
Kedua orang di ruangan itu menoleh melihat kedatangan Tya. Ruangan langsung terlihat penuh begitu Tya masuk.
Sandra yang sedang mengelap sudut mulut Yuga hanya menatap Tya sekilas sebelum melanjutkan lagi apa yang tadi dilakukannya. Keduanya sangat dekat dan intim, sama sekali tidak terlihat seperti atasan dan bawahan yang sedang bekerja.
Sementara disisi lain, Yuga yang merasa diperlakukan seperti bocah oleh Sandra menepis tangan sekretarisnya itu dan menukas, "Cukup! Jam istirahat sudah selesai. kamu kembali ke ruangan kamu."
Yuga melakukan itu bukan karena tidak mau ke gap oleh Tya sedang berduaan dengan Sandra. Aslinya, dia tidak begitu peduli juga. Toh, perasaannya pada Tya juga bukan perasaan merah jambu yang membuat berdebar. Dia tahu kalau Tya bukan orang yang suka bergosip juga. Hanya saja, kalau Tya salah paham, semua usaha Yuga untuk menjadi cucu dan anak yang baik akan berantakan. Masa dia harus mengulang lagi dari awal? Ogah!
Sandra sedikit cemberut, tapi tetap menurut. Bagaimanapun, ini masih jam kerja, dia harus tetap profesional kalau tidak mau dipecat. Kalau dipecat, bagaimana dia bisa mendekati Yuga lagi? Dengan menjadi sekretaris teladan dan tangan kanan Yuga yang mumpuni, Sandra bisa punya banyak waktu dan kesempatan untuk mendekati pria itu. Dia harus sedikit bersabar.
"Baik, Pak." Sandra mengemasi perlengkapannya dan beranjak dari sana untuk kembali ke ruangannya. Saat Sandra berada di depan Tya, dia berkata dengan nada ketus yang terang-terangan. "Minggir, lo ngalangin jalan gue!"
Tya menurut dan minggir, walaupun sebenarnya kalau diperhatikan, masih ada sisa untuk Sandra lewat di sampingnya. Yang besar, 'kan badannya Tya, bukan Sandra. Seharusnya segitu cukup untuk dia lewat.
Sebentar kemudian, di ruangan itu hanya ada Tya dan Yuga. Tya masih berdiri di tempatnya, sampai Yuga bertanya, "Ada apa?"
"Mau laporan, Pak."
"Duduk." Yuga bertitah.
Tya menurut, dia melangkah dan duduk di seberang Yuga. Yuga sedikit lega, tapi juga kesal karena Tya duduk jauh. Entah, saat ini, Yuga sedang perang batin. Maunya dia, Tya duduk jauh, karena pasti sesak duduk di sebelah gadis sebesar itu. Namun, ucapan nenek dan maminya terngiang terus di kepalanya. Dia ingat dia menjanjikan pada mereka untuk berusaha lebih lagi mendekat pada Tya. "Duduk sini, di sebelah saya."
__ADS_1
"Di sini aja, Pak."
"Kamu bisa nggak, nggak bantah saya, nurut apa kata saya?" ketus Yuga.
Tya menurut, meskipun cemberut. Dia pindah ke sebelah Yuga, menjaga sedikit jarak agar terlihat sopan dan profesional. Memang, dia kesal karena Yuga suka sekali mengkritisi penampilannya dan membuat dia tidak nyaman karena gosip tentang mereka berdua yang kini menjalin hubungan spesial, Tya suka bekerja di sini.
"Jadi, Pak, laporan hari ini ...."
***
Di tempat lain, seorang pemuda mengepalkan tangan ke atas sambil berseru, "Yes! Kedaftar juga gue, akhirnya!"
Dia adalah Vhi, adik Yuga. Seharusnya dia pulang, maminya sudah memintanya pulang untuk membantu Yuga di perusahaan. Namun, bukan Vhi kalau tidak punya rencana sendiri dan sedikit membangkang dari rencana orang lain untuknya. Lagi pula, ini hidupnya. Dia yang memutuskan.
