TAKUT MENIKAH ??

TAKUT MENIKAH ??
Episode #2


__ADS_3

Hari ini aku bersiap pergi bersama temanku untuk bekerja, karena temanku mengajakku untuk bekerja di Kota Banjarmasin katanya disana ada lowongan pekerjaan untukku.


Aku harus bekerja keras demi keluargaku. Aku tidak boleh menyerah dan hanya berdiam diri, karena jika aku hanya diam aku tidak akan bisa menghasilkan apa-apa.


Terlebih lagi adikku Nelly yang harus membayar uang semesternya. Nelly adikku baru saja masuk kuliah dan dia mengambil Jurusan Sastra Inggris, aku harus persiapkan dana untuknya membayar untuk semester depan.


Tetapi aku masih bingung karena harus meninggalkan adikku sendiri di rumah, selama ini adikku tidak pernah tinggal sendiri dan selalu bersamaku.


"Abang, abang mau kemana? Kok udah rapi aja," tanya Nelly saat melihat abangnya sudah siap dengan tas gendongnya dan pakaiannya yang sudah rapi.


"Abang mau bekerja de, abang tidak bisa seperti ini terus, abang ingin memberikan yang terbaik untuk kamu dan juga mamah," kataku kepada Nelly yang sekarang tengah duduk di hadapanku.


Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan adikku sendiri tetapi apa boleh buat, aku harus berjuang demi keluarga yang sangat aku cintai ini.


"Abang jangan pergi! Nanti aku disini sama siapa?" tanya Nelly yang kini sedang menangis dan memegang tanganku.


Aku dilema, tapi aku harus teguh pada pendirianku untuk pergi bekerja. Sebenarnya aku bisa buka usaha tetapi modalku sudah habis semua tidak ada sisa.


Aku putuskan tetap akan pergi dan aku akan terima konsekuensiku kedepannya. Aku masih menunggu temanku yang tak kunjung datang, sambil membujuk adikku yang sekarang sudah tidak menangis lagi.


Brando, dia adalah temanku yang mengajakku untuk pergi bekerja ke kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan.


Jauh memang, tapi apa dayaku karena itu pilihan satu-satunya dan agar aku mendapatkan pekerjaan tetap disana.


"Mana lagi Brando ini, lama aku menunggu," oceh ku saat aku melihat jam yang menempel ditanganku.


"Abang tolong fikirkan lagi, aku disini sendirian bang. Mamah juga pasti butuh abang," kata adikku yabg masih merekngek berusaha membujukku untuk tidak pergi.


"Maaf dek, kakak harus pergi. Kakak janji akan kembali dengan membawa kesuksesan yang akan menjamin keluarga kita," kataku meyakinkan adikku.


Tak berapa lama, akhirnya Brando datang untuk menjemputku. Aku pun berpamitan kepada adikku. Dengan berat hati Nelly melepasku untuk pergi.


"Abang berangkat ya dek, nanti setelah sampai disana kakak akan kabari kamu," kataku sambil mengelus kepala adikku itu.


"Ya sudah, abang hati-hati ya jangan lupa kabari Nelly," kata Nelly.


"Pasti adikku..." kataku sambil tersenyum.


Aku dan Brando pun pergi untuk menempuh perjalananku menuju ke Banjarmasin dengan menggunakan transportasi laut, karena biayanya lebih murah . Diperjalanan aku terus memikirkan adikku yang aku tinggalkan.


"Richwan kok kamu melamun, ada apa?" tanya Brando kepadaku. Benar, namaku adalah Richwan nama dimana kini aku harus menjalani kehidupanku yang sesungguhnya.


"Aku gak melamun, aku hanya sedang memikirkan adikku. Tapi ya sudahlah aku pergi juga untuknya aku percaya bahwa dia akan baik-baik saja," ucapku.


"Ayolah kawan, jika kamu terus seperti itu bagaimana dengan kehidupan keluarga kamu? Kamu tidak memikirkan itu?" tanya Brando.


"Kamu benar Do, aku harus kuat." Kata ku yang sekarang mendapat semangat baru dari temanku ini.


Setelah menempuh perjalanan sehari semalam, kapal feri yang aku tumpangi sampai dipelabuhan Trisakti tempat tujuanku, Kota Banjarmasin.


Kata orang, Banjarmasin terdapat banyak tempat objek wisata. Wisata alam salah satunya bahkan lebih banyak wisata lainnya seperti Wisata pendidikan dan kuliner.


Aku pun mencari kontrakan untuk aku tinggal. Aku ngontrak sendiri tanpa Brando karena Brando tinggal di tempat kerjanya. Sedangkan aku akan tinggal sendiri di kontrakan.


