Terjebak Ranjang Calon Mertua

Terjebak Ranjang Calon Mertua
Pendahuluan


__ADS_3

Dalam sebuah kamar hotel yang hari ini di sulap menjadi kamar pengantin bagi Celia. Dari selesai sholat subuh Ia dirias oleh make-up artis, Celia sudah siap menjadi ratu untuk hari ini. Ia juga sangat gembira akhirnya hari pernikahan telah tiba dengan sang kekasih setelah dua tahun berpacaran.


Riko melamarnya sebulan yang lalu, pria itu juga telah mempersiapkan seluruh kebutuhan acara pernikahan mereka. Ia juga meminta Celia untuk resign dari pekerjaan, karena sudah berjanji bertanggung jawab penuh setelah Celia menikah dengannya.


Sebagai gadis yang hidup merantau dan sebatang kara, tanpa berpikir dua kali Celia menyetujui persyaratan dari Riko. Baginya adalah sebuah keberuntungan mendapatkan Riko yang notabenenya adalah anak seorang pengusaha.


Sedangkan Celia hanyalah anak tunggal dari buruh tani. Saat ia sedang menghadapi ujian sekolah menengah atas, kejadian naas menimpa kedua orang tuanya. Ketika itu orang tua Celia ingin berkunjung ke rumah kakek dan nenek yang ada di pulau seberang. Namun maut tidak bisa di hindarkan, mereka meninggal akibat bus yang di tumpangi kecelakaan masuk ke dalam jurang.


Acara pemakaman menjadi duka cita mendalam bagi Celia. Tidak ada sanak saudara yang tinggal satu daerah dengannya, karena orang tua Celia tinggal di sana sebagai perantauan. Hal tersebut menjadi sakin berat bagi Celia.


Sebulan selesai ujian, Celia memutuskan menjual rumah dan tanah peninggalan kedua orang tua. Dari uang tersebut Celia berniat akan melanjutkan sekolah ke jenjang universitas seperti cita-cita kedua orang tuanya.


Celia sangat menghemat uang hasil penjualan rumah mereka. Sering kali ia bekerja freelance agar uang yang ia miliki tidak berkurang. Kadang juga Celia membantu ibu kantin saat jam kosong mata kuliah, dari sana ia bisa mendapatkan makanan untuk sore dan malam hari.


Berkat kerja kerasnya, Celia bisa menyelesaikan perkuliahan dengan nilai cumlaude. Ia langsung di terima di salah satu perusahaan ternama. Mendapat posisi yang cukup bagus, membuat Celia sedikit melupakan kenangan pahit yang telah ia lalui.


Bisa sedikit bangga karena cita-cita mendiang ayah ibu telah ia wujudkan. Menjadi marketing manager sudah cukup bagi Celia yang fresh graduate. Gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.


Bertemu dengan Riko ketika Celia mengajukan permohonan kerja sama. Celia ke kantor pengusaha muda tersebut agar mereka mau menanam saham sebagai investasi. Dari pertemuan itulah Celia lebih dekat dengan Riko Digantara, putra pengusaha tambang Egan Digantara.


Tidak terasa bulir bening jatuh dari sudut mata Celia. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. "Semoga derita ini segera berakhir ya Allah." Gumam Celia.


Gadis itu membuka ponsel miliknya, melihat sudah pukul berapa sekarang. Pukul 8.00 waktu setempat, seharusnya Riko sudah menemuinya saat ini. Undangan juga sudah berdatangan di luar sana. Celia mencoba bertanya kepada wanita yang sedang meriasnya.

__ADS_1


"Mbak, minta tolong lihat di luar. Apa tamu sudah berdatangan?" Celia memandang wajah wanita yang sedang memasangkan gelang di tangannya tersebut.


"Sebentar ya Non." Wanita bernama Eni tersebut berlalu turun ke bawa.


Memandangi detik demi detik dan menit berganti, Celia berharap Riko segera datang agar rasa khawatirnya hilang. Sekitar lima menit kemudian Eni kembali menemui Celia.


"Dibawah sudah rame Non." Setelah pintu kamar terbuka. Celia menanggapi Eni dengan anggukan kecil.


