TANPAMU

TANPAMU
ARA


__ADS_3

Hari ini weekend. Ara libur kerja dan sudah merancang hari indahnya dengan bermain bersama adik-adik panti. Hal ini pun disambut senang oleh semuanya.


Biasanya saat Ara menemani mereka bermain, tidak hanya sekedar bermain. Tapi akan ada permainan berhadiah. Walaupun ujung-ujungnya semua anak panti tetap mendapatkan hadiah yang sama.


Ara masih sibuk berkutat di dapur membantu Bu Hasna menyiapkan sarapan. Masih setengah tujuh.


"Kak Ara.. Ayoo kita mulai permainan hari ini? "


Ara yang tengah mengaduk sayur dalam kuali besar menoleh ke yang memanggilnya.


"Masih pagi Vina. Kakak masih bantu ibu dulu. "


Vina yang sudah tidak sabar bermain pun merengut. Biasanya ia sering memenangkan permainan ala Ara. Tidak selalu menang. Tapi hampir semua permainan ala Ara dimenangkan oleh Vina.


"Ayolah kak. Vina sudah ingin bermain. "Lirih Vina.


Ara tersenyum lembut. Meletakkan pengaduk sayurnya di dekat kompor. Lalu memutar knop dan api padam.


" Memangnya Vina sudah tahu, kita mau bermain apa? " Tanya Ara dengan mencolek hidung mungil Vina. Anak panti yang sengaja dititipkan oleh pamannya. Beralasan tak mampu menghidupi anak lagi. Karena menghidupi dua anaknya saja masih susah. Padahal bergaya mewah dengan mobil keluaran terbaru dan barang-barang mahal yang melekat di badannya.


Vina mendongak lalu menggeleng pelan. Lucu sekali. Gadis mungil berusia delapan tahun ini selalu antusias bermain dengan yang lain.


Menjadi yang paling kecil, membuat anak-anak panti yang berusia di atasnya sering mengalah. Meski beberapa tidak rela harus kalah dari Vina.


"Oke, sini mendekat. Kakak bisikin, tapi ini rahasia di antara kita ya. Jangan sampai yang lain tahu. " Ara berbicara sangat pelan, menunjukkan gelagat akan mengucapkan sebuah rahasia besar. Meyakinkan seorang Vina kecil agar percaya.


"Tidak mau kak. Itu namanya curang. Allah tidak suka orang yang tidak jujur. Dan curang juga bagian dari tidak jujur. Vina tidak mau Allah marah kak. "


Alhamdulillah... Anak kecil ini tidak lagi cemberut karena belum bisa bermain. Pasalnya bu Hasna akan mengomel panjang kali lebar kali tinggi pada Ara, jika seandainya mengajak anak-anak panti bermain tanpa sarapan lebih dulu.


"Ya sudah, kalau begitu Vina harus sabar dulu ya.. Nanti kita akan bermain bersama yang lainnya. Kakak.. Mau bantu ibu dulu. Kasihan ibu sudah tua harus masak banyaaaak sekali. "


Vina pun tertawa melihat Ara memperagakan kata "banyak" menggunakan kedua tangannya yang ditarik melebar.


"Iya kak.. "


"Sana tunggu di ruang makan saja. Sepuluh menit lagi sarapan sudah siap kita santap. "


Lagi-lagi Vina tertawa mendengar ucapan Ara. Kali ini kata "santap" menggelitik telinga Vina kecil.


Vina tidak menjawab perintah Ara. Hanya mengangguk pelan, lalu melongok kan kepalanya mengintip keberadaan bu Hasna si dapur.


"Bu... Kata kakak, ibu sudah tua. " Vina berteriak melengkingkan suara kecilnya. Kemudian lari secepat mungkin agar terhindar dari tatapan mata Ara yang sudah melotot horor.

__ADS_1


Astaga bocil... Usil sekali kau ya..


Bisa-bisanya mengadukan hal yang tidak-tidak. Eh tapi kan...


Baru membalikkan badan. Ara sudah disuguhkan dengan pemandangan bu Hasna yang berkacak pinggang, jangan lupakan wajah nya yang berubah kecut.


Ara hanya meringis pasrah sembari mengangkat dua jari menandakan perdamaian.


"Peace bu.. Kita damai. Ucapan Vina tidak benar. "


Bu Hasna hanya berdecak saja mendengar alasan Ara. Bisa-bisa mengelak. Bu Hasna itu sudah mendengar sendiri, kalau sebelum Vina mengatakan "tua", Ara sudah mengatakan lebih dulu.


Artinya.. Siapa di sini yang tidak benar?


