TERJEBAK TOXIC BOS

TERJEBAK TOXIC BOS
Princess Aurora


__ADS_3

Happy reading..


Sepasang suami istri yang masih terlihat tampan dan cantik itu, mulai menuruni anak tangga. Tangan keduanya saling menggenggam erat, meskipun usia tak lagi muda. Namun, kemesraan keduanya selalu terjalin indah.


Kaki wanita paruh baya itu, tiba-tiba terhenti. Dia tidak lagi mengayunkan langkahnya. Pandangannya terfokus pada sosok gadis cantik yang tidak sengaja bertatapan pandang dengannya.


Gadis cantik yang tersenyum ramah pada wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usia menjelang senja. Yang diyakini olehnya, bahwa wanita itu adalah Mama dari Sagara, sang bos.


"Princess Aurora," gumam Lili, lirih. Tapi masih terdengar di rungu sang suami yang berdiri berdampingan dengannya.


Seperkian detik, jantung Lili sempat terhenti berdetak. Bola matanya terbelalak sempurna. Dia bagaikan melihat dirinya di usia muda. Gambaran wajahnya yang menghiasi wajah gadis yang tengah tersenyum manis ke arahnya.


Giordan menoleh ke arah istrinya, nampak jelas perubahan di wajah Lili. Seolah dia terkejut melihat siapa yang berdiri di samping putra kesayangannya.


Sayup-sayup terdengar suara teriakan bocah berusia dua tahun, memanggil dirinya. "Mama.." teriak anak perempuan berusia dua tahun yang meminta tolong pada sang Mama.


Memorinya seketika melayang bebas ke masa lalu yang begitu indah, tapi berakhir dengan pahit.


Flashback on.


Sore itu, seorang baby sister sedang berjalan-jalan di taman dengan seorang anak perempuan berusia dua tahun.


Princess Aurora, putri dari pasangan Giordan Adhitama dan Aulia Anastasia. Pemilik perusahaan GA Group.


Di pinggiran kota terdapat taman kecil yang dikelilingi beraneka ragam bunga dengan warna yang begitu indah.


Baby sister yang bernama Reni itu baru satu bulan bekerja di keluarga Giordan Adhitama, tapi mereka sudah sangat mempercayai baby sister itu untuk bertugas menjaga dan mengasuh si cantik Princess Aurora dengan kelembutan dan ketelatenannya, meskipun Reni masih berusia dua puluh lima tahun, dia sangat profesional dengan pekerjaannya.


Dengan dikawal dua bodyguard Reni dan Princess Aurora diawasi dari kejauhan. Mereka tidak ingin mengganggu momen bermain putri Tuannya itu, yang sedang menikmati senja bersama Reni si baby sister di taman bunga.


Princess Aurora tertawa sangat riang, berlari ke sana ke mari. Reni memetik setangkai bunga lalu diselipkan di daun telinga sebelah kiri milik Princess Aurora, begitu cantik dan imut. Membuat gemas siapa saja yang memandangnya. Reni segera mengeluarkan ponsel yang dimilikinya, lantas mengambil gambar Princess Aurora yang mengemaskan itu.


Tanpa disadari Reni, dari tempat yang tidak jauh dari posisinya sekarang bersama Princess Aurora. Ada seorang pria yang tidak diketahui identitasnya, sedang memperhatikan mereka berdua sejak tadi.

__ADS_1


Sedangkan dua bodyguard yang berjaga-jaga, berdiri tidak jauh juga dari posisi Reni dan Princess Aurora, saat ini.


Namun, secara perlahan pria asing itu mengeluarkan senjata api dan mengarahkan tepat pada tubuh Reni sang baby sister.


Kedua bodyguard yang menyaksikan kejadian itu langsung berlari sekencang mungkin ke arah Reni dan Princess Aurora, tapi belum sempat keduanya mendekati ke arah Reni dan Princess Aurora, tiba-tiba suara tembakan yang memecahkan telinga.


Duoorr


Brugh..


