Takhta Sihir Tertinggi

Takhta Sihir Tertinggi
Bab 2 Datang dengan Sendirinya


__ADS_3

Cahaya samar menembus awan merah dan menyinari alun-alun gereja Aderan yang tenang di malam hari yang gelap. Matahari kecil yang dipegang oleh uskup telah kehilangan cahaya dan digantung di dadanya uskup, kemudian uskup tersebut berbalik dan berjalan ke gereja.


Di tengah alun-alun, penyihir cantik berjubah hitam telah dibakar menjadi abu, tetapi tawa dan kutukan gilanya tampaknya masih bergema. Banyak orang tidak bisa menahan diri dan tanpa sadar menggigil, melihat sekeliling, dan mengikuti uskup memasuki gereja, bertobat dari dosa-dosa mereka di bawah perhatian Tuhan, dan berdoa dengan tulus.


Cahaya putih yang menyilaukan tampak serasa masih ada di depan, dan kekuatan suci dan agung yang dikandungnya masih dapat dirasakan samar-samar. Di bawah keterkejutan ini, Lucian telah menerima identitasnya sendiri dan mengubur semua masa lalu jauh di dalam hatinya, sampai tak berani menunjukkan perbedaan apapun.


"Kekuatan sihir yang kuat sekali, apa aku punya kesempatan untuk mempelajarinya."


Lucian berpikir dengan kaget secara fisik dan mental. Tidak ada kekaguman yang seharusnya dimiliki orang biasa, dan tiba-tiba, sebuah kekuatan besar menepuk bahu kiri Lucian, membuat tubuhnya miring kiri tanpa sadar, dan hampir hilang kestabilan.


"Oh, Evans kecilku yang malang, ternyata kamu baik-baik saja. Ini semua berkat Tuhan, kupikir kamu akan seperti ayahmu yang jatuh sakit dan tidak pernah bisa bangun lagi. Terima kasih Tuhan karena telah membuat orang baik yang luar biasa sepertimu tetap hidup."


Setelah ditepuk seperti ini, Lucian sudah sadar dari keterkejutannya dan kembali ke akal sehatnya. Dia melihat seorang wanita tua berambut coklat berdiri di sampingnya sedang menyeka air mata sambil menepuk bahu kirinya dengan tangan kanan.


Lucian menghindar sedikit agar tidak muntah darah karena ditepuk terus. Lucian membuka mulutnya, tapi sadar kalau dia tidak dapat mengatakan sepatah katapun, karena ia tidak tahu identitas bibi ini. Sejauh ini yang dia tahu hanyalah nama lengkapnya.


Penghindaran Lucian membuat bibinya semakin sedih, "Evans kecilku yang malang, kamu pasti sakit sampai lupa, lihatlah wajah kecilmu yang semakin kurus ini."


Saat berbicara, Lucian merasa sangat canggung. Dirinya melintasi waktu dan ruang ke sini. Jadi selain bisa memahami dan berbicara bahasa di sini, dia tidak mewarisi ingatan apapun. Jika dia salah merespons, mungkin dia akan dituduh bahwa telah dirasuki iblis. Tapi tentu saja, dari segi logika, peristiwa tubuh Lucian ini memang bisa dikatakan seperti dirasuki iblis.


Untungnya, saat ini seorang pria paruh baya yang berdiri di sebelah bibi gemuk menepuk bibi gemuk sambil menghibur, "Elisa, Evans kecil baru saja pulih. Dia pasti sangat lemah, jadi jangan ganggu dia lagi. Ivan, cepat bantu Ibumu, kita pulang sama-sama."


Pria paruh baya ini sangat kurus dengan punggung sedikit melengkung dan rambut pirang pendek yang sedikit beruban. Struktur wajahnya yang bagus, dapat terlihat ketampanan saat masa mudanya.


Tapi di mata Lucian, paman setengah baya itu bagaikan bidadari dengan lingkaran cahaya putih yang menyelamatkannya dari rasa canggung dan ketegangan barusan.