Bukan, sebenarnya, bukan itu motifnya. Dia melakukan semua ini bukan karena dia rajin dan punya rencana matang untuk masa depannya. Dia melakukan ini karena alasan pribadi yang sentimentil. Dia ingin membuka toko kue bukan karena passionnya memang di bidang itu, tapi karena ada seseorang yang ingin dibuatnya terkesan, ingin dibuatnya senang dengan prestasinya nanti. Orang yang ingin dibuatnya terkesan adalah dambaan hatinya sejak masa SMP dulu. Dia memang tipe setia, sekali jatuh cinta, susah untuk move on!
"Ah, udah, besok tinggal datang ke sana, sekarang mandi dulu!" Dia beranjak dari sofa tempatnya tiduran sejak tadi dan menunduk, mengangkat kedua tangannya dan menundukkan hidungnya sebelum mengeluarkan lidahnya dengan wajah jelek, "Huek! Asem! Gue nggak mandi berapa lama, sih!"
Dia tidak sadar, bahwa demi mendaftar kelas pastry bersama Adriano Zumbo, si Chef Pastry ternama dari Australia yang terkenal dengan julukan Willy Wonka Australia, dia nyaris tak tidur dan tidak makan seharian kemarin. Pendaftarannya berakhir dalam beberapa jam, dan kuotanya terbatas. Jadi, dia mencoba terus agar bisa menjadi bagian dari kelas itu. Zumbo terkenal tidak sering membuka kelas karena kesibukannya. Jadi, ini adalah kesempatan emas bagi pemuda ini.
Saat dia akan beranjak ke kamar mandi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia menunduk, mengambil ponselnya dan mengangkatnya. "Halo, Mam?"
__ADS_1
"Vhi, anak Mami, gimana kabar kamu di sana? Kok, belum pulang juga, sih? Ngapain kamu di sana lama-lama?" tanya Nindi. "Kamu pulang, dong, bantuin kakak kamu ngurus perusahaan. Ngapain di sana terus."
"Nanggung, Mi. Sekalian aja nanti abis wisuda pulang. Lagian, Mas Yuga pasti nggak baik-baik aja, kok," jawabnya pede sambil menyugar rambutnya yang mulai gondrong ke belakang.
Di seberang, terdengar suara maminya berdecak. "Ck, kamu ini. Mau ngapain, sih, memangnya kamu di sana lama-lama? Hmm?"
Dari latar belakang, Vhi bisa mendengar suara Kinar, neneknya yang menyahut, "Kamu punya pacar di sana? Makanya nggak mau pulang?"
Maminya menyahut dengan nada tertarik, "Jadi, kamu punya pacar di sana? Makanya kamu nggak mau pulang ke Indonesia? Vhi?"
Di tempatnya, Vhi senyum-senyum sendiri. Wajahnya yang tampan tampak tersipu mendengar pertanyaan maminya. Pacar, ya. Kalau pacar ... belum, sih. Sedang diusahakan untuk bisa sampai ke tahap tersebut. Vhi yakin, maminya akan suka sekali dengan pilihan hatinya ini.
"Vhi?"
"Iya, Mam? Nanti deh, dikenalin kalo udah waktunya." Membayangkan dia bertemu kembali dengan pujaan hatinya dan mengenalkannya pada keluarganya membuat Vhi makin bersemangat.
Dia ingin segera lulus kelas pastry ini dan mempersembahkan hasil usahanya untuk yang terkasih. Gadis itu pasti senang sekali!
"Nanti, nanti. Kamu nih, sama aja kayak kakak kamu! Suka banget bikin Mami nunggu."
"Yah, namanya juga saudara, Mam. Satu produk juga 'kan dari rahim Mami. Bentar, emang Mas Yuga ngapain? Kok nyuruh Mami nunggu juga? Dia mau ngenalin pacarnya? Wah, akhirnya cita-cita Nenek sama Mami buat punya cucu bakal cepat terkabul!" Vhi menyahut antusias.
__ADS_1
"Bukan pacar. Istri. Kakak kamu mau nikah bentar lagi. Makanya kamu cepet pulang."