Terjebak Ranjang Calon Mertua

Terjebak Ranjang Calon Mertua
Nanti Saya Buktikan!


__ADS_3

"Berani-beraninya papa bilang mama begitu, demi perempuan tidak tau diri ini!" Jawab Riko dengan nada emosi.


Egan menarik napas dalam dan berusaha tenang. Tidak penting juga baginya untuk berdebat dengan anak manja seperti Riko.


Pria itu menggenggam tangan Celia ingin masuk menuju tempat duduk yang telah di pesannya. Hal yang tidak terduga terjadi, Riko tiba-tiba memukul bagian belakang Egan sehingga pria itu nampak sempoyongan.


Celia yang menjerit ketakutan mengundang pelayan dan tamu kafe yang berdatangan melerai. Sedangkan wanita yang bersama Riko memeluk lelaki tersebut tanpa rasa malu sedikitpun. Seolah mengatakan dia adalah wanita yang telah memenangkan hatinya Riko.


Setelah di lerai, beberapa orang ingin melaporkan Riko ke pihak yang berwajib. Mereka memang tidak mengenal Riko sebagai putra dari keluarga Digantara pemilik perusahaan tambang batu bara terbesar. Apalagi semua orang tau kalau sang pemilik perusahaan tersebut belum memiliki penerus.


"Pak, biarkan kami menelepon polisi agar orang ini di berikan sanksi." Kata manager kafe tersebut.


"Tidak usah, dia tidak tau apa yang sedang dia perbuat pada saya. Nanti saya akan buktikan dan kamu akan malu sendiri dengan perbuatan wanita yang telah melahirkan mu itu! Pergilah sebelum saya berubah pikiran!" Ucap sorang Egan Digantara.


Riko membenarkan jasnya yang sedikit kusut. Kemudian pria tersebut pergi keluar dari kafe. Sedangkan wanita yang bersamanya mengikuti dari belakang.


Celia memandang kedua orang yang berjalan keluar menjauhi mereka yang masih berdiri. Celia benar-benar tidak mengerti tentang keluarga dari mantan kekasihnya ini. "Bagaimana Riko tidak bisa membela ibunya di hadapan sang ayah? Apa yang telah di lakukan wanita tersebut sehingga calon mertuanya sangat marah terhadap sang istri?" Membuat Celia bertanya-tanya dalam hati.


Celia tidak ingin pusing dengan permasalahan mereka. Tujuannya tetap lah satu membuat Riko merasakan sakit hati seperti perlakuannya di hari pernikahan mereka. Hari itu membuat Celia hampir putus asa, hari itu juga telah mengubah seorang Celia yang sebelumnya berusaha menjadi yang terbaik.


Namun ketika ia menjadi gadis yang baik, apa yang ia dapatkan hanyalah duka dan kekecewaan. Ia merasa Sang Pencipta sangat tidak adil waktu itu. Jika menjadi yang tidak baik saja bisa mendapatkan yang terbaik, kenapa harus menumpahkan air mata. Celia benar-benar tidak bisa berpikir jernih.


"Kenapa ngelamun? Ayo kita masuk." Ajak Egan Digantara.


"Kita keluar aja om, Celi udah nggak mood di sini." Ucap Celia.


"Kamu nggak marah kan sama om, gara-gara tadi? Atau kamu masih kecewa sama Riko?" Ucap Egan sambil mengelus rambut Celia.


"Hm, sebenarnya sih Celi sakit hati dengan Riko. Tapi mungkin inilah jalan hidup, Celi akan berusaha ikhlas." Jawab Celia menunduk.

__ADS_1


Air matanya seakan ingin tumpah saat itu juga, namun hatinya memaksakan untuk kuat dan tegar. Cukup di hari pernikahan yang gagal kemarin Celia membuang air matanya untuk laki-laki brengsek itu. Memandang Celia saja tidak Riko lakukan saat mereka bertemu tadi.


Pria itu terlihat menyerahkan sebuah kartu kepada seorang karyawan yang kebetulan sedang berada di dekat mereka. Egan membayar kursi dan makanan yang telah di pesan walau tidak jadi mereka nikmati. Tidak beberapa lama karyawan itu kembali menyerahkan kartu tersebut kepada Egan. Pria tersebut hanya tersenyum sedikit setelah menerima kartu tersebut tanpa mengucapkan satu kata apapun.


