Terjebak Ikatan Pernikahan

Terjebak Ikatan Pernikahan
6. apes


__ADS_3

Alex terpaksa membawa Agatha ke kediamannya. Ia segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Agatha. Ia benar-benar memperlakukan Agatha dengan baik. Tidak seperti wanita lain yang sangat diperlakukan kasar olehnya.


Seperti Liana misalnya, pertama menjadi istri sah Alex ia justru diturunkan begitu saja di tepi jalan. Mana ia juga tidak membawa uang, dan sekarang mau tidak mau ia harus jalan kaki sekitar 3 km untuk sampai di kediaman Alex.


"Begini ya rasanya menikah tanpa cinta, apes amat hidupku," gerutunya sembari menghembuskan napas secara kasar. 


Liana terus melangkahkan kakinya yang sudah terasa perih akibat jalan kaki. Rasanya benar-benar kesal dan merutuki diri sendiri.


"Ini mah lebih parah dari omelan Nyonya Liem." Liana terus menggerutu kesal. Rasanya ingin memukuli Alex yang sama sekali tidak berperasaan. 


Sepanjang jalan Liana tak henti-hentinya mengutuk sang suami yang menurutnya sangat kejam.


"Bagaimana bisa dia main serong begitu saja dengan wanita lain. Setidaknya antarkan aku pulang dulu atau minimal kasih duit lah buat ongkos pulang. Nikah sama CEO kok malah apes begini, Na Liana." 


Sesampainya dirumah, Liana langsung merebahkan tubuhnya ke sofa panjang yang ada di ruang tengah. Kakinya serasa sakit dan pegal akibat jalan kaki yang lumayan melelahkan. 


"Nona, sudah pulang." Gretha yang merupakan pelayan di kediaman Alex pun menghampirinya.


"Iya, sudah. Tolong buatkan juice mangga, Gretha. Saya haus," titah Liana yang merasa kegerahan dan haus tentunya. 


"Baik, Nona." Gretha segera masuk ke dalam untuk membuatkan juice yang diminta oleh Liana. 


Liana memijat kakinya yang terasa ngilu.


"Dasar Alex sialan! Gara-gara dia kakiku jadi ngilu semua seperti ini!" gerutunya yang begitu terlihat kesal. 


Tak berselang lama, Gretha datang membawakan juice mangga yang Liana minta. 


"Terimakasih, Gretha." 


"Sama-sama, Nona." 


Liana segera meneguk juice yang dibuatkan oleh Gretha. Rasanya tenggorokan yang tadinya kering kini mulai terasa segar. 


"Oh ya, Gretha. Apa Alex sudah kembali?" Pertanyaan Liana justru membuat Gretha terdiam, rautnya berubah pucat. 

__ADS_1


"Kok diam?" 


"Eh anu, Nona. Sudah," Gretha seketika menjadi gugup dan khawatir.


Liana tersenyum getir seolah sudah tahu apa yang ditakutkan oleh Gretha. Liana segera berdiri dan hendak ke lantai atas. Tetapi Gretha justru menghalanginya.


"Tunggu, Nona." 


"Ada apa, Gretha?" 


"Anu, itu…" 


"Sudahlah, aku sudah tahu. Aku hanya ingin istirahat. Tubuhku seperti remuk rasanya." Liana tak mempedulikan Gretha, ia tetap naik ke lantai atas dengan menggunakan tangga.


Liana tahu, Alex pasti membawa wanita itu ke dalam kamarnya. Ia tak peduli itu, yang pasti Liana hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk akibat jalan kaki dan membuat kakinya gempor. Liana membuka kamar yang pertama kali ia tempati, ia merebahkan tubuhnya ke ranjang empuknya. 


Liana mencoba memejamkan matanya, tetapi telinganya dibuat murka oleh suara laknat dari kamar Alex. Sungguh rasanya benar-benar membuat darah dikepalanya mendidih. Suara menjijikkan yang membuatnya kesal sekaligus murka. Tetapi ia tak punya nyali untuk menghentikannya. Ia biarkan suara itu menemani istirahatnya. Persetan dengan itu, yang penting ia bisa tertidur. 


"Apa kau mencintaiku?" tanya Agatha yang masih berada dibawah kungkungan Alex.


"Sungguh?" 


"Hey, apa kau tidak percaya? Sekalipun kau pernah meninggalkanku, hatiku tetap sama!" 


