
Seorang wanita dengan dandanan elegan dengan menggunakan make up tebal dan lipstik merah menyala. Wanita tersebut menelisik Celia dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu sedikit bibirnya mencebik.
Mendapatkan pandai seperti itu, Celia merasa wanita ini kurang menyukainya. Namun Celia memantapkan hati bahwa ia bekerja untuk Tuan Egan bukan orang lain. Sehingga membuat Celia percaya diri.
"Kamu siapa? Gundiknya Egan?" Selidik wanita tersebut sinis.
Tanpa menjawab pertanyaan dari wanita tersebut, Celia berlalu dengan langkah gontai. Hal tersebut rupanya membuat hati Emilia kesal, mendapat perlakuan tidak baik dari orang di rumah suaminya sendiri. Dengan sigap wanita itu mencekal pergelangan tangan Celia dengan kuat.
"Mau ke mana kamu, tidak sopan di rumah orang!" Bentak Emilia.
"Mau ke dapur." Celia menjawab singkat.
"Oh, pembantu baru berlagak bos sekarang ya? Kamu tuh yang sopan sama saya, karena di rumah ini saya adalah nyonya kamu." Celoteh Emilia dengan emosi.
Celia tertegun mendengar pernyataan dari wanita di hadapannya sekarang. "Kalau wanita ini adalah istri dari Tuan Egan, berarti beliau adalah mamanya Riko? Kemarin perasaan bukan wanita ini yang di perkenalkan oleh Riko sebagai mamanya." Celia hanya bisa terdiam dan membatin.
Bukan karena ia takut dengan perlakuan sinis, bagi Celia itu sudah biasa. Namun Celia merasa aneh tentang orang tua Riko yang sebenarnya. "Apa mungkin mamanya Riko sudah bercerai dengan Tuan Egan? Dan wanita ini adalah istri barunya?" Celia belum bisa menjawab semua pertanyaan yang berkecamuk dalam dadanya.
"Woy, kok diam saja!" Bentak Emilia mengagetkan Celia.
"I-iya Nyonya." Jawab Celia pelan.
Mendengar teriakan dari dalam yang cukup kencang. Egan Dirgantara beranjak dari ayunan tempat ia bersantai. Ia ingin memastikan siapa yang berani-berani bertengkar di dalam rumahnya.
Laki-laki tersebut masuk kedalam rumah. Ia melihat ada istrinya sedang bertengkar dengan gadis yang baru ia bawa ke rumah ini karena terpaksa.
"Ada apa ini?" Tanya Egan menatap tajam keduanya.
__ADS_1
"Siapa sih cewe gatal ini? Emi minta maaf sama kamu masalah kemarin mas." Wanita tersebut memohon.
"Sudahlah Emi, saya sudah berapa kali memaafkan mu dan anak kamu itu. Sekarang kamu pergi dari rumah ini dan jangan kembali lagi." Ucap Egan Dirgantara menahan emosi.
"Tapi mas, apa belum cukup yang Riko berikan kepadamu? Perusahan mu maju dengan pesat oleh karena dia kan?" Bela Emilia.
"Saya rasa sudah cukup, setelah kalian permalukan saya di pernikahan putramu itu. Mau di taruh dimana muka saya Emi? Riko tidak datang di hari pernikahannya membuat banyak masalah bagi saya!" Egan berusaha sedikit lagi menahan emosinya.
"Saya baru pulang dari luar kota mas. Mana mungkin Riko ingin menikah tanpa memberitahu saya ibunya?" Emilia berpikir bahwa ini hanyalah akal-akalan Egan mengusirnya dari rumah, setelah suaminya itu memergoki Emilia sedang bersama pria lain di salah satu kamar hotel.
"Oh, jadi masih tidak percaya? Gadis ini adalah kekasih putramu, ia sudah berjanji akan memenuhi kebutuhan mereka setelah menikah. Ia juga sudah resign dari pekerjaannya sebagai manager marketing atas permintaan putramu. Setelah itu putramu menghilang begitu saja, apa demikian caramu mendidik putra kesayangan mu itu?" Ucap Egan dengan keras mengintimidasi Emilia.
"Tapi maaf, saya tidak mengenal gadi la ini. Bisa saja di ngaku-ngaku atau dia aja yang terlalu mencintai putra saya. Setahu saya Riko hanya memiliki kekasih namanya Nosa aurelia. Dia sedang berada di luar negeri sekarang." Ucap Emilia dengan nada meninggi.
