
1 Minggu Kemudian ...
"Ita!" panggil bu Sofia.
"Iya, ada apa tante?" tanya Ita.
"Sini duduk nak, ibu ingin melihatkan kamu sesuatu!" sahut bu Sofia. Dan Ita segera menurutinya.
"Bagus yang mana? Warna putih atau Navy?" tanya bu Sofia kepada Ita. Yang nampak kebingungan.
"Tante gaun ini buat siapa?" tanya Ita kepada bu Sofia.
"Ya buat kamulah nak, masa orang lain sih. Kan tante yang nyuruh kamu milih." ujar bu Sofia menahan tawanya.
"Maaf, Ita kira buat siapa!" balas Ita. Membuat bu Sofia tertawa akan tingkah Ita yang, polos menurutnya.
"Tante, gaun yang ini cantik sekali. Ita suka dengan modelnya. Tidak terlalu, terbuka!" tunjuk Ita kepada sebuah gaun panjang. Membuat bu Sofia menatap kearah yang Ita tunjuk.
'Ternyata menantuku ini, sangat pintar memilih mana yang tertutup dan mana, yang terbuka. Pantas saja, putraku Daniel menyukainya. Padahal aku sudah menyiapkannya, sebuah gaun bermerek mahal dari Dior dan Gucci. Tetapi ia malah memilih gaun biasa,' batin bu Sofia menggelengkan kepalanya.
Dengan sikap Ita, yang sederhana dan polos menurutnya. Pantas saja putranya Daniel tergila-gila kepada Ita.
"Tante ke--kenapa anda menatapku seperti itu?" tanya Ita gugup, akan tatapan bu Sofia kepadanya.
__ADS_1
"Apa salah ya? Jika tante menatap calon menantu tante, yang cantik ini?" tanya bu Sofia menggoda Ita.
Sehingga membuat Ita kembali gugup dan malu.
"Ga--gak kok tante." balas Ita tersenyum malu-malu. Hingga nampak lah rona merah di kedua pipinya. Membuat bu Sofia tertawa.
"Baiklah Ta, nanti tante samain warna jas Nathan dengan gaun kamu. Biar couplean kalian berdua," ujar bu Sofia. Membuat Ita tersenyum malu. Dengan jantung yang berdegup kencang.
"Iy--iya tante. Emangnya tuan Nathan kemana ya tante?" tanya Ita ceplos, tanpa ia sadari pertanyaannya itu membuat bu Sofia curiga kepadanya.
"Tuan? Kenapa manggil Nathan tuan? Diakan calon suami kamu nak." ujar bu Sofia. Membuat Ita terdiam dengan wajah yang ketakutan.
Ia lupa, dengan ucapan Nathan tempo hari. Bahwa jika sedang berbicara kepada ibunya, maka Ita harus memanggilnya Nathan tanpa harus menyebutkan kata 'tuan'
"Oh, gitu ya. Kalau gitu ibu duluan ya." ujar bu Sofia hendak pergi dari hadapan Ita. Ita yang melihatnya hanya terdiam, dengan perasaan yang lega. Karena bu Sofia tak mencurigainya.
"Eh, tante hampir lupa. Ta!" panggil bu Sofia.
"Iya tante," sahut Ita.
"Jangan lupa, buatin Nathan kopi ya nak. Soalnya dia tuh, kalau pulang dari kantor pasti nyari kopi." balas bu Sofia. Membuat Ita menganggukkan kepalanya.
'Wah, ternyata tuan Nathan doyan minum kopi juga,' batin Ita.
__ADS_1
***
Malam harinya. Di mansion Keluarga Sanjaya.
Cek lek!
Suara pintu kamar mandi terbuka. Nampak lah seorang lelaki tampan bertubuh kekar, dengan balutan handuk melilit di tubuhnya. Serta rambut yang basah. Menambah kesan ketampanan nya.
"Eh, tuan Nathan. Anda habis mandi ya?" tanya Ita kepada Nathan yang tengah mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
"Hmm ... Menurut mu." balasnya dingin. Membuat Ita kesal.
'Dasar bodoh, apa ia buta. Jika aku ini habis apa?,' batin Nathan. Yah lelaki tampan tersebut adalah Nathan.
"Tuan apa anda tahu, aku sangat bosan seharian berada di mansion sebesar ini." lirih Ita seraya memejamkan matanya. Enggan menatap kearah pemandangan yang indah di sana.
"Aku ingin sekolah lagi. Tetapi SMP pun aku tak tamat," ujar Ita menghela nafas kasar. Dan Nathan tak perduli sedikit pun dengan ucapan Ita. Ia lebih memilih diam sambil memainkan handphone nya, dan menunggu notif dari handphonenya.
"Apa tuan, mau menolong ku? Untuk kembali ke sekolah lagi?" tanya Ita. Tak ada sahutan sama sekali dari Nathan. Lelaki itu nampak serius dengan handphone di tangannya.
"Tuan!" panggil Ita merasa kesal dengan Nathan, karena sedari tadi laki-laki itu tak mau membalas pembicaraannya.
'Aish, coba saja dia memakai baju pasti aku bisa berbicara empat mata kepadanya,' batin Ita terus memejamkan matanya. Tanpa sadar ia tertidur pulas di atas sofa.
__ADS_1
"Dasar wanita aneh. Seenaknya ia tidur, di atas sofa milikku," ujar Nathan menghela nafasnya seraya menatap wajah teduh Ita yang sedang tertidur.