Terjebak Ikatan Pernikahan

Terjebak Ikatan Pernikahan
Terpaksa


__ADS_3

Liana kini ikut bersama Hamid dan Veronica. Lagi pula jika ia masih bertahan di restoran milik Nyonya Liem, ia hanya menguras tenaga serta menguras waktu. 12 jam bekerja namun gaji tidak sesuai. Bahkan ia sering minus di setiap bulannya. Maka dari itu ia mengiyakan ajakan sahabat ayahnya itu. 


Terlebih Hamid ingin melihat bagaimana kehidupan putri sahabatnya itu, melihat dari segi penampilan yang jauh dari yang pernah ia lihat dulu meski kini masih cantik tetap saja terlihat kasihan. Apalagi sejak tahu jika Liana kini bekerja di restoran seperti itu, rasanya miris sekali, meskipun tidak ada yang salah bekerja di restoran itu.


Kini sampailah mereka di gang sempit yang terlihat sangat kumuh, bahkan bau got pun juga tercium di sepanjang jalan masuk menuju kontrakan Liana. Hamid begitu miris melihatnya. Tak bisa bayangkan bagaimana kondisi kontrakan Liana. 


Dan tak lama kemudian mereka sampai di kontrakan Liana. Hamid begitu tersentuh dan hampir meneteskan air matanya, bagaimana bisa putri sahabatnya tinggal di kontrakan seperti ini. Ia benar-benar menyesal, kenapa tidak dari awal ia mengetahuinya.


"Mari Paman, Bibi. Silahkan masuk, ini kontrakan saya," kata Liana dengan senyum sumringahnya.


Hamid dan Veronica pun melangkah masuk ke dalam kontrakan Liana. Netranya tak henti menyisir ke setiap sudut ruangan. Bau, kotor, pengap sungguh mereka benar-benar prihatin dengan kondisi kontrakan seperti itu. Bagaimana bisa Liana tinggal di kontrakan yang sangat kecil, bau dan kotor. Bahkan ruang tamunya hanya beralas tikar yang sudah kumuh. 


"Kau betah tinggal di kontrakan seperti ini nak?" Tanya Hamid dengan mata yang berkaca-kaca. 


"Ya, betah tidak betah, Paman. Uangku juga pas-pasan, tidak mungkin kan jika harus mencari kontrakan yang bagus dan layak? Nanti makanku bagaimana?" jawabnya sembari tersenyum.


"Kamu bisa melamar ke perusahaan Paman." kata Hamid.


"Terimakasih, Paman. Tapi apa tidak merepotkan?" 


"Selama itu kamu, Paman tidak pernah merasa direpotkan. Justru jika Paman tidak membantumu maka Paman pasti akan merasa bersalah sekali dengan ayahmu." 


"Terimakasih atas kebaikan Paman," ujarnya dengan senyum yang tidak pernah luntur.


"Apa kamu juga bersedia menikah dengan putra kami?" tanya Veronica tiba-tiba, yang mana hal itu membuat Hamid kaget dan tak enak hati kepada Liana yang belum tentu menerima. Karena itu sangat mendadak dan yang pasti membuat Liana menjadi canggung.


Liana yang sedari tadi tampak tersenyum kini menjadi diam sejenak.


"Maaf, habisnya kamu sangat cantik. Bibi jadi pengen menjadikan kamu menantu," ucapnya yang mendadak sungkan. 


"Maafkan Bibimu ini ya, Liana. Dia memang suka bercanda seperti itu." Hamid seolah tahu perasaan Liana. 

__ADS_1


"Tidak apa, Paman, Bibi," jawabnya tersenyum canggung. Ia benar-benar malu dan bingung harus menjawab apa.


"Tapi memang Paman ini memiliki putra, akan tetapi dia kolot tidak mau menikah, Paman sampai pusing. Bahkan Paman sama Bibi sudah berkali-kali menjodohkannya namun tetap saja selalu gagal. Mungkin takdirnya memang tidak akan pernah menikah," ucap Hamid yang tiba-tiba menceritakan tentang Alex.


"Mungkin saja memang belum bertemu dengan jodohnya, Paman." Kini Liana kembali tersenyum.


"Tapi sampai sejauh ini dia sama sekali tidak pernah menjalin hubungan serius. Paman sampai heran." 


Liana hanya tersenyum menanggapinya.


"Apa kamu mau jika Paman jodohkan dengan putra Paman?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja. Ia seolah sudah buntu dalam mencarikan jodoh untuk Alex.


