Terpaksa Menikahi Si Gendut

Terpaksa Menikahi Si Gendut
Masih sakit?


__ADS_3

"Gimana sudah deket sama Tya?" tanya Kinar pada sang cucu.


Sudah beberapa minggu ini pertanyaannya itu-itu saja. Hal itu jelas saja membuat Yuga merasa kesal. Dan tentu saja membuat pria itu merasa bosan setengah mati. Di kantor ia sudah tak lagi mencoba untuk mengejar Tya.


"Ya, nenek lihat aja nanti lah. Udah usaha buat deketin dia kok. Memang anaknya yang agak susah. Jual mahal, padahal cantik juga nggak." Yuga menggerutu merasa kesal dengan penolakan dan penolakan yang terus saja ia terima.


Dengar apa yang dikatakan putranya itu membuat Nindy merasa kesal. Wanita itu kemudian memukul bahu Yuga. "Tya itu cantik lho, kamu lihat aja matanya bulat besar, bulu matanya lentik, bibirnya tipis cantik. Gendut gendut gitu Mami yakin deh banyak yang naksir."


Yuga mendesah meremehkan. " Dari mana cantiknya sih mi? Ya mami Lihat aja lah gimana kondisinya."


"Kamu itu nggak boleh menilai perempuan dari fisiknya doang. Nanti kalau kamu kenal Mami yakin kamu jatuh cinta. Lihat aja zodiaknya dia Pisces udah pasti penyayang banget." Nindy menjelaskan lagi dengan keyakinannya pada zodiak Pisces yang jelas sekali adalah orang yang penuh dengan kasih sayang.


"Aku juga pisces. Memangnya aku penuh dengan kasih sayang?" Yuga bertanya lagi.


"Kamu belum kena aja sama yang bikin bucin." Nindy meyakinkan putra sulungnya itu. Ia kemudian melanjutkan santap paginya.


"Pokoknya kamu harus dapetin dia sebelum ulang tahun kamu." Kinar mengingatkan kepada sang cucu.


Yuga terdiam di dalam otaknya kini tengah menghitung, berapa bulan lagi dari sekarang sampai hari ulang tahunnya. "Empat bulan?"


"Sebelum ulang tahun kamu, kalian berdua harus menikah. Karena kalau nggak kamu bakal sial sepanjang tahun berikutnya." Kinar memberitahu sangat cucu tentang konsekuensi apa yang akan ia dapatkan, ketika tak berhasil menjalankan apa yang dikatakan olehnya.


"Aku akan usaha dapetin dia tapi nggak janji. Karena orangnya susah buat didekati." Yuga berkata lagi.


Yuga sudah menjaga jarak dengan Tya. Meskipun demikian desas-desus mengenai hubungannya dengan garis itu sudah beredar. Yuga merasa kalau hal itu cukup untuk sementara waktu. Jadi pria itu memutuskan untuk menjauhi Tya dulu sambil memikirkan rencana apa yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan gadis itu. Tentu saja bukan karena cinta, semua hanya karena keinginan Kinar, neneknya.


"Mami yakin kamu pasti bisa buat dapetin dia. Masa kamu nggak punya ide untuk dapatin hatinya dia?"


"Ide sih ada. Tapi ekstrem." Yuga berkata lagi.

__ADS_1


"Ya udah, selama kamu bisa bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan, Mami rasa nggak ada masalah." Nindy berkata lagi, tanpa bertanya tentang rencana apa yang mungkin akan dilakukan oleh Yuga.


"Yang penting kamu ingat aja apa yang nenek bilang. Waktu kamu nggak lama. Jadi buruan dapetin hatinya perempuan itu." Kinar menambahkan lagi mencoba membuat Yuga untuk semakin cepat bertindak mendapatkan hati Tya.


Setelah selesai dengan kegiatan sarapan paginya pria itu segera melangkahkan kaki untuk berangkat bekerja. Diantarakan oleh Ahyat sang sopir, mobil hitam itu melaju membelah jalanan ibukota pagi yang padat. Yuga duduk di dalam mobil seraya memerhatikan artikel dari ponsel miliknya. Perjalanan tak terlalu terasa karena ia fokus membaca berita.