Satu jam telah berlalu, namun Riko belum juga menampakkan batang hidungnya. Perasaan Celia sudah tidak karuan, ia tidak lagi menghiraukan make up di wajahnya. Menangis itulah yang bisa ia lakukan untuk saat ini.


Keadaan harus memaksa Celia menunggu lebih lama lagi. Jika tidak ada orang di luar sana, mungkin Celia akan berlari sejauh mungkin untuk menghindari kenyataan ini.


Ditinggalkan kedua orang tua sekaligus sudah membuat Celia menjadi rapuh. Apalagi sekarang Riko tidak datang saat jam akad pernikahan seharusnya berlangsung, membuat tubuh Celia terasa remuk.


Saat sedang meratapi nasib buruk yang telah menimpanya. Tiba-tiba dari luar pintu di ketuk oleh seseorang, Eni beranjak dari duduknya spontan membukakan pintu sebelum di minta oleh Celia.


"Sudah selesai?"


"Sudah Tuan." Jawab Eni.


"Silahkan keluar sebentar, ada yang ingin saya bicarakan dengan calon pengantin perempuan." Pria itu berkata dengan sorot mata tajam.


"Baik Tuan." Eni langsung keluar dari kamar rias Celia.

__ADS_1


Mendengar ada orang asing ingin bicara dengannya, Celia sedikit terkejut. Namun kemudian ia berusaha membuat detak jantungnya kembali normal sebisa mungkin.


"Acelia Gretty." Pria itu menyebut nama lengkap Celia.


Panggilan membuat Celia mendongakkan kepalanya. Mata yang sudah sembab tidak bisa lagi ia sembunyikan. Ia tidak mengenal pria yang sedang berada di depannya sekarang, tapi tentu saja keluarga keluarga dari pihak calon suami. Karena dirinya tidak memiliki satu orang keluarga pun di sini.


"Sudah beberapa kali Riko saya hubungi, namun nomornya tidak aktif. Sudah saya hubungi juga mamanya tapi hasilnya sama saja." Kata Pria bertubuh tegap tersebut.


Celia menangis sejadi-jadinya, ia tidak menyangka pernikahan yang ia dambakan akan berakhir satu jam sebelum acara di akad mulai. Ia tidak punya seseorang untuk berbagi kesedihan, jika tidak ingat dosa rasanya ingin segera meninggalkan dunia yang fana ini secepat mungkin.


"Kamu yang sabar ya." Laki-laki tersebut memberikan sapu tangan untuk Celia.


Begitu beratnya penderitaan yang ia alami, membuat diri Celia terguncang. Pemahamannya sedikit tentang agama membuat ia bertahan dengan kewarasan dalam jiwa yang remuk.


Setelah memberikan sapu tangan untuk Celia. Pria tersebut duduk di samping Celia di pinggir ranjang. Entah setan apa yang merasuki dirinya, Celia memeluk laki-laki asing di sampingnya.


Dari gesturnya yang tidak nyaman, pria tersebut sebenarnya ingin melepaskan tangan Celia yang melingkar erat di tubuhnya. Namun rasa kasihan membuatnya tidak tega.


Tanpa terduga Celia berdiri, lalu meraih bibir pria tersebut dengan miliknya. Menjatuhkan pria asing itu ke ranjang pengantin yang seharusnya menjadi kebahagian Celia bersama Riko.


Celia tidur melepaskan ciumannya, sampai pria tersebut sedikit batuk. Barulah Celia melepaskan perpaduan mereka. Pria asing itu bangun dan memperbaiki bajunya yang lusuh ulah Celia.


"Saya Egan Digantara, ayah dari Riko Digantara. Sebaiknya kamu lupakan kejadian tadi." Ucap Egan setelah berdiri.

__ADS_1


Walaupun dia tahun Riko menjalin dengan Celia, kekasihnya tidak pernah menceritakan tentang ayah. Apalagi mengajak Celia bertemu dengan ayahnya. Hanya sang mama yang pernah dua kali bertemu dengan Celia, sebelum mereka memutuskan untuk menikah.


"Maaf Pak, tapi Celia ingin Bapak bertanggung jawab atas hal ini. Bagaimana pun caranya. Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi." Celia mencurahkan isi hatinya bersamaan dengan air mata yang ikut tertumpah.


__ADS_2