"Apa dia juga akan menyukai saya, Paman?" 


Tak di sangka jawaban Liana diluar dugaan, seketika Hamid dan Veronica tersenyum.


"Pasti dia akan menyukaimu, tapi apa kamu akan menerimanya?" 


"Saya tergantung putra Paman," jawab Liana yang merasa sedikit canggung mengatakan hal itu.


Liana lalu tersenyum, berharap keputusannya tidak salah. 


"Kalau begitu kamu tidak perlu bekerja, mulai hari ini kamu bisa ikut dengan kami. Lalu kita bahas tanggal pernikahannya secepatnya." 


"Tapi, Paman. Kenapa saya tidak perlu bekerja?" 


"Kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami, tidak mungkin kami mempekerjakan calon menantu kami." 


"Iya, Liana. Lebih baik kamu bereskan semua barang-barang kamu. Dan ikut bersama kami," timpal Veronica yang terlihat sangat antusias.


Liana pun mengangguk. Lalu ia berdiri dan beranjak ke kamarnya untuk membereskan semua barang-barangnya yang akan ia bawa. Sebenarnya Liana sangat merasa tidak enak. Namun bagaimana lagi jika sahabat ayahnya itu memaksa, ia tidak ingin mengecewakan kebaikannya. Meski ia tidak tahu kedepannya akan seperti apa. 

__ADS_1


Setelah selesai ia segera menghampiri Hamid dan Veronica sembari menenteng tas besar yang berisi pakaiannya. 


"Yuk berangkat sekarang," tukas Hamid.


Liana pun mengangguk. Mereka keluar lalu menuju ke mobil.


Betapa bahagianya Hamid dan Veronica saat ini. Akhirnya impian mereka akan segera terwujud, menyaksikan putra semata wayangnya menikah. Apalagi dengan wanita yang lembut dan baik seperti Liana. 


Mobil pun melaju, meninggalkan kontrakan yang sangat tidak layak dimata Hamid dan Veronica. 


Setelah menempuh kurang lebih setengah jam akhirnya mereka sampai di kediaman Hamid.


Mereka pun turun. Sementara tas milik Liana di bawa oleh sang supir. Dan mereka masuk ke dalam.


"Liana ikut bibimu, dia yang akan memberitahu dimana letak kamarmu," ucap Hamid sembari tersenyum.


Liana pun mengangguk lalu mengikuti langkah Veronica. Mereka naik menggunakan lift. Liana tak begitu merasa takjub karena ia dulu juga pernah merasakannya saat berada di kediamannya yang kini hanya tinggal kenangan.


Dan akhirnya mereka sampai di kamar yang akan ditempati oleh Liana. Entah memang  disengaja atau tidak, kamar Liana berada di depan kamar Alex. Kamar mereka saling berhadapan. Namun Liana tidak mengetahui itu.


"Ini kamarmu, semoga kau suka dan betah tinggal disini ya?" ucap Verenica sembari tersenyum.


"Terimakasih, bibi." 


"Sama-sama, kalau begitu bibi tinggal dulu ya? Nanti kalau perlu apapun bisa cari bibi atau paman dibawah. Atau kalau tidak kamu bisa minta bantuan ke Alex, kamarnya ada di depan kamar kamu." 


Liana pun kaget mendengar hal itu. Jadi ia dan Alex kamarnya saling berhadapan. 


"Baik, bibi," sahutnya seraya tersenyum manis. 


"Bibi ke bawah dulu kalau begitu." 

__ADS_1


Liana pun mengangguk. Setelah Veronica keluar, Liana langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang. Ia lalu menatap langit-langit kamar. Berharap kedepannya hidupnya jauh lebih baik. 


Namun ia sedikit takut juga jika keputusannya salah, bagaimana jika Alex justru tidak menyukainya dan tidak menerimanya. Karena selama ini mereka tidak saling kenal, bahkan bertemupun belum pernah. Ia tak yakin jika Alex langsung menerimanya. Ia pula juga tak yakin jika ia juga menyukai Alex, pria yang belum pernah ia temui, melihat fotonya saja juga belum pernah. Ia menerima perjodohan itu lantaran hanya karena merasa kasihan terhadap Hamid yang sangat menginginkan putranya menikah. Namun ia juga tidak tahu dalam pernikahannya nanti apakah hidupnya bakal lebih baik atau justru menyengsarakan hatinya. 


__ADS_2