
Hamid dan Veronica kini telah sampai di bandara. Alex terpaksa pulang dan mengantar mereka sampai bandara, Liana pun juga ikut mengantar mertuanya.
"Lex, jaga Liana. Jangan sakiti dia. Kalau papa tahu Liana tidak bahagia denganmu awas saja, papa akan mencabut semua fasilitasmu. Termasuk jabatanmu juga." ancam Hamid yang sama sekali tidak main-main.
"Iya.. iya," jawabnya malas. Ia terpaksa mengiyakan perkataan papanya agar tidak berbuntut panjang.
"Liana, jaga diri baik-baik, ya. Jika Alex berbuat kasar atau menyakiti kamu, cepat hubungi papa. Jangan takut," tutur Hamid kepada menantu kesayangannya.
"Ya sudah, papa sama mama pergi dulu. Dan jangan lupa secepatnya berikan kami cucu," ucapnya kepada Alex dan Liana.
Alex dan Liana terpaksa mengangguk.
Hamid dan Veronica kemudian bergegas masuk ke dalam. Setelah Hamid dan Veronica sudah tak terlihat lagi, akhirnya Alex memutuskan untuk segera beranjak dari tempat itu dan berjalan ke arah mobilnya. Liana hanya mengekor di belakang.
Mereka bagaikan orang asing yang tak saling mengenal. Hingga di dalam mobil pun mereka tak saling menyapa, bahkan sampai detik ini pun mereka belum pernah terlibat percakapan sama sekali.
Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Liana ingin protes, tetapi ia takut jika Alex justru memarahinya. Ia hanya diam sembari memejamkan mata.
Hingga Liana merasa mobil telah berhenti, kemudian ia membuka matanya perlahan. Tetapi ia justru dibuat bingung karena ini bukan di kediaman Alex. Melainkan di tepi jalan.
"Turun!" titah Alex dengan raut dingin.
Liana tak mengerti. Kenapa ia harus turun? Bukankah ini masih jauh dari rumah?
"Bukankah rumah kita masih jauh?" Liana memberanikan diri untuk mengatakan hal itu.
"Rumah kita? Kau hanya menumpang! Cepat turun!"
"Apa itu artinya kau mengusirku dari rumahmu?"
"Jangan banyak omong! Cepat turun! Naik taksi atau apalah ke rumah!"
Liana lega, berarti ia tidak diusir dari kediaman Alex, ia hanya diusir dari mobilnya. Liana pun mengangguk lalu segera turun.
Setelah turun, ia justru dibuat heran oleh Alex yang juga ikut turun. Ia sempat terbengong dan ingin bertanya, akan tetapi sebelum ia sempat bertanya ia justru dikejutkan oleh hadirnya seorang wanita cantik seksi dan tinggi, bisa dibilang sempurna dari segi apapun.
__ADS_1
"Alex, maaf ya lama," ucap wanita cantik itu dengan suara manja.
"Tidak apa. Ayo masuk."
Lebih kagetnya lagi, Alex tersenyum ramah kepada wanita itu dan membukakan pintu untuk wanita itu. Sungguh perlakuan yang berbanding terbalik dengan Alex yang memperlakukannya.
Wanita itu masuk ke mobil Alex, begitu juga Alex yang segera masuk ke mobilnya. Mobil Alex tampak melaju dan meninggalkan tempat itu.
Liana hanya bisa menatap mobil Alex yang semakin menghilang dari pandangan. Hatinya sakit melihat itu. Bagaimana bisa Alex memperlakukan istrinya sendiri seperti seonggok sampah, tetapi memperlakukan wanita lain justru sangat manis. Sakit rasanya, baru sehari menikah ia sudah diperlakukan demikian. Bagaimana dengan hari-hari yang akan datang?
Liana termenung di tepi jalan. Ia tidak tahu bagaimana caranya sampai rumah. Uang saja ia tidak membawa. Sungguh ia sangat payah, ternyata apesnya dobel-dobel.
Ia menendang batu kerikil dengan penuh kekesalan. Rasanya ia ingin menangis, tetapi ia masih memiliki rasa malu. Tidak mungkin kan ia menangis di sepanjang jalan?, pikirnya.
