Takhta Sihir Tertinggi

Takhta Sihir Tertinggi
Bab 16 Jalanan


__ADS_3

Setelah melihat Jackson, John menjadi tenang dan berkata kepada Lucian, "Kamu belum pernah menjalani pelatihan, jadi harus ingat nanti, jangan panik, lakukan serangan dengan stabil dan akurat. Paling mereka cuma punya belati, jadi kamu harus memanfaatkan panjang tongkat untuk menjaga jarak. Jangan berhenti di tempat, tapi lawan sambil lari. Jumlah mereka banyak, kamu tidak akan bisa menang kalau begitu mereka mengepung dan menyerangmu dari berbagai arah secara bersamaan."


Dia mencoba untuk sekedar memperingatkan berbagai poin yang perlu diperhatikan, agar Lucian tidak panik atau menyerang sembarangan.


Faktanya, Lucian memiliki pemahaman yang mendalam tentang aspek ini, mengangguk setuju, dan menjawab, "Jangan khawatir John, aku ini seorang pria pemberani yang menerobos ruang rahasia penyihir."


John berhenti berbicara, mereka berdua meletakkan tongkat di belakang punggung agar tidak menarik perhatian orang yang berlalu lalang, kemudian dengan cepat mendekati Jackson dan para preman.


Ini adalah jalan di area pasar, hanya sepuluh menit perjalanan dari markas geng Aaron. Pasar ini sangat makmur, ada banyak pedagang, petualang, dan tentara bayaran yang berlalu lalang. Oleh karena itu, pendekatan John dan Lucian tidak disadari oleh Jackson dan para preman.


Setelah mengambil beberapa langkah, Lucian dan John saling berpandangan, mengeluarkan tongkat kayu di punggung, memegangnya dengan kedua tangan, berlari ke arah dua preman yang tertinggal di belakang Jackson.


Lucian menyadari bahwa ini adalah preman yang menendang dan membuatnya jatuh tadi. Setelah bergegas ke sekitarnya, dia mengayunkan tongkat kayu dan memukul kepalanya dengan kuat.


Tidak cukup tenaga, tidak cukup latihan, apa yang Lucian pelajari dari beberapa pertempuran terakhir, selain tidak gugup, tidak panik, stabil dan akurat, adalah melakukan serangan dengan kejam. Begitu menyerang, maka tidak boleh berbelas kasihan atau meringankan tenaga sama sekali.


Suara ayunan tongkat kayu itu membangkitkan kewaspadaan preman ini, namun dalam jarak yang begitu dekat, preman ini langsung terkena pukulan tongkat begitu menoleh sedikit.


"Gedebuk!" Tongkat Lucian menghantam bagian bawah telinga preman itu, membuat pandangan preman itu menjadi kabur, jatuh pingsan di tanah.


Di sisi lain, John tidak sekejam Lucian. Dia tidak memilih kepala sebagai target pukul, dia memegang tongkat kayu seperti pedang raksasa dengan kedua tangan dan memukul lengan kanan preman dihadapannya.


Meskipun bukan titik fatal, tapi tenaga John yang sebagai petugas ksatria resmi, jauh lebih kuat daripada Lucian. Pukulan tongkatnya langsung membuat preman itu jatuh, lengan membengkak, dan tidak bisa digerakan sementara waktu.


Lucian yang menumbangkan seorang preman dengan satu pukulan tongkat tidak berhenti, berlari ke pinggiran dan mengayunkan tongkat untuk memukul wajah seorang preman lainnya yang menoleh karena mendengar suara aneh.


Preman itu terpental dan jatuh ke belakang, kedua hidung mengeluarkan darah dan meninggalkan jejak di udara.


Preman itu tidak langsung pingsan, tapi merasakan rasa sakit yang dahsyat dan kepala yang berdengung membuatnya berguling-guling di tanah.


Pada saat ini, para preman di depan sudah tahu. Melihat Lucian dan John, mata Jackson menjadi ganas, dia memberi isyarat agar dua belas preman yang tersisa mengepung Lucian dan John.


Belati mereka terhunus, memantulkan sinar matahari pagi dengan cahaya dingin.


Lucian dengan tegas mengingat prinsip untuk tidak berhenti bergerak, jadi dia lari acak-acakan di sekitar pinggiran, terkadang ke depan, terkadang ke kiri, terkadang ke belakang, begitu ada peluang, maka langsung melakukan serangan balik, mengandalkan keunggulan panjang tongkat untuk menargetkan kepala, leher, dan titik vital para preman.