"Sudahlah sayang, kan sudah ada om." Jawab Egan membawa Celia ke dalam mobil mereka.


"Tapi bagaimana dengan Riko om? Apa dia tidak akan melaporkan om dengan ibunya?" Tanya Celia ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Tidak usah khawatir, om akan selesaikan masalah ini secepatnya. Kamu mau kan temani om tiap waktu, agar om nggak kesepian." Ujar Egan dengan senyum yang sulit di artikan.


"Terimakasih om, sudah baik pada Celi." Ucap Celia membalas senyum Egan Digantara.


Egan dengan cepat mencium pucuk kepala Celia yang duduk di samping dirinya. Pria itu kemudian melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Egan tidak tau ingin membawa Celia kemana untuk menenangkan hati gadis tersebut.


"Kita kemana sayang?" Tanya Egan melirik Celia.


"Pulang aja om." Jawab Celia dengan acuh.


"Yah udah terserah om aja." Jawab Celia.


"Gimana kalau malam ini kita nginap di hotel aja sayang? Biar lebih fresh, iya kan?" Egan memberikan pilihan lainnya.


"Terserah om aja." Jawab Celia.


Melihat Celia merajuk, Egan ingin memberikan suprise kepada wanita yang bersamanya saat ini. Pria itu membawa Celia ke sebuah toko perhiasan terbesar yang ada di kota tersebut.


Ia memarkirkan kendaraan tepat di depan toko. Tidak lupa Egan membukakan pintu mobil untuk Celia. Lalu membawanya masuk kedalam toko perhiasan.


"Mbak, ada set perhiasan yang liontin dan mata cincinnya diamond asli?" Tanya Egan kepada karyawan yang melayani mereka.

__ADS_1


"Ini Tuan, model terbaru dari kami. Silahkan lihat-lihat dulu siapa tau cocok dengan istri tuan." Kata karyawan tersebut.


Ia menyerahkan beberapa model perhiasan dengan diamond asli. Egan melirik ke arah Celia yang masih berdiri mematung, Egan ingin Celia sendiri yang memilih.


"Kamu suka yang mana sayang?" Tanya Egan sambil tersenyum.


"Celi kalung nya yang ini aja, nggak usah satu set."Jawab Celia sambil menunjuk satu kalung yang masih berada di dalam etalase toko.


"Boleh sayang, tolong saya mau yang ini mbak. Sekalian yang ini satu set tolong lengkap dengan kotaknya ya." Ucap Egan.


Setelah pelayan itu mengeluarkan kalung yang di minta oleh Celia. Egan perlahan memasangkan kalung tersebut di leher wanita itu. Egan memperbaiki liontinnya hingga terlihat pas oleh nya yang sedang berdiri tegap di depan Celia.


"Kamu sangat cantik sayang." Ucap Egan.


"Terimakasih om." Jawab Celia.


Mendengar panggilan Celia kepada Egan membuat beberapa karyawan di toko tersebut menoleh ke arah mereka. Pelayan yang sudah menyiapkan set perhiasan tadi di dalam kotak berbentuk persegi empat berwarna merah, kemudian di masukan lagi kedalam kotak transparan.


Setelah siap baru pelayan tersebut memasukan kedalam paper bag berukuran sedang. Wanita tersebut memperlihatkan surat dan tanda keaslian dari barang yang mereka beli. Sesudah membayar Egan membawa Celia masuk kembali kedalam mobil.


"Kamu senang nggak sayang?" Tanya Egan.


"Iya, terimakasih ya om." Jawab Celia.


"Lain kali jangan panggil om dong. Panggil Mas aja. Nggak mau kan di lihat orang kayak tadi?" Tanya Egan melirik Celia.


"Iya mas." Jawab Celia.


"Nah kan lebih cocok gitu. Kita ke hotel langsung ya sekarang." Kata Egan kemudian.

__ADS_1


Pria itu melajukan mobilnya menuju sebuah hotel terkenal di kota tersebut. Rencananya mereka akan menginap di sana selama satu minggu. Menikmati hari-hari yang di dalam keluarga Egan sudah seperti neraka.


__ADS_2