TANPAMU

TANPAMU
ARA


__ADS_3

Latar belakang yang ia punya tidak semata membuat Ara menjadi pribadi yang minder.


Meski awalnya ia tidak percaya diri. Tapi hal itu berhasil ia tepis ketika kinerja yang ia lakukan dapat memuaskan atasannya. Terlebih tidak ada rekan kerjanya yang mempermasalahkan seluk beluk siapa dirinya. Lambat laun kepercayaan diri berhasil ia peroleh. Ia akan membuktikan kepada dunia. Bahwa anak terbuang yang ditampung oleh panti asuhan juga bisa sukses. Terbukti dengan jabatannya saat ini sebagai kepala manager.


Usianya masih muda. Beruntung karena tidak ada yang terlihat iri karena jabatannya. Ara termasuk karyawan baru. Namun dalam jangka waktu dua tahun, ia mampu menduduki jabatan sebagai kepala manager di sebuah perusahaan yang terbilang cukup besar.


"Ara. Bagaimana pertemuan dengan klien tadi? Apakah berhasil menarik mereka untuk bekerja sama?"


"Alhamdulillah berhasil bos."


"Dasar kau ini. Ayolah kita hanya sedang berdua. Jangan panggil aku bos. Kita teman okay?"


"Ha ha ha. Baik lah Edo. Selamat atas kemenangan tender untuk perusahaanmu."


Ara. Gadis ini sungguh membuat Edo selaku teman juga bosnya kelimpungan karena kecantikannya. Terkadang dengan modus sebagai teman ia mencoba mendekati Ara. Tak peduli reaksi karyawannya. Tapi ia tidak menyadari jika Jeni, mantan calon tunangannya sangat membenci Ara.


Jeni adalah anak dari rekan bisnis tuan Burhan, papa dari Edo. Karena sangat mengagumi sosok Edo, Jeni berniat menjadikan Edo sebagai suaminya. Bahkan merelakan diri bekerja di perusahaan yang Edo pimpin sebagai sekretaris Edo. Padahal Jeni adalah pewaris tahta kerajaan bisnis orang tuanya. Dia putri tunggal dari pasangan Robi dan Rina. Pemimpin pabrik kertas yang sudah berjaya dari puluhan tahun lalu. Perusahaan yang sudah secara turun temurun dan terkenal kehebatannya.


Tapi begitulah. Semua rela atas nama cinta dan ambisi.


Sadar Edo tidak memiliki ketertarikan yang berarti terhadapnya, tak membuat gentar seorang Jeni. Baginya, apapun yang ia mau dan ingin harus ia dapatkan. Termasuk Edo. Menurutnya, tiada yang lebih pantas mendampingi dirinya selain Edo.


Pengusaha muda dengan paras tampan rupawan. Dingin dan cuek terhadap orang lain. Pria yang sempurna bukan?


Karena jika Jeni berhasil memikat Edo. Tentunya akan sangat menguntungkan Jeni. Edo tidak tertarik pada sembarang wanita.


Pria berkelas dengan sejuta pesona.


"Huh ! Awas kau Ara. Berani sekali merebut Edo dari ku. " Gumam Jeni ketika mendengar tawa dua insan itu. Kesal sungguh kesal. Tapi ia harus profesional. Edo sangat tidak menyukai orang yang tidak bisa profesional dalam pekerjaannya.


"Aku kembali ke ruangan dulu ya. Kalau ada perlu hubungi saja. " Pamit Ara pada Edo setelah puas bercanda bersama.


Begitulah hari-hari Edo.


Dingin dan cuek terhadap orang lain. Namun tidak berlaku bagi seorang Ara.


Gadis yang sudah berhasil mengobrak abrik relung hatinya sejak pertama bertemu di bangku perkuliahan.


"Hei. Kenapa buru-buru sih. Kerja di sini kan bisa Ra. " Cegah Edo. Ia masih belum puas berdua bersama Ara. Nasib memang, mereka berada dalam zona pertemanan. Andai saja Edo bisa menawan hati Ara. Kapan ya?


"Maaf pak Edo ini jam kerja. " Goda Ara. Ia sangat tahu Edo tidak suka dipanggil bos atau pun dengan sebutan lain, selain namanya.


"Haiss.. Kau ini mulai lagi. " Edo cemberut. Dan ini hanya bisa dilihat jika sedang bersama Ara saja.

__ADS_1


"Sana pergi. Aku juga mau kerja lagi. " Akhirnya Edo mengusir Ara. Sebenarnya hanya bermaksud tarik ulur. Ah sayangnya Ara tidak cukup peka. Kasihan sekali kau Edo. Ha ha ha.


Keluar dari ruangan Edo. Ara disuguhkan dengan wajah kesal Jeni. Bukan hal yang baru memang. Tapi entah mengapa, kali ini Ara sedikit perhatian terhadap Jeni.


"Ada apa Jen? Apa semua baik-baik saja? "


"Gak usah sok deh lo. Urus saja urusan lo sendiri. " Cercah Jeni.


Selalu saja begitu. Ditanya baik-baik juga. Dasar wanita jutek. Dari keluarga kaya sih. Tapi sayang sungguh sayang. Tidak beretika. Egois dan tidak berperasaan.