__ADS_1


Bagian terpenting dari taktik semacam ini adalah tidak panik dan tidak serakah, walau musuh berpisah dan mengepung dari beberapa arah.


Jalannya sangat lebar dan panjang, orang-orang yang berlalu lalang sudah melarikan diri ke segala arah. Asalkan tidak berakhir di sudut buntu atau masih berada di tempat musuh yang sudah dikalahkan, ditambah musuh yang dipancing John, empat sampai lima preman yang mengejar Lucian sama sekali tidak mungkin bisa memblokir semua rute lari Lucian.


Tentu saja, ini adalah ujian besar stamina tubuh, orang normal pasti tidak dapat bertahan setelah beberapa menit.


Tak lama kemudian, satu preman lagi tumbang, tapi Lucian memperhatikan bahwa John yang ada di sisi lain justru telah dikepung.


Meskipun kekuatannya lebih baik daripada Lucian dan para preman, tapi John yang tidak menyerang dengan kejam pada awalnya, setelah menumbangkan lima sampai enam preman berturut-turut, para preman yang sudah tumbang masih bisa lanjut bertarung, mengeluarkan belati dengan tangan kiri, dan menargetkan pergelangan kaki John. Jadi untuk menghindari serangan di bawah, John tidak sengaja terkepung, jangkauan rute lari juga semakin sempit. Jika bukan karena memiliki keterampilan yang gesit dan ilmu pedang yang kuat, John pasti sudah ditikam lima sampai enam belati yang menargetkannya, tapi situasinya saat ini juga sudah sangat genting.


Melihat ini, Lucian ragu-ragu sejenak, lalu menggertakkan gigi dan bergegas ke sana sambil mengayunkan tongkat kayu untuk memukul belakang kepala preman yang mengepung John.


"Hati-hati!" "Jony! " Ketiga preman yang mengejar Lucian tadi, berteriak keras untuk mengingatkan rekannya sambil bergegas ke sana juga.


Preman bernama Jony bereaksi sangat cepat untuk menghindar, sehingga tongkat kayu Lucian tidak mengenai apapun.


Tetapi pada saat yang sama, ini juga memungkinkan John mendapat kesempatan untuk melepaskan diri dari pengepungan, dia menyapu sekeliling dengan tongkat untuk memaksa musuh mundur, dan melarikan diri dari samping Jony.


Jony melompat tiba-tiba, lalu menusuk ke arah punggung John dengan belati. Ketiga preman yang mengejar Lucian tadi juga sudah hampir tiba di depan John.


Jonny jatuh ke tanah, begitu juga dengan belati ditangannya, dia tidak dapat menghentikan John yang melarikan diri.


Tapi karena seperti ini, Lucian terjebak oleh para preman yang mengepung John sebelumnya, dan hanya bisa berlari dalam jarak yang sempit.


"Stt." Lucian merasakan sakit yang membakar di punggung, dan menyadari bahwa dirinya tidak sempat melarikan diri dan tergores belati, tetapi Lucian tidak menyerah atau panik, karena dia mungkin mengerti sesuatu dari Gary dan rekan yang lainnya, mengenai seberapa kuat seorang ksatria resmi, ditambah ksatria ini tidak akan menahan diri lagi.


Di antara para preman ini, pasti tidak ada yang memiliki kekuatan seperti itu, kalau tidak, mereka pasti sudah menjadi pemimpin.


John melawan sambil melarikan diri. Setiap serangannya sangat kuat dan kejam, tapi tidak seperti Lucian, bahkan jika dia menemukan peluang, tongkatnya terkadang meleset. Walau akurat sekalipun tidak akan mengenai titik vital musuh, karena selama serangannya kena, targetnya pasti sudah tumbang sambil teriak kesakitan.


Hanya dalam sepuluh detik, para preman yang mengejar John sudah tumbang di mana-mana.


Setelah membereskan orang-orang ini, John segera datang untuk membantu Lucian. Ketika Jackson melihat ini, dia mengerti bahwa kekuatan John sangat luar biasa, dan empat preman yang tersisa sepertinya tidak mungkin bisa menghentikannya, jadi dia berbalik dan melarikan diri tanpa berpikir banyak, karena markas geng Aaron sudah dekat, selama dia melarikan diri ke sana dan mengumpulkan orang, dia pasti bisa membuat John dan Lucian menderita kekalahan.