Masih terlintas difikiranku soal ayah, dia adalah laki-laki yang sudah mengkhianati mamah sampai aku harus seperti ini mengadu nasib di kota orang.

__ADS_1


Aku menelpon adikku Nelly dan mengabari dia bahwa aku sudah sampai di Banjarmasin. Nelly bahagia karena aku sampai dengan selamat.


Aku mengabari adikku dan memberitahukan tempat kerjaku yaitu disebuah warung makan yang cukup dikenal di kota Banjarmasin. Aku bahagia karena sekarang Nelly sudah bisa menerima kepergian kakaknya ini dan akan menunggu kepulanganku setelah ini.


***


Setelah satu bulan aku tinggal di kota Banjarmasin dan bekerja di sebuah warung makan aku merasa tidak betah karena satu bulan ini aku bekerja ternyata gajiku tidak sesuai dengan harapanku dan jauh dari kata sempurna.


Memang tidak ada yang sempurnanya tetapi setidaknya mendapat kesempurnaan adalah bonus apalagi soal gaji yang harus sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.


Tetapi ya sudahlah tidak apa-apa aku ikhlas yang terpenting sekarang aku sudah mempunyai pekerjaan.


Aku mengabari adikku dan aku beritahu dia soal gaji ku, besar kecil gajiku itu jerih payahku dan yang terpenting itu halal bagiku.


📞 "Hallo dek, kamu apa kabar? Abang rindu kamu. Hari ini abang gajian, abang akan kirim uang ini untukmu ya," kataku lewat telepon genggamku yang aku beli saat ayah dan mamah ku masih baik-baik saja.


📞 "Abang, kabar aku baik bang. Abang bagaimana disana? Aku ingin abang segera pulang!" ujar Nelly dari seberang sana.


📞 "Syukurlah kalau kabar kamu baik disana dek, abang akan pulang secepatnya tetapi nanti setelah abang mendapatkan kesuksesan disini," kataku lagi sambil melihat dompet ditanganku ini yang berisi uang gajianku yang tidak seberapa.


Setelah perbincanganku selesai dengan adikku di telepon tadi, aku segera pergi menuju ke Bank untuk mentransfer uang untuk adikku dan juga mamahku.


Di perjalanan menuju Bank, aku melihat seorang ibu dan anaknya yang luntang-lantung dijalanan sepertinya anak ibu itu sedang sakit. Kuhampiri mereka dan kutanya mereka.


Ternyata ibu itu sedang mencari pertolongan karena anaknya sedang sakit dan membutuhkan biaya untuk berobat.


Aku merasa kasihan dengan anak itu, lalu aku mengajak ibu dan anak itu ke klinik terdekat. Ternyata benar anak itu sedang sakit.


"Ya allah mas, terima kasih sudah membantu kami..." ujar ibu-ibu tadi setelah anaknya selesai di obati oleh dokter.


"Sama-sama ibu..." jawabku.


Aku merasakan pening di kepalaku setelah mendengar ibu itu berbicara dengan jujurnya, ternyata ibu ini lebih parah dari kehidupanku yang sekarang. Tapi tetap saja aku tidak terima karena sekarang gara-gara keadaan ini mamah masuk ke RSJ.


Dengan berat hati aku kasih hasil gajiku kepada ibu itu untuk membiayai pengobatan anaknya.


"Ya allah terima kasih mas, semoga mas dilimpahkan rezekinya," ujar ibu itu sambil memeluku.


Setelah urusanku selesai dengan ibu dan anak tadi, aku segera meninggalkan klinik.


"Astaga! Kenapa aku kasih semua uang gajiku kepada ibu yang tadi, untuk Nelly bagaimana dan bayar kontrakanku juga," kataku sambil aku menepuk jidatku ini.


Pusing dan bertambah pusing, aku pun langsung pulang ke kontrakanku dan harus siap-siap kena semprot ibu kontrakan.


Dan benar, malam harinya ibu kontrakan killer itu datang dan menggedor-gedor pintu kontrakan dengan kencangnya. Dengan rasa malas aku membuka pintu kontrakan dan menghampirinya.


"Mana uang untuk bayar kontrakan? Cepat bayar!" tagih ibu kontrakan sekaligus bentakkannya ibu kontrakan.


"Tidak ada bu..." jawabku yang membuat ibu kontrakan melotot seperti mau menerkamku.


" Besok, kalau kamu belum bisa bayar, sebaiknya kamu cari kost lain saja "


Keesokan harinya, Richwan mencoba mencari pinjaman dengan rekan kerjanya, namun apadaya tidak ada yang mau meminjamkannya, meskipun ia sudah bercerita yang sebenarnya namun tidak ada yang mau tahu tentang kesulitannya.


