Terpaksa Menikahi Si Gendut

Terpaksa Menikahi Si Gendut
Rumah Tya


__ADS_3

Semua menatap ke arah Tya.


"Jadi apa?" tanya Nindi.


"Jadi, alasan pak Yuga meminta saya jadi istri Karena nenek yang minta?" Tya bertanya dengan tatapan bingung yang menunjukkan sisi kelemotan-nya.


Kinar baru saja akan menjawab, sebelum akhirnya yoga yang menjawab pertanyaan itu.


"Iya nenek sakit dan kamu harus nurutin keinginan orang tua," kata Yuga yang kemudian dapat sebuah pukulan di bahu dari Nindi.


"Tapi nenek masih sehat banget kok jadi kamu jangan terlalu khawatir." Nindi berkata lagi.


Tya tak banyak berkata-kata hari itu. Dari pertemuan itu yang Tya tahu, kalau keinginan Yuga untuk menikah kontrak karena sang nenek yang tengah sakit. Sama sekali tadi bahas mengenai ramalan yang dikatakan oleh Kinar. Tentu saja Tya tak boleh mengetahu itu. Tak enak, jika ia mengetahuinya.


Setelah perbincangan itu, Yuga, Tya kembali ke rumah. Sama perjalanan juga Tya memilih siapa yang bicara karena ia memikirkan tentang pertemuan mereka tadi. Yuga mengantarkan Tya di depan rumah. Rumah bawahannya itu masih terlihat sangat gelap.


"Di rumah kamu nggak ada orang?" tanyanya.


Tya anggukan kepala lalu menjawab."Mas Bumi belum datang. Dan ibu udah enggak di sini."


"Hati-hati," kata Yuga.


Yuga sedikit khawatir karena Tya hidup tanpa orang tua, apalagi melihat lingkungan yang cukup sepi. Tya baru saja akan melangkahkan kakinya turun.


"Ty?"


Tya terhenti ia lalu menatap ke arah sang atasan. "Iya pak?' tanya Tya.


"Lingkungan rumah kamu aman?' tanya Yuga.


Tya terdiam san coba mengingat. "Beberapa hari lalu ada yang di maling Pak, Bapak lihat rumah itu," kata tya terhenti lalu menunjuk dua rumah di depannya. "Itu kemarin di maling, semua harta bendanya di ambil. Anak perempuannya nyaris diperkoas," kata Tya menjelaskan.


"Perkoas?" Yuga bertanya bingung.


"Perkosa pak," jawab Tya kemudian terkekeh.


"Kamu bisa enggak sih kalau ngomongs sama saya itu pakai kata- kata yang normal aja?" Yuga bertanya meminta, dengan kesal ia bicara sambil memutar bola matanya.


"Maaf ya Pak," ucap Tya.


"Ya udah sana, hati-hati. Jangan lupa gembok pagar rumah kamu." Yuga berkata.


"Percuma Pak," kata Tya. Lalu menunjuk kebun di samping kiri rumahnya.

__ADS_1


Yuga menatap heran pada Tya karena tak ada tembok yang mengahalangi rumahnya dari sisi sampng. "Buat apa kamu bikin pagar depan kalau enggak ada apa-apa di sampingnya?!" tanya Yuga kesal.


Tya lagi-lagi malah terkekeh. "Udah dua bulan ini pak. itu rodoh dindingnya. Tenang aja Pak, rumah saya enggak ada apa-apa. Jadi aman."


Yuga geleng- geleng kepala. Memang rumah Tya tak ada apa-apa, tapi kan nyawa lebih penting dibandingkan dengan harta yang hilang.


"Saya permisi pak," ucap Tya lalu melangkahkan kakinya ke luar mobil. Tya juga melambaikam tangannya pada Yuga.


Yuga hanya gelengkan kepalanya, bingung dari mana terciptanya gadis aneh seperti Tya?


"Jalan Pak,' titah Yuga.


Mobil itu kemudian melaju, melalui perumahan rumah Tya yang cukup sepi. Sebenarnya ini bukan kawasan yang terlalu elit. Mirip perkampungan, hanya saja ini perumahan yang sepertinya para penghuninya lebih senang tak saling berinteraksi.


"Neng-nya kesian ya Den?"


"kesian kenapa pak?" tanya Yuga.


"Itu sendirian, saya ngeri Den. Biasanya kalau penjahat belum ketangkep itu dia berkeliaran lagi." Pak Ahyat ungkapkan kekhawatiran yang ia rasakan.


Dan apa yang dikatakan Pak Ahyat buat Yuga jadi kembali memikirkan tentang Tya. Yuga itu memang dingin dan terliohat cuek, tapi ia sebenarnya perhatian sekali. Apalagi selama ini hidup dengan nenek dan mami yang membuat dirinya sedikit banyak jadi lebih sensitif, sesekali.


"Bapak ngomong kaya gitu, saya jadi kepikiran." Yuga berkata.


