TERJEBAK TOXIC BOS

TERJEBAK TOXIC BOS
Meleleh


__ADS_3

Hari ini awal kerja Aura yang baru menjadi assisten Sagara. Aura belum terbiasa dengan kesibukan yang digeluti Tuannya.


Dengan lantai gontai, Aura yang enggan memacu langkahnya lebih cepat lagi, bahkan Sagara sudah berjalan di depan meninggalkan Aura berjalan sendiri di belakang. Tapi, walaupun Aura terlihat tertinggal beberapa meter dari Tuannya berjalan. Namun, suara umpatan dan ocehan Sagara masih terdengar jelas di indera pendengarannya. Apalagi jika Aura mendengarkan nya dengan jarak dekat, sudah bisa dipastikan daun telinga Aura akan meleleh atau bisa-bisa jebol daun telinganya.


"Jalan kayak siput! Kapan nyampainya!" oceh Sagara tanpa menoleh ke belakang.


Sedangkan yang kena semprotan pedas dari bibir Sagara hanya cuek bebek.


'Dikira tak pegal apa bawaan beginian banyak! Cowok aja bawaannya segudang, rempong banget!' Aura ngedumel dalam hatinya, mana berani dia keraskan suaranya. Bisa-bisa dipecat saat ini juga.


"Cepetan jalannya!" suara bariton Sagara terdengar lagi.


"Sabar napa, Ciinnn! Namanya juga masih baru, belum tahu kebiasaan kamu!" giliran Dahlan yang ngomelin Sagara.


"Diam kamu, Dahlan! Mau aku--,"

__ADS_1


"PECAT!" sahut Dahlan duluan.


Manager kemayu itu sudah hafal betul dengan kata-kata yang menjadi ambasador Sagara. Setiap kali dia marah, selalu kata-kata 'PECAT' menjadi senjata pamungkasnya.


"Aduh.." pekik Dahlan yang hampir jatuh karena kakinya ditendang Sagara. Masih untung kakinya masih berdiri kokoh.


"Hahaha.. Dahlia loyo!" ejek Sagara.


"Dasar nggak waras!" Dahlan melengos.


'Untung saja aku benar-benar membutuhkan pekerjaan ini! Kalau tidak, aku sudah pergi jauh dari hadapan Bos semprull itu' rutuk Aura dalam batin.


Kesalahan Aura yang membuat sebal Sagara adalah karena dia pergi untuk beli cemilan usus krispi dan jamur krispi favorit nya, sekedar untuk pengganjal penghuni lambungnya agar tidak berdemo di keramaian. Yang ada malu, jika penghuni lambungnya bernyanyi keroncong.


Aura lupa tidak berpamitan dulu pada Sagara. Minta ijin pun percuma saat itu, Sagara sedang ada pengambilan gambar untuk beberapa adegan yang diperankan.

__ADS_1


Dalam pikiran Aura, Bos tampannya itu tidak bakalan tahu, jika dia tinggal sebentar untuk mengisi lambungnya. Secara Sagara masih sibuk dengan syutingnya.


Bagaimana pun juga, Aura hanya manusia biasa yang juga butuh asupan gizi seimbang agar kekebalan tubuhnya tidak menurun. Apalagi kalau sedang lapar. Pasti harus segera mengisinya. Tak baik sering telat makan, nanti bisa pingsan.


Aura masih ingat, tadi omelan Sagara yang membuatnya ingin masuk kedalam kobongan saja, untuk segera menghilang dari tatapan manusia yang berada di tempat itu.


"Kamu lihat itu, meja sebesar lapangan berisi makanan dan minuman segitu banyak itu diperuntukkan untuk semua kru, termasuk kamu yang menjadi assisten seorang Sagara! Giliran aku mau suruh kamu ambil baju ganti di mobil, kamu malah ngilang entah kemana! Aku harus ganti baju untuk mengganti yang sudah kusam, tak layak pakai lagi buat syuting!"


Aura yang mendengar omelan Sagara hanya diam dan menundukkan kepalanya. Andaikan dia tidak menjadi assisten Sagara, sudah dipastikan mulut Sagara tertempel plakban.


'Laki-laki ngomong nya pedas juga! Ngalahin emak-emak komplek perumahan!' lagi-lagi Aura hanya bisa ngedumel dalam batinnya.


"Kenapa diam saja?"


"Ya diam lah. Bos kan sedang berkhutbah!" jawab Aura langsung menatap ke arah Sagara.

__ADS_1


__ADS_2