
"Terimakasih om, Celi senang sekali malam ini." Ujar Celia.
Mereka berdua menyelesaikan pertarungan dengan menggapai kepuasan masing-masing. Celia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal yang ada di kamar tuannya tersebut. Sedangkan Tuan Egan hanya menutup bagian bawah sampai batas pusar.
"Hey, bukalah."
Egan menarik selimut yang menutupi wajah Celia. Gadis itu memang membuatnya gila sekarang, bagaimana mungkin perawan ini bisa menginginkan laki-laki yang sudah beristri dan tidak muda lagi. Sebenarnya untuk usia Tuan Egan masih tergolong muda, di tambah lagi penampilannya yang terkesan cool dan rapi.
"Celi malu om." Celia membuka perlahan selimut yang menutupi bagian wajahnya.
"Nggak usah malu sayang, om suka bermain dengan mu. Besok boleh om memintanya lagi?" Tanya Egan sambil menatap netra Celia dengan lekat.
"Boleh om, sebentar Celi ambilkan minum untuk Om Egan."
Celia berusaha bergerak, namun badannya terasa sakit. Tenaganya juga sepertinya telah habis terkuras. Celia mengulang niatnya untuk beranjak dari tempat tidur ternyata tidak bisa juga.
"Sudah sayang, tidak usah bangun dulu. Mulai sekarang kamu tidak usah melakukan pekerjaan apapun. Kamu bebas melakukan apa saja di rumah ini, kalau ingin sesuatu kamu tinggal bilang asisten rumah. Nanti om akan mencarikan asisten pribadi untuk kamu. Om sangat senang dengan pelayanan mu tadi sayang." Ucap Egan mengelus rambut Celia.
"Terima kasih om." Jawab Celia agak tercekat.
Dalam hati Celia merasa senang karena Egan memperlakukan dirinya dengan baik. Namun ia merasa getir ketika mengingat nasehat kedua orang tuanya, bahwa hidup ini adalah pilihan. Baik atau buruk semua ada resikonya, sebab akibat dari satu perbuatan pasti akan nyata terlihat.
Orang tuanya selalu menginginkan putri semata wayang mereka menjadi anak yang baik dan beretika. Celia hanya tersenyum tipis saat ia membayangkan wajah kedua orang tuanya di depan pria yang telah mengambil kesucian Celia tanpa syarat.
"Kenapa sayang? Kok melamun?" Tanya Egan menatap Celia intens.
"Nggak om, Celia masih kurang." Gadis itu berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
"Wah, kalau begini semua pria tidak akan berpaling dari sayang. Om takut Celi yang pergi tinggalkan om, karena nggak kuat." Egan tersenyum penuh arti.
"Hm, om Egan kan banyak yang suka." Pancing Celia.
"Hehe, kamu belum tau cerita nya sayang. Nanti kalau tepat waktunya om akan ceritakan kisah hidup om." Ucap Egan kemudian.
__ADS_1
"Hm, iya." Celia sedikit mengangguk.
"Sini biar sayang nggak sakit lagi." Ucap Egan sambil memegang selimut penutup tubuh Celia.
Pria tersebut menarik kebawa perlahan selimut berwarna silver tersebut. Hingga menyisakan tubuh Celia tanpa sehelai benang. Pria tersebut mengarahkan wajahnya ke lembah kenikmatan milik Celia.
Ia menikmati sekali lagi setiap hisapan yang di lakukannya. Membuat Celia sedikit meringis karena perih. Egan Digantara mengerti perasaan pasangannya saat ini. Ia menyudahi aksinya, kemudian pria tersebut menggendong Celia untuk membersihkan diri.
Berendam dalam satu bathup, dan meletakkan Celia di atas tubuhnya. Setelah selesai Egan mengangkat Celia ke kamar kembali.
Melihat Celia tidak memiliki pakaian ganti, Egan tidak mau gadis itu menyentuh pakaian istrinya yang kebanyakan tidak layak. Juga Egan sudah melihat jijik istrinya karena sikap dan perilaku yang di terima Egan sendiri.
"Pakai ini sayang." Kata Egan melirik kearah Celia.
Memberikan kaos berlengan panjang berwarna hijau dan celana pendek berbahan kaos berwarna bata kepada Celia. Wanita itu hanya mengenakan handuk duduk di pinggir ranjang, ia menerima pakaian yang di berikan oleh Egan.