" Sekarang kamu lebih baik cari kost lain , untuk bayar kostmu yang nunggak terpaksa ibu harus ambil handphonemu " ucap ibu kost padanya.

__ADS_1


Dengan berat hati , terpaksa Richwan memberikan handphonenya juga kepada ibu kost, dengan sebelumnya ia melepaskan memori cardnya yang menyimpan beberapa nomor telepon penting.


Richwan kini hidup di jalanan kota Banjarmasin, jika malam tiba, ia tidur diemperan toko dengan selembar kardus sebagai alasnya. dan sarungnya sebagai selimut.


Aku tidak boleh membebani orang lain, tapi aku tidak tahu harus berbuat apalagi dikota ini. Brandon sahabatnya pun tidak ada lagi di kota itu, entah kemana ia pergi tanpa pesan juga kepadaku.


Aku juga telah memutuskan untuk berhenti bekerja di rumah makan itu, karena tidak mungkin aku bekerja dengan kondisi aku yang berantakan dan tidak terurus karena jarang mandi.


Apa boleh buat, hidup di jalanan harus kujalani. Untuk dapat mengganjal perut , aku pun harus mengais di bak sampah berharap ada yang masih layak untuk dapat ku makan, atau jika tidak aku minta makanan pada orang yang berjualan nasi di pinggir jalan. Namun tidak semua yang mau memberikan makanan padaku.


Jika ada orang yang memberikan sebungkus nasi , itu adalah nikmat yang luar biasa bagi aku, dan aku akan memakannya untuk 5 kali makan. Aku belum pernah menjalani kehidupan seperti ini.


Nasi sudah jadi bubur, apa boleh buat sekarang ini. Mau kembali ke Jakarta tidak ada ongkos sepeserpun. untuk mempertahankan hidup, aku pun harus memulung pada akhirnya, meskipun hasil memulung tidak seberapa ya aku syukuri saja.


Wajahku yang dulu putih, dan dirawat kini legam hitam tak terawat akibat reaksi sinar matahari yang setiap hari menimpa tubuhku, yang berjalan kaki setiap hari kesana - kemari .


Tiga hari ini aku memang belum makan sedikitpun, minumpun aku ambil dari air sungai yang membentang di kota Banjarmasin. Badan tak lagi terurus, rambut semakin panjang, kumis semakin lebat, bau badan semakin menyengat karena tak ada lagi parfum, sehingga banyak orang menganggap ku sebagai orang gila.


Aku tidak lagi kuat untuk berjalan, ditambah lagi badanku mulai merasa demam, pusing. Jangankan untuk membeli obat,membeli nasipun aku sudah tidak sanggup. aku mencoba menguatkan diriku sore itu menyusuri jalan kota , berharap ada yang menolongku. aku sudah tidak kuat lagi berjalan, Hujan sore itu kumanfaatkan untuk mandi ,sambil terus berjalan dan berjalan dari toko yang satu ke toko yang lainnya, dan hingga akhirnya aku terjatuh pingsan.


***********


Aku akhirnya tersadar, kulihat sekelilingku kenapa ada di ruang ini? aku mulai memberanikan diri bertanya.


" Dimana aku?"


" Kamu sekarang di Rumah Sakit Ulin Banjarmasin, aku membawamu kemari karena kami tadi jatuh pingsan ". ucap gadis itu.


" Aku mau pulang saja, aku tidak ada biaya untuk bayar rumah sakit " ucapku yang kemudian turun dari pembaringannya. namun usahaku untuk kabur, di cegah oleh gadis itu.


" Kamu istirahat saja dulu, kamu jangan pikirkan biayanya. nanti aku bantu bayarnya " ucap gadis itu sambil tersenyum padaku.


" Tapi...."


" sebaiknya kamu istirahat dulu ya, besok kata dokter juga sudah bisa pulang kok."


Aku pun menuruti saja ucapan gadis itu, aku memang memerlukan pemulihan untuk kesehatanku, apalagi kondisiku memang belum stabil.


" Kamu asli mana? "


" Jakarta " ucapku


" Ohh...kenapa kamu sampai bisa seperti ini ?"


Ku ceritakan saja semua yang terjadi dari awal sampai akhir sebisaku menceritakan.


" Ya , udah yg penting sekarang kamu sehat dulu, nanti aku bantu carikan pekerjaan untukmu "


" Terimakasih banyak atas bantuanmu "


" Oh ya, namamu siapa ?" tanya gadis itu padaku.


" Aku Richwan "


" Aku Aisyah "

__ADS_1


*************************


bersambung.......


__ADS_2