
Tampak Wanita berambut pirang sedang tergesa-gesa, ia adalah Liana Danuarta. Gadis cantik yang harus hidup seorang diri akibat ditinggal oleh kedua orang tuanya satu tahun yang lalu.
Dulu, disaat kedua orang tuanya masih ada ia hidup berkecukupan. Namun sayangnya kini ia harus banting tulang menghidupi kehidupannya seorang diri. Karena semua aset kedua orang tuanya telah dibabat habis oleh pamannya yang sangat tidak tahu diri.
Ia tampak berlari dari kontrakan kecilnya melewati gang sempit yang sangat kumuh untuk menuju ke jalan raya sembari menatap jam tangannya berkali-kali. Karena hari ini ia lagi-lagi bangun kesiangan. Jadi ia harus secepatnya sampai di restoran sebelum bosnya mengamuk karena telat.
Ia pun berlari mengejar bus yang ternyata sudah lebih dulu berjalan. Namun ternyata sia-sia. Karena bus telah berjalan lebih cepat dan tidak mungkin berhenti.
"Sial! Gara-gara kesiangan jadi telat!" Ia pun menggerutu kesal sembari mengusap wajahnya Secara kasar.
Ia tampak seperti orang bodoh celingak-celinguk menatap kendaraan yang lewat. Berharap ada teman atau orang yang berbaik hati menawarkan tumpangan. Lima menit ia berdiri seperti orang bodoh, akhirnya doanya terkabul. Mobil sedan yang terlihat jadul telah berhenti tepat di hadapannya.
"Woyyy.. masuk," titahnya sembari membuka kaca mobilnya.
Dengan wajah sumringah akhirnya Liana segera masuk ke mobil sedan tersebut. Hidupnya serasa terselamatkan.
"Kebiasaan, selalu telat! Kau tau? Hampir setiap hari kau menjadi orang bodoh yang menunggu tumpangan. Menyedihkan," ejek Leon sembari menyeringai.
"Bodo amat!" ucap Liana yang sama sekali tidak tersinggung. Karena sudah kebal mendengar ejekan Leon setiap harinya.
Leon merupakan sahabat dekatnya Liana semenjak ia bekerja di restoran. Sebenarnya Leon sudah menaruh hati ke Liana sejak pertemuan pertama mereka, namun sayangnya Liana menolaknya dan lebih memilih menjadi sahabat saja.
Sekitar lima belas menit akhirnya mereka sampai di restoran tempat mereka bekerja. Seperti biasa mereka selalu berlari karena mereka telah telat lima menit.
Mereka masuk kedalam restoran, tampak wanita berumur sekitar empat puluh tahun telah berdiri sambil melotot menatap mereka dengan kedua tangannya yang dilipat.
"Habislah kita," gumam Liana menyenggol lengan Leon yang justru terlihat santai seolah tidak melakukan kesalahan.
Mereka berjalan menghampiri wanita tersebut.
"Lima menit!" ucap wanita itu dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
"Maaf Nyonya Liem, kami telat," ucap Liana sambil menundukkan kepalanya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah. Karena ia memang bersalah.
Sementara Leon masih tampak santai namun hanya diam tidak mengatakan sepatah kata pun.
"Sekali lagi kalian telat, silahkan angkat kaki dari restoran ini! Saya tidak Sudi mempekerjakan orang pemalas seperti kalian!" ucap Nyonya Liem yang terlihat tegas.
"Jadi kami tidak dipecat kan, Nyonya?" seketika wajah Liana berbinar. Setidaknya ia masih diberi kesempatan lagi untuk bekerja di restoran tersebut.
Namun Nyonya Liem tak menjawab, ia kemudian pergi begitu saja setelah memarahi kedua karyawannya.
"Yesss, akhirnya kita tidak jadi dipecat," ucapnya girang sembari menatap wajah Leon yang justru tampak biasa saja.
Leon pun berdecih menatap Liana yang terlalu berlebihan, kemudian beranjak ke dalam bersiap untuk bekerja. Liana pun kesal dengan sikap Leon yang terlalu menyebalkan. Ia pun ikut buru-buru ke dalam.