Setelah sampai di depan pintu utama, ia segera turun dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk. Berjalan dengan kepala yang tegak, dan langkahnya yang pongah. Pria itu berpapasan dengan Tya, gadis itu terlihat berjalan bersama dengan Gilang. Hari ini keduanya memang berencana untuk datang ke pabrik kain dan memilih bahan yang akan digunakan untuk musim ini.


Tya berpindah tak ingin berpapasan langsung dengan Yuga, selain sangat Hasan malah ikut berpindah tempat agar ia bisa berpapasan langsung. Gilang melihat Tya yang memutuskan menghindar, kemudian dia malah menghentikan langkahnya.


"Pak Yuga, selamat pagi." sapa Gilang kepada atasannya itu.


Yuga hentikan langkahnya lalu ia menatap ke arah Tya dan Gilang setelahnya. "Pagi, kalian mau ke mana?" tanya Yuga.


"Kita mau ke pabrik Pak, biasa mau cari dan request kain untuk musim ini." Gilang menjawab pertanyaan Yuga.


"kenapa menghindari saya?" tanya Yuga.


"Enggak menghindari, saya mundur," jawab Tya asal.


Gilang menatap melihat drama yang ada di hadapannya kini. Saat itu juga ada Arin yang baru saja kembali dari toilet. Ia menatap ke arah Tya dan Yuga. Lalu, Gilang memegang tangan Arin meminta bawahannya itu berdiri di sampingnya.


"Hmm masih sakit?" tanya Yuga, tentu saja pertanyaan itu membuat Arin dan Gilang membuka mulutnya lebar.


Tya terdiam, memikirkan apa yang dikatakan oleh Yuga kemudian memegang keningnya, terasa sedikit demam. "Iya sedikit," jawab Tya.


Yuga sebenarnya ingin marah karena kebodohan gadis di hadapannya itu. Hanya saja, bukankah itu malah menguntungkan dirinya? Apalagi saat ini ada Gilang dan Arin yang pasti akan menyebarkan gosip.


"Enggak apa-apa. Nanti kalau ada apa-apa saya tanggung jawab." Yuga berujar lagi.

__ADS_1


Tya anggukan kepalanya. "Iya, makasih Pak." Tya berpikir kalau apa yang dikatakan Yuga adalah ungkapan perhatian dan tanggung jawab sebagai atasan.


Tentu saja ini membuat Arin dan Gilang semakin heboh dengan apa yang mereka dengar. Keduanya benar-benar mencoba menahan suara agar tak berteriak dan bersuara karena hal ini.


Yuga mendekat, hendak mencium kening Tya. hanya saha gadis itu bergerak cepat, menunduk dan melesat berjalan k belakang tubuh Yuga. Yuga hela napas kesal. Ia lalu menolehkan tubuhnya ke belakang.


"Gilang, Arin saya titip kesayangan saya ya. Dia lagi sakit," ucap Yuga kemudian tersenyum.


"Bapak bisa diem eng--" Tya terhenti saat Arin membekap mulut gadis itu.


"Bapak tenang aja, kita akan jagain dia baik-baik," ucap Gilang kemudian membawa Tya segera meninggalkan tempat itu.


Gilang dan Arin saling lirik, lalu Gilang melirik Arin ia meminta Arin yang bertanya pada Tya. Arin lalu anggukan kepalanya.


"Emang sakit Ty?" tanya Arin.


Tya anggukan kepalanya, "Sedikit," jawabnya.


Arin dan Gilang saling tatap tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Gilang lalu mencolek-colek lagi bahu Arin berharap mendapatkan informasi lebih banyak lagi.


"Emang kapan sama Pak Yuga?"


Tya terdiam mencoba mengingat kapan ia bersama Yuga. Yang ia ingat adalah saat yuga mengantarkannya pulang. "Udah beberapa waktu lalu."


"Dimana?" tanya Arin lagi.


"Rumah gue," jawab Tya.


Jawaban Tya membuat kedua temannya syok dan segera gelengkan kepalanya. Mereka sama sekali tak menyangka tya yang polos ternyata ....

__ADS_1


__ADS_2