Tubuh Reni pun jatuh ke tanah dengan bersimbah darah. Peluru itu menembus dada sang baby sister. Dengan sigap pria asing itu membawa pergi Princess Aurora dengan sebuah mobil van yang telah bersiap sejak tadi.


"Princess Aurora.." pekik salah satu bodyguard yang mengejar mobil van hitam melaju dengan kencang.


"Selamat datang masa depanku," ucap pria itu sambil terkekeh bersama temannya yang fokus dengan setir bundarnya.


Flashback off.


"Ayo kita segera turun, putra kita sudah menunggu. Jangan buat dia pergi lagi dari rumah ini," ujar Giordan lirih, seraya menoel hidung mancung Lili.


Maidina yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik romantis pria dan wanita yang tak lagi muda itu, hanya bisa tersipu malu. Ia menundukkan kepalanya dengan senyum mengembang di sudut bibirnya yang ditutupi dengan tangan kanannya.


-


-


-


"Selamat pagi..," Lili menyapa dengan ramah. Maidina membungkukkan badan dan senyuman yang menghiasi bibirnya membalas sambutan Nyonya rumah.


Sagara hanya melengkungkan bibirnya dengan rasa bahagia bertemu kembali dengan sang Mama. Semenjak perdebatan hebat waktu itu, Sagara jarang sekali mengunjungi Mamanya di mansion utama. Lili yang tidak memberikan restunya pada hubungan Sagara dan Belinda, kekasihnya yang terlihat mengagungkan uang. Feeling seorang Mama tidak akan pernah meleset.


Kemudian Lili berjalan menghampiri putra semata wayangnya, disambut oleh Sagara. Ia mencium tangan kanan Lili dengan takzim, kemudian keduanya saling berpelukan melepas rindu. Kerinduan seorang Mama pada putranya.

__ADS_1


Setelah melepaskan pelukannya pada Sagara. Pandangan Lili berganti pada sosok gadis cantik yang sedari tadi berdiri diam di samping putranya.


"Gadis cantik ini siapa, Bumi?" Lili memperhatikan dengan wajah sendu sosok Maidina. Dari ujung kaki ke ujung kepala, kembali lagi dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Dia--," belum sempat Sagara memberitahukan siapa gadis itu, Lili sudah mendekati Maidina dan berkata, "Jangan bilang dia calon menantu Mama," ujar Lili dengan senyum ramah yang terbit di bibir.


"Ahh, sok tahu lah Mama," sanggah Sagara cepat.


"Emangnya kamu tahu mau punya istri secantik dan seanggun ini," ucap Lili kembali, kemudian memeluk tubuh ramping Maidina dengan degupan jantung yang mulai terpompa cepat.


Lili sendiri tak bisa menguasai dirinya. Kenapa tubuhnya seolah-olah ingin memeluknya erat dan tak ingin melepaskannya. Ada kedekatan di antara keduanya.


Giordan Adhitama terkesiap melihat adegan itu. Seakan-akan dirinya juga terbawa oleh suasana.


Ya, melihat drama seorang Mama dan putrinya yang telah terpisah bertahun-tahun lamanya. Dan kini mereka telah dipertemukan kembali.


"Nyonya.." lirih Maidina begitu lembut terdengar di rungu Lili.


Hati Lili tersentak mendengar suara gadis yang berada dalam pelukannya. Suara itu.. Suara yang mengingatkan kembali pada putrinya yang hilang dua puluh tahun yang lalu.


"Princess Aurora," hanya nama itu yang terlontar dari bibir wanita paruh baya yang sangat merindukan putri kecilnya. Netranya kini telah berkaca-kaca.


"Sayang.." suara khas Giordan memanggil Lili.


Giordan mengayunkan langkahnya ke arah dua wanita yang berbeda usia itu.


"Iya Pa," balas Lili berusaha meredakan ketegangan.


"Tamunya nggak disuruh duduk?" Giordan mencoba mengalihkan fokus Lili.


Tiba-tiba dengan gayanya yang gemulai Dahlan berjalan ke arah Nyonya besarnya. "Nyonya cantik, Dania juga ingin dipeluk," dengan suara manja dan mendayu.


💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2