Semetara itu Tya sudah masuk ke dalam rumahnya, ia kini tengah menyalakan semua lampu dan memanaskan masakan dari dalam frezzer ke dalam air fryer. Kesendirian seperti ini sudah biasa sekali. Tak ada lagi Tya yang tersenyum manis. Sejak tadi bibirnya melengkung ke bawah sambil sesekali hela napas. Paling kesal jika sendirian. Ia lalu berjalan menuju lemari es dan meneguk air mineral dingin.


"Malas mandi," gumamnya.


Tya kemudian berniat naik ke lantai dua untuk menuju kamar. Langlahnua terhenti ketika ia mendengar suara bel rumah.


"Siapa?" tanyanya lagi pada diri sendiri.


Ia lalu berjalan menuju pintu depan ketika membuka pintu terlihat mobil Yuga di depan rumahnya. Tya kembali tersenyum rasanya senang sekali melihat orang lain di sini. Tya berjalan menghampiri wajahnya sumringah sekali melihat seseorang datang ke rumahnya.


"Pak Yuga?!" tya berseru seperti anak kecil yang dapat kejutan.


Sementara Yuga terlihat malas tapi iba, pria itu ada di antara rasa mau tak mau. Tapi cukup senang dengan reaksi Tya yang terlihat seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah.


"Bapak kok ke sini?" tanya Tya.


"Mau numpang buang air kecil," kata Yuga beralasan.


Tya tetap senang meskipun Yuga hanya ingin buang air kecil. "Ah, ayo pak masuk, maaf masih berantakan. saya belum sempat beres- beres." Tya berkata tak enak karena ia belum merapikan rumah.

__ADS_1


Keduanya berjalan masuk, rumah Tya terlihat seperti rumah tahun 90-an karena memang rumah ini tak pernah dirubah meski beberapa kali direnovasi. Tya menunjukan toilet pada atasannya itu.


"Rumah asaya kecil pak, lebih luas halaman rumah saya ya?" tanya Tya kembali pada mode saat bicara dengan Bumi. Manis sekali seperti adik pada kakaknya.


Yuga anggukan kepalanya, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ia harus pura-pura buang air kecil tentu saja. Meskipun tak ingin melakukannya. Tak lama Yuga kemudian keluar dan tak menemukan Tya.


"Pak udah?" tanya Tya berseru dari dapur.


"kamu di mana?" tanya Yuga.


"Dapur pak, sini masuk ke dapur,' jawab Tya,


Yuga melangkahkan kakinya mengikuti arah suara, Ada Tya dan ada juga Pak Ahyat yang ngeteh, Yuga berjalan menghampiri lalu Pak Ahyat mengtkan akan ngeteh di teras saja.


"Mau teh apa kopi Pak?" Tya menawarkan, sengaja biar tak buru-buru ditinggal.


"Kopi tanpa gula, kakak kamu pulang jam berapa?" tanya Yuga sambil duduk di kursi makan.


Tya membuatkan kopi untuk Yuga, juga mengamati makanan yang tengah ia hangatkan. "Jam satu pagi Pak. Biasa jam segitu." Tya menjawab tanpa menatap ke arah Yuga.


"Teman kamu enggak ada yang bisa kamu ajak nginep?" tanya Yuga lagi.


Tya gelengkan kepalanya. Lalu berjalan sambil membawa kopi di cangkir dan mmberikan pada Yuga. "Diminum dulu Pak,"ucap Tya.


"Terima kasih," jawab pria itu.


'Ada biasanya Arinm, tapi saya lagi berante," jawab Tya lagi.


Yuga menyeruput kopi miliknya hingga jawabannya terjeda. "Kenapa?"


"Saya dengar dia gosipin saya hamil, saya yakin banget kalau itu suara dia. Intinya kami berantem Pak," kata Tya yang malas juga harus menjealskan.


Di sisi lain Yuga jelas mengerti tentu saja gosip itu ada karena ulahnya dan sepertinya keberadaan dia di sini juga karena harus membayar kelakuannya sendiri.


"Yang lain?" tanya Yuga lagi.


"Vhi? Tapi kan dia jauh?"


"Yang lain enggak ada?' Yuga bertanya lagi, menurutnya aneh kalau Tya hanya memiliki dua teman.


tya gelengkan kepala. "Cuma kenal dan sapa seadanya Pak. Lagian enggak ada yang mau temenan sama saya Pak. Dulu waktu saya ulang tahun ke tujuh belas, ibu rayain rumah ini di desain bagus banget."Tya terdiam sejenak mengingat apa yang terjadi dulu. "Dan enggak ada yang datang selain Arin sama Vhi."


Yuga menatap bisa ia dengar suara gadis itu yang bergetar, Yuga hela napas. Sejujurnya jadi merasa iba sekali dengan gadis di hadapannya kini.

__ADS_1


__ADS_2