Terpaksa Menikah Suami Sahabatku

Terpaksa Menikah Suami Sahabatku
Kelahiran dan kematian


__ADS_3

dor


dor


dor


suara tembakan masih menggema di jalanan sepi itu, Leo dan Gery terus menembakkan peluru meraka dan lawan juga menembakkan peluru mereka.


sudah banyak mereka berdua lumpuhkan, namun sepertinya lawan mereka semakin banyak.


dor


akibat kurang fokus, Leo tidak melihat jika ada orang yang membidik nya dari samping akibatnya lengan nya tertembak membuat Gery sedikit panik.


"tuan? apakah anda terluka?"


Leo terdiam, bukan karena merasa sakit namun perasaannya sekarang tidak enak. pria itu memegang lengan nya yang terluka dan tiba-tiba teringat akan istrinya.


dor


dor


kedua pria yang sedang bersembunyi di balik mobil itu pun kaget akibat tembakan yang beruntun. Gery melihat sekitar dan melihat jika musuh masih banyak dan tidak memungkinkan jika melawan mereka dengan keadaan seperti ini.


"kita harus cepat ke rumah sakit, saya memiliki filing yang tidak enak" ucap Leo kepada asistennya.


"saya sudah meminta bantuan tuan, seharusnya sekarang mereka sudah sampai"


liu liu liu liu


liu liu liu


(kek gitu gak sih suara sirine polisi?)


para pria berbadan besar yang mendengar sirine mobil polisi, dengan panik langsung bubar dan melarikan diri. Gery dan Leo saling menatap, keduanya heran siapa yang memanggil polisi datang.


"saya tidak memanggil polisi tuan" sanggah Gery ketika Leo menatapnya tajam.


namun setelah mobil tersebut mendekat, Leo dan Gery langsung mendatarkan ekspresi nya karena anak buah mereka lah yang datang dengan menggunakan toa.


"apakah kami terlambat tuan?" tanya salah satu anak buah Leo setelah sampai di depan pria itu.


"bagus jika kalian sadar"


semua anak buah Leo langsung menunduk hormat, mereka tidak mau menyangkal.


Gery langsung membantu Leo berdiri dan memapah pria itu ke mobil.


"bereskan semua kekacauan ini dan cari siapa dalang di balik ini" perintah Leo kesemua anak buahnya sebelum masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"SIAP TUAN!!"


ucap serempak anak buah Leo.


"kita harus segera ke rumah sakit"


"siap tuan"


Gery langsung menaikkan gas dan mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


...***...


"to..... tolong jaga anakku dan.... su... suamiku Tiara, aku sa.... sangat mencintai me.... mereka" ucap Clara dengan suara tercekat.


Tiara menggeleng dengan air mata yang masih berderai, dia menggengam tangan Clara dengan satu tangannya dan tangan satu lagi mengelus wajah wanita itu.


"kamu gak boleh bilang seperti itu Clara, hiks..... kamu dan bayi kamu akan selamat"


Clara membalas genggaman sahabatnya itu. "a.... aku senang bertemu dengan kamu Tiara, banyak hal yang ingin aku ceritakan sama ka...kamu"


"huffff"


"a... aku mohon sama kamu, ja..... jaga anakku dan juga su... suamiku. aku tidak tahan lagi Tiara"


ucap Clara dengan nafas yang semakin melambat dan berat, bibir gadis itu sudah sangat pucat tangannya juga gemetaran.


Tiara menggeleng dengan air matanya yang masih berderai. "kamu akan selamat Clara, jangan tutup matamu"


"Dimana suaminya, AHK SIALAN" teriak Tiara panik melihat Clara ingin menutup matanya.


perawat yang mendengar itu langsung berlari ke arah pintu dan membukanya dan melihat sekeliling mencari keberadaan Leo yang masih belum ada tanda-tanda jika pria itu akan datang.


"suster, gimana menantu dan cucu saya?" tanya wanita paruh baya dengan panik.


"apakah suami pasien belum datang?" tanya suster tersebut dengan panik.