***
"Lex, maaf ya. Kamu jadi aku repotin," kata wanita itu.
"Tidak masalah, Agatha. Seperti baru kenal denganku saja, kamu ini. Dari dulu kan aku selalu siap sedia untukmu."
"Sudahlah, jangan pikirkan lagi soal laki-laki bajingan itu. Yang terpenting kamu sudah terlepas dari dia."
"Sekali lagi aku minta maaf, Lex. Jika aku tidak gegabah pasti kita sudah menikah."
Alex seketika terdiam mendengar kata menikah. Ia justru sangat jahat saat ini, ia sudah menikah. Dan terpaksa menutupi itu dari Agatha. Ia tak mau Agatha semakin terpukul, karena Agatha baru saja dirundung masalah dengan suaminya dan sebentar lagi akan mengajukan gugatan cerai di pengadilan.
"Sssttt. Berapa kali kamu minta maaf. Kamu tidak salah, Agatha."
Agatha justru terisak. Ia mengingat betapa bodohnya dia memilih laki-laki yang hanya modal kaya. Tidak tahunya, suaminya ternyata suka main tangan. Dan hanya menjadikannya budak seksnya. Andai saja dia mau bersabar sebentar saat Alex mengalami bangkrut. Sayangnya ia terlalu naif dan gila akan jabatan serta kekayaan. Kini ia sangat menyesal, ternyata saat ia menikah justru Alex kembali jaya.
"Sudah, jangan menangis, ya."
Alex memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Kemudian ia menyeka air mata Agatha yang sedari tadi terus membanjiri pipi mulusnya.
"Apa kamu tetap masih menerimaku?"
__ADS_1
"Sampai detik ini hatiku masih sama seperti dulu, Tha."
Agatha merasa terharu dan langsung menghambur ke pelukan Alex. Ia benar-benar merasa lega. Alex ternyata masih tetap sama, mencintai dirinya. Meskipun ia pernah menyakiti hati laki-laki itu.
"So, mau makan dimana kita?" tanya Alex sembari menyunggingkan senyum.
"Dimana saja, yang penting jangan di warung makan atau pedagang kaki lima."
"Mana ada aku makan di tempat seperti itu."
Agatha pun seketika langsung terkekeh. Ia tahu jika Alex anti makan di tempat seperti itu.
Alex pun kembali melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Agatha bergelayut di lengan Alex. Membuat Alex menyetir dengan satu tangannya. Hal itu sudah biasa menurutnya. Dari dulu Agatha memang suka seperti itu, dan ia pun membiarkannya karena ia sendiri merasa nyaman.
Sampailah mereka di restoran bintang lima, mereka langsung menuju ke dalam. Disana mereka langsung disambut baik oleh pelayan. Mereka segera mencari meja yang masih kosong. Kebetulan ada satu meja yang masih kosong dan memiliki view yang bagus. Mereka akhirnya duduk disana. Seorang pelayan datang dan menyerahkan buku menu ke mereka.
Alex dan Agatha segera memesan makanan dan minuman yang sudah dipilih oleh mereka.
"Setelah ini kita kemana?" tanya Agatha.
"Kemana saja yang penting bisa membuatmu senang."
"Ke rumah kamu, bagaimana? Aku rindu sama rumahmu."
Seketika mulut Alex terkatup. Bagaimana jika Agatha mengetahui jika ia telah menikah.
"Lex, kok diam."
"Oh, ya. Boleh-boleh."
Agatha pun terlihat tersenyum senang. Rasanya ia benar-benar rindu. Dulu ia hampir setiap malam menginap di rumah Alex. Akan tetapi hal itu tidak lagi di lakukannya setelah Alex mengalami bangkrut. Dan hari ini sepertinya akan menjadi momen yang membahagiakan kembali untuknya.
Setelah itu Alex hanya diam dan tidak banyak bicara. Ia tengah berpikir keras bagaimana caranya untuk menjelaskan ke Agatha jika dirinya telah menikah. Hal yang sangat ia takutkan adalah, Agatha kembali meninggalkannya. Dan ia tidak mau hal itu terjadi.
__ADS_1