
"Ita!" panggil kak Dini. Sahabat Ita.
"Ita, how are you?"
"I'm fine," ujar Ita menjawab pertanyaan dari Dini. dengan raut wajah yang lesuh. karena terlalu stress memikirkan pernikahan terpaksa tersebut. sampai-sampai ia tak menyadari keberadaan Dini di sampingnya.
"Masa sih? kok murung?" tanya Dini, sembari duduk di bangku sebelah Ita. dan menatap gadis tersebut.
"Din, aku mau nanya. Misalnya kamu di Jodohin sama laki-laki yang kamu gak cinta. apa yang bakalan kamu lakukan?" tanya Ita kepada Dini.
"Ya, aku gak setuju lah. masa seenaknya, mereka jodohin aku tanpa persetujuan dariku. Emangnya kamu lagi ngalamin ya Ta?" tanya Dini. menatap Ita, intens. menunggu jawaban dari gadis tersebut.
"Menurut kamu." balas Ita lesuh. membuat Dini terdiam. pasti ada sesuatu, yang sedang terjadi kepada Ita. sehingga membuat mood gadis itu hancur.
"Apa tante Yunda, berbuat lagi kepada mu Ta?" tanya Dini. kali ini, di buat emosi. pasti yang membuat mood, sahabat nya hancur adalah wanita parubaya tersebut, yang berstatus kan ibu tiri Ita.
"Hmm." balas Ita. membuat Dini terdiam. dengan hati yang kesal. ia merasa tante Yunda begitu kelewatan kepada Ita.
"Kenapa kamu, gak bicara aja kepada ayahmu. tentang kelakuan bejat tante Yunda kepadamu?" tanya Dini.
"Aku tak mau Din. Walaupun aku berbicara kepada ayah tentang kejahatan istrinya itu, ia tak akan pernah mau mempercayaiku. malahan aku, yang bakalan di salahkan," lirih Ita.
__ADS_1
"Sabar ya Ta. kamu pasti bisa, saran aku. kamu setuju aja pernikahan ini, jalani aja. " sahut Dini. membuat Ita terdiam. ia merasa tak seharusnya, menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai. apalagi setelah ia mengetahui status sebenarnya dari lelaki itu.
Ternyata lelaki yang akan di jodohkan kepada Ita, itu ternyata mempunyai seorang kekasih, yang tak lain adalah adik tiri Ita sendiri.
"Aku gak mau, Din. Pokoknya, aku bakalan cari cara agar pernikahan ini di batalkan!" tegas Ita.
"Terserah kamu aja, aku hanya tinggal dukung aja, apa pun keputusan mu," ujar Dini.
***
Perusahaan Dirgantara Sanjaya Drct.
"Belum tuan," jawab Kelvin. membuat raut wajah Nathan berubah yang tadinya, dingin. kini berubah menjadi khawatir.
"Cepat kau telpon, Alex. Bilang padanya, temui aku di apartemen ku!" sahut Nathan. dan Kelvin segera melaksanakannya.
'Dimana kau berada Melda? Aku sangat merindukan mu,' batin Nathan. menatap keluar jendela.
***
"Ak--"
__ADS_1
"Argh! sakit!" teriak Ita kesakitan. ketika secara tiba-tiba seseorang, entah datang dari mana langsung menjambak rambutnya.
"Dasar, wanita murah*n!" pekik wanita tersebut. tanpa ampun menjambak rambut milik Ita.
"Argh lepaskan. hiks, ini sakit!" lirih Ita. menangis mencoba, agar tangan yang menjambak rambutnya bisa terlepas. karena sekarang ia merasa, kulit kepalanya terasa tertarik.
"Dasar *****?!" teriak wanita tersebut langsung menghempaskan tubuh Ita di lantai. tanpa rasa iba sedikitpun. beberapa maid, yang berjalan di sekitar tersebut, hanya diam, tak berkutik. menatap Ita, sendu. mereka ingin menolong Ita, dari kejahatan nona Melda. tetapi apalah daya mereka, yang hanya pembantu di rumah ini.
"Dasar, murah*n tak tahu diri!"
"Dasar--" ketika, Melda ingin mengangkat tangannya untuk menampar wajah Ita. Tiba-tiba saja, tangannya di tarik seseorang dari belakang. Dan refleks Melda terkejut.
"Melda!" teriak seseorang membuat Melda terdiam. sedangkan Ita, hanya bisa menangis sembari memeluk lututnya.
"Nat--nathan!" ujar Melda terbata-bata. menatap lelaki, yang sangat ia rindukan. bukan lelaki itu yang ia rindukan tetapi uangnya.
"Kamu tak apa-apa nak?" tanya bu Sofia kepada Ita yang nampak ketakutan.
"Dasar wanita jahat!" bentak Nathan. menghempaskan kuat pergelangan tangan Melda yang sempat ia pegang tadi, dengan wajah yang jijik.
ia benar-benar kecewa sekarang, dulunya ia begitu mencintai Melda, karena kepribadiannya yang baik, lembut, dan penyayang. tetapi sekarang, dengan secara langsung, ia begitu syok ketika melihat wanita yang ia cintai, begitu jahat kepada seorang gadis kecil.
__ADS_1