
Yuga ini tengah duduk di ruang tengah seraya mengobati kakinya yang terasa sakit dan juga sedikit bengkak. Pria itu mengoleskan krim untuk meredakan bengkak yang ia rasakan akibat injakan kaki Tya. Sekali ia mendesis merasakan sakit seraya mengumpat di dalam hati.
Itu sang Mami berjalan mendekat lalu duduk di samping putra sulungnya. Ia menatap Yuga saran mengapa tiba-tiba saja mengobati kaki. Memang terlihat kaki Yuga sedikit memar.
"Kaki kamu kenapa?"
Yuga melirik sekilas ke arah sang Mami lalu kembali mengusap-ngusap kakinya. "Karena permintaan nenek dan mami. Usaha buat deketin Tya, lihat apa yang terjadi sama kaki aku? Ini masih tega nyuruh aku buat ngedeketin dia?"
"Loh, emangnya Tya ngapain kamu?"
"Dia injak kaki aku. Udahlah, Kenapa sih permintaan Mami sama nenek itu aneh-aneh aja?" Yuga bertanya dirinya kini benar-benar merasa kesal dan marah dengan permintaan nenek dan maminha itu.
"Kamu nggak boleh kayak gitu. Mungkin kamu nggak ingat, dulu Om Budi pernah ngelawan apa yang dibilang oleh nenek. Nenek bilang Om Budi nggak boleh nikah sama janda. Ternyata benar kan, akhirnya hartanya dibawa kabur semua sama istrinya itu. Sekarang dia malah nggak nikah-nikah."
__ADS_1
Yuga tau jelas aja iya juga ingat mengenai kejadian itu. Hanya saja, masih tak mempercayai Kalau ia harus menikahi Tya. Lagi pula seharusnya akan lebih mudah mendekati gadis itu. Namun, nyatanya lebih sulit dibandingkan harus membayar perempuan lain.
"Gimana kalau yang lain aja tapi juga gemuk?" tanya Yuga.
"Nggak bisa, weton kamu sama fotonya dia tuh udah cocok."
Yuga menggelengkan kepalanya mendengar perkataan sang mami. "Itu apa lagi sih Mi? Weton apa?"
Nindi putranya itu dengan antusias. Sudah bersiap untuk menjelaskan mengenai perhitungan sang nenek kepada putra sulungnya itu. "Pokoknya perhitungan weton kamu, kamu anak sulung dan dia anak bungsu, terus juga zodiak dia itu pas Pisces, anaknya itu penyayang, MBTI nya juga ENFP. Udah pisces, enfp, double kill kalau jatuh cinta." Nindi kepada putra sulungnya, yang membuat Yuga geleng-geleng kepala heran.
"Mami baru ingat. Kalau Mami sama dia itu berteman di Facebook. Tya, Kadang-kadang suka ngepost tentang zodiak dan juga MBTI. Jadi mami iseng-iseng cari tahu deh," jawab. Nindi. Wanita itu menjelaskan dengan antusias dan juga terlihat bangga sekali kepada putra sulungnya.
Yuga jadi tak habis pikir. Bagaimana sang Mami bisa kepikiran tentang hal-hal seperti itu. Sifatnya benar-benar mirip dengan sang adik yang random dan kadang memang tak jelas.
__ADS_1
"Kalau mbti kamu apa Nak?" Nindi bertanya pada Yuga.
MBTI adalah salah satu psikologi yang dilakukan untuk mengenal pribadi seseorang secara lengkap. Dan tes seperti ini kini sudah banyak ada di internet.
"ISTP," jawab pria itu cepat.
"ISTP itu apa? Tunggu mami cari di internet."
Nindi kemudian berselancar di dunia maya untuk mencari informasi tentang MBTI ISTP. Yuga tak terlalu memperdulikan sang ibu. Ia fokus terhadap penyembuhan terhadap kakinya. Besok pria itu harus mengecek pabrik. Jadi tak mungkin kalau harus berada di lapangan dengan kondisi kaki yang sakit seperti ini.
"Ah!" Nindi kemudian bersorak setelah ia menemukan informasi yang ia cari. "ISTP, Introvert, Sensing, Thinking, Perceiving. Kelebihannya adalah rasional bla bla bla. Dan kekurangannya adalah, enggak peka, keras kepala, suliy berkomitmen, sulit didekati. Benar-benar cocok sama kamu." Nindi berkata sambil menggelengkan kepalanya.
"Kelebihan Mami nggak sebutin. Begitu kekurangan Mami sebutin semua?" Yuga jadi kesal.
__ADS_1
Nindi terkekeh geli karena kelakuan putranya yang satu itu. "emangnya kenapa? Yang paling penting kan memang kekurangan kamu. Makanya Mami cari perempuan seperti Tya, biar hidup kamu lebih berwarna."
Yuga berdecak, memutuskan untuk berjalan ke kamar. Tinggal pasang Mami sendirian duduk dengan ponselnya mencari informasi mengenai zodiak dan mbti.