“Bibi Elisa, aku sudah sembuh, cuman masih sedikit pusing.” Lucian masih menahan kata-katanya agar tidak salah bicara.


Ivan, bocah lelaki yang membawa Lucian untuk melihat adegan pembakaran penyihir, juga membantunya dengan berkata, "Kak Lucian itu bukan tipe pecundang yang sakit sekali saja langsung mati, hanya kamu yang masih berpikir dia itu masih butuh dirawat."


Bibi Eliza menyeka air matanya, "Evans kecilku, aku lega melihatmu baik-baik saja. Ini semua salah penyihir jahat yang sudah ke neraka itu."


Dibantu berdiri oleh Ivan, Bibi Eliza berjalan maju perlahan dan mengomel: "Ketika dia baru saja pindah ke rumah di sebelahmu, betapa tenang, cantik dan lembutnya dia itu. Aku masih berpikir kalau John kecil bisa menikahi gadis seperti itu, maka itu adalah berkah dari Tuhan. Tetapi ternyata dia itu penyihir dan bahkan mau mencuri sisa-sisa mayat di kuburan untuk melakukan sihir jahat. Untungnya, kemuliaan Tuhan menyinari segalanya. Saat itu, ada penjaga malam yang berpatroli di kuburan, dan langsung menangkapnya. Kalau dia sampai berhasil menyiapkan sihir jahat, kita tidak tahu berapa banyak orang yang akan mati di distrik Aderan ini."


Berjalan di belakang bersama paman setengah baya, Lucian secara garis besar mengerti apa yang terjadi dari omelan Bibi Eliza. Penyihir itu ditangkap oleh penjaga malam gereja ketika sedang mencuri mayat di kuburan. Sebagai tetangganya, dia juga diinterogasi oleh gereja. Gereja mungkin telah menggunakan beberapa cara magis untuk mengecualikan Lucian yang asli dari kecurigaan, tetapi juga menyebabkannya menderita kerusakan mental atau fisik, dan pada akhirnya mendapat penyakit serius dan mati, sehingga dirinya bisa merasuki tubuh ini.


Melihat Lucian tidak berbicara, paman setengah baya itu menepuk pundak Lucian dan menghiburnya dengan berbisik, "Elisa memang selalu mengomel seperti itu, anggap saja tidak dengar."


Lucian tidak tahu harus berkata apa, jadi dia hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Paman paruh baya itu melihat punggung Bibi Eliza dan menghela nafas pelan, "Hhh, Elisa itu dulunya gadis cantik yang polos dan ramah. Tapi semenjak melahirkan John kecil, dia itu bagaikan dikutuk oleh iblis dan berubah menjadi seperti sekarang hanya dalam satu tahun.”


Dia tampak penuh dengan emosi di kehidupannya, matanya cukup dalam, dan kemudian berhenti sejenak, "Aku tidak bisa mengalahkannya lagi."


Tepat setelah melintasi ruang dan waktu, dia melihat kekuatan sihir suci dengan mata kepalanya sendiri. Lucian sangat terpengaruh dengan adegan itu, jadi dia hanya tersenyum paksa dan tidak menjawab secara langsung, karena dia juga tidak tahu harus memanggil paman ini apa.


Mungkin pamannya mengingat terlalu banyak masa lalu, sehingga terbawa suasana dan tidak mengontrol suaranya, jadi Elisa mendengus, "Joel, kamu itu seorang penyair yang penuh dengan cita-cita dan hasrat berkembang, bahkan berangkat ke Alto untuk mengejar impian musik, tapi pada akhirnya juga jadi pemabuk."


Joel tersenyum malu: "Alto itu kota mazmur. Tiap hari tidak terhitung ada berapa banyak anak muda yang ke sana untuk mengejar impian musik mereka, tapi cuma beberapa yang berhasil. Lagipula Elisa, sejak John kecil mulai berlatih, bukannya aku juga sudah berhenti minum-minum?"