Darwin pria paruh baya yang tadi sedang berusaha menelpon Leo itu bangkit dan mendekat ke arah istrinya yang sudah ikut panik.


pria itu memegang kedua pundak istrinya, "Leo belum ada kabar mah, saya tidak tau kemana pria sialan itu pergi" ucap Darwin geram.


Alma, wanita paruh baya itu memegang kedua tangan suster didepannya. "tolong selamatkan menantu dan cucu saya" mohon Alma.


sedangkan Tiara, dia sekarang masih diambang kebingungan. apa yang harus dia lakukan? jika dirinya nekat menyelamatkan keduanya, bisa saja keduanya juga akan meninggal.


"dok? bagaimana ini? kita akan kehilangan dua nyawa jika operasi ini ditunda lebih lama lagi" ucap salah satu dokter membuyarkan lamunan Tiara.


Tiara bangkit dan menatap ke arah pintu, bahkan di ambang kematian Clara, Leo pria itu tidak ada di samping istrinya.


Tiara mengusap jejak air matanya dan bangkit dari jongkok nya. "apakah kita tidak bisa menyelamatkan keduanya?" tanya Tiara masih ingin menyelamatkan ibu dan bayi tersebut.

__ADS_1


"tidak bisa dok, jika kita memilih menyelamatkan ibunya presentasi kematian bayi 100 persen dan ibu nya juga akan ikut mati karena kondisi pasien sudah sangat drop dan juga terjadi komplikasi dengan bagian internet pasien." terang dokter yang mendiagnosa Clara.


"jadi kita hanya bisa menyelamatkan bayinya saja?" tanya Tiara tercekat, jantungnya berdegub kencang dan air matanya kembali turun.


"benar dok, dan kita harus cepat jangan sampai bayinya juga ikut meninggal"


"jadi, Clara sudah meninggal menurut medis?" tanya Tiara lagi sambil menatap Clara yang sudah menutup matanya dengan wajah pucat.


semua dokter dan perawat yang ada di sana menunduk lesu, semuanya menangis melihat kejadian di depan mereka.


perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya ke dunia mengingatkan mereka semua akan orang tua mereka.


Tiara mengusap air matanya, dia tidak bisa membuang waktu lagi. "kita akan mulai mengoprasi pasien" putus Tiara dan mulai menjalankan operasinya.


sudah setengah jam berlalu namun belum ada tanda-tanda Leo datang ke rumah sakit tersebut. Alma, wanita paruh baya tersebut sedari tadi sudah mondar-mandir dengan sangat khawatir.


lampu ruang operasi masih berwarna merah, dan itu membuat ketakutan Alma semakin bertambah.


"mas, apakah kamu sudah bisa menghubungi Leo?" tanya Alma kepada suaminya yang duduk namun tidak bisa di bohongin jika pria itu juga sangat khawatir.


"tidak, dia seperti sudah di telan bumi"


Tiara dengan segala kemampuannya berusaha untuk tidak melakukan kesalahan, walau hatinya sekarang sangat khawatir bercampur sedih.


Tiara berhasil mengeluarkan bayi Clara dengan selamat.


owekkkk


owekkk


owekk


suara tangisan bayi langsung menggema di ruangan tersebut, semua orang yang ada di ruangan operasi tersebut menghela nafas.


Tiara menggendong bayi Clara yang masih berlumuran darah, wanita itu meletakkan bayi itu di atas dada Clara yang masih menutup matanya.


"bayimu sangat tampan Clara" ucap Tiara.


tittttttt


tittttttt


tittttttt


alat yang dipasangkan kepada Clara langsung berbunyi, semua langsung melihat ke arah ventilator yang sudah lurus memperlihatkan jika Clara sudah meninggal.


seluruh badan Tiara langsung melemas, air matanya keluar tampa bisa ada yang mencegah. Dia terduduk di lantai sambil memandangi wajah Clara yang sudah damai tampa rasa sakit.


"bahkan kita harus bertemu di situasi seperti ini Clara, aku sangat membencimu hiks.. "

__ADS_1


__ADS_2