
Egan Digantara bingung dengan sikap gadis yang ada di hadapannya sekarang. Bagaimana tidak gadis tersebut adalah calon istri dari anak lelakinya sendiri.
Memintanya bertanggung jawab bagaimana? Apa yang harus di perbuat nya? Apa gadis ini telah mengandung benih dari putranya tersebut? Membuat kepala Egan pusing, ia tidak bisa berfikir, bentuk pertanggung jawaban seperti apa yang gadis ini minta. Namun melihat air mata yang membuat pipinya basah, tidak tega itulah yang ada dalam hati seorang Egan.
"Memangnya kamu kenapa?" Tanya Egan.
"Pokoknya kamu harus bertanggung jawab atas perlakuan anak mu Riko." Teriak Celia.
"Saya harus bertanggung jawab seperti apa neng? Jangan nangis terus, tidak akan menyelesaikan masalah." Ingat Egan.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Engan, Celia hanya menangis lebih keras. Ia benar-benar seperti orang stres, dunianya seakan runtuh tiba-tiba. Kehilangan arah dan tujuan hidup.
Egan gelisah seakan tidak bisa berfikir jernih, saat di dekat Celia yang masih menangis. Egan keluar dari kamar tersebut.
Pria berusia 35tahun itu turun ke lantai bawah hotel. Ia melihat para tamu undangan sudah tidak ada lagi dalam ruangan pesta. Hanya karyawan catering dan wedding organization yang terlihat membereskan segala sesuatunya.
Sedangkan Riko dan ibunya tidak nampak sampai saat ini. "Benar-benar memalukan! Di beri hati minta jantung, tidak tau diri!" Egan mengepalkan tangan penuh kemarahan.
Hingga sore hari tiba Egan masih menunggu kalau Riko dan istrinya tersebut datang. Namun hal yang ia harapkan sepertinya tidak akan terjadi. Azan magrib telah berkumandang, Egan memutuskan untuk pulang ke rumah.
Saat ia mengambil jaketnya di sebuah kursi, dari dalam lift nampak Celia yang telah berganti pakaian, dan hiasan di kepalanya telah ia lepas. Hanya saja make up tebal di wajahnya belum terhapus sempurna.
"Pak, Pak tunggu." Teriak Celia saat melihat Egan bergegas pergi.
Mendengar teriakan gadis itu, Egan Digantara menghentikan langkahnya. Ia berpikir gadis ini pasti akan membuat masalah dalam hidupnya di kemudian hari. Pria tersebut melangkah menjauh, namun hal yang tidak di sangka-sangka Celia sudah menghadang di depannya.
"Pak, tolong saya." Ucap Celia dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kamu mau apa dari saya? Hidup saya sudah rumit, jadi jangan tambah masalah lagi!" Kata Egan.
"Aduh Pak, saya mohon. Saya sudah tidak punya pekerjaan, saya juga tidak punya tempat tinggal." Celia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Hm, pantas saja Riko tidak mau sama kamu." Ucap Egan sinis.
"Ah, terserah bapak mau ngomong apa. Tapi saya mohon, jadi pembantu di rumah bapak juga tidak apa-apa." Celia memohon.
"Yakin kamu mau jadi pembantu di rumah saya? Hm, bukannya kamu kemarin kerja sebagai marketing manager di sebuah perusahaan?" Egan mendelik ke arah Celia.
"Itu kan gara-gara anak bapak juga, saya sampai resign." Celia ngedumel.
"Masuklah, kebetulan Bi Sumi sendirian mengerjakan pekerjaan rumah, kamu bisa bantu dia. Gajimu tidak besar selama masa training." Ucap Egan membukakan pintu mobil. Pria tersebut berkali mengusap kepalanya karena gusar.
"Iya, tidak apa-apa Pak. Di izinkan tinggal saja saya sudah bahagia." Jawab Celia.
Pria tersebut memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Ia membukakan pintu mobil untuk Celia, setelahnya tanpa berkata apapun laki-laki itu melangkah ke dalam rumah tanpa menghiraukan Celia.
