TERJEBAK TOXIC BOS

TERJEBAK TOXIC BOS
Ngantuk


__ADS_3

Happy reading..


Waktu masih pagi, mentari pun masih malu-malu menampakkan diri di ufuk timur. Hanya menyisakan biasnya di langit-langit berwarna kekuningan. Saat dimana orang-orang masih betah bersembunyi dibalik selimut hangatnya, tapi ada juga yang sedang mempersiapkan diri di rumah sebelum melakukan rutinitas aktivitasnya. Bahkan ada beberapa orang yang baru pulang dari tugas malamnya.


Dahlan berjalan tergopoh-gopoh ke arah kamar Sagara, membawa serta benda pipih yang menjadi paparazi media sosialnya.


Beberapa menit yang lalu, dia menarikan jemarinya di layar ponsel kesayangannya untuk berkelana di media sosial. Bola matanya dibuat melotot oleh berita pagi yang masih hangat-hangatnya keluar dari oven.


Sebuah akun pengejar mimpi mengupload sebuah foto dengan caption. Gadis ayu nan anggun penakluk cinta sang pangeran berwajah tampan.


Nampak foto pasangan yang sangat romantis sedang duduk berdua sambil makan nasi goreng saling suap-suapan di pinggir jalan.


Langsung dibanjiri like juga komen mendarat di kolom komen akun pengejar mimpi.


@Akupadamu: Itukan si tampan Sagara, aktor favorit aku.


@MamaJenie: Waauuhhh.. Sungguh beruntung gadis itu.. Mama juga mau dunk jadi selirnya. Emot lope lope dengan Bimoli (bibir moyong lima senti).


@Sipencarimasalah: Bukannya Sagara jalan sama Belinda???.. Tuh cewek pelakornya ding..


@Antiribut: Kita doakan yang terbaik saja. Jangan suka jadi kompor meleduk.. Neti kan hanya tau luar saja, entah apa yang sedang terjadi dengan Sagara vs Belinda.


@Aabbbcc: Kalau nggak suka dengan kebahagiaan orang lain mending skip aja. Jangan semakin memperkeruh keadaan Sobri!!..


Sagara yang belum terkumpul sempurna nyawanya, sudah dipaksa oleh Dahlan untuk membaca satu-satu komen para netizen nyinyir di kolom komentar si akun Lambe Runcing. Padahal itu semua bukan kebiasaan atau pun hobi si Sagara untuk menjadi seorang stalker dengan akun-akun tak bernama yang bertebaran di media sosial.


"Dahlaaaaaan!" teriak Sagara membahana seantero kamar yang bernuansa biru laut, sangat menggambarkan bahwa si empu kamar itu adalah seorang lelaki tampan.


"Kenapa sih harus berteriak?" sahut Dahlan berkacak pinggang berdiri di samping ranjang empuk milik Sagara.


Maidina menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya. Dia tidak ingin terlibat perdebatan dua manusia yang saling beradu tenggorokan itu. Netranya masih ingin terpejam, rasa kantuknya belum hilang. Karena dia baru bisa memejamkan kedua matanya pukul lima pagi.


"Kamu kesambet apa Dahlan! Pagi buta sudah konser di kamar orang! Matahari aja masih malu-malu menampakkan rupa! Mau adu skill sama aku!" tatapan menghunus milik Sagara mengintimidasi Dahlan.

__ADS_1


Dengan bibir mencebik Dahlan menimpali ucapan Sagara. "Segera buat klarifikasi dengan para pencari berita!" perintahnya.


"Malas!" singkat Sagara, kembali membaringkan tubuhnya di ranjang empuknya.


"Astaga nagasari.. Sagara Bumi Samudera! Telinga kamu dimana! Disuruh bangun, malah mengejar mimpi lagi!" dengus Dahlan. "Ini juga kenapa kamu malah tidur di sini juga, cantik," tangannya segera membuka selimut yang menutupi tubuh Maidina.


"Ayo cepat bangun, jangan bermalas-malasan. Nanti punya laki disambar tetangga!" kultum pagi Dahlan mulai mengisi telinga Maidina.


"Masih ngantuk," jawab Maidina dengan mata yang masih terpejam.


"Nah.. Nah.. Begini ini yang membuat nasib para wanita-wanita yang ditinggal lakinya. Ciri-ciri nya adalah seperti ini. Malas bangun pagi, tidak menyiapkan sarapan pagi buat lakinya. Tidak mau mengantar lakinya sampai di depan pintu," rentetan odong-odong mulai keluar dari kandangnya.