Bibi Eliza menoleh dan memelototinya, "Untungnya ada berkat dari Tuhan, kamu juga tahu harapan kita semua ada pada John dan Ivan. Kalau bukan karena John kecil yang berlatih tiap hari, mana mungkin dia bisa terpilih oleh Sir Wayne, dan pergi ke Manornya untuk melakukan pelatihan ksatria secara teratur. Jika dia dapat menginspirasi rahmat ilahi dalam garis keturunannya dan menjadi seorang ksatria sejati, dia dapat dinobatkan oleh adipati agung dan raja untuk menjadi bangsawan yang disegani."


Tatapan tajam membuat Joel menyusutkan bahunya, tetapi Eliza dengan cepat menyadari Lucian, "Oh, maaf ya Evans kecilku, bibi bukan sengaja membicarakan ini. Kamu juga sangat berbakat, hanya saja tidak mulai berlatih sejak kecil."


Menyadari ucapannya sendiri semakin menyakitkan luka di hati Lucian, Elisa buru-buru menutup mulut dan memberi isyarat mata kepada Joel untuk berbicara.


Joel tertawa dan menepuk bahu Lucian lagi, "Mana mungkin Evans kecil kita serapuh itu. Dia ini orang yang akan mewarisi impian Paman Joel menjadi seorang musisi."


Lucian yang gelisah tersenyum dan berkata, "Ya, impianku itu menjadi seorang musisi."


Melihat bahwa tidak ada yang aneh tentang Lucian, Elisa terus mengomel tentang segala macam hal sepele, tetapi itu justru memberi Lucian pemahaman yang lebih baik tentang kota tempat dia berada ini.


Tempat tinggalnya saat ini adalah distrik Aderan, tempat berkumpulnya orang-orang miskin di Alto, dan sepertinya dirinya kehilangan pekerjaan mengangkut barang-barang di area pasar karena beberapa hari lalu jatuh sakit.


Tak lama kemudian, mereka berempat sampai di gubuk tempat Lucian tinggal.


Bibi Eliza awalnya ingin mengajak Lucian makan malam bersama dirumah mereka, tetapi Lucian yang sangat membutuhkan ketenangan, menolak dengan sopan.


Ketika berpisah, Ivan bertanya kepada Lucian dengan tenang dan penuh rasa ingin tahu, "Kak Lucian, sejak kapan impianmu menjadi seorang musisi?"


“Barusan.” Lucian menggerakkan mulutnya dengan kaku.


Ivan hanya menjawab, "Ooo." Dengan panjang.


Setelah memasuki ruangan dan mengunci pintu, Lucian duduk dengan gelisah, meletakkan kedua sikunya di atas meja kayu, dan membenamkan kepala di sikunya.


"Aku benar-benar melintasi ruang dan waktu."


"Dan datang ke dunia dengan kekuatan yang tidak manusiawi ini."

__ADS_1


"Kalau tidak hati-hati, bisa saja diikat ke tiang salib dan dibakar hidup-hidup."


Segala perasaan yang muncul dari menyaksikan akhir tragis penyihir barusan, meletus begitu saja ketika sedang sendirian. Kejadian tadi benar-benar membuat Lucian terkejut, gelisah, sekaligus ketakutan.


Tentu saja, sebagai seorang pria yang belum pernah mengalami banyak peristiwa besar, meskipun Lucian sedikit tertutup dan cenderung mudah panik ketika menghadapi sesuatu, tapi dia berhasil tetap tenang dalam menghadapi tekanan besar sampai tiba di rumah.


Konon dikatakan bahwa perubahan lingkungan dan peristiwa adalah yang paling sulit bagi manusia.


Dengan berlalunya waktu, kegelapan berangsur-angsur datang, Lucian juga beradaptasi dengan rasa takutnya dan menjadi semakin tenang. Karena sekarang sudah terlanjur seperti ini, jadi tidak peduli seberapa takut, khawatir, dan gelisah dirinya, itu tetap tidak akan membantu apa-apa. Dia hanya bisa mengambil langkah demi langkah dengan hati-hati kali ini. Karena jika mati lagi, tidak ada kepastian akan melintasi ruang dan waktu ke dunia lain lagi.


