
Siang ini saat berada di gudang, Gilang dan Arin masih terus menggali 'informasi penting' tentang hubungan Tya dan Yuga lebih jauh. Namun, karena pertanyaan yang setengah-setengah itu, jawaban yang mereka dapatkan pun setengah-setengah. Gilang dan Arin tidak masalah dengan hal itu, mereka hanya perlu menggunakan imajinasi mereka untuk menyambung jawaban-jawaban Tya menjadi sebuah cerita yang mereka yakini begitulah kejadian yang sebenarnya.
"Nggak nyangka gue, sumpah! Gue kira Tya polos, pacarannya bakal lurus-lurus aja," bisik Arin pada Gilang saat Tya sibuk memilih bahan kain di ujung lorong.
"Lah, sama! gue kira dia anaknya nggak tau apa-apa! Apa gara-gara pasangannya Pak Yuga, ya? 'Kayaknya Pak Yuga tipenya lumayan agresif," sambung Gilang.
Keduanya lalu terkikik sendiri dengan pemikiran mereka. Mendengar kedua rekannya malah ngobrol sendiri di ujung lain, Tya merengut dan memanggil keduanya.
"Kalian niat kerja, nggak, sih! Ngobrol mulu perasaan!" sungut Tya. "Ayo, bantuin, biar cepet selesai! mas Gilang mau kain apa!"
Gilang dan Arin sikut-sikutan, lalu mendekat pada Tya. "Kerja, kerja, di aduin sama pacarnya bos, tau rasa kita!"
Keduanya masih cekikikan saat sampai di dekat Tya, tapi Tya tidak mempertanyakannya lagi dan melanjutkan memilih kain berdasarkan permintaan Gilang.
Sementara itu, di kantor, Yuga sedang memilih desain baru mereka yang akan diluncurkan akhir tahun ini. Tema itu diharapkan baru karena sekaligus menjadi acara utama pada acara akhir tahun yang rutin diadakan di perusahaan mereka. Dia tidak sendiri. Ada Sandra yang menemaninya di kantornya.
"Permisi iya, Pak, mau lap keringat Bapak." Sandra mendekat dan mengelap keringat di kening Yuga dengan selembar tisu yang ditariknya dari meja. "Kalau menurut saya, sih, Pak, tema Warna Warni Desember ini, oke, deh, Pak. Menurut Pak Yuga gimana?" usul Sandra sambil mendekatkan duduknya pada Yuga.
Yuga melirik sebentar pada sekretarisnya itu sebelum menggeser sedikit duduknya, memberi sedikit jarak wajar di antara mereka. Ia kemudian kembali sibuk membaca dokumen dari dua tim yang berada di perusahaannya.
"Warna Warni Desember ... agaknya terlalu biasa. Kurang berkesan," komentar Yuga pelan sambil terus memerhatikan dokumen di tangannya. Memilih mana yang terbaik.
Sandra menipiskan bibirnya melihat tingkah Yuga. Dia sudah mendengar tentang desas-desus tentang kedekatan Yuga dengan Tya dari teman-teman kantor yang suka sekali bergosip. Namun, hati kecilnya tidak ingin mempercayainya apalagi Tya itu sama sekali tak menarik menurutnya.
Menurutnya, Tya sama sekali tidak cocok untuk Yuga! Tya terlalu biasa untuk Yuga yang luar biasa. Sandra yang merasa dia lebih cantik dan lebih kompeten di kantor tidak rela jika Yuga harus bersama Tya. Dan lagi, Sandralah yang lebih dulu menyukai Yuga!
__ADS_1
Dengan tekad yang makin menguat, Sandra kembali mencondongkan tubuhnya mendekat pada Yuga untuk menunjuk pada layar laptop yang dipangku Yuga. "Yang ini bagus, Pak. Kalo Finale December, gimana?"
"Kamu mau perusahaan kita final akhir tahun ini? Cari tema yang bener, dong. Tema juga bagian dari doa," gerutu Yuga.
Sandra tersenyum. "Iya, juga, ya Pak."
Bosnya ini memang dingin dan cuek. Bahkan, Yuga juga terkenal judes dan galak. Namun, Yuga tidak pernah mendorongnya menjauh. Bagi Sandra, itu adalah sinyal yang baik. Berarti, Yuga betah berada dekat dengannya, daripada dengan Tya. Tak lainnya adalah karena Yuga mempekerjakannya sebagai sekretaris yang selalu dekat dengannya, bukan Tya yang sampai berada di bagian desain.
