
Ara masih tergelak karena ulahnya sendiri. Mendapat pujian dari anak-anak polos seperti adik-adik pantinya itu terasa sangat menyenangkan, yaa meski harus dipaksa.
Hahaha
Puas tertawa. Ara segera memberikan dua kantong kresek merah besar berisi bungkusan hadiah. Isinya sama sepeti yang Vina dapatkan. Perlengkapan tulis.
Awalnya Ara ingin membelikan tas sekolah untuk mereka semua. Tapi saat melihat isi rekening dan tabungannya, sepertinya belum cukup. Saat ini ia masih punya cicilan rumah. Ia membeli rumah subsidi secara KPR tanpa sepengetahuan Bu Hasna. Kalau Bu Hasna tahu, hal ini akan memicu kesedihan bagi beliau. Ara tidak ingin melihat bu Hasna bersedih.
Suatu saat nanti. Ara berniat memisahkan diri dari panti asuhan yang telah membesarkannya ini. Ia tidak ingin membebani bu Hasna lebih lama. Untuk itulah Ara membeli rumah secara diam-diam. Ketika ia pindah, semua tidak akan ada yang berubah. Kebutuhan anak-anak panti, Ara juga tetap akan mengupayakannya.
"Ra, ada tamu tuh." Panggil bu Hasna membuyarkan lamunan Ara ditengah riuhnya anak-anak menerima bungkusan berbentuk kubus itu.
"Siapa bu?"
"Tidak tahu. Lelaki, katanya teman kerja kamu."
Dahi Ara mengernyit. Ia tidak cukup dekat dengan teman-teman kerjanya, terutama laki-laki. Siapa ya, yang berkunjung. Tidak mungkin dia kan...
"Edo.."
"Hai Ra.. Sorry aku gak ngabarin kamu dulu kalau mau kesini. Tadi aku minta bagian HRD untuk mengecek alamat rumah kamu, ternyata di sini."
Ara mengedarkan pandangannya
"Ya ini rumahku Do. Yuk masuk."
Di ruang tamu, Edo hanya terdiam saja. Merasa menyentuh privasi seorang Ara. Gadis pujaan yang sudah lama menawan hatinya.
"Ra.. "
"Ya?"
"Ehm... Sorry ya. Aku salah ya datang ke sini?"
Ara juga bingung dengan dirinya. Selama ini tidak ada satupun teman yang datang mengunjunginya ke tempat ini. Karena Ara selalu menjawab tinggal di asrama. Tentu saja sudah dapat mencegah teman-temannya yang ingin bertamu. Karena beberapa cerita mengatakan. Ibu asrama itu ketus, nanti kasihan Ara kalau dimarahi menerima tamu banyak orang.
"Enggak Do. Aku cuma kaget saja."
Kemudian Ara menunduk. Entah pikiran appa yang melintasi otaknya. Haruskah?
"Aku anak asuh di sini Do, dan yang kamu dengar tentang anak yang terbuang. "
Ara sedikit menjeda omongannya. Menatap Edo, menilisik mencoba menerka pikiran Edo melalui matanya, gagal. Ara tidak tahu apa yang Edo pikirkan. Dia terlihat sangat tenang menunggu penjelasan Ara yang tidak ia minta.
__ADS_1
Edo datang ke panti ini karena ingin menemui Ara. Berniat mengajaknya pergi bersenang-senang sekedar makan siang bersama di restoran baru miliknya yang baru saja launching kemarin.
"Itu benar. Aku ditemukan ibu di dekat tempat sampah di ujung jalan setelah persimpangan yang kamu lewati saat kemari."
"Ra.. Siapa pun kamu. Kamu adalah Ara. Kamu tidak perlu menjelaskan siapa dirimu ra, karena yang menyukaimu tidak perlu itu. Dan yang membencimu tidak akan perduli itu. Bagiku... Kau tetap Ara."
Mata Ara berkaca mendengar untaian kata panjang Edo. Edo pria bijaksana yang selau dapat menenangkan Ara ketika di bully. Meski Ara tidak peduli bully an teman-teman kampusnya. Ternyata Edo cukup memahami perasaannya. Perlahan mendekat dan memberikan sepatah kata semangat. Dan berhasil. Ara menjadi semakin kuat menghadapi dunia ini berkat semangat dari Edo, ya walaupun terkadang Edo bertingkah absurd.
