
"Ada apa ini Melda? Kenapa wajah kamu seperti habis menangis sayang?" tanya ibu Yunda ibu, kandung Melda.
Seraya menatap putrinya dari atas sampai bawah. Yang nampak ketakutan. Dengan wajah yang sembap.
"Bu. Hiks!" lirih Melda terisak. Dan mendekati ibunya, lalu memeluknya erat.
"Ada apa ini bu Sofia?" tanya bu Yunda sembari menatap bu Sofia tajam dan ber ahli menatap Nathan tajam.
"Yun. Kamu jangan salah sangka, kami tak berbuat apa-apa sama putri kamu. Putri kamulah yang, telah melukai Ita!" tegas bu Sofia seraya menuntun Ita berdiri.
"Ti--tidak bu. Ini bukan salah aku. Ini semua salah Ita! Coba saja, dia gak buat aku marah. Pasti aku gak bakal dorong dia," lirih Melda terisak. Membuat bu Sofia terdiam dengan tatapan tak sukanya kepada Melda.
Sedangkan Nathan, lelaki itu memilih diam saja.
"Apa benar Ta?!" tanya bu Yunda menaikan nada suaranya terhadap Ita. Sehingga membuat gadis malang itu terdiam ketakutan.
"Iy--iya bu," jawab Ita pasrah menahan ketakutan yang melanda hatinya. Bukan karena, takut akan kemarahan ibu tirinya itu tetapi ia ketakutan, karena tatapan Nathan kepadanya.
"Ita!" seru bu Sofia menyenggol lengan Ita. Sehingga membuat sang empu terdiam.
"Yun, ini semua bukan salah Ita sepenuh nya!" sahut bu Sofia membela Ita.
"Sofia, mendingan kamu pulanglah dulu. Aku ada urusan kepadanya!" ujar Yunda tegas menunjuk kepada anak tirinya yang terdiam dengan, wajah yang menunduk.
"Aku tak akan pulang. Sebelum Ita ikut kepadaku!" tegas bu Sofia membuat seluruh orang yang berada di mansion. Di buat terkejut, tak terkecuali Nathan yang sudah dari kemarin mendengar ucapan dari ibunya. Yang menginginkan Ita, tinggal bersama mereka.
"Tidak boleh! Aku tak akan mengizinkannya!" tegas Yunda menatap Sofia sinis. Ia tak mungkin, melepas Ita semudah itu, apa lagi setelah hal yang ia perbuat kepada Melda.
__ADS_1
Padahal itu semua bukanlah salah Ita. Tetapi Melda lah yang bersalah dalam hal ini. Karena telah, memukuli Ita dan mendorongnya.
"Yun, walaupun kamu gak mau! Tetapi aku akan membawanya secara paksa!" sahut bu Sofia tegas. Membuat Ita terdiam, dengan wajah yang ketakutan serta tubuh yang gemetaran. Menahan rasa ketakutan, karena bukan hanya satu orang yang menatapnya tajam.
"Apa kamu ingat Sofia? Tentang perjanjian kita?" tanya Yunda sinis.
"Iya, aku ingat! Kamu mau minta berapa hah?!" bentak bu Sofia. Menatap Yunda dan Melda dingin. Ia benar-benar, emosi di buat kedua ibu dan anak yang berada di hadapannya itu.
"Tidak banyak kok, cukup 100 Juta," ujar Yunda santai sembari menjentikkan kukunya.
Ita yang mendengar permintaan bodoh dari ibu tirinya, hanya bisa terdiam saja ia tak mungkin bisa membayar permintaan itu. Apalagi dengan jumlah yang banyak. Dari mana ia mau mendapat uang sebesar itu.
"Baiklah! Dengan satu syarat. Jangan pernah mendekati keluarga kami lagi! Dan jangan pernah menganggu kehidupan rumah tangga Ita dan Nathan, kau mengerti!" tegas bu Sofia. Membuat Yunda tertawa sinis.
Sedangkan Ita yang mendengarnya, langsung menelan saliva nya kasar.
"Tante tapi jumlah itu, sangat besar. Mana mungkin aku bisa membayarnya!" ujar Ita. Membuat bu Sofia terdiam menahan tawanya.
"Tapi aku tak janji," sahut Yunda santai dengan senyuman sinis di bibirnya.
Membuat Sofia bertambah emosi, hendak mendekati Yunda. Tetapi dengan cepat, di halang oleh Nathan.
"Jangan bu!" peringat Nathan. Ia tak mungkin membiarkan ibunya berkelahi dengan wanita, jahat itu.
"Baiklah nak." lirih bu Sofia menghela nafasnya kasar. Coba saja Nathan tak berada di sini, pasti sudah lama ia menghajar Yunda.
"Baiklah, Tante. Sebentar lagi sekretaris ku akan datang ke sini, untuk mengantarkan mu apa yang kau inginkan tadi!" sahut Nathan dingin tanpa ekspresi dan langsung berjalan meninggalkan mansion tersebut yang di ikuti ibu Sofia bersama Ita.
__ADS_1
"Tante, tapi pakaian ku?" tanya Ita lirih.
"Tenang nak, aku sudah menyiapkan semuanya untukmu." sahut bu Sofia. Membuat Ita terharu. Sebegitu besarkah kasih sayang, ibu Sofia kepadanya.
"Terima kasih banyak Tante," lirih Ita menahan tangis. Saking terharunya.
"Berterima kasihlah kepada Nathan nak," sambung bu Sofia tersenyum. Membuat Ita terdiam. Sembari menatap Nathan yang nampak sedang, memainkan handphone nya.
'Apa aku harus berterimakasih kepadanya? Coba bukan karena dia dan ibunya, entah apa yang akan terjadi kepadaku selanjutnya,' batin Ita.
***
Mansion Keluarga Sanjaya.
"Terima kasih!" ujar Ita. Membuat pergerakan Nathan terhenti. Dan berbalik menatap gadis yang berada di hadapannya.
"Buat?" tanya Nathan datar.
"Karena, telah berbaik hati kepadaku. Sudah mau menolongku." ujar Ita tersenyum. Menatap Nathan.
"Semuanya tak gratis kau ingat. Aku melakukannya bukan, untuk menolong mu. Tetapi ini semua keinginan dari mommy ku." sahut Nathan datar. Menatap Ita dingin.
"Maksud anda?" tanya Ita merasa bingung.
"Semuanya tidak gratis. Maka dari itu, aku menawarkan mu menjadi asisten ku." ujar Nathan.
Membuat Ita terkejut.
__ADS_1
"Asisten?"
"Hmm."