"Berisik! Hush.. Hush.. Sana pergi! Mengganggu tidur orang aja!" Sagara mengusir Dahlan. Lalu tangannya melingkar di tubuh Maidina.


"Hai.. Hai.. Belum muhrim, Ciiiin!" pekik Dahlan, menarik tangan Sagara dari tubuh Maidina.


"Apaan sih, Dahlan! Aku ngantuk!" bentak Sagara.


"Ngantuk.. Ngantuk aja, tangannya nggak usah begini juga, dodol jenang madumongso!" Dahlan tetap kekeh memisahkan Sagara dari Maidina.


Dahlan sangat hafal betul dengan dering yang khusus dia buat untuk sang asisten Ardo.


"Ya salam, ada apa ini?" Dahlan langsung menyambar ponselnya yang tergeletak di ranjang Sagara tak jauh dari dirinya.


Dengan kepanikan dan sedikit gemetaran si Dahlan memencet tombol hijau di aplikasi yang berwarna hijau itu.


"Dania di sini, ada yang bisa saya bantu assiten Ardo yang tampan dan baik hati juga tidak pelit senyum," sapaan panjang sepanjang jalan masa lalunya bersama si mantan.


"Segera datang ke mansion utama, sekarang juga!" suara tegas tanpa basa basi itu terucap dari bibir Ardo sang assisten tampan dengan tubuh yang sangat gagah.


"Siap, laksanakan," Dahlan menjawab juga dengan suara yang lantang, tidak terlihat sama sekali kemayunya yang biasa menempel pada dirinya.


Sambungan telepon dari assisten Giordan itu pun diputuskan sepihak tak harus meminta persetujuan dari Dahlan.

__ADS_1


Dahlan mematikan layar ponselnya, kemudian mencebik ke arah Sagara. "Disuruh datang ke mansion utama, sekarang juga," Dahlan melaporkan informasi dari assisten Ardo.


"Ngapain pagi-pagi Papa menyuruh aku datang ke mansion utama?" dengan santainya Sagara membalas kabar yang diberikan oleh Dahlan.


"Meneketehek," Dahlan mengangkat bahunya. "Kali aja ada serangan mendadak dari pasukan Alien ke mansion utama. Makanya Papa kamu, menyuruh kita segera ke sana," ujar Dahlan turun dari ranjang Sagara.


"Lekas mandi sana, jangan sampai molor. Bisa-bisa ekeuy digantung sama Tuan Giordan Adhitama.


"Cepat bangun, cantik," Dahlan membangunkan Maidina terlebih dahulu sebelum dia keluar dari kamar Sagara.


Maidina menyandarkan kepalanya di lengan Dahlan dengan mata yang masih enggan terbuka.


Sagara yang melihat kedekatan antara Dahlan dan Maidina, tak terima. "Enak aja, ini jatah aku. Jangan kamu embat juga!" Sagara menonyor pelan kening Dahlan.


"Lihat yang bening gini, langsung mupeng!" sinis Dahlan. "Gini-gini ekeuy masih bisa buat tusukan sate!" suara Dahlan berubah menjadi ngebass.


"Hahaha.." Sagara tertawa ngakak mendengar protes si Dahlan. "Bukannya kamu biasa ditusuk dari belakang?" hardik Sagara sambil terus terkekeh.


"Hai.. Jangan salah faham ya. Ekeuy biasa ditusuk dari belakang itu maksudnya ditikung teman sendiri, you know!" Dahlan mendelik ke arah Sagara.


Maidina hanya bisa menggelengkan kepalanya pusing mendengar argumen antara si Bos vs si Manager tulang lunak.


Maidina belum mengayunkan langkahnya untuk keluar dari kamar Sagara, tapi tangannya ditarik kembali oleh Sagara. Terpaksa langkah Maidina pun langsung terhenti, dan menoleh ke arah Sagara.


"Ada apa lagi, Mas Bumi? Aku mau mandi dulu, nanti terlambat bisa bernyanyi om Dahlan," Maidina menautkan alisnya.


Sagara tersenyum lebar. Lalu berbisik di rungu Maidina. "Mandi yang bersih dan wangi. Dandan yang cantik, kalau mau ketemu calon mertua."


Bola mata Maidina membulat sempurna, terkesiap atas ucapan Sagara barusan.


"Dasar sang penggoda!" Maidina mencebik.


Sagara terkekeh kecil. "Dasar sang penakluk," bisiknya lagi.

__ADS_1


💖💖💖💖


__ADS_2