
Happy reading..
BRAK
Keheningan malam yang begitu sunyi terpecahkan oleh suara hantaman botol yang menabrak dinding di ruang kerja milik Simon. Rahang yang mengencang dengan sorot mata nyalang seolah ingin menerkam mangsanya, dengan sepasang tangan mengepal penuh getaran di sekujur tubuh.
Dua orang pria berseragam serba hitam menunduk pias dengan kedua tangan tumpang tindih di depan perut, berdiri tak jauh di belakangnya dengan hati yang penuh was-was.
"Sampai detik ini, kalian belum menemukan gadis itu, hah?"
Nada suaranya tidak tinggi, tapi raut wajahnya sangat menakutkan bagi kedua orang yang sedang berdiri di belakangnya saling melempar tatapan seakan mencari keselamatan diri, dari pertanyaan seorang pria di depannya.
"Di mana telinga kalian! Jawab!" bentak pria yang berdiri di depan kedua pria yang bersetelan serba hitam. Sontak membuat kaget keduanya.
"Ma--- maaf, bos," ucap mereka bersamaan.
Simon mendesis sinis sambil berkacak pinggang, lalu mendekati dua orang suruhannya. "Maaf?" ulang Simon tepat di telinga mereka.
Merah padam disertai hembusan nafas berat, tergambarkan di wajah Simon, saat ini. Bagaimana pria itu tengah dikuasai emosi yang sangat tinggi. Dan ingin segera melampiaskannya pada kedua pria yang berseragam serba hitam di depannya. Simon mencondongkan wajahnya semakin dekat ke arah salah satu anak buahnya dengan kedua tangannya memegang kepala sang anak buah, lalu.
Dugh
Suara benturan keras terdengar di ruangan itu.
Kepala Simon dihantamkan pada kening anak buahnya tersebut.
Jantung mereka seperti ditekuk dengan kengerian yang mulai merambat ke seluruh tubuh. Keringat dingin mulai mengaliri tubuh kedua pria bersetelan serba hitam tersebut.
Satu tangan Simon bergerak cepat meraih dagu anak buahnya yang berkulit gelap.
"Enak saja kau ucapkan maaf!" sentak Simon, lalu menghempaskan dagu pria tersebut.
__ADS_1
"Ka-- kami akan berusaha lagi dan segera menemukan gadis itu, Bos," ucap pria yang sedang menunduk dengan dagu yang berada dalam genggaman Simon.
"Cih!" Simon meludahi muka anak buahnya. "Tidak berguna!"
PLAK
Sebuah tamparan keras mengenai pipi kanan sang anak buah, hingga tubuhnya berpindah tempat. Telinganya seketika berdengung. Pipinya terasa ngilu.
Simon meluapkan kemarahannya pada anak buahnya, karena dua jam yang lalu Daniel menelponnya. Mengabari bahwa dia telah bertemu dengan gadis yang sangat mirip dengan Maidina dan meminta kepada sang papa untuk mengirim anak buahnya agar membuntuti Maidina bersama Sagara. Namun, orang suruhan Simon tidak berhasil menemukannya.
-
-
-
Malam ini, Dahlan menjadi supir yang membawa dua penumpang yang duduk di kursi belakang menuju apartemen Sagara. Di balik kemudinya Dahlan membelah jalan raya yang sudah mulai sepi dari pengguna jalan. Tapi langit malam tampak begitu indah dan tenang.
Namun tidak dengan suasana hati Maidina, gadis itu sejak keluar dari gedung pernikahan teman Sagara hanya duduk diam di kursi penumpang bersama Sagara. Pandangannya terasa kosong, bola matanya seakan menatap jalanan yang dilalui roda empat itu. Tapi pikirannya melayang entah kemana. Semenjak pertemuannya dengan Daniel beberapa jam yang lalu, hatinya tidak bisa tenang.
Suara Sagara memecah keheningan dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Ia meminta sang manager sekaligus merangkap menjadi supir pribadinya itu untuk membelokkan kemudinya ke tempat tongkrongan favoritnya, nasi goreng Pak Abdullah yang dimasak menggunakan kompor tungku dengan arang. Akan terasa lebih sedap masakannya.
Permintaan Sagara pun disetujui oleh Dahlan. Ia menoleh sesaat ke arah Sagara yang duduk di bangku penumpang, bersama pedal gas yang dia lepas perlahan. Dan kendaraan roda empat itu pun melaju lambat.
