
Hamid dan istrinya tiba di restoran. Mereka Pun segera masuk dan mengedarkan pandangan ke meja yang sebelumnya sudah diberitahu oleh Will. Mereka Pun melihat ke arah Will dan keluarganya yang sudah sampai lebih dulu. Lantas Hamid dan istrinya segera berjalan mendekat ke arah meja Will dan keluarganya.
"Selamat datang, Tuan Hamid," sapa Will sembari mengulurkan tangannya.
"Senang bertemu dengan anda, Tuan Will." Hamid segera meraih uluran tangan Will.
Mereka pun saling berjabat tangan dan tersenyum begitu juga dengan istri mereka.
"Oh ya perkenalkan ini putri kami, Clarista." Will pun memperkenalkan putrinya kepada Hamid dan Veronica.
Clarista segera memasang raut ramah dan menjabat tangan Hamid dan Veronica sembari memperkenalkan diri. Padahal dalam hatinya ia sejatinya sangat malas dengan perjodohan ini. Karena yang ia dengar dari orang-orang, Alex Rudiart merupakan playboy terparah sejagat raya. Bahkan sering mencampakkan para wanita dan membuangnya bagaikan sampah setelah puas ia jamah. Clarista juga pernah mendengar jika Alex itu pria tua yang kejam dan tidak laku. Jadi karena cerita itu, Clarista sangat malas dengan perjodohan itu. Ia tidak mau menikah dengan pria tua yang playboy cap kadal. Membayangkannya saja sudah jijik jika ia dijamah.
"Jadi bagaimana?" tanya Hamid untuk memastikan.
"Aku tidak setuju! Aku tidak mau menikah dengan pria tua!" ucap Clarista membuat Will dan istrinya merasa malu.
"Clarista! Jaga bicaramu!" Bentak Will begitu marah dengan kelakuan putrinya yang sangat tidak sopan. Ia benar-benar malu dengan Hamid dan Veronica atas sikap putrinya.
Clarista hanya mendengus kesal, tak peduli dengan kemarahan ayahnya. Ia memang tidak mau menikah dengan pria tua, ia cantik seksi dan pastinya sempurna di hadapan para lelaki, apa kata teman-temannya jika mereka tahu ia menikah dengan pria tua. Sementara para lelaki muda tampan dan berkharisma banyak yang ingin menjadikan ia sebagai kekasihnya.
Namun Hamid mencoba tersenyum, meski sebenarnya merasa kecewa. Ia paham dengan sikap Clarista yang masih dikatakan labil, pastinya sangat berat mengingat usia Clarista dan Alex terpaut sepuluh tahun lebih tua Alex. Terlebih Clarista juga belum pernah melihat Alex jadi wajar jika Clarista menolak perjodohan itu.
"Maaf untuk sikap putri saya, Tuan. Saya tidak bermaksud untuk mengecewakan anda dan istri anda," tutur Will dengan penuh rasa malu. Seolah ia sudah tidak memiliki muka di hadapan Hamid.
"Tidak apa, tidak masalah. Saya memahami itu. Wajar putri anda menolak, dia cantik dan sempurna seperti itu pantas jika harus memilih." Hamid pun memaklumi.
"Saya jadi tak enak hati dengan anda Tuan, Nyonya. Sekali lagi saya minta maaf."
"Tidak apa, jangan merasa bersalah seperti itu," ucap Hamid yang justru merasa tak enak hati.
Setelah itu mereka akhirnya menikmati makanannya yang sudah tersaji di hadapan mereka. Sembari sedikit ngobrol untuk menghilangkan kecanggungan.
Setelah menikmati makan bersama, Will dan istrinya pamit untuk pulang lebih dahulu. Karena ada sesuatu hal yang mendesak sehingga Will memutuskan untuk lebih dulu pamit.
__ADS_1
"Maaf Tuan, Nyonya. Kami izin pulang terlebih dahulu, karena ada kepentingan mendesak yang tidak dapat saya tunda. Terima Kasih untuk jamuan makannya dan sekali lagi kami benar-benar minta maaf atas sikap putri saya," ucap Will kepada Hamid dan Veronica.
"Ya, Tuan Will. Tidak apa," tutur Hamid sembari tersenyum ramah.
Will dan keluarganya pun bergegas pergi meninggalkan Hamid dan Veronica.
"Sepertinya Alex memang tidak akan menikah," ujar Hamid yang sudah merasa frustasi. Berkali-kali ia menjodohkan putranya dengan putri rekan bisnisnya pasti selalu gagal.
"Jangan bicara seperti itu, hanya saja belum bertemu jodohnya," ucap Veronica yang tidak setuju dengan perkataan suaminya.