"Mau di bantu pakaikan sayang? Setelah ini kita keluar beli pakaian untuk kamu." Kata Egan sambil mengenakan pakaian ke tubuhnya.
Setelah menikmati makan malam bersama di rumah, kedua insan yang selesai memadu kasih tersebut berencana keluar untuk sekedar menikmati angin malam. Egan akan membelikan pakaian dan keperluan Celia saat mereka keluar nanti.
"Sayang, sudah siap?" Tanya Egan.
"Sudah om. Tapi Celi malu pakaian seperti ini." Jawab Celia pelan.
"Nggak apa-apa, nanti kita ke butik dulu untuk ganti pakaian sayang." Jawab Egan kemudian.
"Baiklah om. Celi semakin sayang sama om tuan." Ujar Celia tersenyum kecil.
Egan membukakan pintu mobil untuk Celia. Setelah wanita itu duduk di samping kemudi, ia menutup kembali pintu mobil. Dengan perlahan ia melajukan kendaraan sampai keluar dari komplek perumahan mereka.
Seperti kesepakatan mereka sebelum berangkat, Egan terlebih dulu membawa Celia ke sebuah butik yang di dalamnya sudah lengkap dengan salon kecantikan. Egan mengetahui kualitas butik tersebut karena memang langganan dari sepupu-sepupunya yang perempuan, dulu sebelum menikah Egan sering kali menjadi sopir pribadi mereka.
Setelah tiba, Egan langsung meminta perawatan khusus dan memakaikan gaun terbaik yang ada di butik tersebut. Egan meminta agar memberikan make up yang flawless untuk menambah kesan segar di wajah Celia.
__ADS_1
Sepatu hak tinggi menambah elegan penampilan Celia malam itu. Saat Celia keluar dari kamar ganti, Egan terkejut dengan kecantikan gadis yang telah menyerahkan hidup kepada dirinya tersebut.
Egan belum pernah membawa istrinya seperti ini. Biasanya sang istri tidak butuh di temani, ia hanya meminta uang dan uang untuk memenuhi gayanya. Tanpa perhatian Egan pun wanita yang bersamanya kurang lebih dua tahun itu, biasa saja.
"Wow cantik sekali sayang." Ucap Egan dengan kagum.
"Terimakasih om." Celia tersenyum simpul.
Setelah membayar biaya salon dan pakaian Celia dan beberapa pakaian yang lainnya juga sudah di masukan kedalam tiga paper bag. Egan menggandeng Celia berjalan keluar menuju mobil.
Mereka melaju menuju sebuah kafe ternama di kota tersebut. Sebagai tamu yang sudah terbiasa berlangganan dan sebagai seorang pengusaha nomor dua terkaya di negara mereka tinggal. Tentu saja pemilik hotel sudah hafal dengan wajah seorang Egan Digantara. Egan memesan tempat VIP untuk dirinya dan Celia.
Namun saat mereka mau masuk ke dalam ruangan tersebut. Di sofa yang mereka lemari menuju tempat duduk mereka, Egan melihat Riko putranya bersama seorang wanita yang mungkin juga seusia dengan Celia.
"Riko!" Ucap Egan dengan nada tinggi.
"Papa? Kok papa bersama...." Ucapan Riko terputus.
"Iya, Celia kan calon istri yang kamu tinggalkan?" Ujar Egan menyelidik.
Riko menarik tangan Celia kasar, membawa Celia sedikit menjauh. Riko ingin meminta penjelasan kepada Celia mengapa bisa bersama Egan Digantara, papanya.
"Celi, kenapa kamu begitu dekat dengan papa ku?" Bisik Riko.
Tanpa di sangka Celia berbalik mendekati papa Egan dan Nosa, wanita yang bersama Riko di dalam kafe.
"Riko, Riko. Kamu bisa meninggalkan saya di hari pernikahan kita demi wanita ini. Saya tidak masalah, tapi tentang siapa yang saya cintai selanjutnya itu bukan urusan anda lagi!" Jawab Celia dengan tegas.
"Tapi bukan papa juga Celi!"
Ucap Riko mengarahkan tangannya ingin menampar muka Celia. Dengan cekatan Egan menahan tangan Riko dan menghempaskannya dengan kasar.
"Benar kata Celia. Dia mau dekat sama siapa pun, itu bukan urusan kamu. Lagi pula bukan saya tidak tau kalau Emilia mama mu sudah berulang kali mengkhianati saya." Jawab Egan dengan nada emosi.
__ADS_1