggerakkan tangan, kaki dan tubuhnya, giginya mengatup kesakitan: "Tidak apa-apa, Bibi Elisa, mereka tidak berniat membunuhku, hanya beberapa luka ringan saja."


Baru saat itulah Elisa merasa lega dan mulai marah-marah, "Para penjahat sialan itu, mengabaikan hukum Duke. Mereka pasti akan dihukum gantung diri, dan mereka pasti akan masuk neraka."


Sambil marah-marah pada geng Aaron, Elisa membantu Lucian sampai duduk di dalam rumahnya, membasuh darah di wajah Lucian dengan air bersih, dan menggunakan linen bersih untuk menghentikan pendarahan.


Setelah melakukan semua ini, Elisa meletakkan tangan di pinggang, memandang Lucian, dan berencana untuk bertanya apa yang terjadi. Tetapi sebelum dia sempat bertanya, dia tiba-tiba teringat sesuatu, jadi bertanya dengan tatapan memohon, "John kecil akan pulang senin sore nanti, tolong jangan beritahu dia tentang ini. Evans kecil, kamu juga tahu, dia itu memiliki cinta yang luar biasa besar untuk ksatria dan aturan, dan kamu itu teman baiknya. Jika dia tahu tentang ini, dia mungkin akan mencari masalah dengan geng Aaron, dan jika masalah menjadi lebih besar, dia mungkin akan dikeluarkan oleh Tuan Wayne."


Sebagai orang miskin, Elisa terbiasa menempatkan dirinya pada posisi yang lemah.


“Tentu, lagipula aku juga baik-baik saja, akan kurahasiakan dari John.” Meskipun Lucian tidak berdaya sekarang, tapi dia percaya bisa mendapatkan keadilan di masa depan dan membuat geng Aaron berakhir hancur, jadi dia setuju dengan senyuman di sudut mulut.


Bibi Elisa mengangguk dengan air mata berlinang, "Evans kecil, kamu benar-benar baik."


“Apa yang ingin kamu sembunyikan dariku?” Tiba-tiba, suara magnetis John terdengar. John tidak tahu sejak kapan sudah berdiri di pintu dengan seragam ksatria abu-abu.


Bibi Elisa berkata dengan panik, "Tidak, tidak ada yang terjadi, John kecil ternyata pulang lebih awal ya."


John berjalan ke dalam rumah dengan senyuman pahit, "Tuan Wayne dipanggil pergi oleh Yang Mulia Archduke, jadi aku kembali ke kota Alto. Bu, jangan berbohong seperti itu, aku sudah dewasa. Sebagai petugas ksatria resmi, aku sudah belajar dan mengalami banyak hal dengan Tuan Wayne, jadi aku bukan lagi anak yang polos seperti dulu. Jangan khawatir, aku tidak akan ceroboh."


Setelah berbicara dengan Elisa, John tersenyum dan memandang Lucian, bertepuk tangan beberapa kali, dan berkata dengan sikap lembut dan tenang, "Penampilanmu yang sekarang jauh lebih buruk daripada ketika kita dihajar bersama dulunya. Baiklah, katakan padaku, apa yang terjadi, kupikir banyak tetangga di sekitar juga seharusnya melihat apa yang baru saja terjadi."


Lucian menoleh untuk melihat Bibi Elisa. Melihat Bibi Elisa mengangguk dengan enggan, jadi dia menceritakan kejadian dari awal sampai akhir, saat ini Lucian merasakan tekanan yang sama seperti Gary, Colaya dari John.


Mendengar sampai akhir, John menunjukkan ekspresi marah, tetapi tidak kehilangan akal sehat, dengan cepat menjadi tenang dan tertawa, "Sepertinya kamu beneran ingin belajar huruf ya Lucian, tapi kecerdasanmu itu memang yang terbaik di antara kita. Bisa-bisanya terpikir menemukan sampah yang berharga."

__ADS_1


Melihat bahwa John tidak marah atau pergi mencari masalah pada geng Aaron, Bibi Elisa menghela nafas panjang lega, "Evans kecil, baguslah kamu punya pemikiran dan usaha sendiri."


