
"Ara. Kamu janji ya, kalau sudah besar nanti kita akan menikah. Aku menjadi suami dan kamu menjadi istri. "
"Hahaha. Erik. Kamu itu ngomong apa sih? "
Ara masih tergelak dengan permintaan Erik.
Erik mengulurkan jari kelingking dan memaksa menautkan pada kelingking kecil Ara.
***
Beberapa hari ini Ara menjadi anak yang pendiam. Bahkan tidak berselera makan.
Satu-satunya anak kecil yang biasa menjadi temannya itu kini sudah bertemu dengan keluarga kandungnya.
Lalu Ara?
Kini hanya mengingat momen terkahir, sesaat sebelum kepergian Erik sang kekasih cilik.
"Apa di sana Erik juga mengingat Ara? "
Menangis sesenggukan kemudian tertidur.
Hari ini terpaksa tangan kecil Ara mendapat suntikan demi infus.
Ia jatuh sakit karena terlalu sering di bully.
Biasanya Erik yang selalu menjadi pahlawan baginya.
***
"Yeeey, superhero ku datang. "
Ara meloncat kegirangan ketika melihat Erik berlari membawa sebuah ranting kecil. Dan Erik berhasil menjauhkan para tukang bully itu dari Ara.
"Ara. Aku sudah datang. Jangan menangis lagi ya. Ayo usap air di mata mu itu. "
"Iya Erik. Ara janji tidak menangis lagi. Kan sudah ada Erik yang jagain Ara. "
"Ya sudah. Yuk kita masuk ke dalam. Ibu memasak sayur kesukaan Ara loh. "
Lihatlah. Bahkan hanya mendengar masakan kesukaan, sudah mampu membuat Ara berlari meninggalkan superhero nya.
"Dasar Ara. " Erik terkikik geli.
***
PANTI ASUHAN HASNA
Panti milik bu Hasna yang saat ini mengasuh banyak anak.
Tempat tinggal bagi Ara, Erik dan banyak anak yang kurang beruntung.
Beberapa anak beruntung karena memang dititipkan kepada bu Hasna. Seperti Erik.
Namun tidak bagi Ara. Dia ditemukan bu Hasna saat akan kembali dari pasar.
Saat turun dari angkutan kota, beliau mendengar suara tangisan bayi di dekat tempat pembuangan sampah.
Begitu ditelusuri, ternyata benar.
"Astaga. Ada bayi. "
Mendengar teriakan bu Hasna, warga berduyun berkumpul mengelilingi bayi kecil Ara.
__ADS_1
Sesaat polisi yang sudah dipanggil melalui telepon genggam sudah tiba.
"Kami akan membawa bayi ini ke dinas sosial. " Ujar pak polisi.
"Maaf pak. Apakah boleh bayi ini kita bawa ke panti asuhan saya dulu? Lokasinya tidak jauh dari sini. Kasihan pasti bayi ini sudah lapar. " Izin bu Hasna pada pak polisi.
"Iya pak. Bawa ke rumah panti bu Hasna saja pak. Kasihan bayinya. " Usul beberapa ibu-ibu yang berada di tempat.
Setelah meminta izin pada komandan dan berkoordinasi dengan dinas terkait. Bayi Ara akhirnya dibawa menuju ke rumah panti milik bu Hasna.
"Maaf bu Hasna. Kami hanya bisa mengantar sampai disini. kami mohon undur diri. " pamit pak polisi setelah sampai di halaman depan panti asuhan.
"Loh bapak masuk dulu saja. Mari minum dulu pak. "
"Kami masih ada tugas bu. Mohon maaf kami pamit.
Bu Hasna, nanti akan ada kunjungan dari dinas terkait mengenai bayi ini. "
"Baik pak polisi. Akan saya tunggu kedatangannya. Terima kasih sudah mengizinkan saya membawa bayi ini. "
"Sama-sama ibu. Ini sudah tugas kami. "
Bu Hasna segera masuk ke dalam rumah. Merebus air untuk mandi bayi.
Saat melepas kain bedong yang masih baru tapi kotor itu bua Hasna menemukan sebuah kalung bertuliskan Ara Sinta.
Bergegas bu Hasna menyimpan kalung tersebut. Bisa saja suatu saat nanti akan ada yang menjemput anak bayi ini.
Berkahir lah bayi tersebut dengan nama Ara Sinta. Semuanya memanggil nama Ara.
"Ibu. Apakah Ara masih belum selesai minum susu? " Tanya Erik tiga tahun.
