Terjerat Cinta Tuan Saga

Terjerat Cinta Tuan Saga
Memutuskan pergi


__ADS_3

"Bu aku mau ngomong sesuatu" terdengar Raka memulai obrolan yang serius. Senda gurau yang tadi terdengar mendadak terhenti.


"Mau ngomong apa nak?" Jawab ibu.


"Aku mau melamar Eva sebagai istriku Bu". Raka menggenggam erat jari jemari Eva dengan mesra.


Jdeeeerrr.


Seperti tersambar petir di siang bolong mendengar ucapan mas Raka barusan.


'apa maksudnya' tak terasa tubuhku luruh kelantai. Aku bersimpuh dengan air mata yang semakin deras mengalir.


Ku kuatkan diriku berdiri dan menghampiri mereka.


"Apa maksudnya ini mas , kamu itu suamiku bagaimana bisa kamu mau menikahi wanita lain ?" teriakku di depan mas Raka.


Raka hanya sekilas memandangku dan berdecih. "Dasar wanita sialan , jangan pernah menganggapku suamimu , menjijikan".


"meskipun kamu tidak pernah menganggap ku istri tapi bagiku kamu adalah suamiku , selama ini aku selalu berusaha menarik perhatianmu. Selama 2 tahun pernikahan kita aku selalu berusaha keras dan berkorban demi keluarga ini". Kukatakan semua yang mengganjal didalam hati.


"Mau kau berusaha sekuat apapun yang di cintai Raka selama ini tuh cuma aku , dasar wanita tidak tahu diri. Lihatlah mukamu begitu buluk , dan juga pakaianmu itu..cih , sangat norak , bagaimana bisa Raka menyukaimu" Eva tertawa meremehkan.


"Kau..Dasar kau wanita ****** murahan , perebut suami orang" Hardikku menatap Eva dengan jijik.


Raka yang mendengarnya naik pitam dia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiriku.


Plakkk..

__ADS_1


Satu tamparan keras mendarat di pipiku. Wajahku sampai tertoleh , terasa darah mengalir di sudut bibir.


Rasanya begitu perih dan panas , namun tak sebanding dengan rasa sakit hatiku saat ini.


"Kau beraninya berkata seperti itu pada Eva" Raka melotot dengan tampang sangat marah.


Nyaliku menciut melihat mas Raka seperti itu. Aku hanya menunduk sambil memegangi pipiku yang sakit.


"Bu , ibu kenapa diam saja melihat ini , tolong beritahu mas Raka bu" ucapku sambil menatap nanar ke ibu mertuaku.


"Mau bicara apalagi , dari awal juga ibu maunya Raka nikah sama Eva , tapi gara-gara ayahnya yang menjodohkan dengan wanita sepertimu ibu tidak bisa apa-apa selain menerimanya. Sekarang suamiku sudah tiada , jadi biarkan Raka kembali pada Eva"


Jawaban ibu mertuaku sungguh mengejutkan.


Bagaimana bisa seorang ibu mendukung anaknya dengan perempuan lain sementara anaknya sudah beristri.


"Lalu apa yang kulakukan selama ini tidak ada artinya kah bagimu , aku selalu menuruti semua perintahmu , dari mencuci memasak sampai baju-baju dalaman Sessa pun aku yang bersihkan" teriakku lantang merasa tidak terima.


"Dasar ****** , kau tak lebihnya seorang pembantu disini , berlagak sekali kau seolah-olah kau istri kakakku. Sadar hei , kakak tidak akan menikahimu kalau bukan karena ayah."


Kata-kata Sessa menyadarkanku bahwa selama ini mereka tidak ada yang benar-benar menerimaku sekeras apapun aku berusaha.


Benar kata Sessa , aku tak lebihnya seorang pembantu yang mereka manfaatkan. Pantas saja dirumah ini tak ada pembantu seorangpun , padahal keluarga mereka cukup kaya untuk menggaji seorang pembantu bahkan lebih. Mereka hanya sengaja ingin menyiksaku.


"Kau jika tidak menyukainya tinggal pergi saja bukan , tak ada yang akan menahanmu disini". Ujar Raka berkacak pinggang.


"Secepatnya aku akan mengurus perceraian kita". Tambahnya lagi.

__ADS_1


"Kamu tega mas. Kalian semuanya jahat" Teriakku lagi masih dengan air mata yang setia mengalir.


"Gausah banyak bicara lagi , pergi saja dari sini , ibu juga tidak mau punya menantu mandul sepertimu". Lagi-lagi perkataan ibu menyayat hatiku.


Mandul katanya ? Hah ?


Selama 2 tahun pernikahan ini bahkan tak sekalipun anaknya menyentuhku. Memang kami tinggal sekamar tapi itu hanya ketika mendiang ayah mertua masih hidup , itupun Raka di kasur dan aku di sofa.


Lalu setelah ayah mertua tiada tepatnya 6 bulan lalu , Raka mengusirku ke kamar tamu. Dia bilang jijik bila terus berdekatan denganku dan berada satu ruangan bersamaku.


Aku hanya diam saja mendengar tuduhan ibu bahwa aku mandul. Raka juga terlihat tak berekspresi.


Pasti hal seperti itu tak pernah di katakan pada ibunya , dan ibunya berfikir Raka dan aku telah berhubungan saat kami masih sekamar.


Bagaimanapun juga Raka adalah laki-laki normal. Tanpa ibunya tau bahwa anaknya itu tak pernah sedetikpun memandangku , yang ada dia selalu memukul dan bertindak kasar setiap aku berusaha memulai mendekatinya.


"Baiklah jika itu mau kalian , aku akan pergi dari sini". Putusku akhirnya.


"Kirim surat cerai segera , aku sudah tidak mau menyandang status sebagai istrimu lagi" Kataku memandang Raka sinis.


Lalu aku berjalan menuju kamarku , belum juga jauh aku berbalik badan dan memandang mereka lagi ,


"Semoga kalian bahagia dengan ini. Dan untuk kalian berdua , terserah kalau kalian ingin menikah atau mati sekalipun , aku tidak peduli. Kuharap apa yang ibumu katakan menjadi kenyataan kepadamu". Tunjuk ku pada Raka dan Eva.


Yang kumaksud disini adalah aku mendoakan mereka mandul dan tidak memiliki keturunan seperti kata ibunya.


Aku melanjutkan langkahku menuju kamar tanpa memperdulikan teriakan mereka yang memakiku.

__ADS_1


Aku dengan cepat mengemas semua pakaianku kedalam koper , dan selang berapa menit aku masih melihat mereka berkumpul ditempat yang sama.


Mereka memandangku yang menarik koper keluar rumah , tanpa ada niatan untuk menghalangi sama sekali.


__ADS_2