John memutar tubuhnya dan mengendurkan bahunya, lalu berjalan ke dapur yang beberapa langkah jauhnya, menemukan sebuah tongkat kayu yang kokoh seperti pedang panjang, dan berkata kepada Lucian, "Tak kusangka akan menggunakan tongkat ini lagi, tongkat yang kupakai waktu latihan dulu."


Lalu dia menoleh, "Bu, aku keluar sebentar ya."


"John." Teriak Elisa, "Nanti kamu diusir sama Tuan Wayne kalau seperti ini."


Lucian buru-buru berkata, "John, tidak apa-apa, aku juga cuma luka kecil aja."


John menggelengkan kepalanya, "Setelah menjadi ksatria resmi Tuan Wayne dan mematuhi etika ksatria, dia sering mengajari kami memajukan semangat ksatria. Jangan takut kekerasan, melindungi yang lemah, jaga tanah air, menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran. Rekanku yang lain mungkin tidak begitu peduli, tapi aku pikir ini adalah jalan kupercayai sepanjang hidup."


"Lucian adalah teman baikku, termasuk pria lemah dan miskin, sedangkan geng Aaron adalah penjahat. Jika aku tidak maju untuk menegakkan keadilan, itu akan melanggar prinsip di hatiku. Walaupun aku tidak diusir Tuan Wayne, gangguan seperti itu juga akan terus menghantui pikiranku, dan mungkin membuatku tidak bisa mengeluarkan potensi kekuatan garis keturunanku. Aku yakin Tuan Wayne akan menyetujui tindakanku."


"Tapi, John kecil," Bibi Elisa masih tidak ingin John pergi, dengan wajah sedih di wajahnya.


John tersenyum lembut dan memeluk Elisa, "Lucian hanya dihajar dan dirampok. Aku tidak akan sampai keterlaluan dan melewati batas, jadi tidak akan membuat masalah besar. Bu, percayalah padaku, lihatlah, aku hanya bawa tongkat."


Pembujukkan seperti itu, ditambah kekuatan meyakinkan yang dibawa oleh status ksatria resmi John, akhirnya membuat Elisa setuju, mengangguk dengan enggan, "John kecil, kamu harus berhati-hati."


"Tunggu." Suara Lucian tiba-tiba terdengar.


John balas menatapnya dengan aneh, "Kenapa Lucian?"


Lucian berdiri, tingkah laku John sangat menyentuh hatinya, seolah ada darah yang mendidih dalam hatinya, tersenyum dan berkata, "Pergi sama-sama."


Meski senyum Lucian terlihat lucu karena gigi ompong di sudut mulut, tapi John masih melihat ketegasan Lucian, jadi tidak menolak sambil tertawa, "Tidak masalah, sama seperti waktu kecil, yah, masih ada tongkat di dapur."


Lucian menemukan tongkat kayu dan memegangnya di tangan. Ketika berjalan melewati Bibi Elisa, dia berbisik untuk menghibur, "Aku akan menjaga John dan tidak akan membiarkannya melewati batas."


Tidak lama setelah Jackson dan Lucian pergi, mereka berdua dapat dengan mudah mengetahui keberadaan para preman baru dari tetangga dan orang yang berlalu lalang.


Saat mengejar, John tiba-tiba berkata, "Lucian, kamu percaya pada keadilan?" Suara itu tampak sedikit bingung.

__ADS_1


“Yah aku percaya, ada apa?” Lucian tidak tahu mengapa John menanyakan ini, jadi dia menjawab dengan hati-hati seperti biasanya.


John berkata dalam pertengahan perjalanan, "Aku juga percaya pada keadilan, tapi aku mengerti bahwa sebenarnya aku tidak seagung dan seberani yang baru saja kukatakan. Jika bukan karena kamu teman baikku, sepertinya aku tidak akan menuntut menjunjung tinggi panji keadilan ksatria untuk menghadapi geng Aaron. Aku justru lebih terbiasa mengukur kekuatan. Begitu ada ancaman besar pada nyawa atau masa depanku, aku pasti akan memilih menghindar dan tidak berani bergerak maju, kecuali peristiwa besar itu berhubungan dengan keluarga dan teman-temanku. Mungkin bagiku, keadilan itu hanyalah sebuah slogan."