Disana sudah ada beberapa karyawan yang telah bersiap dengan pekerjaan masing-masing.
***
Alex terbangun setelah terganggu dengan adanya pantulan sinar matahari, ia mengerjapkan matanya sambil menguap lebar. Sungguh ia ingin membunuh orang yang dengan sengaja membuka gorden jendela kamarnya.
"Memang cari mati! Siapa yang berani membuka gorden!" Teriaknya yang membuat semua penghuni rumah mendengar teriakannya. Membuat Hamid lantas menghampirinya.
"Dasar anak tidak tahu diri! Terus saja berteriak!" Bentak Hamid dengan nada meninggi, kedatangannya membuat Alex terkesiap.
Kedatangan Hamid yang tiba-tiba membuat Alex terkejut karena biasanya Hamid jika kembali pasti selalu mengabarinya. Namun kali ini Hamid sengaja tidak mengabarinya.
"Papa, kapan kembali? Kok nggak bilang-bilang?" pertanyaan Alex justru membuat Hamid semakin memakinya.
"Kenapa kalau tidak bilang? Kaget? Jadi ini kelakuan kamu selama ini! Mana tanggung jawabmu terhadap perusahaan, hah!" pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut Hamid, ia tak bisa membendung kekesalannya terhadap putra semata wayangnya itu.
"Aku telat pa," jawabnya enteng, membuat Hamid semakin naik pitam.
__ADS_1
"Telat kau bilang? Yang ada di otakmu itu hanya ************ sama minum saja! Papa tidak mau tahu, secepatnya kau harus menikah! Aku terlalu malu memiliki putra sepertimu! Yang selalu saja membuat gaduh media!" Bentaknya kepada putranya, ia tak bisa lagi menahan emosinya. Mungkin dengan Alex menikah, bisa mengurangi kebiasaan buruknya itu, pikir Hamid.
"Menikah? Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu pa, jadi jangan paksa aku."
"Kenapa? Masih ingin menunggu wanita yang sudah jelas-jelas meninggalkanmu demi laki-laki lain saat kau hampir bangkrut? Cih menyedihkan!"
"Ya siapa tau aja dia cerai," ucapnya lirih namun Hamid bisa mendengar apa yang baru saja Alex katakan.
Hamid hanya menggeleng, entah apa yang ada di otak putranya itu. Ia benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran putranya.
"Kau seperti pria tak laku saja," ejek Hamid kepada putranya. Rasanya ia sudah kewalahan dengan putranya yang sulit dinasehati.
"Wanita mana yang tidak menyukaiku!" Alex pun meradang karena diejek tak laku oleh papanya.
"Jangan terlalu membanggakan diri, biasanya kalau begitu justru dipertemukan dengan wanita yang tidak menyukaimu. Camkan ucapan papamu ini!" Hamid pun berlalu pergi.
"Cih tidak akan! Mana ada wanita yang tidak menyukaiku." Alex pun berdecih kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hamid turun menemui istrinya yang telah menunggu di ruang tengah.
"Bagaimana?" tanya Veronica setelah Hamid menghampirinya.
"Seperti biasa, sudahlah ayo kita pergi sekarang, takut Tuan Will menunggu lama," ucap Hamid yang dibalas anggukan oleh istrinya.
Mereka berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman, dengan sang sopir yang sudah bersiap menunggu mereka untuk mengantarkan ke tempat yang mereka tuju.
Hamid kembali ke London karena ada suatu kepentingan. Yaitu bertemu dengan rekan bisnisnya yang bernama Will. Rencananya mereka akan membahas tentang perjodohan anak mereka yang selama ini sempat tertunda. Mereka bertemu di restoran yang sudah mereka sepakati.
Will beserta istri dan putrinya sudah lebih dulu tiba di restoran, namun Clarista putri dari Will dan Yasmin justru mendengus kesal.
"Ck. Katanya keluarga terkaya di London, kenapa ngajak ketemuannya di restoran murahan seperti ini," ucap Clarista yang kesal karena tidak terbiasa makan di restoran murah, karena ia sudah terbiasa makan di tempat mewah. Jadi lidahnya tidak terbiasa makan di tempat murah seperti itu.
__ADS_1