Kepala Celia terasa pusing mendengar pengakuan tersebut. Apalagi memang benar bukan wanita ini yang di perkenalkan Riko kepadanya.
"Apa ini putra Ibu?" Tanya Celia.
Emilia memperhatikan gambar tersebut dengan saksama. Ia benar-benar terkejut bahwa kenyataannya memang Riko Rananta sang putra.
"Benar ini putra saya, tapi mungkin saja kamu mengada-ada kan?" Emilia masih tidak percaya.
"Saya punya bukti yang kuat Bu, bahkan video call masih ada tersimpan di ponsel saya. Di laptop bahkan di sosial media yang kami punya." Jawab Celia mempertahankan argumennya.
Celia benar-benar bingung pada Riko, sebenarnya siapa laki-laki yang hampir menemani dirinya di sisa napas hidup ini. Sepertinya Celia belum percaya kalau Riko bisa menipunya.
Melihat pertengkaran semakin memanas, Celia ingin pergi menghindar karena ia akan fokus dengan pekerjaannya saat ini. Mencoba menata hidup dari awal mungkin lebih baik baginya untuk sekarang.
__ADS_1
Celia mundur pelan-pelan dan memutar tubuhnya untuk melangkah keluar rumah. Ia akan menenangkan hati di dalam kamar Bi Sumi karena belum ada penentuan dari Tuan Egan.
Namun hal yang tidak terduga, Egan memintanya mengambilkan ponsel miliknya di kamar. Membuat Celia tidak bisa menolak.
Celia berjalan menaiki anak tangga, kemudian masuk ke dalam kamar yang di maksud oleh majikan. Ia mencari benda pipih yang di maksud sang tuan, namun belum sempat Celia menemukan benda tersebut kepalanya semakin pusing. Mungkin ia terlalu memikirkan rumitnya hidup yang ia jalani.
Celia jatuh di lantai dan tidak sadarkan diri. Di depan meja kecil di dekat lemari pakaian milik Tian Egan. Wajahnya terlihat pucat menandakan bahwa kondisi tubuh Celia memang sedang tidak baik-baik saja.
Tuan Egan dengan emosi mengusir wanita yang telah berkhianat itu. Meskipun status mereka masi suami istri, Egan sudah mengajukan gugatan cerai untuk istrinya Emilia Mustika. Sepertinya memang pernikahan mereka sudah tidak bisa di perbaiki lagi.
Setelah Emilia keluar, barulah Egan mengingat bahwa calon istri putranya tersebut belum kembali. Ia melangkah menuju kamar pribadi sebagai kenangan dirinya dan sang istri.
Laki-laki tersebut mendapati Celia yang sudah tidak sadarkan diri. Egan tidak berpikir lagi, ia menggendong gadis tersebut dan meletakkannya di atas ranjang.
Merasakan tubuhnya berpindah, Celia perlahan sadarkan diri. Namun sepertinya kondisi jiwanya dan hatinya tidak baik-baik saja. Celia seperti mengigau, Ia memeluk Egan, melingkarkan tangannya di bagian pinggang pria tersebut.
Ia meringkuk dengan posisi tidur miring seperti pistol dengan kedua tangan memeluk Egan. Dengan suara yang sedikit parau Celia mulai bicara merancau.
"Jangan tinggalin Celi lagi Kak, Celi mohon." Kata Celia mempererat pelukannya.
"Kamu mungkin sedang sakit." Ucap Egan pelan, hati nuraninya merasa kasihan dengan gadis ini.
"Saya tidak memiliki keluarga lagi Kak, Celi lakukan apa saja untuk kakak." Ucap Celia membenamkan kepalanya di dekat kancing celana milik Tuan Egan. Dengan tidak bersentuhan langsung, namun terasa ada yang memberontak di dalam sana sebagai pria dewasa yang normal. Namun Egan mencoba menahan gejolak pada dirinya.
Egan mencium pucuk kepala Celia dengan perasaan tidak menentu. Perasaan sayang mulai tumbuh dalam hati seorang Egan yang terkenal dingin dan kejam.
"Kamu aman bersama saya, jangan sedih lagi." Ucap Egan sambil mengelus kepala Celia.
__ADS_1