"Kurasa tidak, setiap ksatria punya prioritas utama yang ingin mereka lindungi. Ada yang adil, ada yang setia, ada yang tak kenal takut, ada yang welas asih, sedangkan kamu lebih pada keluarga, hanya ketika kamu memilih apa yang ingin dilindungi baru dapat berbicara tentang keadilan. Jika tidak, keadilan itu hanya simbol yang tidak pasti dan tidak penting."


Baru pada saat inilah Lucian menyadari bahwa John masih seorang pemuda, sama seperti dirinya sendiri, Lucian pada saat yang sama membolak-balik literatur tentang ksatria di benaknya, dan mengatur bahasa untuk menghibur.


Setelah beberapa hari membiasakan diri, Lucian menjadi semakin mahir dalam membuka perpustakaan, dan menemukan bahwa dengan pemikirannya sendiri, dia dapat dengan mudah menemukan informasi yang dibutuhkan.


John masih sedikit bingung, "Benarkah?"


“Tentu saja, dengan kekuatanmu, itu mungkin untuk dilakukan. Apa kamu akan tidak takut kekerasan, akan melindungi yang lemah, dan menegakkan keadilan?” Tanya Lucian.


John mengangguk tegas: "Ya."


“Jadi, John, kamu tetap seorang ksatria yang menuntut keadilan. Lagipula, melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan bukan disebut menegakkan keadilan, tapi cari mati atau kecerobohan. Yang dibutuhkan saat ini adalah memikirkan cara lain atau mengambil jalan lain untuk mencapai tujuannya, kecuali tidak ada jalan keluar lagi." Lucian seolah menemukan dirinya cukup cocok menjadi mentor psikologis.


John berpikir sejenak, sepertinya terpengaruh, dan tertawa, "Setiap kali aku bertanya kepada Tuan Wayne tentang hal ini, dia selalu bilang aku masih kurang pengalaman hidup, ingin menemukan kunci tentang hal ini tidak dapat hanya dengan mengandalkan imajinasi. Yah, sepertinya peristiwa beberapa hari ini sudah membuatmu menjadi lebih dewasa. Lucian, yang kamu bilang itu masuk akal, hmm, tapi aku masih mendambakan keadilan sejati semacam itu."


"Tuan Wayne pernah menceritakan kepada kami kisah tentang pedang panjang seorang ksatria legendaris. Setelah digabungkan dengan kekuatan magis, pedangnya polos dan sederhana, tanpa cahaya yang indah, tanpa berbagai warna yang ditampilkan oleh kekuatan magis, dan tanpa permata bertatahkan, mutiara, bahkan pelindung tangannya saja terbuat dari kayu biasa, yang tidak berbeda dengan pedang panjang yang dipakai prajurit biasa, tidak mencolok, bahkan tidak menarik perhatian bangsawan atau prajurit biasa lainnya."


"Tapi kekuatannya justru sangat kuat, terutama ketika melawan kejahatan. Tetapi yang paling mengesankanku adalah kata-kata yang ada di pedang panjangnya: dibandingkan dengan kesombongan dan kekuatan besar, keadilan itu lebih rendah dan pucat, tetapi keadilan berlaku untuk semua orang, baik itu kaya atau miskin, tinggi atau rendah, di ladang petani atau di medan pertempuran sengit, keadilan itu ada di mana-mana."


"Kalimat ini bergema dalam hatiku sepanjang waktu."


"Pedang panjang ini disebut Pale Justice, tapi sayangnya menghilang di Pegunungan Gelap bersama dengan seorang ksatria langit yang kuat."


Ekspresi John menjadi penuh kerinduan dan sedikit bersemangat, dia mundur ke sudut tak terlihat dalam kebingungan.


Melihat penampilannya, Lucian berkata dengan nada bercanda, "Kalau begitu slogan kita hari ini adalah, untuk keadilan!"


"Hahaha, untuk keadilan!" Kata John sambil mengayunkan tongkat kayunya.

__ADS_1


Keduanya tertawa bahagia, tetapi Lucian diam-diam berkata dalam hati bahwa dirinya tidak bermaksud mengatakan sudut giginya sendiri tidak ompong.


Beberapa menit kemudian, mereka berdua melihat Jackson yang sedang berjalan di jalan lebar area pasar, dan belasan preman termasuk Andre yang masih mengikuti Jackson.


__ADS_2