TANPAMU

TANPAMU
ARA


__ADS_3

Erik menghabiskan waktu nya dengan melepas rindu pada tempat masa kecilnya itu. Membantu bu Hasna menyiapkan makanan untuk anak-anak panti. Juga menemani anak-anak bermain.


Menjelang malam. Erik mendapatkan kabar dari rumah utama. Bahwa sang kakek menunggunya.


Erik menghembuskan nafas lelah. Memang berkat kakeknya itu kini dia bisa menikmati segala fasilitas mewah. Membuat separuh dunia berada dalam genggamannya.


Tapi dia juga lelah dengan tuntutan kakeknya.


Selalu saja menjodohkannya dengan wanita yang tidak dicintainya.


"Apalagi mau kakek? "


Erik memutuskan untuk berpamitan kepada bu Hasna. Sebenarnya Erik masih ingin tinggal di panti. Ingin menghabiskan lebih banyak waktunya disini. Namun keadaan memaksanya untuk pergi.


"Tidak menunggu Ara pulang dulu nak? "


Bu Hasna masih berat melepas anak asuhnya ini. Beliau masih belum puas melepas rindu.


"Lain kali Erik akan berkunjung kesini lagi bu. Maaf ya, Erik tidak bisa lebih lama. Kakek sudah menunggu. "


Dengan berat hati bu Hasna melepas genggaman tangannya pada Erik.


"Hati-hati di jalan, Erik. "


"Iya bu. "


***


Ara merasa sangat lelah. Hari ini ia harus lembur menyelesaikan laporan akhir bulan.


Padahal sebelumnya sudah melakukan cross cek. Tapi mengapa masih ada perbedaan di akhir?


Benar-benar, tikus-tikus berdasi ini memang ingin segera dibasmi. Ara sungguh kesal dibuatnya.


Di penghujung jalan mendekati panti Ara berpapasan dengan mobil yang Erik tumpangi. Namun keduanya tidak saling menyadari. Keduanya hanya fokus pada rasa lelah yang mereka rasakan.


Sesampainya di panti. Saat turun dari motor, Ara melihat bu Hasna berdiri di depan pintu.


Seperti sehabis mengantar kepergian tamu.


"Assalamu'alaikum ibu. "


Ara meraih tangan bu Hasna lalu menciumnya.


"Wa'alaikumsalam Ara. Kenapa malam sekali pulangnya? "


"Ara lembur bu. Barusan ada tamu bu? "


"Iya, Erik datang. "

__ADS_1


Deg.


Erik, teman masa kecil Ara datang setelah bertahun-tahun pergi dari panti dan tanpa kabar sama sekali. Tiba-tiba datang.


"Mana dia bu? "


Ara bertanya dengan tidak sabar. Dia sudah kadung rindu pada temannya itu. Super heronya.


"Baru saja pulang. Kalian tidak ketemu di jalan? "


Ara menggelengkan kepalanya.


"Tidak bu. "


"Ya sudah, kita masuk dulu. Kamu harus membersihkan badan dan istirahat.


Sudah makan malam nak? "


"Belum bu. Apa masih ada makanan? "


Ibu akan menyiapkan makanan yang di masak oleh Erik sore tadi.


Ara membelalakkan matanya.


What ? Erik masak ? Mustahil !


"Erik bisa masak bu? "


"Sudah sana bersihkan badan dulu. Ibu siapkan makan buat kamu. "


"Terima kasih bu. Ibu memang yang terbaik. " ucap Ara dengan cerianya sebelum meninggalkan bu Hasna untuk membersihkan dirinya.


Kini Ara sudah selesai membersihkan dirinya. Kulitnya masih lembab karena air yang membasuh dirinya saat mandi tadi. Dan rambutnya masih terbungkus rapi oleh handuk.


Ara sudah berada di meja makan bersama bu Hasna.


"Wah bu. Ini sangat enak. Apa benar Erik yang memasak ini bu? Jangan-jangan ini masakan ibu ya. "


Sambil mengunyah makanan. Ara sesekali memberikan komentarnya saat mengecap rasa makanan yang ia lahap.


Luar biasa. Erik yang laki-laki bisa masak seenak ini. Lebih enak dari masakan Ara. Daebak.


Rasa-rasanya Ara tidak bisa menerima ini. Bukankah termasuk sebuah penghinaan bagi Ara? Tidak bisa dibiarkan. Bisa-bisa nanti Erik akan ******* habis Ara dengan ejekannya itu.


Erik memang superhero bagi Ara. Tapi tak jarang juga sangat menyebalkan. Sering mengejek Ara hingga membuatnya merajuk. Namun hal itu tidak mengurangi sedikitpun rasa saling sayang diantara keduanya. Baik Erik maupun Ara. Mereka saling menyayangi layaknya saudara. Ara adalah adik kesayangan Erik. Tidak ada yang boleh mengganggu Ara selain dirinya.