Namun tiba-tiba pandangan Hamid tak sengaja menatap gadis cantik yang sedang membersihkan meja di sebelahnya, ia merasa tak asing dengan gadis itu.
"Liana," panggilnya ke arah gadis yang sedang membersihkan meja disebelahnya.
"Iya, Tuan. Anda memanggil saya?" tanyanya untuk memastikan, ia memang tidak tahu siapa pria paruh baya itu.
"Kau Liana, kan?"
"Iya, Tuan. Maaf kok anda bisa tau nama saya?" Liana pun mendekat sembari merasa heran. Ia tidak tahu jika pria paruh baya itu ternyata sahabat dekat ayahnya.
"Iya, Tuan," jawabnya sembari tersenyum ramah.
"Apa? Kenapa kau bekerja disini? Apa kau tidak kuliah? Bukankah ayah kamu menginginkan kamu untuk kuliah?" Hamid benar-benar tidak percaya itu. Bagaimana bisa putri sahabatnya bekerja hanya sebagai pelayan restoran, sungguh tidak masuk akal. Sementara sahabatnya memiliki perusahaan yang cukup besar.
Veronica juga sama herannya. Karena ia juga tahu siapa Gio Danuarta.
Liana pun tersenyum, ia tahu jika Hamid pasti merasa heran. Lalu ia menceritakan semuanya apa yang telah terjadi setelah sepeninggal kedua orang tuanya.
Hamid dan Veronica yang mendengar semua apa yang dikatakan Liana pun merasa geram. Ia tahu betapa sulitnya Gio mendirikan perusahaan hingga menjadi perusahaan yang cukup besar. Ia mengetahui bagaimana jatuh bangunnya Gio selama berkecimpung di dunia bisnis. Dan kini ia mendengar kabar jika semua aset sahabatnya itu ludes tanpa sisa. Ia begitu miris dengan semua itu.
"Lalu kamu sekarang tinggal dimana?"
"Di kontrakan, paman," jawabnya.
__ADS_1
"Apa paman boleh berkunjung ke kontrakanmu?"
"Tapi saya sedang bekerja."
"Memangnya pulang jam berapa?" Timpal Veronica.
"Jam sembilan malam."
Seketika Hamid dan Veronica kaget. Bagaimana bisa Liana kerja sampai selarut itu.
"Apa? Selarut itu?" Liana pun mengangguk.
Namun tiba-tiba sang pemilik restoran datang menghampiri mereka, lebih tepatnya menghampiri Liana yang ia lihat sedari tadi justru berbincang seolah lupa dengan pekerjaannya.
"Liana! Apa kau sudah bosan bekerja!" Bentak Nyonya Liem yang tanpa sungkan memarahi Liana di depan Hamid dan Veronica serta pengunjung lainnya.
"Maaf, Nyonya Liem," sahutnya dengan menundukkan pandangan.
"Maaf, Nyonya. Saya yang memulai. Jangan salahkan Liana," timpal Hamid yang merasa tak enak kepada Liana. Karenanya Liana jadi mendapatkan amarah dari bosnya.
"Maaf, Tuan. Gadis ini memang sering melakukan kesalahan, jadi maklum jika saya memarahinya," ucap Nyonya Liem kepada Hamid.
"Dengan cara mempermalukan seperti ini?" Hamid yang semula sedikit tenang, kini menjadi terpancing emosi.
"Bu… bukan begitu." Nyonya Liem pun menjadi gugup. Ia memang sengaja mempermalukan Liana karena entah kenapa ia tidak menyukai gadis itu.
"Liana! Ikut paman sekarang juga, dan jangan lagi bekerja di restoran yang jauh dari standar seperti ini! Paman akan memberikan pekerjaan yang berkali lipat jauh lebih baik dari ini. Ayo bereskan barang kamu, kita pergi sekarang."
"Tapi, paman," ucap Liana yang merasa keberatan.
"Disini kamu buang-buang waktu. Jadi ayo ikut paman sekarang!"
"Tapi, Tuan. Saya tadi hanya ingin membuat Liana sedikit merasa bertanggung jawab atas pekerjaannya. Jadi saya mohon maaf jika sikap saya keterlaluan," ucap Nyonya Liem yang pura-pura merasa bersalah, padahal dalam hati ia bersorak jika Liana tidak lagi bekerja di restoran miliknya. Dengan begitu ia bisa mendekatkan putrinya dengan Leon yang ia tahu selama ini jika Leon justru menyukai Liana.
__ADS_1
"Ayo Liana ikut paman sekarang juga, disini kamu hanya akan selalu disalahkan."
Dengan berat hati Liana mengangguk dan mengikuti ajakan Hamid.