
" Hah aku harus kemana ?". Aku menghela nafas kasar.
Aku sungguh bingung sekarang , pasalnya aku tidak tahu tempat yang bisa kutuju saat ini. Aku tidak mungkin pulang kerumah , pasti kedua orangtuaku akan berfikir macam-macam , dan bisa-bisa ibu kena serangan jantung lagi.
' Tidak bisa , aku tidak mau gara-gara aku ibu sakit , aku tidak akan pulang'. Tekatku dalam hati.
Sudah jauh aku berjalan , rumah keluarga Adiguna tidak terlihat lagi.
Aku masih melangkah gontai menyusuri jalan yang sudah mulai sepi ini.
Udara dingin mulai menyusup.
tapi tiba-tiba muncul cahaya yang sangat terang dari arah depan dan menyilaukan mataku. Sesaat aku tidak bisa melihat ,
dan .. BRAAAKK..
sebuah mobil menghantam tubuhku ,
tubuhku terasa seringan kapas terbang keatas dan jatuh begitu keras di aspal.
aku tidak tahu apa yang terjadi , samar-samar kulihat 2 orang laki-laki keluar dari dalam mobil.
Terasa darahku mengalir di wajahku.
Pandanganku perlahan mulai menghilang dan gelap.
------------------------------------------------------------------------
Di rumah sakit.
" Dokter..dokter tolong sebelah sini dok"
__ADS_1
Asisten Arya berteriak memanggil dokter setelah sampai di lobby rumah sakit.
Dokter dan beberapa perawat berlari sambil mendorong sebuah brangkar.
" Apa yang terjadi padanya ?" tanya dokter.
" Dia tertabrak mobil ". Jawab Arya sambil berusaha sepelan mungkin meletakkan perempuan yg ia gendong keatas brangkar.
" Mari langsung kita bawa keruang ICU"
Mereka dengan segera mendorong brangkar menuju ruang ICU , dokter dan perawat masuk kedalam ruangan.
" Bapak berdua tunggu disini ya." kata seorang perawat sambil menutup pintu.
" Baik sus". Jawab Arya.
Asisten Arya dan Saga duduk di bangku ruang tunggu.
Asisten Arya menengok kesamping , dilihatnya majikannya sedang menunduk dengan raut wajah yang menyedihkan.
" Tuan tenang saja pasti nona Stefany akan baik-baik saja ".
" Aku tidak akan memaafkan dirimu jika terjadi sesuatu padanya Arya ". Sega menoleh dengan tatapan membunuhnya.
" Ta..tapi tuan saya tidak sengaja , bukankah tuan yang meminta saya mengebut untuk mengejar nona yang ingin kabur bukan." Arya membela diri.
" Memangnya kau tidak bisa sedikit lebih hati-hati , apa matamu buta sampai tidak tahu ada manusia di tengah jalan hmm ". Saga menggertakkan giginya geram.
" Maafkan saya tuan saya sungguh minta maaf , saya tidak bermaksud begitu , saya pantas menerima hukumannya tuan ". Arya gemetar , di satukannya kedua tangannya seperti memohon ampunan.
" Sudahlah , benar katamu ini hanya kecelakaan. Doakan saja perempuan itu baik-baik saja jika tidak ingin kehilangan nyawamu."
__ADS_1
" ba..baik tuan ." Arya bernafas lega , tidak bisa ia bayangkan jika terjadi sesuatu pada kekasih majikannya itu apa yg akan terjadi padanya.
Pintu ruang ICU terbuka , seorang dokter berjalan keluar menghampiri mereka.
" Bagaimana keadaannya". Tanya Sega.
" Beruntung pasien segera dibawa kemari , jadi pertolongannya tidak terlambat. Masa kritisnya sudah lewat , dan tidak ada cedera yang serius , kita tinggal menunggu beberapa jam lagi sampai pasien siuman." Jelas dokter panjang lebar.
" Terimakasih banyak."
" Sama-sama. Pasien sebentar lagi akan kami pindahkan keruang rawat , kalian bisa menemuinya disana." Terang dokter lagi.
" Baik".
" Tuan , saya akan mengurus administrasinya dulu". Kata asisten Arya setelah dokter pergi.
" Baiklah".
------------------------------------------------------------------------
Didalam ruangan..
Saga berjalan perlahan , menghampiri kekasihnya Stefany yang sedang terbaring di ranjang.
Dilihatnya lekat-lekat wajah cantik yang pucat itu. Ia duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya erat.
" Apa kau sebegitu mencintainya hmm. kau tega meninggalkanku dan kabur dengannya."
" Apa cinta yang kuberikan selama ini lelucon buatmu , Jawab kenapa kau selingkuh dariku. Apa yang kurang apa yang salah kau katakan , jangan seperti ini." Perlahan ia lepaskan genggaman nya.
" Cepatlah sembuh dan aku akan memberitahumu apa itu hukuman." Ucap Saga sembari berdiri.
__ADS_1
" Aku tidak akan biarkan kau mati begitu saja. Setidaknya kau harus menderita , sama sepertiku. Aku sendiri yang akan menghukum mu dengan tanganku. Sampai kau akan menyesal telah menyakiti seorang Saga Bara Narendra".
Saga berlalu pergi meninggalkan ruang rawat itu tanpa menoleh lagi , tangannya terkepal erat seolah sedang menahan emosi yang meluap-luap.