"Kau itu gadis yang hebat Ra. Jangan pedulikan pandangan sebelah mata orang lain."
"Makasih ya.."
Tiba-tiba bu Hasna memasuki ruang tamu dengan membawa nampan yang berisi dua gelas teh hangat dan setoples kue kering hasil tangan Ara.
"Nak Edo ini kenal Ara sudah lama ya?"
"Lumayan bu. Kami ini teman kuliah di universitas. Eh tahunya Ara melamar kerja di tempat yang sama dengan saya."
"Ibu titip Ara ya nak. Dia.."
Bu Hasna tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Takut akan meluai Ara, dan khawatir anak asuhnya yang satu ini merasa tidak diinginkan lagi.
"Ibu.. Ara ini satu-satunya teman wanita saya. Dia ini spesial bu."
Edo mengedipkan satu matanya pada BU Hasna. Membuat wanita paruh baya itu sedikit terkesiap, namun kemudian tertawa.
Syukurlah, Ara tidak sendirian di luar sana.
"Edo ini bosku bu. Jangan titipkan aku ke bos jahat ini. Nanti tugasku malah semakin banyak."
Mata Edo melotot dibuatnya.
"Ra.. Plis deh. Kan memang kerjaan itu bagianmu. Lagian aku juga lebih suka hasil kerjamu daripada..."
"Stop." Pekik Ara.
"Jangan bahas kerjaan di sini. Aku pusing tahu. Besok sudah masuk kerja, jadi bahas kerjanya besok saja."
Kemudian mata Ara memicing sinis mencurigai sesuatu.
"Jangan bilang kamu cari aku karena mau nyuruh lembur ya?"
"Kamu mau lembur Ra? Aku sih, yes." Goda Edo. Ia menaik turunkan alisnya lucu. Tidak cocok wajah garang itu bertingkah konyol begitu. Mana kesan bos angkuh dan dingin yang biasanya ia tampilkan di kantor?
__ADS_1
"No Edo. Huss sana kamu pulang kalau gitu."
"Ara... Tidak boleh begitu pada tamu nak. " Tegur bu Hasna. Ia sungkan pada Edo, kedatangan pertamanya justru disambut pengusiran oleh temannya sendiri.
"Ini sudah biasa bu. Gadis itu suka jahat padaku. Padahal..."
"Padahal.. Padahal apa Edo, bos ku yang terhormat."
"Hei... Ini di luar jam kerja. Jangan panggil bos."
"Aku kemari mau ngajakin kamu makan siang di resto baruku."
"Oh ya.. Ada hadiah buat anak-anak panti juga bu. Saya ambil di mobil dulu ya."
Saat Edo keluar dari ruang tamu. Mata bu Hasna dan Ara disajikan dengan datang satu mobil box yang mereka tidak tahu isinya dan siapa pengirimnya.
Edo tampak berbicara serius dengan sopir mobil box tersebut. Lalu dua orang membantunya membuka dan mengangkut memindahkan isinya ke dalam panti.
Yang Ara lihat, ada tas sekolah, sepatu berbagai ukuran dan seragam sekolah baru dari SD, SMP dan SMA.
Mata Ara memanas melihat ini. Ia tahu Edo orang yang baik. Tapi memperhatikan adik-adik pantinya..
"Terima kasih Edo. Kau sudah sangat baik padaku, kali ini kau juga sangat baik pada keluargaku. "
"Tidak perlu berterima kasih Ara. Mereka juga keluargaku."
Ara melongo. Tidak tahu maksud dari Edo. Anak-anak panti ini keluarganya dari mana? Edo saja baru pertama kemari hari ini. Bisa-bisanya..
Dasar absurd. Cerca Ara.
Karena paksaan bu Hasna dan Edo, Ara pun masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap pergi bersama Edo.
Dan selama Ara bersiap Edo ditemani oleh bu Hasna berbincang tentang Ara dan anak-anak panti, juga tentang panti pribadi milik bu Hasna.
"Terima kasih untuk kebaikan nak Edo. Ibu tidak bisa membalas apa-apa. Semoga Allah melimpahkan kebaikanNya kepadamu ya."
Doa tersebut hanya Edo balas dengan ucapan Aamiin.
***
Terima kasih sudah mampir..
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya..
__ADS_1
See you..