Dalam sekejap, Andre yang mengepung Lucian dibuat pingsan oleh John. Ketiga preman tersisa itu melihat Jackson melarikan diri, jadi beberapa langsung tidak ingin bertarung lagi dan melarikan diri, sementara yang satunya masih galak, lebih kuat dalam mengayunkan belati, sehingga membuat luka Lucian bertambah lagi, tepatnya di bagian tangan kanan, darah perlahan mengalir keluar.

__ADS_1


Menahan rasa sakit, Lucian sepenuhnya percaya pada John, mengambil langkah maju, dan dengan tongkat yang panjang. Dia menjatuhkan preman di depannya ke tanah, sedangkan beberapa preman yang kehilangan semangat juang dan melarikan diri juga dipukul jatuh oleh John hingga berteriak kesakitan.


"Kamu baik-baik aja?" John bertanya pada Lucian dengan khawatir.


Lucian menggelengkan kepala, "Tidak apa-apa, kita kejar saja orang itu."


Jadi, mereka berdua membawa tongkat kayu masing-masing dan mengejar Jackson. Pada saat ini, beberapa pemikiran yang sulit dijelaskan muncul dalam benak Lucian, "Rasanya seperti di film Young and Dangerous."


Jackson sudah lari hingga jarak tertentu. Tetapi karena setelah menjadi pemimpin, jumlah pertarungan dan latihan menjadi lebih sedikit, jadi tubuhnya sudah sedikit berlemak. Tidak butuh waktu lama bagi John yang merupakan prajurit ksatria yang tinggi dan berkaki panjang untuk mengejar, dan jarak antara mereka semakin dekat.


"Sedikit lagi, sedikit lagi." Jackson melihat ujung jalan yang panjang ini dan terus menyemangati dirinya sendiri.


Sayangnya John tidak harus mengandalkan kecepatan untuk memenangkan pengejaran ini. Melihat jaraknya sudah pas, dia menjatuhkan Jackson ke tanah dengan lemparan tongkat kayu yang tepat sasaran mengenai punggung Jackson.


Kemudian John menyusul dan menginjak punggung Jackson dengan kaki kanan yang memakai sepatu bot ksatria.


Lucian yang sudah dihajar sebelumnya, ditambah sekarang punya dua luka baru, otomatis kekuatan fisiknya sudah hampir mencapai batas, jadi Lucian baru saja tiba sambil terengah-engah setelah lebih dari sepuluh detik.


Tepat ketika Jackson hendak mengancam Lucian, dia mendengar John terengah-engah dan tertawa, "Kasih dia makan beberapa tinjumu, anggap saja balas dendam."


“Fiuh, baiklah.” Lucian menenangkan napas dan mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, sementara John membalikkan tubuh Jackson dengan kakinya.


“Beraninya kalian...” Sebelum kata-kata kaget dan marah Jackson selesai, tongkat kayu di tangan Lucian sudah mengenai wajahnya.


Beberapa giginya copot, sedikit darah berceceran, teriakan Jackson tercekik di tenggorokan. Telinganya berdengung, seolah-olah tidak bisa mendengar apa-apa, dan semua bintang emas beterbangan di depannya.


Pukulan ini benar-benar menghancurkan Jackson, kedua bajingan ini ternyata berani memukulnya.


"A-apa yang ingin kalian lakukan?” Jackson bertanya samar-samar dengan darah dalam mulutnya, bahkan kata-kata yang dia ucapkan sendiri seolah-olah terasa berasal dari dunia lain, jauh dan halus.


John menendang jatuh belati di tangan Jackson, dan berkata dengan serius, "Kami di sini hanya untuk menegakkan keadilan. Kalian itu penjahat yang menghajar Lucian, jadi sudah kami hajar balik. Tetapi tentang rumah dan perabotan Lucian yang hancur, serta uangnya yang dirampok, semua perlu diberi kompensasi."


"Kau John, kan? Apa kau tak takut diusir Tuan Wayne karena memukul orang di jalanan seperti ini?! Pikirkan bagaimana kalau status ksatriamu hilang, pikirkan ayah, ibu, dan saudara-saudaramu!" Pandangan Jackson sudah membaik, jadi pikirannya juga bisa menjadi sedikit lebih tenang, dan tampaknya dia berhasil menebak dan mengancam identitas John.


“Mau dipukul lagi ya?” Lucian melambaikan tongkat kayu di tangannya, setelah pertarungan tadi, tongkat kayunya sepertinya sudah hampir patah.

__ADS_1


Keluhan dan kemarahan di hati Jackson bagaikan air yang mendidih, tetapi dia tahu betul bahwa Lucian pasti berani memukulnya, jadi dia hanya bisa menutup mulut dan menatap John.


__ADS_2