
Ita gadis itu nampak anggun dengan gaun berwarna putih berlengan panjang dengan rambut tergerai. ia sedih karena harus menikah di usia yang masih menginjak remaja itu.
ia ragu sekali untuk membatalkan pernikahan ini karena adanya ancaman dari ibu tirinya itu. yang membuatnya lemas seketika dalam sekejap.
"Ita cepat keluar," teriak Yunda ibu-tiri Ita. wanita paru baya tersebut nampak kesal, karena gadis tersebut tak kunjung membuka pintu kamarnya.
"Ita!" teriaknya kencang, sehingga membuat Ita yang berada di dalam di buat kaget.
"I-ya bu, tunggu!" teriak Ita cepat-cepat membukakan pintu tersebut.
"Lama sekali kamu! cepatan turun. mertua dan calon suami kamu sudah menunggu sedari tadi," ujar Yunda menatap sinis ke arah Ita.
"I-ya bu," lirih Ita pasrah. melawan pun tak akan ada apa-apanya. Ia pun turun bersama dengan ibu tirinya itu.
Nampak wajah Ita khawatir, sampai-sampai ia mengeluarkan keringat dingin di wajahnya.
__ADS_1
"Ita, senyum!" ujar Yunda menatap pada putri tirinya itu yang nampak lesuh tak senyum sedikitpun.
"I-ya," lirih Ita berusaha senyum terpaksa.
"Eh, sini nak Ita," ujar seorang wanita paru baya tersebut berjalan mendekati Ita.
"I-ya bu," sahut Ita gugup. Wanita paru baya itu nampak menarik lengan Ita bersamanya untuk duduk di sofa bersama seorang, laki-laki berwajah dingin itu.
"Nat, ini Ita calon istri kamu, kalian kenalan dulu ya ibu mau bicara dulu, dengan bunda Ita. kan yah," ujar Sofia ibu dari laki-laki dingin tersebut menyenggol lengan ayah Dirga.
"kami duluan yah Ita, jaga Nathan. jangan sampai dia kabur Ta," ujar bu Sofia mengedipkan matanya kepadaku. Ita nampak menatap ke arah laki-laki itu dari atas sampai bawah. Nampaknya laki-laki yang ada di hadapannya sangat dewasa dan mungkin umurnya sudah sangat tua dari pada Ita. yang di takutkan Ita adalah ia tak mau di nikahi dengan laki-laki yang sudah tua, takutnya nanti di kira pengambil laki orang.
"Eh, kamu umur berapaan?" tanya Ita menatap laki-laki tersebut.
tak ada jawaban dari laki-laki tersebut. ia nampak acuh dan dingin. Ita yang kesal diam saja dari pada berbicara terus menerus dengan kutub yang satu ini. tepatnya calon suaminya nanti.
__ADS_1
"Ck, berlaga sombong rupanya tunggu yah tuan dingin, bakalan tak kerjain," gumam Ita kesal ia memayungkan bibirnya dengan di buat-buat seperti sedang mencibir.
"Ganteng doang, bicara dikit malah diam kayak patung hidup!" Sindir Ita. tapi tak di dengari oleh laki-laki itu.
"Heh, aku berbicara padamu," sahut Ita kesal. ia tak suka sekali jika lawan bicaranya terus diam.
"Aish, kau tak asik di ajak ngobrol. pantas saja tak ada yang mau denganmu," ujar Ita mengejek.
Pletak!
laki-laki itu menyentil jidat Ita kuat hingga sang empu mendelik kesal.
"Auh, sakit tahu!" lirih Ita memegangi jidatnya. laki-laki itu hanya diam saja dengan wajah datarnya, tidak sama sekali menghiraukan Ita yang nampak kesakitan.
"Kau bisa diam tidak. berhentilah berbuat konyol dan mengumpatiku seperti itu!" ujar laki-laki itu dingin Ita yang sempatnya menyumpah serapah untuk laki-laki itu, kini terdiam setelah mendengar nada dingin tersebut.
__ADS_1