Agatha merasa lega akan hal itu, lalu ia segera memeluk Alex dengan sangat erat. Ia tak mau menyia-nyiakan untuk kedua kalinya. Cukup sekali saja ia menjadi wanita bodoh hanya untuk mendapat laki-laki kaya yang justru membuatnya rugi besar. 


Akan tetapi ketika mereka sedang berpelukan dan saling telanjang, tiba-tiba pintu ada yang membuka. 


Liana tak peduli dengan adegan panas yang ia lihat, ia masuk begitu saja. 


"Hey! Dasar gila! Apa yang kau lakukan!" bentak Alex yang seketika murka. 


"Ini juga kamarku! Terserah aku mau masuk kapan pun itu sesuka aku." Liana tak peduli, ia menjawab tanpa minat menatap Alex yang masih telanjang. 


Alex segera memakai pakaiannya, dengan emosi ia mendekati Liana yang masih sibuk mencari pakaian di lemari. Alex menarik lengan Liana dengan sangat kasar, tak peduli jika Agatha menatap mereka dengan tatapan bingung.

__ADS_1


"Hey! Dasar wanita tidak tahu diri! Mulai sekarang kamarmu tidak disini! Silahkan pakai kamar yang sebelumnya kau tempati!" 


"Baiklah, tapi aku izin dulu ke papa Hamid. Diperbolehkan atau tidak," kata Liana yang justru membuat Alex semakin naik pitam. 


Tiba-tiba Agatha menghampiri mereka. Agatha tampak bingung dengan perkelahian sengit antara Alex dengan gadis biasa itu. 


"Alex, dia siapa?" tanya Agatha yang membuat Alex terlonjak kaget dan terpaksa melepaskan cengkramannya dari lengan Liana. 


"Aku istri sah nya Alex," ucap Liana dengan raut bangganya dan menekan intonasi bicaranya.


"Apa? Alex, kamu menikah dengan wanita seperti ini? Yang benar saja." Bukannya kaget Agatha justru terkekeh seolah mencibir Alex yang telah memilih gadis dibawah standar.


"Sudahlah, dia tidak penting. Lagi pula aku tidak mencintainya." 


Agatha tertawa puas dengan perkataan Alex yang ia rasa sangat menguntungkan untuknya. 


Liana hanya diam, terlalu malas untuk meneruskan obrolan dengan dua orang gila dihadapannya. Ia mengambil satu pakaiannya lalu beranjak pergi dari kamar terkutuk itu.


"Seperti itu wanita yang kamu pilih jadi istrimu?" 


"Namanya juga apes, sudahlah kita lanjutkan permainan panas kita, aku masih belum puas dengan permainan tadi." 


"Baiklah," ucap Agatha tersenyum.


Mereka pun melanjutkan aksi panasnya. Tak peduli suara berisik mereka terdengar dari luar. Sengaja, agar Liana merasa panas dan terganggu dengan suara laknat mereka. 


Liana meringkuk di atas ranjang, niat hati ingin mandi ia urungkan dan lebih memilih meringkuk dan menangis. Sakit rasanya, melihat suami sendiri justru terang-terangan main gila. Memang tidak ada ikatan cinta diantara mereka, tapi setidaknya hargai perasaannya. Ia juga punya hati. 


"Kenapa rasanya sakit sekali?" Cairan bening terus membasahi pipinya. Hatinya sakit, mengetahui kebejatan suaminya. Jika tahu begitu ia pasti menolak perjodohan itu. Ia lebih memilih bertahan di restoran Nyonya Liem meskipun tiap hari ia selalu mendapat kata-kata kasar. 


Tapi apa boleh buat? Ia sudah terlanjur menerima perjodohan itu. Bagaimana bisa ia mengakhiri begitu saja. Tapi bagaimana dengan hatinya? 


Dada Liana terasa sesak, seolah ribuan paku menghujami tubuhnya. Hatinya sakit setiap mendengar suara menjijikkan itu. Alex benar-benar keterlaluan. Terlebih wanita kotor itu yang sama sekali tidak tahu malu.


"Ayah, ibu. Bolehkah aku ikut dengan kalian?" ucapnya lirih.

__ADS_1


Semenjak kepergian kedua orang tuanya, hidupnya benar-benar sengsara. Padahal ia bercita-cita bisa menikah dengan laki-laki yang sosoknya seperti ayahnya. Lembut dan penuh ketulusan, tetapi justru ia mendapatkan suami yang sikapnya diluar dugaannya. 


__ADS_2