
Malam ini Tya senang malamnya tak lagi sepi. Yuga dan Pak Ahyat menemaninya. Mereka bertiga mengobrol dan juga makan malam di sana. Tya memasak nasi goreng dengan toping awam goreng yang ia potong kecil-kecil di tambah dengan sosis dan juga tak lupa kerupuk yang tak pernah terlewatkan.
Yuga menatap pada jam di tangannya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, rasanya ia harus segera kembali ke rumah. "Kakak kamu pulang jam berapa Ty?" tanya Yuga lagi.
"jam satu pagi Pak," jawab Tya.
"Udah malam, kayaknya saya harus pulang, Rumah kamu semua bisa dikunci dengan aman kan?" tanya Yuga lagi,
Tya anggukan kepalanya. "Bisa kok Pak, semua bisa dikunci."
Yuga sebenarnya tak tega meninggalkan Tya, bukan karena ia menyukai Tya. Hanya iba saja merasa iba dengan keadaan Tya.
"Kalau gitu saya pamit," ucap Yuga.
Tya anggukan kepala dengan senyum sumringah senang sekali karena ditemani malam ini. "Makasih ya Pak, mau nemenin saya di sini. Seneng banget. Tya mengatakan itu dengan bersemangat.
"Bapak pulang ya Neng," kata Pak Ahyat lalu berjalan ke luar rumah.
"Ya udah saya juga pulang pastiin semua rumah kamu dikunci.
lagi-lagi Tya menjawab dengan anggukan kepala. "Pak saya mau ngomong sesuatu. Tentang ajakan bapak untuk menikah kontrak ...."
***
Yuga kini dalam perjalanan pulang. Mimik wajahnya tak banyak berubah, kini ia menopang dagu menatap pada jalan dari luar jendela. jadi merasa bersalah karena telah membawa Tya dalam masalahnya. Apalagi, gadis itu terlihat tulus dan lugu sekali.
Yuga hela napas, sambil menikmati jalan malam yang sunyi namun tak benar-benar sepi. Sampai, ponselnya berdering. Yuga mengambil ponsel miliknya di kantong kemeja. Menatap nama dalam ponsel. Terlihat bahagia sekali, dengan cepat menerimanya.
"Hmm? Tumben?" sapa Yuga.
"Jemput aku dong Mas," jawab suara dari balik telepon.
"Lho emang di mana?"
"Bandara Halim," jawab gadis itu.
__ADS_1
Tatapan yuga terlihat seketika cemas. "Malem- malam gini?'
"Hmm, biasa ada masalah sama Mas Ahbi."
"Jangan kemana- mana saya ke sana," kata Yuga, "Pak Bandara Halim,"
Mobil itu melaju menuju lokasi yang diinginkan oleh Yuga. Disha adalah saudari sepupu Yuga dari mendiang ayahnya. Keduanya sangat dekat dulu, sebelum akhirnya Disha memutuskan untu bersekolah di luar negeri dan memiliki hubungan khusus dengan Ahbi yang adalah teman kuliahnya.
Belakangan Disha sudah kembali ke Indonesia, berniat serius menjalin hubungan dnegan Ahbi. Namun memang keduanya sering sekali bertengkar dan menyebabkan Disha sering datang k Jakarta untuk mengungkapkan kesedihannya pada Yuga. Disha merasa kalau Yuga selalu bisa mengerti dirinya dan menganggap kalau Yuga seperti kakaknya sendiri.
Lokasi bandara tak terlalu jauh, Yuga bahkan kini bisa melihat Disha yang tengah menunggu, Mobil itu terhenti tepat di depan gadis itu. Pak Ahyat turun membantu membawakan koper.
"Makasih ya Pak," ucap Disha kemduian segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil.
Yuga menatap gadis itu sambil tersenyum, jarang sekali pria itu tersenyum pada gadis dan kali ini ia memerikan senyuman manisnya pada Disha.
Disha juga tersenyum lalu memukul pelan bahu sang kakak sepupu."Sehat kamu Mas?" tanyanya.
Yuga anggukan kepalanya. "Sehat, ini aku di sini jemput kamu."
"Kamu enggak pernah ke sini? Ke sini lah biar enggal kangen." Kutub utara yang mencair ia jadi banyak bicara ketika bersama dengan Disha.
"Aku kan kemarin mulai rintis usaha Mas. Datang dong ke Bali, aku buat kafe di sana."
"Kapan-kapan kalau aku ada kerjaan di sana aku mampir," kata Yuga. Yuga selalu berkata aku, bukan 'saya' karena Disa yang meminta. Gadis itu tak mau kalau Yuga terlalu kaku pada dirinya.
Mobil itu lalu kembali melaju di malamnya kota Jakarta menuju rumah Yuga. Disha juga telah terbiasa menginap di rumah Yuga jika datang ke jakarta. hari ini sebelum kedatangannya, juga sudah memberitahu Nindi kalau ia mau datang.
