
hujan lebat di sertai dengan petir yang menyambar mengisi malam yang gelap dengan seorang wanita yang sedang berjuang antara mati dan hidup untuk melahirkan buah hatinya.
Clara Heaven wanita yang akan menjadi seorang ibu itu sekarang sedang berjuang di ruang persalinan mempertaruhkan nyawanya.
"dorong buk"
"sedikit lagi, dorong dengan kuat buk"
keringat sudah membanjiri semua tubuhnya, bukan seperti wanita lain yang di dampingi oleh suami mereka. Clara, wanita itu berjuang sendirian di ruang persalinan, dia tidak tau dimana suaminya sekarang berada.
"huffffff" nafasnya memburu, cengkraman pada seprei sudah semakin kuat.
"ayok buk, satu.... dua... tiga.... "
air mata Clara menetes membasahi pipinya, ini sangat sakit, sungguh. di waktu seperti ini, seharusnya suaminya di samping nya untuk mendampingi nya.
...***...
Bugh
bugh
bugh
srettt
dor
sebuah perkelahian antar pria-pria berbadan kekar sekarang sedang terjadi di jalan sepi di tengah hutan.
Leo Adipati, CEO dari perusahaan Adipati group. pria itu sekarang sedang melawan orang-orang yang tiba-tiba mencegat mobilnya dan menyerang mereka.
Gery Halbert, tangan kanan dan sekaligus orang kepercayaan Leo sekarang sedang kewalahan melawan pria-pria yang tak terhitung jumlahnya.
kedua pria itu saling memandang satu sama lain, nafas keduanya sudah memburu akibat kewalahan melawan pria-pria berbadan kekar tersebut.
"ahahahaha, kalian berdua akan mati di tangan kami" remeh pria botak dari kerumunan orang orang berbadan besar tersebut.
"Tuan, bagaimana ini? anda harus cepat pergi kerumah sakit" bisik Gery.
Leo tertegun, hujan deras masih turun dan petir juga masih bersahut-sahutan di langit membuat malam itu terlihat menyeramkan.
"saya akan mengurus mereka tuan, anda cepatlah pergi ke rumah sakit" lanjut Gery dan mulai mengambil ancang-ancang.
"kalian tidak akan bisa lari dari kami" celetuk para pria berbadan besar tersebut sambil menodongkan pistol ke arah Leo dan Gery.
Leo menatap Asisten nya dan mengingat istrinya yang sedang berjuang di rumah sakit.
"saya tidak akan pergi tanpamu Gery, ayok bereskan para sampah ini dengan cepat" ucap Leo dan mulai mengambil pistolnya.
Gery juga langsung mengambil ancang-ancang dan mulai memainkan pistolnya. air hujan yang turun ke tanah tidak lagi berwarna bening namun berwana merah.
suara tembak-menembak menggema di jalan sepi tersebut bersamaan dengan suara petir yang bergemuruh.
__ADS_1
^^^***^^^
...***...
"huffff" nafas Clara semakin melemah, wajahnya juga sangat pucat.
"dokter, tekanan darah pasien menurun" lapor seorang perawat.
dokter yang menangani Clara langsung panik, ini sangat berbahaya untuk keselamatan anak dan ibu.
"siapkan ruang operasi, kita akan operasi ibu Clara sebelum terlambat." perintah dokter tersebut dan langsung dilaksanakan oleh para perawat.
Clara mengingat segala kenangannya dengan suaminya dari mulai mereka berpacaran hingga menikah dan akan memiliki anak, air mata wanita itu menetes.
"ibu Clara, anda harus bertahan demi bayi dan keselamatan anda" ucap dokter sambil memegang tangan Clara yang sudah lemas.
"se..... selamatkan anak sa.... saya dok" ucap Clara terbata-bata.
"dok, ruangan operasinya sudah siap" lapor perawat yang baru datang.
"cepat pindahkan ibu Clara keruang operasi"
perintah dokter wanita itu, tempat tidur Clara langsung di dorong menuju ruang operasi.
...***...
"dokter Tiara!"
"anda membuat saya terkejut" ucap Tiara memegang dadanya.
"maaf kan saya dok, tapi ada keadaan darurat"
"apa yang terjadi? apakah ada yang harus saya bedah?" tanya Tiara santai dengan meminum kopinya.
sekarang dia sedang sif malam.
