TANPAMU

TANPAMU
ARA


__ADS_3

Setelah melalui beberapa menit perjalanan dari panti.


Mobil Edo telah terparkir sempurna di depan sebuah resto yang terbilang unik dan mewah.


Seseorang menghampiri dan menunggu di sebelah pintu mobil Edo.


Klek. Pintu mobil terbuka.


"Selamat datang mas Edo. " Sapa orang tadi kepada Edo. Di resto miliknya ini, Edo ingin menerapkan sistem kekeluargaan pada semua karyawannya. Tetap ada yang memimpin untuk mengarahkan job desk dan lainnya. Hanya saja Edo menginginkan terciptanya jalinan kasih sayang antar sesama. Saling menghargai tanpa membedakan kasta.


Karena konsep resto miliknya ini balance. Sesuai namanya "The BLC resto".


Semua orang baik dari kalangan menengah ke bawah bisa mengunjungi tanpa satu perbedaan pun.


Klek.


Ara menyusul Edo setelah dibukakan pintu oleh pelayan.


" Ini restonya? " Ara mengedarkan pandangan ke arah sekeliling area depan The BLC resto. Dari depan nampak unik dengan adanya setapak jalan yang terlihat seperti lorong. Di setiap dindingnya yang terbuat dari kaca diletakkannya tanaman-tamanan hias, menambah kesan sweet.


"Iya. Ayo masuk dulu. Kau harus mencoba resep masakan andalanku. "


"Resep andalan? " tanya Ara heran. Memangnya Edo bisa memasak? Tahu apa pria itu tentang seluk beluk ruang masak dan bumbu-bumbunya? Membedakan jahe dan lengkuas saja pasti kesulitan.


Berjalan memasuki resto, Ara kembali terkesima. Memasuki area utama, setiap tamu akan disambut suara gemericik air mancur yang mengalir ke kolam kecil di bawahnya. Tak hanya itu, di kolam tersebut terlihat beberapa ikan hias berenang kesana kemari.


Ara menyukai konsep ini.


"Bagaimana? " Edo bertanya memastikan Ara menyukai tempat ini. Karena semua dibuat berdasarkan apa yang Ara sukai.


"Good. Inspirasi dari mana nih? "


Edo itu menyukai pegunungan. Dan Ara sangat tahu tentang itu. Lalu tiba-tiba membangun sebuah resto yang tidak berhubungan dengan kesukaannya, jelas membuat Ara bertanya-tanya.


Edo pernah bercerita, memiliki sebuah impian. Jika suatu saat diberikan kesempatan. Edo ingin mewujudkan impiannya itu. Dan kalian tahu? Ara pikir, Edo akan membangun resto di daerah pegunungan. Resto di pinggiran yang memiliki view indahnya alam hijau pegunungan dari jarak pandang yang lebih dekat.


"Kau sudah melupakan impianmu, Edo? " Tanya Ara lagi.


"Tidak. " Edo tersenyum senang. Rupanya Ara masih mengingat tentang dirinya.


"Aku juga sedang memulai pembangunan resto di dekat gunung. Sekarang kau tunggu di sini. Aku akan memasak untukmu. "


"Hei... Tidak perlu, biarkan mereka yang memasak. " Ara sungkan. Meski Edo ini temannya. Tetap saja, kurang ajar baginya jika bersikap melunjak begini. Edo kan bosnya di kantor.

__ADS_1


"Tapi aku pengen masakin kamu, Ra. " Wajah Edo kini memelas. Ingin sekali membuatkan satu menu istimewa untuk Ara. Dia mau Ara lah yang pertama kali mencicipi menu yang satu ini.


Haiissss...


Tak tega dan sungkan. Terlebih keduanya tengah menjadi pusat perhatian di antara para karyawan dan pengunjung yang sedang menikmati makanan.


"Okelah. Tapi aku ikut ke dapur ya. "


"Oke." Dari pada Ara gak mau dimasakin, pikir Edo. Yang penting nanti di dapur Ara hanya melihatnya memasak. Semuanya harus hasil tangan darinya.


Di dapur. Edo tengah sibuk memotong dori fillet. Pertama, Edo akan membalut dori tersebut dengan tepung lalu digoreng hingga memiliki tekstur krispi.


"Mau ku bantu? "


"No. Diam di sana, sebentar lagi akan selesai. "


Jawab Edo tanpa melihat Ara. Ia kembali sibuk dengan masakannya.