Disha menatap pada Yuga yang masih berpakaian rapi malam- malam begini. "Kamu dari mana Mas? Kok masih rapi begini?''
"Tadi habis--" Yuga terdiam menghentikan ucapannya dan menatap pada Disha. "Anter seseorang.'
Disha menautkan keningnya, menatap pada sang kakak sepupu. "Seseorang? Pacar?" tanya Disha.
Yuga menggerakan kepalanya ragu. "Entahlah, aku enggak tua hubungan seperti apa. Tapi kita berteman baik."
__ADS_1
"Ah gitu," kata Disha yang terlihat sedikit kecewa dengan apa yang dikatakan oleh yuga. Disha menatap pada Yuga yang kini menatap pada luar kaca jendela. Ia sedikit mengela napas, bersandar pada kursi dan menatap keluar jendela.
Pukul satu dini hari, motor Bumi memasuki pelataran parkir rumahnya, Ia memarkirkan motor dan segera berjalan masuk. Wajah tampannya terlihat kelelahan. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, berjalan ke dalam dam meihat dapur yang masih menyala. Ada Tya di sana merebahkan kepalanya di meja makan.
Bumi mendekat ia mengira adiknya itu ketiduran. ia berniat membangunkan Tya sebelum ....
"Baaaa!!!" Teriak Tya yang jelas mengagetkan Bumi yang sudah berada di dekat wajah adiknya itu.
Bumi terlonjak ke belakang sambil memegangi dadanya, terkejut. Ia lalu mencubit pipi Tya karena kesal, "Kaget ish!" kesalnya seraya duduk di kurid yang berasa bersebrangn dnegan kursi yang diduduki oleh Tya.
Tya jelas tertawa senang sekali bisa menggoda sang kakak. "Maf ya Mas," ucapnya merasa bersalah.
Bumi mengacak rambut sang adik, tentu saja itu bukan masalah besar. Apalagi senang juga melihat Tya tertawa terkekeh seperti ini.
"Hari ini ada yang bikin seneng ya?" tanya Bumi.
Bumi sangat mengenal Tya, wajahnya menunjukkan kalau ia bahagia hari ini, Meskipun Tya selalu terlihat baik-baik saja setiap kali ia merasa bahagia akan berbeda.
"Tadi aku ditemenin Pak Yuga sama Pak Ahyat sopirnya. Rumah jadi enggak sepi," kata Tya.
"jadi kamu bener jadian sama Pak Yuga?" tanya Bumi.
Dalam hati, Bumi senang dan bersyukur karena adik perempuannya hari ini tak merasa kesepian. Tya dulu sering menangis jika sendirian sementara Bumi harus bekerja dan mengejar pendidikan. Jujur saja Bumu sering kali merasa bersalah karena tak bisa membahagiakan Tya. Apalagi ia tau kalau tanggung jawab membahagiakan Tya ada di pundaknya. Meski Tya tak pernah mengataka itu, Bumi jelas mngerti. Apalagi hanya Tya, keluarga kandung yang ia miliki satu-satunya.
Tya terdiam setelah dapatkan pertanyaan dari Bumi. "Mas, kalau--" Ia terhenti lalu menatap pada sang kakak.
Bumi menatap penasaran dengan kata-kata yang mungkin akan keluar dari mulut sang adik. "Kalau?" tanya Bumi meminta Tya melanjutkan kata- katanya.
"Kalau aku nikah nanti, gimana?" tanya Tya.
Dalam hati jeklas Bumi senang karena akan ada yang menjaga sang adik. "Kamu serius sama Pak Yuga? MAs seneng Ty, seneng banget. Akan ada yang jagain kamu dengan baik, sayang sama kamu. Mas akan tetap di belakang kamu, mastiin kalau Pak yuga menyayangi kamu dan jaga kamu dengan baik. Jangan khawatir tentang Mas, Mas Bumi jauh lebih kuat daripada kamu kan? Jangan khawatir, Hmm?"
Tya malah menangis dengar apa yang dikatakan Bumi. "Nanti Mas sendirian, yang nemenin Mas Bumi siapa? Yang nungguin mas Bumi kalau kerjain tugas siapa? Aku takut Mas Bumi kesepian," ucap Tya, menangis sambil menutupi wajahnya.
Bumi berdiri dan berjalan mendekati Tya. Ia memeluk sang adik sambil mengecup kening adik semata wayangnya itu. "Hei, sayangnya Mas Bumi. Kamu jangan nangis gini, Mas enggak pernah terlalu merasa kesepian. Kamu tau kan temen Mas banyak. Hmm? Kesayangannya MAs Bumi, dunianya Mas Bumi, mataharinya Bumi. Jangan nagis ya Dek, kam jangan khawatir tentang aku. Kebahagian kamu itu, kebahagian aku. Dek, jangan nagis ya? Bahagia ya?"
__ADS_1