...****************...


"Tidaaakkkk... "


Ara terbangun dari tidurnya. Ia bermimpi buruk. Sangat buruk.


Dalam mimpinya ia melihat seorang bayi yang masih sangat merah. Sepertinya masih baru dilahirkan. Tapi...


Ara gemetar mengingat bayangan itu.


Seseorang dengan sangat tega menarik bayi mungil itu dari pangkuan ibunya. Membawanya pergi sejauh mungkin dari jangkauan sang ibu. Hingga wanita lemah sehabis melahirkan itu mengakhiri nyawanya karena tidak sanggup berjauhan dengan anak tercintanya.


Sungguh malang nasib wanita itu.


Ini bukan pertama kalinya. Sudah tiga kali ini ia memimpikan hal yang sama.


Dengan ragu Ara berpikir, apakah ini berkaitan dengan dirinya?


Lagi pula tidak mungkin ia memimpikan alur drakor yang sama sekali belum ia tonton. Bahkan Ara belum pernah menemukan drakor yang menceritakan kisah seperti mimpi Ara.


Ya Allah... Ada apa ini?


Hati Ara menjadi sangat tidak tenang. Ia khawatir dan juga takut.


Bagaimana kalau yang berada di mimpinya itu sebenarnya sirinya dan ibunya. Lalu kalau benar. Apakah benar ibunya sudah meninggal seperti di mimpinya?


Lalu, siapa orang jahat yang tega memisahkan seorang bayi tak bersalah dari ibunya?


Ya Allah. ...


Ara berdoa panjang dengan harapan semoga masa lalu yang ia miliki tidak seburuk itu. Semoga...


Hati Ara tercekat ketika mengingat ucapan seorang tetangga panti. Beliau mengatakan, Ara itu bayi terbuang. Anak yang tidak diharapkan orang tuanya. Makanya dibuang di tempat sampah.

__ADS_1


Karenanya harapan memiliki keluarga yang bahagia dan utuh kembali berapi-api dalam tekad seorang Ara.


Berkaca dari dirinya. Ara akan membuat dunianya sendiri. Membangun keluarga yang utuh, harmonis dan bahagia tanpa celah. Sehingga orang tidak akan menghujatnya lagi sebagai anak terbuang. Sehingga... Buah hatinya nanti tidak perlu merasakan apa yang Ara rasakan selama ini.


Nyatanya, di usianya yang sudah cukup menikah ini Ara masih ragu menempatkan pilihan. Banyak sekali pengusaha muda yang tertarik memperistri seorang Ara. Dia gadis yang tegas dalam berprinsip. Sangat cocok menjadi istri dari pemilik perusahaan. Sayang, Ara masih tidak berani. Ia ragu dengan segala pikiran yang apakah ia mampu? Apakah ketika memiliki anak suaminya tidak akan berubah?


Bukan tanpa alasan.


Pikiran Ara ini muncul karena beberapa kliennya berselingkuh dengan sekretaris seksinya saat istrinya sedang berjuang mengandung buah cinta dari mereka.


Dasar otak lelaki.. Yang dimau hanya kepuasan saja.


Memangnya tidak bisa ya menahan sedikit saja?


Melihat jam kecil di atas nakas. Ternyata sudah jam 4 pagi.


Ah terlewat sholat tahajjud lagi. Padahal sudah memasang alarm. Bisa-bisanya lelap seperti pingsan, tidak mendengar alarm berbunyi.


Keluar dari kamar, Ara berpapasan dengan bu Hasna yang sepertinya baru mengambil wudhu. Wajahnya meneteskan air.


"Baru bangun Ra? "


"Iya bu.. Ara kelewatan tahajjud lagi jadinya. "


Bu Hasna mengulas senyum teduhnya. Bangga sekali memiliki anak asuh seperti Ara. Mau bersusah membantunya memenuhi kebutuhan panti, dan sholihah. Sayangnya belum mantap menutup aurat saja. Semoga Allah segera memberinya hidayah.


"Mungkin kamu sedang lelah nak. Jadinya Allah memberimu diskon tidak tahajjud. "


"Iya bu. Tapi.. Ara kan jadi kehilangan waktu spesial itu bu. "


"Nak... Waktu tahajjud memang spesial. Tapi kamu juga harus ingat. Yang menidurkan dan membangunkan kita adalah Allah. Jika memang kamu tidak terbangun. Artinya Allah masih ingin begitu. Sudah, tidak perlu menyesali yang terlewat. Segera wudhu, tuh sudah adzan subuh. "


"Iya bu. Terima kasih. "


Ara pun memeluk erat bu Hasna. Bersyukur karena orang sebaik Bu Hasna lah yang menemukannya. Hingga membimbingnya menjadi seperti sekarang.


"Terima kasih bu. "


Bu Hasna terkekeh mendengar Ara mengucapkan terima kasih berkali-kali.


"Sudah.. Sudah.. Kalau berpelukan terus nanti subuhnya terlewat. Ibu mau ke musholla. Kamu ikut? "


"Ara di rumah saja bu. "

__ADS_1


"Ya sudah.. Berdoa yang banyak. Semoga Allah selalu membimbing kita di jalan yang benar. "


__ADS_2