Celia berjalan ragu untuk masuk mengikuti langkah Egan yang telah hilang di balik tembok rumah. Ketika pria tersebut menghilang, seorang wanita paruh baya menghampiri Celia. Beliau tersenyum ramah sambil menyalami Celia.
"Silahkan masuk neng." Sapa Bi Sumi.
"Wah besar sekali ya Bi." Celia kagum melihat rumah yang ada di depannya sekarang.
"Iya neng, nanti neng bisa tidur sama Bibi di belakang. Pakaian neng kok nggak sekalian di bawa?" Tanya Bi Sumi.
"Saya nggak punya pakaian Bi, masih tinggal di kontrakan." Jawab Celia.
__ADS_1
Bi Sumi membawa Celia ke kamar belakang, khusus untuk pembantu rumah tangga. Kebetulan di rumah ini hanya ada tiga orang yang mengurus rumah. Penjaga rumah, tukang kebun yaitu suami Bi Sumi sendiri dan asisten rumah tangga hanya Bi Sumi.
Dulu pernah ada dua orang lagi yang membantu Bi Sumi mengerjakan tugas mengurus rumah megah tersebut. Namun satu orang mengundurkan diri karena gajinya sering di potong oleh bos perempuan. Dan satunya lagi di pecat tanpa ada penjelasan apapun, tapi di duga nyonya besar takut kalau suaminya tergoda dengan sang pembantu yang memang berparas cantik dan masih muda.
Setelah beristirahat sebentar, Celia keluar dari kamar Bi Sumi. Sore ini Celia ingin membantu Bi Sumi sebisanya. Mulai dari memasak dan membersihkan rumah.
Celia berjalan melewati samping rumah Egan Digantara, karena kamar pembantu memang terpisah dengan rumah utama. Mereka di buatkan kamar seperti bedengan yang berjejer di belakang rumah.
Berjalan di samping rumah, Celia melihat tuannya sedang membaca sebuah buku dengan kacamata yang bertengger dia atas hidung. Berbaring di ayunan bawah pohon jambu yang sangat rindang.
Celia berusaha berjalan dengan pelan-pelan sehingga tidak menimbulkan suara dari gesekan alas kakinya. Bertemu dengan pria dingin dan angkuh seperti Engan membuat nyali Celia sedikit ciut jika harus menyapa. Ia ingin kabur dari hadapan elEgan untuk membantu Bi Sumi. Namun ternyata Egan mengetahui kalau Celia lewat tidak beberapa jauh dengan dirinya.
"Hm, sini kamu! Lewat saja, permisi atau bilang apa gitu." Ucap Egan sambil menurunkan kacamatanya.
"I-iya, maaf Pak." Ujar Celia gugup.
"Karena kamu sekarang kerja di rumah saya. Kamu wajib memanggil saya dengan sebutan, tuan." Jawab Egan.
"Baiklah Pak, eh Tuan. Saya permisi dulu mau membantu Bi Sumi ke dalam." Kata Celia berpamitan.
"Oh iya, silahkan. Kamu nggak usah masak dulu biar si Sumi yang mengerjakan semua menu masakan, bagian kamu bersih-bersih rumah. Ingat jangan sampai ada debu yang tertinggal, itu syarat kalau kamu mau bertahan bekerja di sini." Ucap Tuang Egan.
"Baik Tuan." Celia berlalu dengan wajah yang lesu.
Sebenarnya dia tidak menginginkan pekerjaan seperti ini. Kalau saja bukan karena Riko akan menikahinya dan melarang untuk bekerja, hati Celia menolak dari awal untuk berhenti bekerja dari tempat yang lama.
Ia menghembuskan napas panjang ketika sudah masuk kedalam rumah utama. Celia langsung mencari keberadaan Bi Sumi. Ketika Celia berada di ruang tamu ia melihat seseorang yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
"Kenapa kamu berada di sini?" Orang itu menelisik dari penampilan Celia.