Terjebak Ikatan Pernikahan

Terjebak Ikatan Pernikahan
Sah


__ADS_3

"Kau sudah pulang? Ganti baju lalu ikut makan malam sini," ucap Hamid kepada putra semata wayangnya.


"Ck… ya," jawab Alex yang sebenarnya merasa malas. Ia terpaksa harus ikut makan malam di meja makan yang tidak pernah ia lakukan selama orang tuanya tidak ada di rumah.


Alex segera menuju lift untuk ke lantai atas, ia sama sekali tak memperhatikan jika ada Liana di meja makan. 


Sementara Liana terlihat kagum ketika pertama kali melihat sosok Alex yang ternyata begitu tampan. Padahal ia mengira jika Alex itu sudah tua dan wajahnya tidak setampan itu, pikirnya. Bagaimana bisa pria setampan itu tidak laku? 


"Liana, pria yang baru saja memasuki lift itu Alex. Dia yang akan menjadi suamimu. Ya, dia memang seperti itu. Irit bicara, dingin, dan juga ketus. Itu memang sifatnya. Paman harap kamu tidak pernah tersinggung, ya. Karena memang sifatnya memang seperti itu. Dan paman juga berharap kamu bisa merubah Alex menjadi lebih baik, kamu wanita baik. Paman percaya sama kamu," tutur Hamid sembari tersenyum.


Liana tak bisa menjawab apapun selain mengangguk. Ia justru tidak yakin jika Alex akan menerima perjodohan itu. Lihat saja, Alex begitu tampan sementara dirinya hanya wanita yang berpenampilan biasa. Jika bersanding mungkin terasa jomplang, pikirnya.


Tak berselang lama, Alex datang dan bergabung di meja makan. Ia terlihat melirik sekilas ke arah Liana, dan membuatnya mengerutkan kening. Namun ia tak peduli kemudian sibuk menatap piring yang sedang diisi nasi dan berbagai menu lainnya oleh Veronica sang ibu tiri.


"Dia Liana, dia akan menjadi istrimu sebentar lagi." Ucapan Hamid bak sambaran petir. Alex bahkan tak pernah mengenal gadis itu. 


Alex hanya diam dan lebih memilih untuk memakan makanannya. Ia tak peduli dengan segala celotehan papanya. 


"Papa harap kali ini kau setuju dan tidak ada bantahan!" ucap Hamid yang terkesan memaksa. Ia sudah sangat frustasi mencarikan jodoh untuk Alex. Dan kali ini ia tidak mau Alex membantah dan menolaknya.


Alex tetap diam dan menikmati makanannya. Hal itu membuat Hamid geram dan merasa diabaikan.


"Kau dengar atau tidak!" bentak Hamid yang merasa emosinya telah menjalar.


"Hm.. tapi ada syaratnya." Alex kini mulai berbicara tanpa menatap Hamid, ia tetap sibuk dengan makanannya.


"Katakan." 


"Aku tidak mau pernikahan ini diketahui oleh siapapun. Dan pernikahan ini harus tertutup. Jangan sampai orang lain tahu apalagi media tahu." 


"Baik. Yang penting kau menikah," kata Hamid yang menyetujui syarat Alex. Baginya itu tak masalah. Yang terpenting putranya mau menikah. Ia merasa benar-benar lega.


Veronica pun ikut lega rasanya. Ia jadi tak pusing mencarikan jodoh lagi untuk putra sambungnya.


Sementara Liana, ia sedikit kecewa dengan hal itu. Ia merasa jika Alex malu memiliki istri seperti dirinya.  

__ADS_1


"Aku sudah selesai, aku ke kamar dulu," ucap Alex yang langsung bergegas pergi dari meja makan. 


Liana menatap kepergian Alex yang terlihat sangat dingin. Apa iya, ia akan menikah dengan pria seperti itu?


"Nah, Liana. Karena Alex sudah setuju, mungkin pernikahan kalian akan dilaksanakan dalam minggu-minggu ini. Kau tidak keberatan, kan?"


"Tidak, paman." Liana tersenyum setuju. Tapi batinnya menggeliat, rasanya begitu berat untuk menjalani pernikahan tanpa cinta. Apa iya ini keputusan yang baik?


*** 


Seminggu kemudian, pernikahan itu digelar. Tidak ada pesta mewah. Pernikahan itu digelar secara tertutup. Dan hanya dihadiri oleh keluarga inti saja. 


Pernikahan itu berlangsung secara khidmat. Alex telah mengucapkan ikrar pernikahan. Kini mereka telah resmi menikah. Hamid merasa terharu. Ia terlihat sesekali menyeka air mata yang tampak lolos dari kelopaknya. Ia benar-benar lega akhirnya Alex kini telah menikah. 