Kembali pada Ara.


Ara telah menghabiskan sepiring nasi dengan berbagai lauk hasil masakan Erik dan bu Hasna.

__ADS_1


Tidak dipungkiri, rasanya sungguh lezat di lidah. Hingga perut Ara kekenyangan dibuatnya.


"Alhamdulillah.. Ara kenyang bu. " Ara meringis sembari mengelus perutnya yang tidak nampak membuncit sama sekali meski mengaku sedang merasa sangat kenyang.


"Dasar kamu ini. "


"Ya sudah Ara mau membersihkan meja dulu. Sekarang ibu boleh istirahat. Ibu pasti lelah seharian ini sudah mengurusi adik-adik. "


Bu Hasna menanggapinya dengan senyum khasnya. Lembut memancarkan kasih sayang keibuannya.


"Baiklah. Setelah ini kamu juga harus istirahat. Jangan bekerja lembur lagi nak. Tubuhmu juga perlu beristirahat barang sejenak. "


"Iya ibuku. Ara akan langsung istirahat setelah membersihkan meja dan mencuci piring-piring yang kotor ini. "


Bu Hasna meninggalkan Ara. Ara pun mempercepat pekerjaannya.


Jangan sampai bu Hasna kembali lagi kesini dan mengomel. Ya walaupun bukan omelan yang menyakitkan. Tapi tetap saja. Ara tidak ingin membuat istirahat bu Hasna terpotong dengan kekhawatiran pada dirinya yang tidak kunjung mengistirahatkan diri.


Acara beres-beres meja dan mencuci piring telah selesai. Ara langsung memboyong dirinya ke dalam kamarnya. Istana ternyaman di muka bumi ini. Setelah pelukan bu Hasna tentunya.


Ara merebahkan dirinya di tengah kasur dengan kaki yang masih menjuntai nyaris menyentuh lantai.


"Bagaimana ya penampilan Erik sekarang? Pasti sangat keren. "


Ara tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana Erik setelah bertahun-tahun tidak berjumpa.


Saat ini Ara sudah tidak membutuhkan Erik lagi ketika merasa tertindas. Ara sudah menjadi gadis yang kuat dan bisa diandalkan untuk melindungi dirinya.


Keahlian Ara dalam bela diri cukup membuat para pembully merasa terpojok. Bahkan para preman yang pernah di hajar Ara, kini tunduk dan patuh tanpa perintah darinya. Preman-preman itu bahkan mengawasi gerak gerik Ara. Melindungi Ara dari kejauhan tanpa Ara sadari.


Pernah suatu ketika Ara akan dirampok. Namun sebelum sang perampok berhasil menyentuh barang milik Ara. Tangan perampok itu sudah dipelintir oleh dua preman yang dengan setia menjaga Ara.


Ara segera berterima kasih pada dua preman itu. Dia tidak terpikir dilindungi oleh mereka. Yang ia yakini, dia sedang dibantu secara kebetulan saja.


Saat ini Ara tengah menjadi topik perbincangan di kalangan pengusaha muda bergengsi.


Bukan hanya karena penampilan Ara yang serba sederhana namun tampak memukau setiap mata yang melihatnya. Tapi juga karena Ara memiliki inner beauty yang sangat berbeda dari wanita kebanyakan. Ara tidak kalah bersinar dari wanita-wanita cantik yang berpenampilan glamour.


Dengan sekali pandang saja, seseorang tidak akan mampu berpaling dari pesona seorang Ara.


Gadis berpenampilan sederhana itu selalu lugas dalam berkata. Negosiasi dalam bisnis merupakan keahlian Ara. Sehingga banyak tender perusahaan yang ia menangkan. Bukan hal yang sulit bagi Ara.


Bahkan Ara selalu menjelaskan batasan dalam urusan pribadi dan pekerjaan.


Sehingga klien yang bermaksud mendekati Ara selalu mundur teratur oleh penolakan Ara.


"Maaf tuan. Kita sedang membicarakan perihal pekerjaan. Mohon untuk tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan kita. Pembahasan mengenai kerja sama sudah selesai. Saya mohon undur diri. "


Dan itu meninggalkan kesan yang sungguh mengagumkan di mata para pengusaha muda. Sangat jarang seorang wanita yang jelas-jelas disukai para bos muda malah menghindar. Biasanya mereka dengan suka rela menyerahkan dirinya untuk mendapatkan kesenangan duniawi.

__ADS_1


Jelas sangat berbeda dengan Ara.


__ADS_2