
Banjarmasin, 2010.
Aku boleh bersyukur mengenal Aisyah setahun belakangan ini, karena dari dialah aku sekarang bisa bekerja di toko bangunan milik ayahnya Haji Iwan. sehingga dengan demikian aku tetap dapat mensuport biaya kuliah Nely, adikku dan juga biaya hidup sehari - hari mereka di Jakarta.
Aku tidak bisa melupakan kebaikan Aisyah dan keluarganya selama ini, mereka terlalu baik padaku. Bahkan untuk biaya rumah sakit dulupun aku dibayarkan oleh mereka secara cuma - cuma.
Aku mulai menjaga jarak dengan Aisyah, ketika aku mengetahui bahwa Imton adalah pacarnya yang dijodohkan oleh Ayahnya Aisyah. Aku tidak boleh pagar makan tanaman. Aku harus tahu diri, karena tanpa kebaikan keluarga Aisyah aku pasti jadi gelandangan di kota besar seperti Banjarmasin ini.
Pada kenyataannya aku memang punya rasa pada Aisyah, tetapi rasa itu buru - buru kuhapus dari hatiku agar tidak terlalu berat dikemudian hari .
Aisyah gadis berumur 23 tahun itu benar - benar berjibaku dalam pikiranku. Entahlah mengapa ada Aisyah di otakku. berulang kali untuk melupakan nama itu, berulang kali nama itu melekat di pikiranku. Barangkali nama gadis itu adalah yang pertama ku kenal di perantauan ini, yang membuatku terpikat. Aisyah memang tidak terlalu banyak bicara, tapi sikapnya dan semangat kerjanya membuatku termotivasi.
" Richwan, nanti siang anterin aku ya ?"
ucap Aisyah padaku siang itu ditoko .
" Iya non Aisyah, tapi..."
" Tapi apa? "
" Saya masih kerja non Aisyah, gak enak sama yang lain " jawab Richwan.
" Eh kan aku yang ajak, aku kan bosmu. Jadi kamu harus nurut dong apa kata bos "
Ah, serba salah jadinya. Tidak dituruti , anak Juragan yang suruh. Dituruti, akan menimbulkan kesenjangan dengan pekerja yang lain.
Sudahlah, akhirnya kuturuti saja kemauan Aisyah, anak juragan toko bangunan itu.
" Kamu bisa bawa mobil kan? "
" Lama gak pernah bawa mobil lagi non "
" Ya, sekalian belajar aja lagi "
Dengan hati - hati aku bawa mobil nona Aisyah .
" Kok Diam? "
" Eh gak non, saya lagi konsentrasi aja dengan mobil. Jalanannya padat juga ya di Banjarmasin ini " ucapku .
__ADS_1
" Iya , emang kamu belum pernah keliling Banjarmasin ya selama ini?"
" Belum non, "
" Ya udah, lain kali aku ajak kamu keliling kota Banjarmasin ya " jelas Aisyah.
" Kita kemana non?"
" ke kampus bentar " ucap Aisyah
Akhirnya tiba juga aku mengantarkan nona Aisyah ke Universitas Lambung Mangkurat, tempat kuliahnya itu.
Aku menunggu di mobil, sementara Aisyah menuju ruang perkuliahannya. Ku hidupkan AC mobil, kuputar sejenak lagu dari grup band Padi untuk mengusir penatku sambil mengusir sepi ku di dalam mobil. Aku tertidur pulas menunggu non Aisyah selesai perkuliahannya.
Hampir satu jam menunggu,akhirnya Aisyah muncul juga.
" Maaf , lama ya"
" Gak apa - apa non Aisyah."
Tiba - tiba datang sebuah motor berhenti didepan mobil. Sosok laki - laki berbadan kekar, berambut cepak itu mendatangi Aisyah.
" Kamu sama siapa ?" tanya lelaki itu
" Ngapain suruh dia nyupir, bukankah biasanya kamu bawa mobil sendiri " katanya dengan nada meninggi.
" Ya, kan ga ada masalah aku mau suruh siapa yang nyupir "
" Pokoknya jangan lagi suruh dia yg anterin kamu ke kampus atau kemana pun kamu pergi " tandas lelaki itu.