Acara itu tidak berlangsung lama, setelah mereka sah dan selesai menandatangani buku nikah, tiba-tiba saja Alex berlalu pergi begitu saja. 


Hamid langsung mengejar Alex yang tiba-tiba saja pergi. 


"Alex. Hey.. tunggu! Kau mau kemana!" 


Hamid seketika menampar keras pipi Alex. Alex hanya diam menatap Hamid dengan tatapan kesal.


"Kau pergi begitu saja? Meninggalkan acara tanpa sopan! Dimana akalmu!" Hamid pun marah besar dengan kelakuan Alex yang dirasa tidak pantas.


"Lagian semua sudah beres. Aku ada urusan!" 


Alex berlalu begitu saja meninggalkan Hamid yang masih mengepalkan kedua tangannya.


"Dasar anak kurang ajar!" gerutu Hamid sembari meremas jemari tangannya.


Hamid lalu kembali ke acara yang masih berlangsung dengan hati yang diliputi oleh emosi. 


Tampaknya Liana juga merasa kecewa atas sikap Alex yang tiba-tiba pergi begitu saja. Namun ia mencoba untuk tetap tersenyum dan baik-baik saja. 


Di malam harinya, Liana duduk seorang diri dikamar Alex. Semenjak menikah ia pindah ke kamar yang ditempati oleh Alex. Tetapi hingga larut malam Alex tak kunjung kembali. Hal  itu membuat Liana tampak sedih. Ternyata Alex sama sekali tak menyukai pernikahannya.

__ADS_1


Liana akhirnya terlelap dengan sendirinya. Ia meringkuk dengan air mata yang telah mengering di pipinya.


Hingga pagi harinya, Liana terbangun dan netranya langsung menyisir ke seluruh kamarnya, tetapi tidak ada tanda-tanda Alex telah kembali. Ia benar-benar sedih, pernikahan yang harusnya membahagiakan tetapi justru sangat menyakitkan. 


Ia bangun dan segera ke kamar mandi, membersihkan wajahnya yang nampak sayu dan mata yang sembab akibat menangis semalaman. 


Setelah itu ia segera turun ke bawah untuk membantu ibu mertuanya menyiapkan sarapan. 


"Liana, bagaimana tidurmu? Nyenyak? Apa Alex sudah kembali?" tanya Veronica dengan senyum ramahnya. 


"Nyenyak, ma. Sudah kok, tapi dia sudah berangkat kerja pagi tadi. Katanya ada hal penting di kantor," jawab Liana yang terpaksa bohong. 


"Ck, anak itu. Ya sudah, jangan masukin hati ya. Alex memang suka seperti itu." 


"Iya, ma." 


"Ya, sudah. Ayo kita sarapan. Semua sudah siap, biar bi Ayun yang membawa makanannya ke meja makan. Kamu tunggu di meja makan saja." 


"Tapi, ma." Liana sebenarnya ingin membantu. 


"Sudah, tunggu saja disana. Ini bukan pekerjaan kamu." 


Liana pun terpaksa menurut. Disana sudah ada Hamid yang duduk sembari sibuk dengan ponselnya. Liana pun duduk di meja makan dengan perasaan canggung.


"Eh Liana. Bagaimana? Apa Alex sudah pulang?" tanya Hamid. 


"Sudah pa, tadi malam dia pulang. Tapi sudah pergi lagi pagi tadi, katanya ada hal penting di kantor." Liana terpaksa kembali berbohong.


"Ck dasar. Sepertinya kamu harus sering-sering bersabar ya, Liana. Alex memang suka keterlaluan. Papa saja suka pusing dengan kelakuannya." 


"Iya, pa." Liana terpaksa mengangguk. Padahal hatinya entah bagaimana perasaannya. 


"Oh iya, nanti sore papa sama mama harus kembali lagi ke Amerika. Pekerjaan papa sudah menumpuk jadi terpaksa harus kembali kesana. Jaga diri baik-baik ya. Papa harap hubungan kamu sama Alex bisa semakin akrab. Papa nggak sabar pengen menimang cucu." tutur Hamid sembari terkekeh. Ia kembali ke Amerika bukan karena pekerjaan, tetapi hanya ingin agar Alex bisa lebih intens berhubungan dengan Liana tanpa ada pengganggu.


Liana justru merasa keberatan jika Hamid dan Veronica pergi meninggalkannya, tetapi tidak mungkin juga ia melarang mertuanya kembali ke Amerika. Ia terlaksa mengiyakannya.  

__ADS_1


__ADS_2