"iyaaaa dok"
byurrr
uhukkk
uhukkk
Tiara terkejut dan kopi nya muncrat kewajah perawat di depannya, dia tadi hanya bercanda mengatakan ucapannya tadi. perawat yang wajahnya kotor akibat kopi hanya mendatarkan ekspresi nya.
Tiara langsung memberikan tisu kepada perawat tersebut dan menyengir lucu. "maaf kan saya, anda membuat saya terkejut"
"ini keadaan darurat dok, anda harus cepat ke ruang operasi"
"ah Iyah, saya lupa"
ucap Tiara tersadar dan langsung melangkah kakinya meninggalkan perawat yang masih membersihkan wajannya yang lengket. Tiara berlari ke ruang operasi melewati lorong-lorong yang sepi.
__ADS_1
sampai di depan ruang operasi, Tiara melihat dua orang yang sudah lanjut usia namun masih cantik dan tampan.
Tiara menghentikan langkahnya, dan menatap kedua orang tua yang sedang duduk dengan kepala menunduk.
"om Darwin, tante Alma" gumam Tiara.
dia ingin menghampiri kedua orang tersebut namun dia kembali teringat pasien di dalam ruangan tersebut, siapa kah orang yang ada di ruangan tersebut, mengapa orang yang dia kenal ada di sini.
tidak mau membuang waktu, Tiara langsung masuk dan mendapati banyak perawat dan dokter. Tiara langsung memakai baju operasi nya dan masker. dia mendekat dan melihat siapa yang sekarang terbaring lemah dengan perut buncit.
mata Tiara melebar, tangannya gemetaran dan tidak menyangka jika sekarang dia harus mengoprasi sahabatnya.
"kita harus cepat mengoprasi ibu Clara dok, sebelum bayinya meninggal di dalam" ucap dokter wanita membuyarkan lamunan Tiara.
"saya butuh diagnosa nya" ucap Tiara dan masih memandangi wajah pucat Clara.
Tiara membaca diagnosa dan kembali terkejut, tangannya makin gemetaran, air matanya mulai turun.
Tiara menatap sekitar mencari seseorang, "apakah pasien tidak memiliki wali?" tanya Tiara.
"tidak dok, suami ibu Clara sedari tadi belum datang"
Tiara mengepalkan tangannya, bagaimana bisa Leo tidak ada di saat istrinya bertaruh nyawa.
"dasar pria sialan" umpat Tiara emosi.
tit tit tit
semua kaget mendengar alat detak Jantung Clara yang menyala menandakan jantung wanita itu melemah dan nafasnya juga semakin melemah.
"kita tidak akan bisa mengoprasi pasien jika tekanan darah nya turun dan jantung nya melemah" ucap Tiara.
perawat langsung memasang alat pernafasan kepada Clara.
"tapi dok, kita juga tidak bisa membiarkan lebih lama lagi bayi di kandungan ibu Clara"
Tiara terdiam, jadi sekarang dia harus memilih menyelamatkan antara bayi dan ibu tersebut?
"kita harus menemui wali pasien terlebih dahulu" ucap Tiara.
"ti.... tidak usah Tiara"
semua orang yang berada di ruangan tersebut kaget mendengar suara lemah dari Clara. Tiara langsung mendekat ke arah Clara dan memegang tangan wanita itu.
"Clara" gumam Tiara dengan air mata yang sudah menetes, dia sangat merindukan sahabatnya itu. namun, mereka berdua harus bertemu di situasi rumit seperti ini.
Clara berusaha tersenyum dengan tenaga nya yang hampir habis, "Tiara, se..... selamatkan ba..... bayiku" mohon Clara dengan mata yang hampir tertutup.
"aku akan berusaha menyelamatkan kalian berdua Clara, kamu hanya harus bertahan"
"a.... aku senang mendengar nya, tapi aku hanya ingin kamu menyelamatkan bayi ku. A.... aku rasa aku sudah tidak punya waktu lagi"
"to..... tolong jaga anakku dan.... su... suamiku Tiara, aku sa.... sangat mencintai me.... mereka" ucap Clara dengan suara tercekat.
__ADS_1