TERJEBAK TOXIC BOS

TERJEBAK TOXIC BOS
Manis


__ADS_3

Happy reading...


Maidina mengambil langkah seribu sedikit menjauh dari Sagara. Hatinya terpompa cepat, saat menoleh untuk melihat siapa yang sedang berdiri tak jauh dari dirinya. Maidina terkejut ketika mendengar suara yang sangat familiar di indera pendengarannya.


Maidina langsung memutar bola matanya jengah. Kenapa harus bertemu dia di tempat seperti ini dan saat bersama Sagara sang bosnya.


Gadis itu segera mungkin memutar otaknya lebih cepat, agar menemukan cara untuk kabur dari orang yang dia benci. Tapi dia harus beralasan apa dengan Sagara, jika tiba-tiba dia mengajak bos nya itu untuk segera pergi dari tempat itu.


Dari atas mini stage masih terdengar musik melankolis yang berasal dari band pengiring. Sangat lembut dan juga syahdu menyapa rungu para tamu undangan di resepsi pernikahan itu. Diterangi cahaya lampu yang benderang serta lampu-lampu kristal yang bergelantungan di tengah ruangan dan beberapa yang lainnya di sudut langit-langit.


Wajah-wajah ceria yang saling bercengkrama diselingi senda gurau dari pertemuan kawan lama juga para tamu undangan yang lain. Atmosfernya cukup hangat menyelimuti ruangan yang dipakai untuk resepsi pernikahan. Karena ruangan itu terbilang sangat luas, berkapasitas besar. Diperkirakan bisa menampung tamu undangan sekitar seribu orang.


Sagara yang lagi menyesap minumannya dengan penuh nikmat, melirik sekilas pada Maidina. Ia memicingkan matanya, ada guratan tanya pada wajahnya. "Ada apa dengan Aura? Sepertinya dia tidak nyaman? Tapi siapa laki-laki yang sedari tadi memperhatikan Aura?"


Sagara menghampiri Maidina, lantas menyuapkan potongan buah semangka segar ke mulut Maidina. "Buka mulutmu," Sagara berdiri di depan Maidina dengan membawa sepiring buah semangka yang sudah di potong kecil-kecil.


Maidina terkejut dengan apa yang dilakukan oleh sang bos padanya. "Semangka aja?" Gadis itu menyahut sambil membuka bibirnya, lalu Sagara menyuapkan potongan buah semangka yang sudah di tusuknya ke dalam mulut Maidina. "Manis?"


"He'em," Maidina menelan potongan buah semangka yang digigit separuh.


"He'em apa?"


"Manis," celetuk Maidina.


"Siapa yang manis?"


"Aku," cetus Maidina tersenyum kecut tersungging di bibir nya.

__ADS_1


"Beneran manis?" tanyanya lembut tepat di daun telinga Maidina.


"Pasti manis tiada tandingannya," puji Maidina sendiri melirik sang bos yang menakutkan alisnya bingung.


"Boleh ngincip sedikit?" tutur Sagara mendekatkan bibirnya di balik daun telinga gadis cantik yang berdiri berhadapan dengannya. Mata Maidina langsung menatap ke arah sang bos dengan kening yang mengerut dalam sembari memundurkan langkahnya.


Melihat gadis incarannya memberi jarak. Sagara melangkahkan kaki untuk mendekati kembali Maidina. Kemudian menyentuh jari jemari Maidina yang terlihat gemetar dan terasa dingin dengan tangan hangatnya.


"Kenapa kamu bengong? Sedang mikirkan apa?"


Sagara bertanya pada Maidina yang terlihat tidak fokus.


"Ehh, tidak ada apa-apa," jawab Maidina sambil memalingkan wajah.


Maidina berjalan sedikit menjauh dari Sagara. Berpura-pura akan mengambil sesuatu di meja prasmanan yang telah tersedia.


Ketika Maidina menoleh untuk melihat siapa gerangan yang menyentuh tangannya tiba-tiba. Jantung Maidina seolah terlempar jauh ke dasar jurang, dia terkejut mengetahui siapa orang itu. Tetapi secepat mungkin dia menguasai rasa kegugupannya.