Ya. Usia Erik dan Ara terpaut tiga tahun.
"Sebentar lagi selesai. Erik mau bermain bersama Ara ya? "
"Kan sekarang Erik sudah punya adik Ara. "
"Iya bu. "
Menginjak usia sekolah dasar.
Erik masih saja suka bermain bersama Ara dibandingkan bersama teman-temannya yang lain.
Kalau ditanya pasti Erik menjawab. Mereka itu nakal bu. Suka mengganggu Ara. Kan Erik sayang sama Ara.
***
Ara sudah terbangun dari tidurnya.
Melihat sekeliling dan menemukan ibu Hasna duduk di kursi di samping tempat pembaringan Ara.
"Ara sudah bangun? " tanya bu Hasna.
Ara yang lemah hanya mengangguk sedikit.
***
Beberapa tahun kemudian.
Ara saat ini berusia 25 tahun.
Ia telah tumbuh menjadi wanita yang tangguh.
__ADS_1
Tulang punggung dari bu Hasna dan juga adik-adik di panti.
Dengan latar belakang nya yang kurang beruntung. Ara berniat membuat masa depan menjadi keberuntungan baginya.
Bertekad merubah nasib. Ia juga tidak ingin melihat bu Hasna yang sudah berusia lanjut itu harus menerima pesanan catering demi menghidupi para anak panti.
Sudah saatnya membalas jasa.
Suatu sore. Di panti bu Hasna.
"Assalamu'alaikum."
Melihat sosok asing yang datang, anak-anak panti hanya berkerumun dan melihat dari kejauhan. Dilihat dari mobilnya muncul banyak pertanyaan di hati masing-masing anak.
Apakah akan ada yang dijemput?
Apakah akan ada hadiah?
Siapa dia?
Salah satu anak berlari menuju tempat bu Hasna berada.
"Ibu, di depan sana ada orang besar dan tinggi. "
"Mana ada orang besar dan tinggi Ria. " bu Hasna terkekeh dengan ucapan Ria.
Meskipun begitu beliau tetap berterima kasih kepada Ria dan segera menuju ke depan.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu pak? "
Mendengar suara renta dari belakangnya. Sosok asing itu menoleh lalu meraih tangan bu Hasna dan menciumnya.
"Saya Erik bu. "
Tanpa ba bi bu.
Segera bu Hasna merangsek memeluk tubuh Erik yang sekarang sudah berubah menjadi besar dan tinggi. Benar kata Ria.
Dilihatnya lagi. Penampilan Erik sudah berubah total. Dengan mengenakan setelan jas membuatnya terlihat tampan dan berwibawa. Seperti pebisnis.
"Bagaimana kabarmu nak? "
Bu Hasna tidak bisa mengungkapkan perasaan senangnya karena kedatangan putra asuhnya ini. Sudah sangat lama tidak bertemu, semenjak kepergiannya setelah dijemput orang tua kandungnya.
"Erik baik bu. Ibu apa kabar? "
Erik juga sangat senang bisa mengunjungi tempat ia tumbuh dan bermain di masa kecilnya. Tempat tinggalnya sebelum daddy dan mommy menjemputnya kembali ke pelukan keluarga.
"Baik, ibu baik. Ayo masuk. Ibu sangat rindu dengan Erik. "
Setelah sampai di dalam. Di ruang tamu.
Erik dan bu Hasna mendudukkan diri berdampingan di sebuah kursi tua. Erik mengelus kursi itu. Tampak lusuh, karena memang kursi itu belum diganti sejak masa Erik dulu.
Erik masih mengingat dengan jelas. Tawa juga sedihnya di panti ini.
Sejak kehadiran Ara. Ia jadi lebih banyak tertawa dibandingkan bersedih.
Ia menjadi jarang merindukan orang tuanya. Bahkan sudah tidak berpikir akan meninggalkan panti asuhan milik bu Hasna ini.
"Bagaimana kabar Ara, bu? " Tanya Erik memecah kesunyian.
"Ara, dia menjadi gadis yang hebat. Menggantikan ibu mencari nafkah untuk anak-anak disini. " ucap bu Hasna yang menyatakan rasa bangga nya terhadap Ara.
__ADS_1
"Seharusnya Erik yang melakukan itu, bu? " Sesal Erik.
"Tidak nak, melihatmu seperti ini. Ibu sudah sangat bahagia. Kalian sama-sama kesayangan ibu. "