Dori krispi sudah selesai. Kini Edo sibuk menuang beberapa saos dan bumbu.


Setelah selesai, Edo menata dori krispi tadi ke atas hot plate lalu menuang saos buatannya tadi ke atas dori krispi.


Suara saos meletup-letup di atas hot plate merebakkan aroma asam manis dengan harumnya bawang bombay setengah matang sebagai taburan di atasnya, membuat perut Ara keroncongan.


Edo tergelak tanpa suara melihat ekspresi Ara. Mukanya itu sangat lucu, seperti ingin segera melahap makanan namun ditahan.


"Kau mau ini, Ra? "


Heem. Ara menganggukkan kepala.


"Ayo ke meja makan. "


Dengan tidak sabar. Ara melangkah mengikuti Edo. Sampai di sana. Makanan yang Edo masak tadi dibawakan oleh Lala.


"Silahkan mas Edo, mbak Ara. "


"Tolong ambilkan strawberry milkshake untuk Ara. Dia tidak minum soda. "


"Baik, mas Edo. "


"Bawa soda ini. Aku mau lemon tea tanpa gula, tambahkan es sedikit saja. "


Lala pergi untuk membuatkan pesanan Edo.

__ADS_1


Sedangkan Ara. Tatapan mata berbinar melihat makanan kesukaannya seakan susah terbayang bagaimana lezatnya dori krispi dengan saos asam manis itu.


"Makanlah Ra. Ini untukmu. "


Ara mengambil satu potongan dori lalu mencobanya. Begitu dori krispi masuk ke dalam mulutnya.


"Emmm.. " Ara mengunyah sembari menatap Edo tak percaya.


"Enak banget. Gak nyangka kau bisa masak juga. " Puji Ara. Ia bahkan tidak berhenti menyuapkan makanan itu ke mulutnya.


"Pelan-pelan saja, Ra. "


Edo menggelengkan kepala melihat tingkah Ara yang satu ini. Biasanya, perempuan itu akan bersikap jaim kalau sedang makan dengan cowok. Lah Ara ini malah gak ada jaim-jaimnya sama sekali.


Ini juga yang Edo suka dari Ara. Tidak perlu menjadi orang lain untuk disukai.


"Ajarin resepnya ya. Aku mau sering-sering masak ini. Saosnya beda banget dnegan buatanku. Bahkan beda dari catering yang biasa kirim makanan ke panti. "


"Gak mau, Ra. "


Ara menghentikan aktivitas mengunyahnya. Menatap heran pada Edo.


"Kok gak mau? "


"Biarkan untuk yang satu ini cuma aku yang bisa. "


"Ada-ada saja kau ini. " Fix Ara cemberut. Aneh batik Ara. Meskipun nanti Ara mampu membeli makanan tersebut di resto ini. Tapi kan sayang, pasti harganya juga mahal. Dari pada begitu kan lebih baik Ara memasaknya sendiri. Membuat lebih banyak agar bisa menikmatinya bersama bu Hasna san adik-adik panti.


"Hei, jangan cemberut gitu dong. Makin cantik tahu. "


Bukan tanpa alasan. Edo tidak mau membocorkan resepnya pada Ara bukan karena tak ingin Ara akan membocorkannya ke orang lain. Tapi Edo ingin, ketika Ara menginginkan menu dori krispi yang satu itu, maka Ara hanya akan mengingat Edo. Karena hanya Edo lah yang bisa memenuhi keinginan Ara.


Edo tidak mau kehilangan alasan untuk selalu berdekatan dengan Ara. Kesempatan emas ini tidak boleh hilang begitu saja.


"Ya makanya kasih tahu resepnya. " kekeuh Ara.


"Kau boleh meminta ini kapan saja Ra. Sebanyak apapun. Buat orang-orang di panti sekalipun. Aku akan memberinya. "


"Kenapa? " Dasar Edo aneh. Tidak biasanya dia bersikap tsundere begini.


*Karena aku tidak mau kehilangan satu alasan ini, Ra. Untuk memilikimu pun, dinding kita terlalu kokoh membatasi. Aku harus bagaimana agar bisa memiliki dirimu. Memikirkan banyaknya pria yang menginginkamu saja cukup membuatku frustasi.


Oh Ara. Aku harus bagaimana*?

__ADS_1


__ADS_2