"Maidina!" pekik seseorang yang berdiri di sampingnya.


"Maaf," hanya kata itu yang terlontar dari bibir ranum Maidina, lantas beranjak pergi. Tapi belum selangkah Maidina mengayunkan kakinya, tiba-tiba pria itu menarik kembali tangan Maidina dengan paksa.


"Maidina! Kamu Maidina kan!" selorohnya sedikit kencang.


Maidina tidak menjawab pertanyaan pria itu dengan tetap berusaha melepaskan cengkraman tangan pria itu.


Sedangkan dari jarak yang tidak seberapa jauh, Sagara melihat kejanggalan yang terjadi pada sang asisten dengan pria yang tidak dikenalnya.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu lagi, Sagara merapikan jasnya. Kemudian berjalan dengan gagah menghampiri Maidina. Saat itu, Sagara mendengarkan pria itu memanggil sang asisten dengan nama Maidina Aurora sembari mencondongkan wajahnya ke arah Maidina. Sagara langsung mendekat, dan melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Maidina.


"Sayang, ternyata kamu di sini. Aku cari dari tadi," Sagara merapatkan tubuh Maidina ke dada bidangnya.


Maidina membulatkan bola matanya sempurna, lalu dengan cepat dia mengimbangi akting sang bos. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Dia hanya salah orang. Jangan marah ya, Sayang," cicit Maidina lalu mengecup pipi Sagara sekilas.


Sagara yang mendapatkan kejutan dari sang asisten, reflex terangkat kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan senyum cerahnya.


"Maidina!" pria itu menyebutkan nama Maidina kembali.


Sagara Menatap pada pria asing tersebut. "Maaf, anda memanggil tunangan saya dengan nama Maidina? Tapi itu bukan namanya. Karena nama tunangan saya adalah Aura. Anda salah orang, Tuan!" ucap Sagara menatap tajam ke arah pria itu dengan gagah dan berkarisma sambil tetap memeluk mesra Maidina.


Bagi Sagara menilai pria asing itu sangat tidak sopan pada Maidina sang asisten. Tapi bagi gadis cantik itu, pria itu tidak asing baginya karena dia adalah Daniel, mantan calon suaminya yang telah mengkhianati cintanya.


Maidina berusaha setenang mungkin berakting sebagai tunangan sang bos, meskipun entah ada masalah apalagi yang timbul di belakang hari. Dia tidak memikirkan hal itu, yang ada dalam otaknya sekarang adalah segera pergi dari tempat itu, untuk menyelamatkan diri dari kejaran Daniel sang pecundang.


"Tapi dia sang mirip dengan Maidina Aurora, calon istri saya, Tuan," Daniel tetap kekeh pada penglihatannya. Karena dia berkeyakinan bahwa indera penglihatannya masih sangat normal tidak minus sama sekali.


Di pihak Sagara juga tetap pada keyakinannya. Pria asing itu terlalu mencintai calon istrinya, hingga berhalusinasi mengganggap wajah Aura mirip dengan calon istrinya yang hilang entah ke mana.


Perdebatan kedua pria yang sama-sama merebutkan Maidina itu, terlihat jelas di mata tajam Dahlan. Pendengarannya juga sangat jelas. Berjalan bak sang Hakim Agung yang dapat menyelesaikan masalah dengan seadil-adilnya, Dahlan alias Dania binti Dahlia menghampiri ketiga manusia yang sedang bersitegang dengan menyerobot bak sang Hanoman menculik Dewi Sinta dari sang Arjuna.


"Haii.. Cantik di sini rupanya kau. Ekeuy mencari diske ke mana-mana tak berjumpe. Ternyata diske menjadi tawanan para pujangga yang lagi tebar pesona. Ayo ikut Ekeuy!" dengan santainya Dahlan merebut Maidina dari dekapan si Sagara yang hanya bisa melotot ke arah sang manager tak ada akhlak pada bosnya.


Tanpa ragu lagi, jari jemari lentik milik Maidina kini, telah berpindah pada genggaman tangan Dahlan. Dan segera membawanya pergi dari hadapan para pria yang ingin merebutkannya tanpa kejelasan yang pasti.


💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2