"Tumben, minta mampir ke tempat Pak Abdullah? Belum kenyang itu perut?" tanya Dahlan merasa curiga dengan permintaan sang Bos.
"Jangan banyak tanya! Tinggal lajukan mobil ke arah sana, beres!" sahut Sagara.
"Iya.. Iya.. Gitu aja sewot. Monyong itu bibir," seloroh Dahlan sambil memberhentikan kendaraan di tepi jalan yang sepi, hanya terdapat gerobak makanan yang mulai sepi pengunjungnya.
Setelah mobil diparkir dengan aman oleh Dahlan. Sagara menyuruh Maidina untuk mengganti stilletto nya dengan sandal flat yang selalu tersedia di dalam mobil.
__ADS_1
Gadis itu hanya menurut yang diperintahkan oleh Sagara. Lalu, sang bos yang tampan membukakan pintu untuk Maidina dan mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu, yang sedikit kerepotan dengan pakaiannya. Tanpa banyak kata, Maidina menerima uluran tangan Sagara dan menggenggamnya erat.
"Terimakasih, Mas Bumi," ucap Maidina setelah berada di luar mobil.
Sagara menoleh ke arah Maidina dan tersenyum manis.
"Jangan terlalu mengumbar kemesraan, ingat kamera ada di mana-mana," Dahlan bercuap cuap mengingatkan pasangan yang lagi mencari kenyamanan hati.
"Beneran kita mau makan di sini, Mas Bumi?" Maidina masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, saat ini.
"Aku juga manusia, sekali-kali menikmati makan di pinggir jalan begini tidak masalah kan? Bahaya ya?" sergah Sagara sembari berjalan di samping Maidina menuju gerobak Pak Abdullah, tanpa melepaskan genggaman tangannya. Sagara semakin erat menggenggam jemari Maidina.
"Pepet terus! Jangan sampai lepas itu tangan!" Dahlan yang mengekori Sagara dan Maidina, terus melancarkan protes kerasnya, melihat adegan mesra di depannya.
"Artis kok makan di pinggir got!" ejek Dahlan pada Sagara. Tapi Sagara seolah menulikan telinga nya dari kicauan Dahlan. "Bagaimana jika Tuan Giordan melihat ini semua, bisa patah-patah tulang ekeuy ini!" bak radio rusak, bibir Dahlan tak berhenti berbunyi, namun Sagara sedikit pun tak perduli.
Dengan santainya Sagara mengambil kursi plastik untuk Maidina duduki dan dirinya di samping gerobak nasi goreng Pak Abdullah.
"Mie tung tungnya masih ada, Pak?" tanya Sagara pada Pak Abdullah yang sudah berdiri di depan gerobak jualnya dan dibantu anak laki-lakinya yang berusia sekitar delapan belas tahun sedang mengipasi tungku untuk membesarkan apinya.
"Masih, Mas Sagara," Pak Abdullah menjawab ucapan Sagara sambil terus menyiapkan pesanan Sagara. Satu porsi nasi goreng jawa dan mie kuah tung tung. Sagara menyebut mie tung tung karena di gerobak jual Pak Abdullah, ada benda yang digantung di pegangan gerobaknya, jika goyangkan berbunyi tung tung.
"Astaga, Ciin. Kenapa cuma pesan dua gelintir? Tiyuuss ekeuy cuma gigit jari gicuu," protes Dahlan pada Sagara yang sudah berdiri di samping Pak Abdullah.
"Kasih cabe yang banyak aja itu punya Dahlan," Sagara berseloroh yang langsung mendapat sambutan bibir monyongnya si Dahlan binti Dahlia.
"Mules mules deh, habitat ekeuy yang menghuni di dalam usus panjang ekeuy!" sungut Dahlan tak mau kalah.
Pak Abdullah hanya bisa ketawa ngakak yang mendengar bahasa absurd si Dahlan diikuti juga dengan anak laki-lakinya yang sedang mengipasi tungku.
Melihat sesuatu yang glowing di mata Dahlan, langsung terkonek dengan otak olengnya. Dahlan menghampiri anak laki-laki Pak Abdullah. "Aauuww, Pak Abdullah ternyata menyimpan berlian yang bersinar untuk ekeuy," pekik Dahlan yang langsung dilempar sepatu oleh Sagara.
__ADS_1
"Itu mulut direm jangan diblong aja!" hardik Sagara melotot ke arah Dahlan.
💖💖💖💖