
Menjelang sore, Danu pulang menuju rumah nya.
"Apa!" Kaget Rosa.
"Iya.....aku memutuskan untuk tidak memenjarakan nya dan menutup kasus nya." Ucap Danu yang sedang duduk.
"Danu apa kau serius? apa kau tidak salah?" Tanya Rosa.
"Bukan kah kau tahu sendiri bahwa dia lah yang membunuh Hana?" Tanya lagi Rosa.
"Mau bagaimana lagi,bdia sempat melakukan percobaan bunuh diri tadi. lagi pula sepertinya ucapan nya jujur." Kata Danu.
"Dan bisa saja Hana bunuh diri pada malam itu." Sambung Danu.
Rosa menggeleng tak percaya. ."Entah apa yang ada di pikiran mu saat ini!" Balas Rosa lalu pergi menuju kamar Fiona.
Ternyata percakapan keduanya didengar oleh Fiona yang sejak tadi berdiri mendengarkan. Mata Fiona berkaca-kaca dan hati nya sangat hancur mendengar perkataan meraka. Gadis kecil itu sangat yakin jika ibu nya meninggal bukan lah karena bunuh diri.
Mendengar ucapan Danu, hati Rosa mulai membara. Bagaimana tidak, rencana nya gagal ketika Danu membebaskan Mirna.
"Mirna awas saja kau, semua rencana ku untuk menjadi pengganti Hana malah gagal total." Batin Rosa menggerutu.
Hari demi hari berlalu, kasus Hana sudah di tutup dan Mirna pun sudah di bebaskan. Beberapa hari ini Danu lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Danu selalu mengunjungi rumah Miran dan anak nya Tasya.
Sementara itu Fiona hanya di temani oleh Rosa yang kerap kali datang ke rumah nya.
Semenjak kematian ibunya, Fiona sangat jarang sekali berkomunikasi dengan orang termasuk Rosa dan Danu.
"Duduk kah...." Ujar Mirna menyuguhkan secangkir kopi.
"Dimana Tasya ?" Tanya Danu.
"Tasya sedang tidur siang di kamar nya." Jawab Mirna.
"Oh!" Balas Danu lalu menyeruput kopi.
"Jadi kapan kita akan menikah?" Tanya Mirna tersenyum.
Danu terdiam dan langsung meletakkan kopi nya.
"Ada apa? mau alasan apa lagi?" Tanya lagi Mirna. "Kita harus segera menikah agar semua orang tau bahwa kita suami istri." Ujar Mirna.
__ADS_1
"Iya aku tahu, tapi bagaimana dengan putri ku Fiona? apakah dia mau menerima ibu sambung nya?"
"Tidak usah di khawatirkan, pasti dia mau menerima ku. Di coba saja atau tidak ajak aku untuk bertemu dengan nya biar lebih akrab." Kata Mirna merayu.
"Kalau itu mau mu baiklah! besok aku akan mengajak mu dan Tasya ke rumah ku." Ujar Danu.
"Tidak ada pilihan lain, aku harus menyatukan dua putri ku dari orang yang berbeda." batin Danu.
Sedangkan Rosa sedang duduk mengiris buah sambil menatap Fiona ang sedang duduk bermain boneka.
"Mengapa Danu membebaskan Mirna? hah, ataukah Danu setelah ini akan menikah dengan Mirna. Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Aku yang selalu ada untuk nya dan Fiona bagaimana bisa dia memilih Mirna?" Batin Rosa.
Tak terasa tangan Rosa teriris pisau dan mengeluarkan sedikit darah.
"Argh....sakit sekali!" Kejut Rosa membuat Fiona menoleh nya.
"Bibi apa kau baik-baik saja?" Tanya Fiona.
"Ah.....Fiona bibi baik-baik saja sayang!"
"Tapi tangan bibi mengeluarkan darah!" Kata Fiona.
"Sayang ini hanya luka kecil kok!"
Sore menjelang malam, Rosa berpamitan kepada Fiona dan Danu untuk pulang terlebih dahulu.
"Danu....seharian aku sudah menjaga Fiona. Sekarang aku mau pulang dulu!" Kata Rosa tersenyum.
"Terima kasih Ros, Karena kau sudah mau menemani sekaligus mengurus Fiona." Ucap Danu.
"Iya sama-sama Danu. Sayang besok bibi akan datang lagi kesini!" Ujar Rosa.
Fiona hanya menganggukkan kepala nya.
Wanita itu pun melangkah pergi dari rumah Danu.
Tak terasa hari sudah malam. Danu menemani anak nya untuk tidur malam ini. Sebelum tidur, Danu sempat mengobrol kepada anak nya meskipun Fiona adalah anak pendiam.
"Fiona.....putri ayah....kau sangat cantik seperti ibu mu nak!" Puji Danu membuat Fiona tersenyum.
"Apa ayah sangat mencintai ibu?" Tanya Fiona.
__ADS_1
"Jelas sayang, andaikan ibu mu masih hidup pasti ayah akan memperbaiki semuanya." Kata Danu, pikiran nya tertuju pada satu pertanyaan.
"Fiona ayah ingin bertanya padamu."
"Apa ayah?" Tanya balik Fiona.
"Dimalam kematian ibu mu, dimana bibi Rosa berada? dan mengapa kau ada di kamar ibu mu?" Tanya Danu.
"Fiona terbangun malam itu karena Fiona merasa tidak ada orang di samping ."
"Benarkah?lalu apalagi yang kau ingat?" Tanya Danu.
"Fiona mencoba memanggil bibi, namun bibi tidak ada. Lalu Fiona pergi ke kamar ibu." Jelas Fiona, belum selesai pembicaraan nya sudah dipotong.
"Cukup sayang!ayo tidur sudah malam!" Ujar Danu mengalihkan pembicaraan.
Sambil mengelus rambut Fiona, ia berperang dengan isi kepala nya sendiri.
"Lalu dimana Rosa saat itu? tidak mungkin anak kecil seusia Fiona berbohong." batin Danu.
Keesokan hari nya, Danu bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Yah, semenjak kematian Hana, Danu lah yang mengambil alih semuanya.
Pagi ini terlihat Rosa sedang menyiapkan sarapan untuk Fiona dan dirinya.
"Argh.....kau mengejutkan ku!" Ucap Danu membenahi dasi nya.
"Danu ayo silahkan sarapan, kebetulan aku membawakan kalian makanan dari rumah ku." Kata Rosa tersenyum.
"Kenapa sikap nya sangat baik sekali terhadap aku dan Fiona?" batin Danu bertanya-tanya.
"Benarkah?em tapi maaf, aku tidak sempat sarapan dan aku harus buru-buru pergi." Ucap Danu.
Raut wajah Rosa seketika berubah.
"Sayang, kau sarapan lah dulu bersama bibi Rosa. Ayah akan pergi dulu." Ujar Danu mencium anak nya yang duduk di meja makan.
Pria itu pun melangkah pergi dengan begitu saja.
Rosa sedikit murka karena masakan yang ia buat tidak di makan oleh Danu.
"Susah sekali cari muka dihadapan Danu." batin Rosa.
__ADS_1
"Hehe....Fiona,ayo makan sayang!" Seru Rosa.