Semua itu tentu saja hanya ada di dalam kepala Sandra saja. Yang dirasakan Yuga sama sekali tidak begitu. Meskipun dia belum memiliki perasaan yang tulus untuk Tya, bukan berarti Yuga bersedia mengumbar perasaan pada lawan jenis sesuka hati..
“Tolong bikinkan kopi, saya mulai agak ngantuk,” pinta Yuga.
“Baik, Pak. Americano ice no sugar, ‘kan?” jawab Sandra dengan suara centil.
Sandra tersenyum manis. “Hanya memastikan, kok, Pak. Oh, ya. Sudah mau makan siang juga, Bapak mau makan apa? Saya pesankan sekalian, ya? Bapak mau mencoba resto yang baru buka di seberang jalan itu? Kata anak-anak desain enak, lho, Pak!”
“Terserah kamu.”
“Baik, ditunggu, ya … sebentar. Bapak keringeten terus, nih. Saya lap dulu keringatnya. AC nya saya kecilin, ya, Pak.”
“Ya, ya, buruan, saya haus.” Yuga mulai kesal setiap kali ia bersama Sandra yang selalu saja kecentilan.
Yuga menghela napas lega setelah Sandra ke luar dari ruangan. Tangannya bergerak ke atas untuk melonggarkan dasinya sedikit. Dia memang gerah, bukan karena AC nya kepanasan, tapi karena Sisca yang duduknya terlalu dekat t dengannya, membuat Yuga gerah dan sesak! Mungkin gadis itu agak rabun, sofa sebegini banyaknya, kenapa dia duduknya mepet padanya? Aneh-aneh saja!
Yuga sebenarnya tidak terlalu suka sifat Tya yang genit dan culametan. Menurut Yuga, Sandra terlalu … lebay? Sebenarnya dia juga tidak ingin punya sekretaris yang begitu, tapi Sandra kerjaannya bagus. Membuat Yuga tidak punya alasan untuk tiba-tiba memberhentikannya.
__ADS_1
Yuga kembali mencoba membaca dokumen. Kini ia membaca dokumen milik tim Gilang. Rasanya begitu detail dengan beberapa contoh desain t-shirt dan juga sepatu terbaru. Bahkan untuk musim ini Gilang memberikan beberapa desain gaun terusan yang terlihat sangat cantik. Dipadupadankan dengan batik menonjolkan kesan Indonesia banget.
"Cadusa December? Kata Gilang, Cadusa artinya Gemilang. Maknanya, kita berharap akhir tahun ini tetap cemerlang menuju awal yang baru." yuga bergumam sambil membaca penjelasan pada dokumen yang berada di tangannya.
”Pak Yuga, makanannya sudah datang. Ini juga, kopi Bapak. Americano, iced, no sugar.” Sandra meletakkan bawaannya di depan Yuga. Posenya yang menunduk membuat kerah bajunya turun dan menampakkan asset yang dia punya.
Yuga segera memalingkan wajahnya. “Makan, yuk, Pak. Biar bisa cari tema bagus buat bulan Desember.”
“Cadusa Desember.Itu temanya. Saya sudah dapat. Kita akan umumkan dengan Tim yang lain, nanti ketika rapat.”
***
Sementara itu, Tya, Arin, dan Gilang sampai kembali ke kantor beberapa saat setelahnya. Mereka langsung kembali ke kantor karena masih banyak laporan dan hal lain yang harus dikerjakan.
“Tya, nih, kamu aja yang ke Pak Yuga.”
“Apaan sih, Mas Gilang, masa aku? mas aja, ” tolak Tya.
Namun, kedua rekannya terus mendesak hingga Tya tidak punya pilihan lain selain mengiyakan. Dia sama sekali tidak paham kalau alasan Arin dan Gilang menyuruhnya adalah karena laporan mereka sedikit complicated dan mereka tidak ingin menjadi santapan Yuga nanti. Mereka yakin, selama Tya yang maju, semua akan baik-baik saja. Karena permintaan kain Gilang kali ini memiliki beberapa permintaan khusus. Gilang berharap Yuga akan memenuhi itu.
Tya naik ke ruangan Yuga dan mengetuk pintu. Tiga kali ketukan dan dia menunggu sebentar sebelum membuka pintunya.
Tya kira, dia akan menemukan Yuga sedang berada di belakang mejanya dan melakukan pekerjaannya seperti biasanya. Namun, pemandangan di dalam ruangan Yuga yang hanya berisi pria itu dan Sandra, sekretarisnya, membuat Tya terperanjat.
“Astaga!”
__ADS_1