Setelah memulihkan emosi, menekan pikiran dan kekhawatiran terhadap orang tua dan teman-temannya, begitu Lucian baru saja ingin merencanakan hidupnya, rasa lapar yang hebat tiba-tiba datang, seperti api yang membakar di dalam perutnya, dan air liurnya terus keluar.


Menelan air liur, Lucian merasa mengisi perut adalah prioritas utama, jadi dia berhenti berpikir dan berjalan menghampiri satu-satunya peti di ruangan yang bisa menyimpan barang-barang.


Di dalam peti lusuh, selain beberapa pakaian, Lucian melihat dua makanan seperti roti hitam, dan tujuh koin kuningan yang bersinar dengan cahaya metalik.


Perutnya yang lapar telah menghambat pemikiran Lucian. Dia tidak punya energi untuk memikirkan hal lain, jadi dia mengambil sepotong roti hitam tersebut dan memakannya.


"Crack." Lucian buru-buru menutup mulut dengan tangannya. Giginya hampir copot, ini roti apa tongkat?


Setelah mencium baunya, lucian dengan enggan yakin bahwa ini memang roti, hanya saja kerasnya sampai bisa dijadikan tongkat untuk memukul pingsan seseorang.


Menahan rasa laparnya, lucian mengeluarkan batu api dan baja dari peti lagi. Setelah beberapa kali gagal, dia akhirnya berhasil menyalakan api di kayu bawah kompor dan mulai memanggang roti.


"Daging Rebus, Sayap Ayam Pedas, Daging Sapi Kukus, Ayam Kung Pao." sambil memanggang roti, Lucian menyebut makanan enak, sampai air liurnya tidak bisa berhenti mengalir.


Roti hitam tersebut akhirnya sedikit lebih lembut, Lucian yang tidak bisa menahan diri langsung mengunyahnya. Rasanya mengerikan seperti mengunyah serbuk gergaji.


Tetapi Lucian masih melahapnya, dan sambil makan, dia tanpa sadar menghela nafas, "Kalau makan makanan semacam ini setiap hari, lebih baik mati saja. Tidak, aku harus menghasilkan uang, dan menyingkirkan kehidupan miskin ini."


"Kalau aku bisa belajar sihir, aku bisa jadi uskup dan pendeta." Lucian memikirkan uskup dan pendeta berpakaian bagus yang dilihatnya di depan gereja. Kekuatan tidak manusiawi dan status mulia yang mereka miliki, dia tanpa sadar terpengaruh, "Tapi, dengan kondisiku yang sekarang, bukannya ke gereja itu sama saja dengan cari mati? Tidak tahu apa ada cara lain untuk mendapatkan kekuatan supernatural yang tidak manusiawi, seperti anugerah ilahi itu."


"Kalau aku tidak bisa mendapatkan kekuatan seperti itu, apa ada hal yang kupelajari di dunia sebelumnya yang akan berguna di dunia ini?"


Setelah menyelesaikan rasa laparnya, Lucian mulai serius menganalisis cara bertahan hidup. Tapi ketika dia baru saja mengingat kembali pengetahuan yang telah dia pelajari, tiba-tiba seperti ada sesuatu di benaknya.


Begitu diperhatikan dengan teliti, Lucian tidak bisa menahan diri untuk melebarkan matanya: "Bukannya ini buku-buku yang ada di perpustakaan? Apa barang-barangnya juga melintasi ruang dan waktu bersamaku?"


Ada buku-buku di seluruh perpustakaan yang lengkap dalam pikirannya. Buku-buku itu tidak seperti memori, tapi seperti proyeksi, dan buku-buku itu disimpan sesuai kategori untuk dibaca oleh Lucian.

__ADS_1


Lucian yang penasaran dengan santai membolak-balik buku-buku itu, tetapi sebagian besar buku justru tidak bisa dibuka.


__ADS_2