" Mana mungkin ibuku yang cantik ini tua? Ibuku masih sangat muda seperti ABG. Ups. "


Mata bu Hasna melotot saat dikatakan ABG. Tadi tua sekarang malah ABG.


Astaghfirullah.. Bu Hasna hanya bisa mengurut dada menghadapi putri asuhnya satu ini.


"Sudah selesaikan saja itu goreng bakwannya. Ibu mau lihat cucian dulu. "


"Siap ibuku. "


***


Geruduuuuk...


Seketika semuanya menghambur berebut lebih dulu sampai di meja makan.


Wah... Sepiring nasi sudah tersaji lengkap dengan sayur bayam dan bakwan jagung, memenuhi meja makan yang memanjang.


"Ini kerupuknya, semua akan mendapatkan bagian masing-masing satu bungkus. Ingat... "


"Tidak boleh berebutan. Semua akan mendapat bagian. "


Hahaha.


Ruangan menjadi ramai oleh suara riuh tawa penghuni panti. Belum bu Hasna melanjutkan ucapannya, sudah dipotong oleh anak-anak. Semua serentak menjawab. Mereka sangat hafal dengan satu nasihat bu Hasna tersebut. Karena diucapkan setiap kali makan. Dan setiap kali ditirukan oleh anak-anak hingga mengundang tawa bersama. Bu Hasna tidak marah saat ucapannya dipotong begitu. Hanya saja di waktu yang tepat, ia akan berpesan. Agar jangan suka memotong pembicaraan orang lain. Terlebih pembicaraan orang dewasa, kalau bisa jangan mendengarkan dan lebih baik tidak ada di tempat orang dewasa yang berbincang. "Belum saatnya mendengarkan obrolan orang dewasa. "


"Sudah kebagian semua? "


"Sudah... "

__ADS_1


Alhamdulillah. Anak-anak panti di sini sangat penurut. Sehingga tidak akan ada drama berebutan mainan ataupun makanan. Karena Bu Hasna sangat sering mengingatkan apa yang bisa dibagi, dan apa yang bersifat pribadi. Bersyukur anak-anak mudah memahami yang bu Hasna maksudkan.


"Baiklah, kita mulai sarapan dengan do'a sebelum makan. "


"Aamiin.. "


Semua makan dengan lahap.


...****************...


"Duku... " Teriak Vina semangat, suaranya terdengar hingga ke halaman. Padahal mereka sedang bermain di aula dalam.


Riuh tepuk tangan terdengar membuat Vina merasa senang. Ia sudah empat kali bisa menebak lebih dulu nama buah-buahan dengan huruf awalan sesuai hitungan jari.


"Yeee... Aku menang lagi.. "


Semua hanya tertawa senang melihat si bungsu melompat kegirangan karena akan mendapatkan hadiah. Semua akan mendapatkan hadiah. Bedanya, hadiah bagi pemenang akan diberikan langsung oleh Ara. Sedangkan hadiah bagi yang lain dibagikan oleh si pemenang.


Hal tersebut Ara lakukan dengan tujuan, agar suatu saat nanti jika adik-adiknya ini sedang mendapatkan sesuatu, mereka akan selalu teringat untuk berbagi terhadap sesama.


"Wah... Hadiahnya banyak sekali. Pensil, penghapus, buku tulis, penggaris dan wah... Rautan yang bisa berputar seperti sepeda gowes. "


"Iyaa.. Banyak sekali hadiahnya. "


"Pasti kak Ara habis gajian. "


Celotehan anak-anak ini membuat Ara tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Bahkan ia sudah merasa kaku di pipinya.


"Hemm, jangan lupa ucapkan apa? " Pancing Ara. Ia ingin membiasakan adik-adik panti mengucapkan terima kasih pada siapa pun setelah diberikan sesuatu. Baik pemberian barang maupun jasa. "


Dengan serentak seisi ruangan menjawab "Terima kasih kak Ara.. "


Semuanya terdiam menunggu. Kok Ara masih diam saja. Kan anak-anak sudah mengucapkan terima kasih.


Seharusnya Ara itu menjawab "Sama-sama." Aturannya kan begitu.


Ara meletakkan jari telunjuknya di atas dagu. Menunjukkan raut berpikir hingga membuat semuanya menunggu Ara membuka suaranya.


"Ada yang kurang. " Kata Ara.


Dan si Vina kecil lah yang berhasil mengingat kekurangannya.


"Terima kasih kak Ara yang cantik jelita tiada tara. "

__ADS_1


Suara kecil Vina yang melengking saking semangatnya itu membuat bu Hasna yang kebetulan berada di dekat pintu aula pun menggelengkan kepala.


Ada-ada saja Ara ini. Adiknya kok dikerjain begitu.


__ADS_2