" Eh kamu Imton, belum juga jadi suami sudah seenaknya aja kamu bicara seperti itu. Kamu bisaa gak hargai orang lain juga.? jangan kamu aja minta dihargai " balas Aisyah
" ya...bukan begitu juga maksudku, aku cuman gak pengen dia yg jadi sopir kamu "
" Emangnya kenapa ?apa karena kamu sudah dijodohkan denganku lalu kamu seenaknya begitu?"
" Aku capek, ayo kita pulang saja Richwan "
Aku pun keluar sebentar dari dalam mobil, dan memarkirkan motor lelaki itu yang menghalangi mobil kami. Ku lihat lelaki itu masih berseteru dengan non Aisyah. Kasihan non Aisyah ,sudah dijodohkan tapi dapat lelaki yang cemburu buta gini.
__ADS_1
Kulihat pertengkaran mulut semakin memanas, akhirnya aku berusaha untuk meleraikan mereka.
" Sudah, cukup jangan buat kekacauan di tempat umum. Biarkan non Aisyah kembali ke rumah dulu. Terserah kalian berdua selanjutnya. "
" Kamu diam, ini urusanku dengan dia mengerti !" ancam pria itu padaku.
" Keselamatan non Aisyah adalah tanggung jawabku , jadi jangan buat yang tidak - tidak " tegasku pada pria itu.
Buukkk...
Sebuah pukulan mendarat di perutku, aku pun membalasnya pula.
plaakkkk
buukkk...
Aku tampar lelaki itu dan sebuah kepalan tanganku mendarat di perutnya pula. Dia meringis, merintih akibat pukulanku tadi. bibirnya juga berdarah akibat tamparan ku yang keras.
" Cukup...Cukup...ayo Richwan, gak usah kamu ladeni lelaki macam dia"
Aku pun segera tancap gas meninggalkan lelaki itu. Nampaknya dia penuh dendam denganku, kulihat wajahnya dari spion. Ah, biarkan saja, dia juga yang duluan menyerang ku. Tidak salah jika aku membela diriku pula.
Sepanjang perjalanan pulan non Aisyah menceritakan tentang sosok laki - laki itu yang ternyata adalah tunangan yang di jodohkan ayahnya.
Meskipun sebenarnya perjodohan itu bertolak belakang dengan ibunya Aisyah, dan juga non Aisyah sendiri.
Aisyah sebenarnya menolak untuk dijodohkan, tapi ia juga tidak berani memberontak dengan perintah ayahnya. Karena bagaimanapun juga restu orang tua itu sangat penting ucapnya.
Aisyah menangis sepanjang perjalanan, aku tak tega dengannya. Aku keluarkan saputangan dari saku celanaku, kuberikan untuk dia bisa menghapus air matanya.
Pedih perih memang bercampur jadi satu kini perasaan Aisyah. Namun aku pun tidak bisa berbuat banyak terhadap dirinya, karena aku menyadari posisiku hanya sebagai sopir toko di tempat ayahnya.
Kenapa banyak lelaki yang tidak mensyukuri karunia Tuhan, sudah dikirimkan wanita cantik untuknya tapi malah disakiti perasaannha, apakah ini memang sifat lelaki pada umumnya ya? ataukah hanya oknum saja ? ucapku dalam hati.
Andaikan saja yang dijodohkan dengan Aisyah itu adalah aku, betapa bahagianya hati ini. akan kujaga sepenuh hatiku sampai habis usiaku.
Ah, tetapi aku bukan lelaki sempurna. Jadi tidak mungkin pula aku memainkan peran ganda. Aku mau apa adanya aku dengan segala kekurangan dan kelebihan ku. sehingga ketika ada wanita yang kelak jatuh cinta padaku dia bisa menerima aku sepenuhnya dengan segala sikap, sifat , gaya dan keadaanku.
Tapi sebenarnya aku juga sudah komitmen, untuk menutup semua pintu hatiku pada wanita, terkecuali sebatas pertemanan saja.
__ADS_1
Namun aku juga tidak dapat memungkiri sebenarnya jika aku masih punya rasa sebenarnya terhadap wanita - wanita yang menurutku ideal untuk kujadikan pasangan hidup dikemudian hari. Tapi benarkah kelak aku menikah? sedangkan aku sendiripun masih trauma dengan yang namanya berkeluarga, apalagi dengan melihat langsung perbuatan papa yang mengkhianati cinta mama , sehingga mama akhirnya depresi berat.
bersambung