
Satu minggu kemudian.
"Ta, ibu boleh minta tolong sama kamu?" tanya nyonya Sofia menatap menantunya dengan intens.
Sedangkan Ita, ia hanya bisa diam. Ketika melihat seorang pria yang baru masuk dengan membawa barang belanjaan di tangannya. Tampak pria itu menatap Ita dengan sorot tajamnya.
"Nak, kamu kenapa? Kenapa diam?" tanya nyonya Sofia. Menatap raut takut di wajah menantunya itu.
"Ti--tidak bu, Ita tidak terlalu mendengarkan apa yang ibu bilang tadi," ujar Ita menundukkan kepalanya. Membuat nyonya Sofia menggelengkan kepalanya.
Merasa sangat takut, ketika melihat Nathan menatap dirinya dengan begitu tajam setajam silet.
"Kamu belum makan kan?" tanya nyonya Sofia mendapat gelengan pelan dari Ita.
"Ya udah, Nat. Tolong ambilkan istri kamu makanan sana!" suruh nyonya Sofia.
Menyuruh putranya untuk mengambilkan Ita makanan.
"Mom, mau pulang dulu sebentar. Tolong jaga Ita ya. Jangan buat Ita yang jaga kamu!" sahut nyonya Sofia tertawa kecil.
Ketika melihat ekspresi wajah Nathan, yang berubah ketika ia mengatakan melontarkan perkataan seperti itu.
__ADS_1
"Oke mom." ujar Nathan dengan nada dingin segera mengambilkan Ita makanan.
Lalu menyodorkan nya kearah wanita itu.
"Makanlah, aku keluar dulu!" ucap Nathan dingin hendak berjalan keluar meninggalkan Ita.
Tetapi sebelum itu, Ita sudah lebih dulu menarik lengannya.
"Tu--tuan, boleh Ita minta tolong?" tanya Ita masih memegang lengan kekar Nathan. Agar pria itu tidak jadi melanjutkan langkahnya.
Karena Ita membutuhkan bantuan sekarang.
"Hmm ... Tapi, lepaskan tanganmu dari lenganku." sahut Nathan dingin. Menyuruh Ita agar segera melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Nathan.
'Menakutkan sekali,' batin Ita.
"Cepat katakan, atau tidak aku pergi sekarang. Karena aku tidak punya banyak waktu meladeni wanita aneh dan ingusan seperti mu," ejek Nathan.
Membuat Ita memincingkan matanya dengan sangat tajam. Menatap kepada Nathan yang nampak tidak memperdulikan tatapan tajam dari Ita kepadanya.
'Apa dia bilang aku aneh dan ingusan?! Sedangkan dia apa? Tuan yang aneh dan egois,' gerutu Ita membatin. Menatap Nathan dengan sangat tajam.
__ADS_1
Coba saja, kaki nya tidak terluka dan habis di operasi mungkin sudah sedari tadi Ita mencakar wajah Nathan yang terlihat menyebalkan itu.
"Apa kau bilang? Aku tuan aneh dan egois?!" bentak Nathan.
Membuat Ita terdiam menatap Nathan gelagapan. Bisa-bisanya Nathan, bisa membaca pikirannya saat ini. Padahal ia berbicara dalam hatinya, menggerutuki Nathan secara tertutup. Tetapi mengapa pria itu dapat mengetahui isi hatinya saat ini.
"Eh, ak--aku tidak bilang begitu? Jangan memfitnah!" ujar Ita membela diri.
Karena tidak ingin terkena amukan dari Nathan.
"Kau tidak bisa membohongiku bocah ingusan!" ucap Nathan. Membuat Ita emosi karena di katai bocah ingusan oleh pria aneh yang berada di hadapannya itu.
"Aku bukan bocah asal kau tahu tuan, aku ini wanita seratus persen." ujar Ita dengan nada kesal.
Ingin rasanya ia melemparkan gelas ini kearah wajah Nathan. Karena terlanjur kesal di buat pria itu, berani sekali dia mengatai Ita ini bocah ingusan. Padahal Ita wanita seratus persen.
"Sama saja. Kau tetap bocah ingusan," ejek Nathan tertawa jahat. Membuat Ita naik darah.
Dan reflek melemparkan Nathan bantal yang ia pegang tadi.
***
__ADS_1
Terimakasih buat yang sudah baca 🥰
Jangan lupa comen dan vote nya teman"